Kamis, 06 September 2018
Minggu kemarin, di suatu hari, tiba-tiba banyak mention yang masuk ke Twitter dan Instagram pribadi gua. Awalnya gua sendiri gak sadar karena gua jarang buka akun pribadi, lebih sering buka akun Clobberin Time. Berhubung banyak pula yang ngetag akun Clobberin Time, gua dikasih tau kalau ternyata salah satu tulisan gua di blog ini masuk ke salah satu akun IG populer yaitu Drama Ojol.
Postingan yang masuk adalah cerita tentang pertemuan gua dengan Customer bercadar bernama Teteh Lia. Sebenarnya kalau boleh memilih, gua sendiri lebih memilih untuk TIDAK menampilkan postingan tersebut di Drama Ojol karena bahasan yang gua tulis itu sedikit sensitif berhubungan dengan keyakinan orang dan kalau misal ada kalimat gua yang kurang berkenan pasti akan berujung ke debat yang tidak berkesudahan. Gua sendiri tidak tahu siapa teman gua yang mengirimkan postingan itu tetapi tanpa mengurasi rasa respect, gua ucapkan terima kasih banyak.
Selain banyak mention yang masuk dan diikut dengan jumlah pembaca yang menjadi luar biasa banyak ke blog ini (mayan nambah AdSense), gua juga mendapat tawaran dari sebuah penerbit untuk menerbitkan buku tentang Ojol yang diangkat dari Blog gua. Klop kan dengan rencan gua untuk menerbitkan buku? Kita sempat ngobrol via telpon tetapi sayangnya sekali lagi sayangnya, penerbit ini sama seperti penerbit lainnya yang hanya memproduksi buku by order saja.
Maksud by order adalah penerbit hanya akan memproduksi buku kita kalau ada yang memesan. Jadi kalau misalnya kamu mau beli baru penerbit itu produksi.
Gua ambil contoh temen gua si Arya Putra yang baru saja produksi buku berjudul 'Review Jaman Now' yang diambil dari blog dia. Buku ini diproduksi oleh penerbit kecil dan dibandrol dengan harga 68rb. Arya dapat keuntungan sebesar ceban alias 10rb per buku. Dan setelah 3 bulan jalan, gua nanya ke Arya:
"Bor, buku lu sudah laku berapa pcs?"
"Baru satu. Terus untungnya per buku 10rb dan baru ditransfer kalau minimal sudah laku 5 buku"
Ok sip. Selama 3 bulan, buku Arya baru laku 1 dan dapat untung 10rb aja. Ini pun gak jelas, kalau misalnya tenryata udah laku 10 pcs terus dibilang baru laku 1 pcs kan kita juga gak akan pernah tahu ya. Bener gak?
Belum lagi untuk penulisan, seluruh tanggung jawabnya diserahkan kepada penulisa. Bisa dilihat dari buku si Arya, dari mulai penulis - editor - sampai design sampul dipegang semua sama dia. Penerbit itu mah gak mau tahu yang penting naskah dikirim ke mereka. Jadi tanpa proses editing asal cetak aja dan jangan salah kita juga harus tetap membayar ke Penerbit untuk biaya cetak pertama dan daftar pusak di Perpustakaan Nasional (sekitar 150-200rb).
Gua ngebayangin kalau misalnya buku gua terbit lewat penerbit kecil, yang bakalan ada di sampul buku adalah:
Penulis: Stefanus Sani
Editor: Stefanus Sani
Design Kaver: Stefanus Sani
Promosi: Stefanus Sani
Penjual: Stefanus Sani
Pembeli: Temen-temennya si Stefanus Sani
Lucu bener, gua yang nulis eh gua jadi editor buat tulisan gua sendiri. Karena sesungguhnya Editor itu sangat diperlukan untuk mengedit tulisan kita, siapa tahu ada yang kebablasan jadi harus 'direm' karena bisa saja menurut kita bagus tetapi buat orang lain tidak.
Dari tampilan buku pun kalau gua boleh mengkritisi, hasil cetakannya tidak terlalu bagus. Selain tulisan di kaver yang buram, bentuknya pun terlalu besar mirip buku foto copy-an di kampus. Kualitas kertanya pun kurang bagus dan dengan semua fakta diatas ketimbamg gua merilis lewat penerbit by order lebih baik gua tetap mengusakan agar buku gua kelak bisa terbit di penerbit besar.
Gak salah kan kalau kita punya mimpi besar?
...........................................................
Dalam proses penulisan buku gua ini sebenarnya gua masih ada pergulatan batin. Bukan masalah besar sih tetapi tetap saja masalah 'kecil' ini sedikit menghambat gua. Gua ragu buat cerita tetapi gak apa-apa deh gua cerita apa yang menjadi pergulatan batin gua di kala gua menulis buku Ojol itu.
Tahun 2016, gua pernah terlibat di penulisan Novel Lupus Reborn yang diadakan oleh penulis ternama Hilam Hariwijaya (penulis asli Novel Lupus yang populer dan kini menjadi salah satu penulis script sinetron termahal di Indonesia). Gua berhasil melewati 4 tahapan dan tinggal selangkah lagi maka Novel tersebut akan terbit.
Seleksi pertama gua berhasil masuk ke 30 besar dari ratusan peserta yang mendaftar. Setelah 30 besar, gua masuk ke 15 besar. Setelah 10 besar gua masuk ke 5 besar dan dari 5 disaring lagi menjadi 3 besar.
Saingan gua luar biasa ngeri, banyak yang sudah punya buku sendiri. Gua ingat ada yang namanya Pak Adi, dari awal dia sudah digadang-gadang bakalan menjadi juara karena dia sudah rilis banyak novel, Novel Islami. Pas gua baca tulisan dia, asli keren. Sudah tertata, rapih, dan fondasinya kuat karena dia sudah berpengalaman.
Tetapi akhirnya Pak Adi tumbang juga di babak 15 besar. Menurut gua, salah satu alasan Pak Adi tumbang dikarenakan tulisannya yang terlalu baku dan kaku mengingat dia adalah penulis Novel serius. Berbeda dengan gua yang berangkat dari blog, dimana gua bisa mengeksplor penulisan gua dengan bebas tanpa ikatan baku.
Gua bebas mau menghujat teman-temen gua kayak si Ambu, Dedi, Arya, hahahahha (peace) termasuk menghujat diri gua sendiri. Dan hal itu cocok untuk segmen Lupus yang memang menyasar ke Generasi Milenia.
Saat gua sudah masuk ke 3 besar dan tinggal menunggu pengumuman siapa yang menjadi juara pertama, keanehan pun terjadi karena perasaan kok lama sekali ya pengumumannya. Sudah hampir jalan 3 bulan dan tidak ada kabar padahal setelah ini rencananya para juara akan digabungkan dengan peserta dari Kota lain untuk mulai menulis Novel Lupus Reborn.
Yang menjadi masalah besar adalah gini, saat babak 7 besar menuju 3 besar, salah satu faktor yang dinilai adalah adalah banyaknya vote dan komentar untuk tulisan kita. Tentu gua meminta bantuan ke temen-temen gua sampai ke semua buyer Clobberin Time, gua juga mintai bantuan.
Tentu tidak masalah bukan tetapi akhirnya malah menjadi masalah. Di suatu hari, di suatu kegiatan (gua gak bisa bilang kegiatan apa), saat kita duduk melingkar tetiba ada perempuan yang bertanya ke gua. Pertanyaanya singkat tapi masih membekas sampai hari ini:
"Pengumuman Lupus kapan? Kok perasaan lama banget ya" kata si Jalang 1
Belum gua jawab, Jalang 2 menambahi "Iya, perasaan kok lama banget. Katanya sudah 3 besar kok belum ada kabar apa-apa lagi"
Posisi gua sedang duduk melingkar dan disana ada sekitar 10 orang yang menatap ke gua. Gua merasa pertanyaan itu memang sudah di-set up untuk menjatuhkan gua.
Saat itu, gua merasa sangat DIPERMALUKAN. Kalau saat itu gua gak ingat pesan Mama gua untuk selalu menjaga sikap, rasanya ego gua bakalan naik dan balik bertanya "Sebelum kamu nanya bacot kayak gitu, kamu bisa kayak saya gak?" Untung sekali lagi untung gua masih bisa menahan diri.
Gua tahu bedanya pertanyaan yang asli bertanya atau pertanyaan yang dipakai untuk mempermalukan orang. Si Arya kalau ketemu gua sering nanya gini "Sani, Lupus kok gak ada kabar lagi sih" lalu diiringi tawa. Biasanya gua juga ikut tertawa sambil bales "Anjeer maneh" karena gua tahu kalau pertanyaan itu memang buat bercandaan antar temen.
Tetapi ini tidak, pertanyaan itu diarahkan ke gua dengan ekspresi muka merendahkan dan itu sangat menyakitkan. Gua pun bingung mau jawab apa karena saat itu memang dari pihak Panitia sama sekali belum memberikan keputusan apapun.
Setelah kejadian itu, gua chat ke Kakak gua dan cerita kalau gua merasa dipermalukan oleh 2 jalang itu di depan banyak orang. Kalau boleh sombong, dengan gua masuk ke 3 besar saja menurut gua itu adalah sebuah prestasi karena gua berhasil menyisihkan banyak peserta. Gua gak butuh apresiasi dari mereka tetapi anehnya disaat keputusannya masih pending begitu, gua malah dipermalukan di depan banyak orang. Gua lebih respect kalau misalnya mereka bertanya secara personal ke gua dan tentu gua enak buat menjelaskannya ketimbang gua ditanya di depan banyak orang dengan nada merendahkan.
Sebagai orang Introvert, biasanya kalau ada masalah itu gua bakalan simpan sendiri dan mencari pemecahannya sendiri tetapi kali ini gua sampai cerita ke Kakak gua tentang masalah ini. Kakak gua menyarankan gua untuk sabar dan pro aktif bertanya kepada Panitia kapan pengumumannya diberikan.
Dan setelah sekian lama menunggu akhirnya sebuah E-mail datang dari Panitia yang intinya memberi kabar jika Project ini dihentikan karena satu dan lain hal. Kecewa? Pastinya tetapi jujur gua lebih kepikiran dengan mereka yang telah mempermalukan gu.
Mungkin menurut mereka itu hal sepele tetapi sampai hari ini, gua gak pernah bisa lupa hal tersebut dan membuat gua jadi 'takut' untuk memulai sesuatu yang baru. Butuh waktu yang lama buat gua pribadi buat bisa bangkit. Thanks for 'M' yang sudah membuat semuanya menjadi mungkin. Terima kasih untuk semangat dan support yang diberikan.
Setiap Minggu gua masih ketemu dengan mereka. Gua selalu mencoba untuk bersikap manis meskipun tetap saja ada yang mengganjal karena kejadian 2 tahun lalu itu.
..............................................................................................
Ketika gua memutuskan untuk mulai menulis buku secara solo, gua sama sekali tidak menceritakan hal ini kepada mereka. Gua masih trauma kalau misalnya mereka akan kembali menanyakan hal yang sama dengan cara mempermalukan gua:
"Kok bukunya lama banget sih terbitnya?"
"Kalau misalnya ditolak ama penerbit mending gak usah aja deh rilis buku"
Dibanding gua terima bacotan seperti itu, gua lebih memilih bekerja secara senyap. Gua bukan orang yang peduli dengan bacotan orang tetapi jika bacotan itu mengarah ke sisi personal tentu sulit buat gua buat bersikap biasa saja.
Kemarin gua dapat E-mail balasan untuk merevisi naskah yang yang sudah gua kirim. Gua senang dengan E-mail balasan ini berarti naskah yang gua kirim sudah mendapat atensi khusus.
Selain merevisi, gua juga berencana untuk menambah bab biar bukunya menjadi semakin tebal. Ada satu orang yang sebenarnya pengen gua temui untuk minta restu agar cerita dia bisa gua masukkan ke dalam buku.
Nama orang tersebut adalah Michelle, dia pertama kali ketemu gua sewaktu dia kelas 2 SMA dan sekarang dia baru aja jadi MABA alias Mahasiswa Baru. Gua ada cerita bagus yang melibatkan gua dengan dia, dengan kapasitas gua sewaktu jadi Driver Ojol.
Dia sekolah di Santa Maria 2 dan berhubung rumah gua dekat dengan Santa Maria jadi orderan dari dia sering nyangkut ke gua kalau misalnya gua lagi Online dari rumah. Dari awalnya biasa aja, eh karena keseringan ketemu akhirnya kita jadi deket dan mulai menjalin hubungan. Eh ngaco, gak gitu deng. Maksudnya hubungan 'Kakak-Adik' ya. Iya beneran 'Kakak' dan 'Adik'.
Michelle itu kalau gua gambarkan adalah perempuan yang cantik, chubby dan luar biasa aktif. Dia juga sering ikutan casting jadi bintang sinetron jadi kadang gua suka anterin dia ke tempat casting. Iya casting bintang sinetron bukan casting bintang sabun colek kok.
Disaat begini, gua kadang menyesal. Kenapa gua gak dilahirkan 10 tahun lebih muda dari umur gua yang sekarang. Kalau aja Papa & Mama gua bikin gua 10 tahun lebih lama dari umur gua yang sekarang, bisa deh gua sama si Michelle, hahaha. Centil bener si Sani.
Tetapi sejak dia kelas 3 SMA, kita jadi semakin jarang berhubungan karena selain dia baru saja jadian dengan teman sekelasnya, Michelle kayaknya marah ke gua. Marah karena dia sering minta dijemput tapi gua sering gak bisa, haha.
Gua kagok mau chat dia duluan, ajak ketemuan buat minta restu tentang cerita dia dan gua yang mau gua pake di penulisan buku tetapi tampaknya langit mendengar harapan gua. Belum juga gua chat, dia sudah chat gua duluan. Ini isi chatnya:
Okelah, gua harus mengerjakan misi dulu sebelum dapat restu dari si Michelle. Misi akhirnya selesai dan gua sudah mendapat restu dari si Michelle. Untuk cerita si Michelle, gua masukkan ke Bab "Mimi Susu", loh apa hubungannya mimi Susu dengan Michelle, apa jangan--jangan lu mimi susunya si Mi..... ENGGAK ANJ*NG, untuk cerita lengkapnya nanti baca aja yes di buku gua.
Dan dengan restu dari si Michelle, ini dia urutan bab yang sudah gua tulis untuk project buku Ojol gua (belum final, masih mungkin berubah):
1. Memulai Ojol
2. Ketemu Bule
3. Thanks from Your B*tch!
4. Ibu dan Debt Collector
5. Driver Berdedikasi
6. Filosofi Ojol
7. Celengan Ojol
8. Alasan Bersyukur
9. Balada Driver Ojol
10. Ketemu Gay
11. Sarah dan Mamanya
12. Ibu Gendut yang Galak
13. Kamu yang sedang Patah Hati
14. Good Bye UBER!
15. Memulai GOJEG
16. GOJEG Oh GOJEG
17. Life is Waiting
18. Perempuan di kamar kost no 11
19. 1 Hari untuk Selamanya
20. Pulang
21. Pisang Selimut
22. Mimi Susu
23. Berdamai dengan diri sendiri
Gua menambahkan 3 judul baru yaitu "Pulang", "Pisang Selimut", dan "Mimi Susu". Untuk Bab "Berdamai dengan diri sendiri" gua set untuk menggantikan bab "Pertemuan dengan Ibu Guru TK" mengingat yang bersangkutan masih ragu untuk memberi restu ceritanya gua masukkan ke buku gua.
Bab "Berdamai dengan diri sendiri" akan menceritakan tentang alasan gua kenapa sampai hari ini gua masih sering jadi Driver Ojol meskipun gua sudah berulang kali menulis kalau gua akan berhenti tetapi tetap saja gua kembali lagi, lagi dan lagi. Bukan faktor ekonomi karena Puji Tuhan pendapatan gua dari menulis dan Clobberin Time sudah lebih dari cukup.
Ada alasan personal dan gua akan menjelaskannya di bab tersebut. Kalau kalian nanya, kapan San buku itu terbit, untuk saat ini, gua belum bisa jawab tetapi kalau misalnya naskah gua ditolak oleh penerbit 1 maka gua akan mencoba terus ke penerbit lain.
Penolakkan itu biasa dan akan tetap menjadi hal yang biasa saja kalau kita bisa terus 'berlari' saat penolakkan itu datang.
Postingan yang masuk adalah cerita tentang pertemuan gua dengan Customer bercadar bernama Teteh Lia. Sebenarnya kalau boleh memilih, gua sendiri lebih memilih untuk TIDAK menampilkan postingan tersebut di Drama Ojol karena bahasan yang gua tulis itu sedikit sensitif berhubungan dengan keyakinan orang dan kalau misal ada kalimat gua yang kurang berkenan pasti akan berujung ke debat yang tidak berkesudahan. Gua sendiri tidak tahu siapa teman gua yang mengirimkan postingan itu tetapi tanpa mengurasi rasa respect, gua ucapkan terima kasih banyak.
Selain banyak mention yang masuk dan diikut dengan jumlah pembaca yang menjadi luar biasa banyak ke blog ini (mayan nambah AdSense), gua juga mendapat tawaran dari sebuah penerbit untuk menerbitkan buku tentang Ojol yang diangkat dari Blog gua. Klop kan dengan rencan gua untuk menerbitkan buku? Kita sempat ngobrol via telpon tetapi sayangnya sekali lagi sayangnya, penerbit ini sama seperti penerbit lainnya yang hanya memproduksi buku by order saja.
Maksud by order adalah penerbit hanya akan memproduksi buku kita kalau ada yang memesan. Jadi kalau misalnya kamu mau beli baru penerbit itu produksi.
Gua ambil contoh temen gua si Arya Putra yang baru saja produksi buku berjudul 'Review Jaman Now' yang diambil dari blog dia. Buku ini diproduksi oleh penerbit kecil dan dibandrol dengan harga 68rb. Arya dapat keuntungan sebesar ceban alias 10rb per buku. Dan setelah 3 bulan jalan, gua nanya ke Arya:
"Bor, buku lu sudah laku berapa pcs?"
"Baru satu. Terus untungnya per buku 10rb dan baru ditransfer kalau minimal sudah laku 5 buku"
Ok sip. Selama 3 bulan, buku Arya baru laku 1 dan dapat untung 10rb aja. Ini pun gak jelas, kalau misalnya tenryata udah laku 10 pcs terus dibilang baru laku 1 pcs kan kita juga gak akan pernah tahu ya. Bener gak?
![]() |
| Kayak buku foto copyan yes |
Belum lagi untuk penulisan, seluruh tanggung jawabnya diserahkan kepada penulisa. Bisa dilihat dari buku si Arya, dari mulai penulis - editor - sampai design sampul dipegang semua sama dia. Penerbit itu mah gak mau tahu yang penting naskah dikirim ke mereka. Jadi tanpa proses editing asal cetak aja dan jangan salah kita juga harus tetap membayar ke Penerbit untuk biaya cetak pertama dan daftar pusak di Perpustakaan Nasional (sekitar 150-200rb).
Gua ngebayangin kalau misalnya buku gua terbit lewat penerbit kecil, yang bakalan ada di sampul buku adalah:
Penulis: Stefanus Sani
Editor: Stefanus Sani
Design Kaver: Stefanus Sani
Promosi: Stefanus Sani
Penjual: Stefanus Sani
Pembeli: Temen-temennya si Stefanus Sani
Lucu bener, gua yang nulis eh gua jadi editor buat tulisan gua sendiri. Karena sesungguhnya Editor itu sangat diperlukan untuk mengedit tulisan kita, siapa tahu ada yang kebablasan jadi harus 'direm' karena bisa saja menurut kita bagus tetapi buat orang lain tidak.
Dari tampilan buku pun kalau gua boleh mengkritisi, hasil cetakannya tidak terlalu bagus. Selain tulisan di kaver yang buram, bentuknya pun terlalu besar mirip buku foto copy-an di kampus. Kualitas kertanya pun kurang bagus dan dengan semua fakta diatas ketimbamg gua merilis lewat penerbit by order lebih baik gua tetap mengusakan agar buku gua kelak bisa terbit di penerbit besar.
Gak salah kan kalau kita punya mimpi besar?
...........................................................
Dalam proses penulisan buku gua ini sebenarnya gua masih ada pergulatan batin. Bukan masalah besar sih tetapi tetap saja masalah 'kecil' ini sedikit menghambat gua. Gua ragu buat cerita tetapi gak apa-apa deh gua cerita apa yang menjadi pergulatan batin gua di kala gua menulis buku Ojol itu.
Tahun 2016, gua pernah terlibat di penulisan Novel Lupus Reborn yang diadakan oleh penulis ternama Hilam Hariwijaya (penulis asli Novel Lupus yang populer dan kini menjadi salah satu penulis script sinetron termahal di Indonesia). Gua berhasil melewati 4 tahapan dan tinggal selangkah lagi maka Novel tersebut akan terbit.
Seleksi pertama gua berhasil masuk ke 30 besar dari ratusan peserta yang mendaftar. Setelah 30 besar, gua masuk ke 15 besar. Setelah 10 besar gua masuk ke 5 besar dan dari 5 disaring lagi menjadi 3 besar.
![]() | |||
| Saat pengumuman 10 besar, tulisan gua yang judulnya 'Roti Selai' dinilai Yes oleh semua juri. |
![]() |
| Tulisan yang membawa gua ke 3 besar |
Tetapi akhirnya Pak Adi tumbang juga di babak 15 besar. Menurut gua, salah satu alasan Pak Adi tumbang dikarenakan tulisannya yang terlalu baku dan kaku mengingat dia adalah penulis Novel serius. Berbeda dengan gua yang berangkat dari blog, dimana gua bisa mengeksplor penulisan gua dengan bebas tanpa ikatan baku.
Gua bebas mau menghujat teman-temen gua kayak si Ambu, Dedi, Arya, hahahahha (peace) termasuk menghujat diri gua sendiri. Dan hal itu cocok untuk segmen Lupus yang memang menyasar ke Generasi Milenia.
Saat gua sudah masuk ke 3 besar dan tinggal menunggu pengumuman siapa yang menjadi juara pertama, keanehan pun terjadi karena perasaan kok lama sekali ya pengumumannya. Sudah hampir jalan 3 bulan dan tidak ada kabar padahal setelah ini rencananya para juara akan digabungkan dengan peserta dari Kota lain untuk mulai menulis Novel Lupus Reborn.
Yang menjadi masalah besar adalah gini, saat babak 7 besar menuju 3 besar, salah satu faktor yang dinilai adalah adalah banyaknya vote dan komentar untuk tulisan kita. Tentu gua meminta bantuan ke temen-temen gua sampai ke semua buyer Clobberin Time, gua juga mintai bantuan.
Tentu tidak masalah bukan tetapi akhirnya malah menjadi masalah. Di suatu hari, di suatu kegiatan (gua gak bisa bilang kegiatan apa), saat kita duduk melingkar tetiba ada perempuan yang bertanya ke gua. Pertanyaanya singkat tapi masih membekas sampai hari ini:
"Pengumuman Lupus kapan? Kok perasaan lama banget ya" kata si Jalang 1
Belum gua jawab, Jalang 2 menambahi "Iya, perasaan kok lama banget. Katanya sudah 3 besar kok belum ada kabar apa-apa lagi"
Posisi gua sedang duduk melingkar dan disana ada sekitar 10 orang yang menatap ke gua. Gua merasa pertanyaan itu memang sudah di-set up untuk menjatuhkan gua.
Saat itu, gua merasa sangat DIPERMALUKAN. Kalau saat itu gua gak ingat pesan Mama gua untuk selalu menjaga sikap, rasanya ego gua bakalan naik dan balik bertanya "Sebelum kamu nanya bacot kayak gitu, kamu bisa kayak saya gak?" Untung sekali lagi untung gua masih bisa menahan diri.
Gua tahu bedanya pertanyaan yang asli bertanya atau pertanyaan yang dipakai untuk mempermalukan orang. Si Arya kalau ketemu gua sering nanya gini "Sani, Lupus kok gak ada kabar lagi sih" lalu diiringi tawa. Biasanya gua juga ikut tertawa sambil bales "Anjeer maneh" karena gua tahu kalau pertanyaan itu memang buat bercandaan antar temen.
Tetapi ini tidak, pertanyaan itu diarahkan ke gua dengan ekspresi muka merendahkan dan itu sangat menyakitkan. Gua pun bingung mau jawab apa karena saat itu memang dari pihak Panitia sama sekali belum memberikan keputusan apapun.
Setelah kejadian itu, gua chat ke Kakak gua dan cerita kalau gua merasa dipermalukan oleh 2 jalang itu di depan banyak orang. Kalau boleh sombong, dengan gua masuk ke 3 besar saja menurut gua itu adalah sebuah prestasi karena gua berhasil menyisihkan banyak peserta. Gua gak butuh apresiasi dari mereka tetapi anehnya disaat keputusannya masih pending begitu, gua malah dipermalukan di depan banyak orang. Gua lebih respect kalau misalnya mereka bertanya secara personal ke gua dan tentu gua enak buat menjelaskannya ketimbang gua ditanya di depan banyak orang dengan nada merendahkan.
Sebagai orang Introvert, biasanya kalau ada masalah itu gua bakalan simpan sendiri dan mencari pemecahannya sendiri tetapi kali ini gua sampai cerita ke Kakak gua tentang masalah ini. Kakak gua menyarankan gua untuk sabar dan pro aktif bertanya kepada Panitia kapan pengumumannya diberikan.
Dan setelah sekian lama menunggu akhirnya sebuah E-mail datang dari Panitia yang intinya memberi kabar jika Project ini dihentikan karena satu dan lain hal. Kecewa? Pastinya tetapi jujur gua lebih kepikiran dengan mereka yang telah mempermalukan gu.
Mungkin menurut mereka itu hal sepele tetapi sampai hari ini, gua gak pernah bisa lupa hal tersebut dan membuat gua jadi 'takut' untuk memulai sesuatu yang baru. Butuh waktu yang lama buat gua pribadi buat bisa bangkit. Thanks for 'M' yang sudah membuat semuanya menjadi mungkin. Terima kasih untuk semangat dan support yang diberikan.
Setiap Minggu gua masih ketemu dengan mereka. Gua selalu mencoba untuk bersikap manis meskipun tetap saja ada yang mengganjal karena kejadian 2 tahun lalu itu.
..............................................................................................
Ketika gua memutuskan untuk mulai menulis buku secara solo, gua sama sekali tidak menceritakan hal ini kepada mereka. Gua masih trauma kalau misalnya mereka akan kembali menanyakan hal yang sama dengan cara mempermalukan gua:
"Kok bukunya lama banget sih terbitnya?"
"Kalau misalnya ditolak ama penerbit mending gak usah aja deh rilis buku"
Dibanding gua terima bacotan seperti itu, gua lebih memilih bekerja secara senyap. Gua bukan orang yang peduli dengan bacotan orang tetapi jika bacotan itu mengarah ke sisi personal tentu sulit buat gua buat bersikap biasa saja.
Kemarin gua dapat E-mail balasan untuk merevisi naskah yang yang sudah gua kirim. Gua senang dengan E-mail balasan ini berarti naskah yang gua kirim sudah mendapat atensi khusus.
Selain merevisi, gua juga berencana untuk menambah bab biar bukunya menjadi semakin tebal. Ada satu orang yang sebenarnya pengen gua temui untuk minta restu agar cerita dia bisa gua masukkan ke dalam buku.
Nama orang tersebut adalah Michelle, dia pertama kali ketemu gua sewaktu dia kelas 2 SMA dan sekarang dia baru aja jadi MABA alias Mahasiswa Baru. Gua ada cerita bagus yang melibatkan gua dengan dia, dengan kapasitas gua sewaktu jadi Driver Ojol.
Dia sekolah di Santa Maria 2 dan berhubung rumah gua dekat dengan Santa Maria jadi orderan dari dia sering nyangkut ke gua kalau misalnya gua lagi Online dari rumah. Dari awalnya biasa aja, eh karena keseringan ketemu akhirnya kita jadi deket dan mulai menjalin hubungan. Eh ngaco, gak gitu deng. Maksudnya hubungan 'Kakak-Adik' ya. Iya beneran 'Kakak' dan 'Adik'.
Michelle itu kalau gua gambarkan adalah perempuan yang cantik, chubby dan luar biasa aktif. Dia juga sering ikutan casting jadi bintang sinetron jadi kadang gua suka anterin dia ke tempat casting. Iya casting bintang sinetron bukan casting bintang sabun colek kok.
Disaat begini, gua kadang menyesal. Kenapa gua gak dilahirkan 10 tahun lebih muda dari umur gua yang sekarang. Kalau aja Papa & Mama gua bikin gua 10 tahun lebih lama dari umur gua yang sekarang, bisa deh gua sama si Michelle, hahaha. Centil bener si Sani.
Tetapi sejak dia kelas 3 SMA, kita jadi semakin jarang berhubungan karena selain dia baru saja jadian dengan teman sekelasnya, Michelle kayaknya marah ke gua. Marah karena dia sering minta dijemput tapi gua sering gak bisa, haha.
Gua kagok mau chat dia duluan, ajak ketemuan buat minta restu tentang cerita dia dan gua yang mau gua pake di penulisan buku tetapi tampaknya langit mendengar harapan gua. Belum juga gua chat, dia sudah chat gua duluan. Ini isi chatnya:
![]() |
| Anak jaman sekarang, pacaran baru 11 bulan aja harus dirayain -_- |
Okelah, gua harus mengerjakan misi dulu sebelum dapat restu dari si Michelle. Misi akhirnya selesai dan gua sudah mendapat restu dari si Michelle. Untuk cerita si Michelle, gua masukkan ke Bab "Mimi Susu", loh apa hubungannya mimi Susu dengan Michelle, apa jangan--jangan lu mimi susunya si Mi..... ENGGAK ANJ*NG, untuk cerita lengkapnya nanti baca aja yes di buku gua.
Dan dengan restu dari si Michelle, ini dia urutan bab yang sudah gua tulis untuk project buku Ojol gua (belum final, masih mungkin berubah):
1. Memulai Ojol
2. Ketemu Bule
3. Thanks from Your B*tch!
4. Ibu dan Debt Collector
5. Driver Berdedikasi
6. Filosofi Ojol
7. Celengan Ojol
8. Alasan Bersyukur
9. Balada Driver Ojol
10. Ketemu Gay
11. Sarah dan Mamanya
12. Ibu Gendut yang Galak
13. Kamu yang sedang Patah Hati
14. Good Bye UBER!
15. Memulai GOJEG
16. GOJEG Oh GOJEG
17. Life is Waiting
18. Perempuan di kamar kost no 11
19. 1 Hari untuk Selamanya
20. Pulang
21. Pisang Selimut
22. Mimi Susu
23. Berdamai dengan diri sendiri
Gua menambahkan 3 judul baru yaitu "Pulang", "Pisang Selimut", dan "Mimi Susu". Untuk Bab "Berdamai dengan diri sendiri" gua set untuk menggantikan bab "Pertemuan dengan Ibu Guru TK" mengingat yang bersangkutan masih ragu untuk memberi restu ceritanya gua masukkan ke buku gua.
Bab "Berdamai dengan diri sendiri" akan menceritakan tentang alasan gua kenapa sampai hari ini gua masih sering jadi Driver Ojol meskipun gua sudah berulang kali menulis kalau gua akan berhenti tetapi tetap saja gua kembali lagi, lagi dan lagi. Bukan faktor ekonomi karena Puji Tuhan pendapatan gua dari menulis dan Clobberin Time sudah lebih dari cukup.
Ada alasan personal dan gua akan menjelaskannya di bab tersebut. Kalau kalian nanya, kapan San buku itu terbit, untuk saat ini, gua belum bisa jawab tetapi kalau misalnya naskah gua ditolak oleh penerbit 1 maka gua akan mencoba terus ke penerbit lain.
Penolakkan itu biasa dan akan tetap menjadi hal yang biasa saja kalau kita bisa terus 'berlari' saat penolakkan itu datang.
Minggu, 19 Agustus 2018
Sebuah orderan GO-Food masuk ke ponsel gua. Perintahnya adalah beliin Chicken Burger Mushroom Burger King di Trans Studio Mall, tanpa kentang dan minum, hanya Chicken Burger Mushroom saja. Tujuannya adalah ke sebuah alamat di Jalan Cikaso.
Gua konfirmasi dulu ke Miss C, Customer yang order Chicken Burger Mushroom itu dan ok, dia memang order Chicken Burger Mushroom. Kebetulan posisi gua lagi berada di dalam Trans Studio (biasa habis beli buku dan komik). Naik ke lantai food court dan gua langsung order pesanannya Miss C ini.
Kurang dari 5 menit, orderan sudah beres dan gua mulai memacu motor gua menuju ke Jalan Cikaso no 14. Ada pesan dari Miss C di Notes orderan, Chicken Burger Mushroom ini ternyata buat teman dari Miss C namanya Kak Nissa.
Nyari sebentar, ketemu juga nomor 14 dan di depan gerbang ada suami istri yang baru saja masuk ke rumah no 14. Gua konfirmasi apakah betul disini nomor 14 dan ada yang namanya 'Kak Nissa'.
Dijawab 'ada' dan si Ayah memanggil "Nissa, ada yang nyariin nih". Gua titip aja burger itu ke Bapak sembari bilang kalau burger ini sudah dibayar (via GO-PAY) jadi gak usah dibayar lagi.
"Terima kasih Pak, saya pamit dulu" kata gua sembari berlalu dari hadapan mereka berdua.
Setelah orderan ini beres, gua memutuskan buat pulang karena jam sudah menunjukkan pukul 10 Malam. Badan pun sudah capek banget karena gua sudah keluar rumah dari jam 6 Pagi dan belum pulang karena hari itu sangat padat.
Semuanya terlihat baik-baik saja sampai gua dapat sebuah WA dari nomor yang tidak dikenal. Awalnya gua kira dari buyer Clobberin Time tetapi setelah gua konfirmasi ulang, ternyata ini adalah nomor Miss C.
Miss C bilang kalau gua salah nganterin itu Chicken Burger Mushroom karena temannya, si Kak Nissa belum nerima burger itu.
Wadaw, kenapa ini. Gua mikir masak gak sampai sih, apa jangan-jangan dimakan Bapak ama Ibunya lagi? Apa karena mereka berdua sudah gak kuat cium bau burger King yang enak itu jadi mereka diem-diem makan berdua di pojokkan tanpa sepengatahuan Kak Nissa?
Gua jawab Chicken Burger Mushroom-nya sudah diterima oleh suami istri di Cikaso Selatan no 14 dan ini dia kebetulan yang sangat kebetulan terjadi. Ternyata bukan nomor 14 tetapi nomor 4 dan sangat kebetulan kalau di nomor 14 itu ada juga yang namanya 'Nissa'. Walah
Tapi kalau gua boleh jujur ya, gua yakin banget kalau di notes itu tertulisnya no 14 bukan 4. Gua rasa Miss C salah memasukkan nomor. Gua kemudian menawarkan beberapa opsi, apa uangnya yang sebesar 49rb itu mau gua transfer balik ke rekening Miss C atau gua beliin Chicken Burger Mushroom yang baru besok dan gua anterin besok.
Miss C ternyata menolak. Miss C ini baik banget, dia sama sekali gak marah dan menolak semua opsi yang gua tawarkan. Akhirnya disepakati, kalau uang seharga burger itu diberikan saja kepada yang membutuhkan.
..........................................................................................................
Besoknya Miss C chat gua lagi dan dia meminta tolong kepada gua. Permintaanya sederhana aja, dia minta gua beli kue ulang tahun buat temannya si Kak Nissa terus minta gua buat antar langsung di depan Kak Nissa. Miss C pengen kasih kejutan ke temen dekatnya itu dan berhubung Miss C tinggalnya di Bekasi jadi dia minta tolong ke gua yang di Bandung.
Belum cukup? Miss C kemudian nyuruh gua buat nyanyi selamat ulang tahun di depan Kak Nissa.
Beli kue ulang tahun? Misi mudah
Anterin langsung ke Kak Nissa? Misi mudah
Nyanyi lagu selamat ulang tahun? Mis super sulit. Masalahnya satu, gua gak bisa nyanyi, kalau cuma nyanyi 'Nananana....nanananana' doang mah cetek tapi kalau ada liriknya gini, angkat tangan dah gua.
Gua bales chat dari Miss C, gua bilang gua sama sekali gak keberatan membantu misi Miss C tetapi gua angkat tangan deh kalau disuruh nyanyi. Gua kasih alasan ke Miss C "Nanti kalau saya nyanyi, kuenya meleleh kak"
Berhubung sehari sebelumnya gua berbuat kesalahan (salah antar burger), gua bilang gratis aja biaya antarnya. Tapi Miss C ini keliatannya emang orang yang baik hati, dia malah transfer ke gua dengan nominal yang terlalu banyak.
Harga kue yang diminta 125rb + 15rb buat lilin tapi dia transfer gua lebih dari itu. Gua sampai gak enak sendiri dan pas gua bilang mau transfer balik, dia menolak.
Malamnya setelah pekerjaan gua kelar, gua menyempatkan diri pergi ke Istana Plaza karena disana ada toko kue spesialis ulang tahun. Gua pilih yang bentuknya lucu dan menggoda, kalau bisa mah ada astornya yang nancep di bolunya jadi gua bisa cemil dulu astornya, hahaha.
Gua beli kue itu dan gua simpan dulu di kulkas rumah gua karena baru besok misi ini dijalankan. Pas gua pulang dan bawa kue ke rumah, mamak gua langsung nanya ini kue apa dan buat siapa.
Mamak gua kira, gua punya kecengan baru dan gua mau kasih kejutan ke kecengan baru itu.. Ampun Mak -_-
.............................................................................................
Besoknya, Miss C chat gua dan bilang kalau Kak Nissa baru ada di kost sekitar jam setengah 10. Miss C nanya apakah gua keberatan antar Malam gitu, gua malah sama sekali gak keberatan karena biasanya pekerjaan real gua itu beresnya baru jam 9 Malam. Kalau misalnya Miss C minta diantarnya jam 7-8 Malam, gua malah gak yakin bisa anterinnya.
Sesuai prediksi, jam 9 Malam kurang dikit urusan pekerjaan gua sudah selesai dan gua cus ke rumah buat ambil kue ultah Kak Nissa karena gak mungkin juga kue itu gua bawa-bawa. Bisa benyek kayak kue kukus gagal mengembang karena salah resep.
Gua cus ke Cikaso no 4 dan gua konfirmasi dulu ke Miss C apakah ini benar, kost Kak Nissa? Miss C bilang dia gak tahu karena dia belum sempet berkunjung kesini lagi. Gua perhatikan bentuknya emang seperti tempat kost dan biar gak ada nomornya tapi gua yakin ini nomor 4 karena sebelahnya ada nomor 4 ini nomor 6 (deretan genap).
Konfirmasi dulu ke Miss C buat bilangin ke Kak Nissa kalau gua sudah di depan. Dalam sepersekian menit itu, gua harus tancapin lilin dan nyalain lilin. Di seblah kost Kak Nissa kebetulan ada muda-mudi langi ngumpul dan mereka cie-cie-in gua "Cie yang mau kasih kejutan ke pacarnya"
Gua jadi sedikit terimintidasi gara-gara dicie-cie-in dan di Malam itu udara lagi dingin banget dan anginnya kencang banget. Gua nyalain 1 lilin terus mau nyalain ke lilin lain eh yang satunya malah matek saking kencengnya itu angin.
5 lilin sudah menyala TAPI ini kak Nissa lama bener keluarnya. Udah mah angin kenceng banget terus bikin lilinnya jadi meleleh. Gua noong dikit, anjay ini lelehan lilin udah tumpah di atas bolunya lagi.
Gua ngebayang si Kak Nissa lagi laper berat terus dapat kiriman kue enak gitu, dia langsung potong dan makan dengan lahap. Lelehan lilin dia kira cairan mozarella terus besoknya si Kakak Nissa kena mencret akut karena makan lelehan lilin.
Karena angin semakin kencang dan Kak Nissa belum juga keluar, gua tiup-tiup itu lilin biar lelehannya gak semakin turun ke atas kue. Ini gua gak tau lilin apaan, gua tiup-tiup bukannya mati tapi malah makin apinya makin membesar. Lilin laknat, pasti ini lilin yang buat ngerjain orang yang kalau ditiup gak bakalan langsung mati tapi malah semakin besar.
Cara extreme pun akhirnya gua ambil, gua matiin langsung lilin yang masih nyala pake jari gua. Rasanya? Anjing panas banget, panasnya kayak gehu goreng baru garing terus lu ambil langsung dari panci berminyak panas.
Tapi demi kebahagiaan Miss C & temannya, langsung gua matiin semua pake tangan gua. Tangan gua sudah penuh dengan lelehan lilin yang mengeras. Baru juga gua matiin semua lilin, ada bunyi suara pintu dibuka.
Gua yakin ini si Kak Nissa dan secepat mungkin langsung gua nyalain. Total ada 4 lilin yang bisa gua nyalain selama kurun waktu pintu depan dibuka dan kak Nissa berjalan menuju gerbang.
Ekspresi pertama Kak Nissa setelah liat gua adalah dia kaget dan malu banget. Mukanya malu banget terus kalau bisa ngomong, mukanya mau ngomong gini "Anjir sekalinya ada yang ngasih kejutan napa yang datang gak ada ganteng-gantengnya sih"
Ya maklumlah kalau yang datang kagak ganteng -_-
Dengan kondisi lilin yang menyala, gua bilang "Selamat ulang tahun Kak Nissa, ini kejutan dari Miss C. Semoga sehat selalu, pekerjaan selalu lancar, ditunggu undangannya" (kalimat terakhirnya sebenarnya gak ada di instruksi Miss C tetapi gua berimprovisasi sedikit).
Gua minta dia tiup lilin, sambil malu-malu dan muka merah, Kak Nissa meniup lilin. Ujang-ujang yang lagi nongkrong kompak liatin kita sambil bisik-bisik.
Di malam hari, di tengah hembusan angin yang kencang, ada seorang cowok yang datang buat kasih kejutan ke seorang cewek. Kalau ini terjadi di kehidupan nyata, ini menurut gua asli KEREN BANGET. Luar biasa pengorbanan si cowok ini, menembus hembusan angin malam sampai tangannya penuh dengan lumeran lilin yang sudah mengeras.
Gua melaporkan ke Miss C kalau misi sudah berhasil dan Miss C terlihat senang sekali dari chat dia. Miss C kemudian bilang mau transfer lagi ke gua buat biaya ongkos hari ini tapi gua tolak karena yang dia kasih sebelumnya sudah lebih dari cukup.
Miss C kemudian menawarkan free dompet buat gua karena yang bersangkutan ternyata punya online store yang berjualan dompet tetapi gua tolak juga karena gua ngerasa gak enak.
Dari hasil obrolan, Miss C ternyata punya beberapa usaha selain berjualan dompet. Gua pribadi sangat mengagumi perempuan gesit berhubung Mamak gua orangnya gesit, gua jadi sangat mengagumi perempuan gesit.
Perempuan gesit itu bukan perempuan yang klemar-klemer atau leyeh-leyeh tetapi gesit lihat peluang yang bisa menghasilkan. Pokoknya gua kasih respect besar buat perempuan gesit deh.
Misi ini diakhiri dengan sebuah janji bertemu jika yang bersangkutan berkunjung ke Bandung.
Yang lagi cari dompet boleh stalk ke akun instagram @jualandompet punya Miss C yes.
................................................................................
Kalau kamu baru jadi Driver Ojol di Bandung, gua merekomendasikan untuk stay di depan Trans Studio Mall (TSM) setiap hari Rabu Malam. Karena disana bubaran ada pengajian dengan jemaat yang membludak jadi kalian bisa panen orderan disana.
Kalau gua pribadi (kalau lagi ngegojeg di hari Rabu) , gua justru menghindari TSM di hari Rabu Malam karena macet parah dan susah parkir. Dibanding waktu habis di TSM mending ngider cari orderan lain deh.
Tetapi di Rabu kemarin, gua akhirnya kena orderan di depan TSM. Jadi ceritanya gua baru pulang dari kost si Arya yang jaraknya emang deket TSM, gua nyalain akun GOJEG, sapa tau dapat yang satu arah pulang.
Gua lupa kalau hari Rabu Malam itu kalau sudah Malam pasti ada bubaran pengajian di TSM dan jalanan pasti macet parah dan disaat gua terjebak macet di jalur TSM, gua baru ngeh kalau ada bubaran pengajian di TSM.
Ah, bakalan lama ini mah. Motor cuma bisa maju dikit-dikit karena macet dan disaat yang bersamaan ada orderan masuk atas nama Lia, minta dijemput di depan TSM dan tujuannya ke Jalan Ahmad Yani, wah ini mah deket dong ama rumah gua. Ongkosnya hanya 4rb saja via cash.
Beberapa menit kemudian gua sudah tiba di depan TSM. Suasanya riuh sekali karena selain bubaran pengajian, banyak juga kendaraan yang keluar masuk TSM dan ditambah dengan banyak ojol yang ngetem depan TSM jadi semain riuh.
Gua konfirmasi ke Teteh Lia kalau gua sudah di depan TSM dan dia bilang dia sudah depan TSM dekat pintu keluar. Gua tilik-tilik ada perempuan bercadar yang lagi megang ponsel apa jangan-jangan itu si Teteh Lia ya. Gua konfirmasi sedikit: "Teh Lia maaf, teteh yang bercadar hitam bukan?"
Dijawab "Iya. Jangan dicancel ya, dari tadi dicancel terus"
"Aman teh, saya cuma mau konfirmasi aja"
Gua panggil Teh Lia dan dia berjalan ke arah gua. Pernah liat perempuan dari Arab Saudi yang memakai baju tertutup dari atas sampai bawah + sarung tangan? Nah Teh Lia seperti itu dan itu sama sekali gak ada masalah buat gua.
Di perjalanan kita mulai ngobrol dan dia cerita dia dari tadi dicancel terus karena pada takut begitu lihat dia bercadar. Apalagi sebelum ini kan masih marak soal bom di Surabaya jadi banyak orang yang keder duluan.
"Gak takut ngangkut saya" tanya Teh Lia.
Jujur, gua pribadi mah biasa aja. Sama sekali gak takut, cuma satu yang gua takutkan itu motor gua kan bukan motor matic dan Teh Lia ini duduknya nyamping, gua takutnya baju terusannya kena rantai terus ngait. Itu aja ketakutan gua.
Kalau takut lain-lain mah gak sih. Keluarga gua ada keluarga yang moderat dan teman-teman gua banyak banget yang muslim seperti si Tri Gatot, Arya Putra, Bangsapraja, Wildan, Arsyad Fauzi, Adit Rizky, dll.
Bahkan salah satu buyer Clobberin Time ada yang sudah jadi Ustadz muda, si Irza Setiawan dan gua berhubungan baik dengan semua. Jadi kalau ditanya takut ngangkut Teh Lia jawabannya ya sama sekali tidak. Pokonya prinsip gua dari dulu adalah carilah teman sebanyak-banyaknya dan soal benar atau salah itu bukan urusan manusia. Sebelum kita menghakimi orang lain lebih baik kita urus diri sendiri yang masih punya banyak kekurangan ini.
Teh Lia kemudian curhat kalau dia sering jadi bahan pergunjingan karena bercadar. Sering dicancel kalau lagi mesen Ojol dan kalaupun ada Drivernya keliatan ketakutan. Naik angkot juga kadang supirnya kayak yang takut terus suka diturunin di tengah jalan karena ya itu tadi marak soal bom.
Gua nanya Teh Lia sudah bercadar sejak kapan dan dia jawab sejak tahun 2017 dapat hidayah untuk bercadar dan cadar itu hanya dilepas kalau di dalam rumah saja. Dan Teh Lia bilang kalau dia nyaman dan aman selama dia memakai cadar.
Ada 1 pernyataan dari Teh Lia yang membuat gua lumayan berpikir
"Orang sekarang kalau liat orang berbusana terbuka malah kayak yang biasa tetapi kalau ngeliat yang nutup aurat malah aneh"
Iya sih, ada benarnya juga, hehehe. Sepanjang perjalanan kita ngobrol panjang lebar dan tidak terasa akhirnya kita sampai ke tujuan. Ongkosnya 4rb saja via cash dan setelah mengucapkan terima kasih, gua pamit dari hadapan Teh Lia.
Setelah gua 'menyelesaikan perjalanan' ada komentar masuk dari Teh Lia. Komentarnya singkat "Jazakallah Khairan", gua kemudian nanya ke temen gua apa artinya dan artinya adalah
"Semoga Allah membalas kamu dengan kebaikan". Amin, amin. Semoga Allah membalasmu dengan kebaikkan juga.
...........................................................................................
Kalau kalian rutin baca blog gua, gua menulis soal Ojol sejak tahun 2016 dan masih berlanjut hingga hari ini. Ya bukan apa-apa peminatnya masih banyak dan tulisan gua soal Ojol, banyak dibaca jadi mayanlah buat nambah-nambah AdSense.
Belum lama ini si Arya baru saja bikin buku yang isinya review film Indonesia yang diambil dari blog pribadi dia. Bukan penerbit besar sih tapi penerbit kecil dan sistemnya adalah by order. Jadi kalau kalian minat dengan buku Arya, kalian bisa order di penerbitnya dan akan langsung dicetak oleh si penerbit.
Harga jualnya adalah 68rb (atau 63rb, gua lupa) dan jujur gua sampaikan ke Arya, kalau harga itu tergolong tinggi untuk kualitas cetakan si penerbit kecil itu. Bukunya kayak buku skripsi yang baru selesai dijilid dan kualitasnya kertasnya kurang bagus menurut gua. Gua ngomong jujur apa adanya dan Arya juga setuju dengan pendapat gua.
Gegara liat buku si Arya, gua juga jadi tertarik lagi buat buku. Kalau dulu gua pernah terlibat di pembuatan buku tetapi ditulis bancakan alias rombongan dan untuk kali ini gua pengen punya buku sendiri yang isinya semua pengalaman gua ketika jadi Driver Ojol.
Buat buku kayak si Arya mah gampang, kasih naskah ke penerbit kecil, cetak dan aha kamu sekarang sudah punya buku sendiri. Tetapi mimpi gua masih lebih tinggi, gua pengen masuk ke penerbit besar. Susah? Jelas tapi gak ada salahnya mencoba kan?
Salah satu buyer Clobberin Time yaitu bro Ikmal bekerja di Kompas Gramedia Group dan gua nanya apa bisa kirim naskah lewat dia? Dia jawab bisa karena kebetulan anak perusahaan Kompas Gramedia Group sedang membutuhkan naskah untuk novel/buku.
Mendapat angin segar dari bro Ikmal, gua langsung pilih tulisan-tulisan Ojol gua yang layak masuk ke buku. Tentu gak semuanya gua ambil dari blog gua karena kalau gitu mah artinya tinggal baca aja di blog gua. Gua sisipkan beberapa cerita yang belum pernah gua tulis sebelumnya dan gua jamin, gak kalah seru
Total ada 85 halaman yang gua tulis dan ini dia daftar isinya (dari bab 1):
1. Memulai Ojol
2. Ketemu Bule
3. Thanks from Your B*tch!
4. Ibu dan Debt Collector
5. Driver Berdedikasi
6. Filosofi Ojol
7. Celengan Ojol
8. Alasan Bersyukur
9. Balada Driver Ojol
10. Ketemu Gay
11. Sarah dan Mamanya
12. Ibu Gendut yang Galak
13. Kamu yang sedang Patah Hati
14. Good Bye UBER!
15. Memulai GOJEG
16. GOJEG Oh GOJEG
17. Life is Waiting
18. Perempuan di kamar kost no 11
19. 1 Hari untuk Selamanya
20.. Pertemuan dengan Ibu Guru TK
Untuk no 20 yang judulnya 'Pertemuan dengan Ibu Guru TK' terpaksa gua ganti karena tidak mendapat izin dari yang bersangkutan sehingga gua ganti dengan cerita yang berjudul 'Berdamai dengan diri sendiri, masa lalu dan kamu'. Secara pribadi gua suka cerita dengan 'Pertemuan dengan Ibu Guru TK' makannya gua simpan paling bawah tetapi apa boleh buat karena yang bersangkutan tidak bersedia.
Gua sudah meminta restu kepada beberapa temen gua agar tetap diperbolehkan memakai nama asli mereka di penulisan gua dan semuanya memberi lampu hijau termasuk si Ambu alias Albert Alexander. Nama asli Albert tetapi gua panggil dia dengan nama bokapnya (Ambu) sampai hari ini, hahaha
Naskah sudah terkirim dan sedang dalam proses di editor. Mohon doanya saja agar semua lancar dan bisa tembus yes :)
Gua konfirmasi dulu ke Miss C, Customer yang order Chicken Burger Mushroom itu dan ok, dia memang order Chicken Burger Mushroom. Kebetulan posisi gua lagi berada di dalam Trans Studio (biasa habis beli buku dan komik). Naik ke lantai food court dan gua langsung order pesanannya Miss C ini.
Kurang dari 5 menit, orderan sudah beres dan gua mulai memacu motor gua menuju ke Jalan Cikaso no 14. Ada pesan dari Miss C di Notes orderan, Chicken Burger Mushroom ini ternyata buat teman dari Miss C namanya Kak Nissa.
Nyari sebentar, ketemu juga nomor 14 dan di depan gerbang ada suami istri yang baru saja masuk ke rumah no 14. Gua konfirmasi apakah betul disini nomor 14 dan ada yang namanya 'Kak Nissa'.
Dijawab 'ada' dan si Ayah memanggil "Nissa, ada yang nyariin nih". Gua titip aja burger itu ke Bapak sembari bilang kalau burger ini sudah dibayar (via GO-PAY) jadi gak usah dibayar lagi.
"Terima kasih Pak, saya pamit dulu" kata gua sembari berlalu dari hadapan mereka berdua.
Setelah orderan ini beres, gua memutuskan buat pulang karena jam sudah menunjukkan pukul 10 Malam. Badan pun sudah capek banget karena gua sudah keluar rumah dari jam 6 Pagi dan belum pulang karena hari itu sangat padat.
Semuanya terlihat baik-baik saja sampai gua dapat sebuah WA dari nomor yang tidak dikenal. Awalnya gua kira dari buyer Clobberin Time tetapi setelah gua konfirmasi ulang, ternyata ini adalah nomor Miss C.
Miss C bilang kalau gua salah nganterin itu Chicken Burger Mushroom karena temannya, si Kak Nissa belum nerima burger itu.
Wadaw, kenapa ini. Gua mikir masak gak sampai sih, apa jangan-jangan dimakan Bapak ama Ibunya lagi? Apa karena mereka berdua sudah gak kuat cium bau burger King yang enak itu jadi mereka diem-diem makan berdua di pojokkan tanpa sepengatahuan Kak Nissa?
Gua jawab Chicken Burger Mushroom-nya sudah diterima oleh suami istri di Cikaso Selatan no 14 dan ini dia kebetulan yang sangat kebetulan terjadi. Ternyata bukan nomor 14 tetapi nomor 4 dan sangat kebetulan kalau di nomor 14 itu ada juga yang namanya 'Nissa'. Walah
Tapi kalau gua boleh jujur ya, gua yakin banget kalau di notes itu tertulisnya no 14 bukan 4. Gua rasa Miss C salah memasukkan nomor. Gua kemudian menawarkan beberapa opsi, apa uangnya yang sebesar 49rb itu mau gua transfer balik ke rekening Miss C atau gua beliin Chicken Burger Mushroom yang baru besok dan gua anterin besok.
Miss C ternyata menolak. Miss C ini baik banget, dia sama sekali gak marah dan menolak semua opsi yang gua tawarkan. Akhirnya disepakati, kalau uang seharga burger itu diberikan saja kepada yang membutuhkan.
..........................................................................................................
Besoknya Miss C chat gua lagi dan dia meminta tolong kepada gua. Permintaanya sederhana aja, dia minta gua beli kue ulang tahun buat temannya si Kak Nissa terus minta gua buat antar langsung di depan Kak Nissa. Miss C pengen kasih kejutan ke temen dekatnya itu dan berhubung Miss C tinggalnya di Bekasi jadi dia minta tolong ke gua yang di Bandung.
Belum cukup? Miss C kemudian nyuruh gua buat nyanyi selamat ulang tahun di depan Kak Nissa.
Beli kue ulang tahun? Misi mudah
Anterin langsung ke Kak Nissa? Misi mudah
Nyanyi lagu selamat ulang tahun? Mis super sulit. Masalahnya satu, gua gak bisa nyanyi, kalau cuma nyanyi 'Nananana....nanananana' doang mah cetek tapi kalau ada liriknya gini, angkat tangan dah gua.
![]() |
Berhubung sehari sebelumnya gua berbuat kesalahan (salah antar burger), gua bilang gratis aja biaya antarnya. Tapi Miss C ini keliatannya emang orang yang baik hati, dia malah transfer ke gua dengan nominal yang terlalu banyak.
Harga kue yang diminta 125rb + 15rb buat lilin tapi dia transfer gua lebih dari itu. Gua sampai gak enak sendiri dan pas gua bilang mau transfer balik, dia menolak.
Malamnya setelah pekerjaan gua kelar, gua menyempatkan diri pergi ke Istana Plaza karena disana ada toko kue spesialis ulang tahun. Gua pilih yang bentuknya lucu dan menggoda, kalau bisa mah ada astornya yang nancep di bolunya jadi gua bisa cemil dulu astornya, hahaha.
Gua beli kue itu dan gua simpan dulu di kulkas rumah gua karena baru besok misi ini dijalankan. Pas gua pulang dan bawa kue ke rumah, mamak gua langsung nanya ini kue apa dan buat siapa.
Mamak gua kira, gua punya kecengan baru dan gua mau kasih kejutan ke kecengan baru itu.. Ampun Mak -_-
.............................................................................................
Besoknya, Miss C chat gua dan bilang kalau Kak Nissa baru ada di kost sekitar jam setengah 10. Miss C nanya apakah gua keberatan antar Malam gitu, gua malah sama sekali gak keberatan karena biasanya pekerjaan real gua itu beresnya baru jam 9 Malam. Kalau misalnya Miss C minta diantarnya jam 7-8 Malam, gua malah gak yakin bisa anterinnya.
Sesuai prediksi, jam 9 Malam kurang dikit urusan pekerjaan gua sudah selesai dan gua cus ke rumah buat ambil kue ultah Kak Nissa karena gak mungkin juga kue itu gua bawa-bawa. Bisa benyek kayak kue kukus gagal mengembang karena salah resep.
Gua cus ke Cikaso no 4 dan gua konfirmasi dulu ke Miss C apakah ini benar, kost Kak Nissa? Miss C bilang dia gak tahu karena dia belum sempet berkunjung kesini lagi. Gua perhatikan bentuknya emang seperti tempat kost dan biar gak ada nomornya tapi gua yakin ini nomor 4 karena sebelahnya ada nomor 4 ini nomor 6 (deretan genap).
Konfirmasi dulu ke Miss C buat bilangin ke Kak Nissa kalau gua sudah di depan. Dalam sepersekian menit itu, gua harus tancapin lilin dan nyalain lilin. Di seblah kost Kak Nissa kebetulan ada muda-mudi langi ngumpul dan mereka cie-cie-in gua "Cie yang mau kasih kejutan ke pacarnya"
Gua jadi sedikit terimintidasi gara-gara dicie-cie-in dan di Malam itu udara lagi dingin banget dan anginnya kencang banget. Gua nyalain 1 lilin terus mau nyalain ke lilin lain eh yang satunya malah matek saking kencengnya itu angin.
5 lilin sudah menyala TAPI ini kak Nissa lama bener keluarnya. Udah mah angin kenceng banget terus bikin lilinnya jadi meleleh. Gua noong dikit, anjay ini lelehan lilin udah tumpah di atas bolunya lagi.
Gua ngebayang si Kak Nissa lagi laper berat terus dapat kiriman kue enak gitu, dia langsung potong dan makan dengan lahap. Lelehan lilin dia kira cairan mozarella terus besoknya si Kakak Nissa kena mencret akut karena makan lelehan lilin.
Karena angin semakin kencang dan Kak Nissa belum juga keluar, gua tiup-tiup itu lilin biar lelehannya gak semakin turun ke atas kue. Ini gua gak tau lilin apaan, gua tiup-tiup bukannya mati tapi malah makin apinya makin membesar. Lilin laknat, pasti ini lilin yang buat ngerjain orang yang kalau ditiup gak bakalan langsung mati tapi malah semakin besar.
Cara extreme pun akhirnya gua ambil, gua matiin langsung lilin yang masih nyala pake jari gua. Rasanya? Anjing panas banget, panasnya kayak gehu goreng baru garing terus lu ambil langsung dari panci berminyak panas.
Tapi demi kebahagiaan Miss C & temannya, langsung gua matiin semua pake tangan gua. Tangan gua sudah penuh dengan lelehan lilin yang mengeras. Baru juga gua matiin semua lilin, ada bunyi suara pintu dibuka.
Gua yakin ini si Kak Nissa dan secepat mungkin langsung gua nyalain. Total ada 4 lilin yang bisa gua nyalain selama kurun waktu pintu depan dibuka dan kak Nissa berjalan menuju gerbang.
Ekspresi pertama Kak Nissa setelah liat gua adalah dia kaget dan malu banget. Mukanya malu banget terus kalau bisa ngomong, mukanya mau ngomong gini "Anjir sekalinya ada yang ngasih kejutan napa yang datang gak ada ganteng-gantengnya sih"
Ya maklumlah kalau yang datang kagak ganteng -_-
Dengan kondisi lilin yang menyala, gua bilang "Selamat ulang tahun Kak Nissa, ini kejutan dari Miss C. Semoga sehat selalu, pekerjaan selalu lancar, ditunggu undangannya" (kalimat terakhirnya sebenarnya gak ada di instruksi Miss C tetapi gua berimprovisasi sedikit).
Gua minta dia tiup lilin, sambil malu-malu dan muka merah, Kak Nissa meniup lilin. Ujang-ujang yang lagi nongkrong kompak liatin kita sambil bisik-bisik.
Di malam hari, di tengah hembusan angin yang kencang, ada seorang cowok yang datang buat kasih kejutan ke seorang cewek. Kalau ini terjadi di kehidupan nyata, ini menurut gua asli KEREN BANGET. Luar biasa pengorbanan si cowok ini, menembus hembusan angin malam sampai tangannya penuh dengan lumeran lilin yang sudah mengeras.
Gua melaporkan ke Miss C kalau misi sudah berhasil dan Miss C terlihat senang sekali dari chat dia. Miss C kemudian bilang mau transfer lagi ke gua buat biaya ongkos hari ini tapi gua tolak karena yang dia kasih sebelumnya sudah lebih dari cukup.
Miss C kemudian menawarkan free dompet buat gua karena yang bersangkutan ternyata punya online store yang berjualan dompet tetapi gua tolak juga karena gua ngerasa gak enak.
Dari hasil obrolan, Miss C ternyata punya beberapa usaha selain berjualan dompet. Gua pribadi sangat mengagumi perempuan gesit berhubung Mamak gua orangnya gesit, gua jadi sangat mengagumi perempuan gesit.
Perempuan gesit itu bukan perempuan yang klemar-klemer atau leyeh-leyeh tetapi gesit lihat peluang yang bisa menghasilkan. Pokoknya gua kasih respect besar buat perempuan gesit deh.
Misi ini diakhiri dengan sebuah janji bertemu jika yang bersangkutan berkunjung ke Bandung.
Yang lagi cari dompet boleh stalk ke akun instagram @jualandompet punya Miss C yes.
................................................................................
Kalau kamu baru jadi Driver Ojol di Bandung, gua merekomendasikan untuk stay di depan Trans Studio Mall (TSM) setiap hari Rabu Malam. Karena disana bubaran ada pengajian dengan jemaat yang membludak jadi kalian bisa panen orderan disana.
Kalau gua pribadi (kalau lagi ngegojeg di hari Rabu) , gua justru menghindari TSM di hari Rabu Malam karena macet parah dan susah parkir. Dibanding waktu habis di TSM mending ngider cari orderan lain deh.
Tetapi di Rabu kemarin, gua akhirnya kena orderan di depan TSM. Jadi ceritanya gua baru pulang dari kost si Arya yang jaraknya emang deket TSM, gua nyalain akun GOJEG, sapa tau dapat yang satu arah pulang.
Gua lupa kalau hari Rabu Malam itu kalau sudah Malam pasti ada bubaran pengajian di TSM dan jalanan pasti macet parah dan disaat gua terjebak macet di jalur TSM, gua baru ngeh kalau ada bubaran pengajian di TSM.
Ah, bakalan lama ini mah. Motor cuma bisa maju dikit-dikit karena macet dan disaat yang bersamaan ada orderan masuk atas nama Lia, minta dijemput di depan TSM dan tujuannya ke Jalan Ahmad Yani, wah ini mah deket dong ama rumah gua. Ongkosnya hanya 4rb saja via cash.
Beberapa menit kemudian gua sudah tiba di depan TSM. Suasanya riuh sekali karena selain bubaran pengajian, banyak juga kendaraan yang keluar masuk TSM dan ditambah dengan banyak ojol yang ngetem depan TSM jadi semain riuh.
Gua konfirmasi ke Teteh Lia kalau gua sudah di depan TSM dan dia bilang dia sudah depan TSM dekat pintu keluar. Gua tilik-tilik ada perempuan bercadar yang lagi megang ponsel apa jangan-jangan itu si Teteh Lia ya. Gua konfirmasi sedikit: "Teh Lia maaf, teteh yang bercadar hitam bukan?"
Dijawab "Iya. Jangan dicancel ya, dari tadi dicancel terus"
"Aman teh, saya cuma mau konfirmasi aja"
Gua panggil Teh Lia dan dia berjalan ke arah gua. Pernah liat perempuan dari Arab Saudi yang memakai baju tertutup dari atas sampai bawah + sarung tangan? Nah Teh Lia seperti itu dan itu sama sekali gak ada masalah buat gua.
Di perjalanan kita mulai ngobrol dan dia cerita dia dari tadi dicancel terus karena pada takut begitu lihat dia bercadar. Apalagi sebelum ini kan masih marak soal bom di Surabaya jadi banyak orang yang keder duluan.
"Gak takut ngangkut saya" tanya Teh Lia.
Jujur, gua pribadi mah biasa aja. Sama sekali gak takut, cuma satu yang gua takutkan itu motor gua kan bukan motor matic dan Teh Lia ini duduknya nyamping, gua takutnya baju terusannya kena rantai terus ngait. Itu aja ketakutan gua.
Kalau takut lain-lain mah gak sih. Keluarga gua ada keluarga yang moderat dan teman-teman gua banyak banget yang muslim seperti si Tri Gatot, Arya Putra, Bangsapraja, Wildan, Arsyad Fauzi, Adit Rizky, dll.
Bahkan salah satu buyer Clobberin Time ada yang sudah jadi Ustadz muda, si Irza Setiawan dan gua berhubungan baik dengan semua. Jadi kalau ditanya takut ngangkut Teh Lia jawabannya ya sama sekali tidak. Pokonya prinsip gua dari dulu adalah carilah teman sebanyak-banyaknya dan soal benar atau salah itu bukan urusan manusia. Sebelum kita menghakimi orang lain lebih baik kita urus diri sendiri yang masih punya banyak kekurangan ini.
Teh Lia kemudian curhat kalau dia sering jadi bahan pergunjingan karena bercadar. Sering dicancel kalau lagi mesen Ojol dan kalaupun ada Drivernya keliatan ketakutan. Naik angkot juga kadang supirnya kayak yang takut terus suka diturunin di tengah jalan karena ya itu tadi marak soal bom.
Gua nanya Teh Lia sudah bercadar sejak kapan dan dia jawab sejak tahun 2017 dapat hidayah untuk bercadar dan cadar itu hanya dilepas kalau di dalam rumah saja. Dan Teh Lia bilang kalau dia nyaman dan aman selama dia memakai cadar.
Ada 1 pernyataan dari Teh Lia yang membuat gua lumayan berpikir
"Orang sekarang kalau liat orang berbusana terbuka malah kayak yang biasa tetapi kalau ngeliat yang nutup aurat malah aneh"
Iya sih, ada benarnya juga, hehehe. Sepanjang perjalanan kita ngobrol panjang lebar dan tidak terasa akhirnya kita sampai ke tujuan. Ongkosnya 4rb saja via cash dan setelah mengucapkan terima kasih, gua pamit dari hadapan Teh Lia.
Setelah gua 'menyelesaikan perjalanan' ada komentar masuk dari Teh Lia. Komentarnya singkat "Jazakallah Khairan", gua kemudian nanya ke temen gua apa artinya dan artinya adalah
"Semoga Allah membalas kamu dengan kebaikan". Amin, amin. Semoga Allah membalasmu dengan kebaikkan juga.
![]() |
| Komentar yang masuk dari Teh Lia |
Kalau kalian rutin baca blog gua, gua menulis soal Ojol sejak tahun 2016 dan masih berlanjut hingga hari ini. Ya bukan apa-apa peminatnya masih banyak dan tulisan gua soal Ojol, banyak dibaca jadi mayanlah buat nambah-nambah AdSense.
Belum lama ini si Arya baru saja bikin buku yang isinya review film Indonesia yang diambil dari blog pribadi dia. Bukan penerbit besar sih tapi penerbit kecil dan sistemnya adalah by order. Jadi kalau kalian minat dengan buku Arya, kalian bisa order di penerbitnya dan akan langsung dicetak oleh si penerbit.
Harga jualnya adalah 68rb (atau 63rb, gua lupa) dan jujur gua sampaikan ke Arya, kalau harga itu tergolong tinggi untuk kualitas cetakan si penerbit kecil itu. Bukunya kayak buku skripsi yang baru selesai dijilid dan kualitasnya kertasnya kurang bagus menurut gua. Gua ngomong jujur apa adanya dan Arya juga setuju dengan pendapat gua.
Gegara liat buku si Arya, gua juga jadi tertarik lagi buat buku. Kalau dulu gua pernah terlibat di pembuatan buku tetapi ditulis bancakan alias rombongan dan untuk kali ini gua pengen punya buku sendiri yang isinya semua pengalaman gua ketika jadi Driver Ojol.
Buat buku kayak si Arya mah gampang, kasih naskah ke penerbit kecil, cetak dan aha kamu sekarang sudah punya buku sendiri. Tetapi mimpi gua masih lebih tinggi, gua pengen masuk ke penerbit besar. Susah? Jelas tapi gak ada salahnya mencoba kan?
Salah satu buyer Clobberin Time yaitu bro Ikmal bekerja di Kompas Gramedia Group dan gua nanya apa bisa kirim naskah lewat dia? Dia jawab bisa karena kebetulan anak perusahaan Kompas Gramedia Group sedang membutuhkan naskah untuk novel/buku.
Mendapat angin segar dari bro Ikmal, gua langsung pilih tulisan-tulisan Ojol gua yang layak masuk ke buku. Tentu gak semuanya gua ambil dari blog gua karena kalau gitu mah artinya tinggal baca aja di blog gua. Gua sisipkan beberapa cerita yang belum pernah gua tulis sebelumnya dan gua jamin, gak kalah seru
Total ada 85 halaman yang gua tulis dan ini dia daftar isinya (dari bab 1):
1. Memulai Ojol
2. Ketemu Bule
3. Thanks from Your B*tch!
4. Ibu dan Debt Collector
5. Driver Berdedikasi
6. Filosofi Ojol
7. Celengan Ojol
8. Alasan Bersyukur
9. Balada Driver Ojol
10. Ketemu Gay
11. Sarah dan Mamanya
12. Ibu Gendut yang Galak
13. Kamu yang sedang Patah Hati
14. Good Bye UBER!
15. Memulai GOJEG
16. GOJEG Oh GOJEG
17. Life is Waiting
18. Perempuan di kamar kost no 11
19. 1 Hari untuk Selamanya
20.. Pertemuan dengan Ibu Guru TK
Untuk no 20 yang judulnya 'Pertemuan dengan Ibu Guru TK' terpaksa gua ganti karena tidak mendapat izin dari yang bersangkutan sehingga gua ganti dengan cerita yang berjudul 'Berdamai dengan diri sendiri, masa lalu dan kamu'. Secara pribadi gua suka cerita dengan 'Pertemuan dengan Ibu Guru TK' makannya gua simpan paling bawah tetapi apa boleh buat karena yang bersangkutan tidak bersedia.
Gua sudah meminta restu kepada beberapa temen gua agar tetap diperbolehkan memakai nama asli mereka di penulisan gua dan semuanya memberi lampu hijau termasuk si Ambu alias Albert Alexander. Nama asli Albert tetapi gua panggil dia dengan nama bokapnya (Ambu) sampai hari ini, hahaha
Naskah sudah terkirim dan sedang dalam proses di editor. Mohon doanya saja agar semua lancar dan bisa tembus yes :)
Jumat, 27 Juli 2018
Gara-gara si Arya bikin film pendek dan gua gagal jadi cameo 5 menit karena telat datang pas syuting sehingga posisi gua diganti si Bangsapraja (baca postingan gua sebelum ini), gua jadi tertarik lagi bikin script buat film pendek.
Jelek-jelek gini waktu gua masih SMP, gua pernah ikutan bikin script film pendek yang digagas oleh merk pasta gigi terkenal dan masuk 30 besar. Gua kandas di 30 besar dan gak dapat hadiah apa-apa tapi dapet pengalaman dan kebanggaan sendiri secara gua masih SMP.
Script yang gua buat dulu tentu berasal dari pengalaman pribadi karena semua tulisan gua idenya harus datang dari pengalaman gua sendiri atau minimal gua terlibat di dalamnya supaya gua bisa menulis dengan detil dan lengkap.
Script gua dulu judulnya 'Ayunan Sepeda', cerita tentang anak sekolahan yang lagi naksir ama adik kelasnya dan setiap sore dia ke rumah si pacar sambil mengayuh sepeda dan setiap dia ke rumah si pacar dia selalu membawa wingman atau side kick. Semuanya terasa lancar sampai suatu hari, entah kenapa hari itu banyak sekali gangguan sewaktu si tokoh utama itu hendak pergi ke rumah pacarnya padahal hari itu adalah hari special untuk keduanya.
Jelas ini cerita dari pengalaman pribadi gua karena waktu SMP, gua kalau pacaran pasti naik sepeda dan hampir selalu bawa si Ambu buat jadi wingman. Tapi si Ambu mah gak ikut pacaran, gua suruh tunggu dia di depan Masjid dengan iming-iming "Habis dari sini, gua traktir Dallas Fried Chicken, Mbu"
Dallas Fried Chicken itu nama merk Ayam tepung yang harganya 2.000-3.000 yang dijual di pinggir jalan. Gak tau itu daging apaan yang penting enak lah dan bikin kenyang perut
Gua senang, pacar senang, Ambu senang dan Malamnya si Ambu laporan kalau dia mencret akut gegara makan Ayam tepung 2 rebuan.
...................................................................
Mikir keras akhirnya gua nemu cerita yang bisa dipakai buat script film pendek. Judulnya 'Di Balik Jendela' dan cerita ini datang dari tahun 2013, saat gua masih pacaran dengan Miss. R
Tahun 2013, saat kita masih berpacaran kita terpisah dengan jarak. Rumah dia emang di Bandung dan lumayan dekat ama rumah gua, 10 menitan aja tapi dia kerja di Jakarta dan pulang 1 bulan 1x karena harus berhemat. Ongkos Bandung - Jakarta itu biar naik Travel yang paling murah sekalipun tetap aja harus keluar minimal 150rb.
Kalau dia gak pulang, gua yang berkunjung ke Jakarta, ganti-gantian aja. Saat itu gua masih merintis Clobberin Time, penghasilan sudah mulai lumayan tapi tetep aja gua harus tetap selektif dalam hal pengeluaran karena namanya juga masih merintis usaha.
Kalau misalnya gua ke Jakarta, gua biasanya pergi Jumat Pagi terus ketemu pas dia jam makan siang dan setelah itu dia kembali ke kantornya dan gua ketemu beberapa buyer Clobberin Time terus lanjut ketemu jam 6 Sore sampai Malam.
Biasanya kita ngobrol dan makan di daerah Sarinah karena disana ada Pool Travel buat gua pulang ke Bandung. Makannya kalau daerah Jakarta itu gua paling hafal daerah Sarinah secara tiap pacaran gua selalu disana, huehuehue.
Tapi ada 1 hal yang mungkin dia gak tahu karena Travel disana itu cuma sampai jam 9 Malam dan hari Jumat itu adalah hari dimana orang Bandung di Jakarta otw pulang ke Bandung jadi gua sering banget gak dapat Travel. Ya namanya juga orang jarang ketemu ya sekalinya ketemu pasti pengen lama kan jadi kadang jam pulang juga gak dipedulikan, maklumlah.
Gua selalu ngomong ke Miss R kalau gua sudah naik di mobil travel buat otw pulang padahal belum karena tidak ada travel yang berangkat setelah jam 9 dan kalaupun ada, kecil kemungkinan gua bisa naik karena yang ngantri yang sudah luar biasa banyak.
Jadi apa yang gua lakukan? Yang gua lakukan adalah 'menginap' di McDonalds Sarinah sambil menunggu fajar tiba supaya gua bisa naik Travel yang jam 5 subuh. Kenapa gak nginep di Hotel aja San?
Jawabannya ya itu tadi, gua masih merintis usaha sendiri jadi gua harus benar-benar selektif. Gua mikir gini, gua hanya perlu bertahan sampai jam 5 subuh dan setelah itu pulang. Sayang kan kalau misal kita harus nginep di Hotel padahal cuma dipake buat tidur sebentar?
Sekali lagi harap maklum namanya juga baru merintis usaha, belum seperti sekarang jadi setiap pengeluaran harus diperhatikan betul. Nginep di rumah buyer atau saudara sebenarnya bisa aja tapi gua gak mau ngerepotin orang jadi 'menginap' di McD adalah opsi terbaik buat gua. Oh ya Miss R sendiri gak pernah tau kalau gua 'menginap' di McD karena gua emang sengaja gak kasih tau dia supaya dia gak khawatir.
......................................................................
Saking seringnya menginap, gua sampai hafal alur McD setiap hari Jumat. Biasanya jam 11 malam sampai jam 1 Malam itu para gay datang buat berkumpul. Dan gua bilang ini bukan Gay yang kelas kampung tapi yang putih, bersih dan ganteng.
Pernah gua lihat ada 1 cowok ganteng, bersih, putih terus dia lagi nelpon gitu kan. Dan pas dia nelpon, aslinya keluar dong sampai gua takut sendiri.
"Ih, kamu kenapa gak jadi datang? Aku kan sudah nungguin kamu, sebel deh" Kamu bayangkan cowo kekar, putih dan bersih tapi berbatang terus ngomongnya melambai gitu.
Pernah juga gua lagi duduk terus ngerasa diperhatiin ama cewek, kita sempet curi-curi pandang dan pas gua tilik-tilik kok ada TEMBOLOKnya eh JAKUN maksudnya. Ternyata ini cewek berbatang.
Setelah gay bubar, biasanya rombongan yang habis dugem yang datang. Pernah gua lihat ada 4 orang yang masuk ke McD, 2 orang masih fresh dan normal tapi 2 lagi keliatan parah banget. Si cewek matanya merah banget, mungkin habis mabok dan yang cowok dari pertama dia masuk sampai mereka keluar, dia cuma merem sambil menundukkan kepala.
Bahkan paket burger yang dibeliin ama temannya sama sekali gak disentuh. Gak tau lagi mabok, gak tau lagi sakauw.
Jam 4 subuh biasanya keadaan McD sudah mulai sepi dan tinggal gua seorang diri ditemani cleaning service McD yang ngepel lantai dan jendela untuk persiapan besok Pagi. Gua duduk di balik jendela sambil memikirkan banyak hal, terutama yang gua pikirkan adalah gua harus jadi orang sukses dan usaha gua bisa berkembang supaya gua gak nginep di McD terus dan bisa membahagiakan orang tua dan pasangan.
Buat orang yang suka begadang mungkin bukan masalah ya tapi berhubung gua selalu tidur teratur dan gak pernah begadang, hal itu menjadi sedikit masalah buat gua. Waktu terasa begitu lambat karena gua juga gak tau mau ngapain di McD dan yang cuma bisa gua lakukan adalah duduk melamun di balik jendela sambil menunggu subuh datang.
..............................................................................
Pengalaman itu yang kemudian bakalan gua angkat di script film pendek yang judulnya "Di Balik Jendela".
Sedikit menyimpang, gua yakin semua pria mempunyai cara masing-masing saat mereka sedang mengalami patah hati.
"Lu pas ditinggal si Miss. S, apa yang lu lakuin bor?" tanya gua ke si Arya dalam sebuah obrolan.
"Gua ngegambar" kata si Arya sambil nunjukkin buku sketsa isi gambar dia.
Gua buka buku sketsa si Arya dan takjub liat buku dia yang isinya gambar sketsa Miss. S. Gua heran dan gak nyangka kok si Arya bisa sampai gambar sketsa sebagus ini.
"Gua sebelumnya emang gak bisa gambar tapi buat membunuh rasa sepi gua, gua jadi gambar muka dia tiap Malam karena ingatan tentang dia masih menempel di kepala gua"
War biasa. Putus cinta ternyata bisa bikin orang jadi jago menggambar. Selain menggambar, Arya juga cerita kalau hampir setiap hari dia chat ke Miss. S tapi gak pernah dibalas. Biar gak dibalas tapi si Arya tetep chat seolah gak ada apa-apa.
Maksudnya gimana?
"Iya gua kan pasti chat dia di Pagi hari, ngucapin selamat pagi. Gak pernah dibalas sih dan kalau gak dibalas ya gua chat lagi, ceritain hari ini gua ngapain aja terus nanya kabar dia meskipun gak pernah dibalas, cuma dibaca aja"
Ini sedih. Gua membayangkan rasanya pasti gak enak banget, kita cerita panjang lebar tapi cuma dibaca, gak pernah dibalas dan itu dilakukan si Arya setiap hari. Cerita tentang apa yang dia lakuin tapi gak pernah direspon.
"Tapi hal itu membuat gua jadi belajar. Ketika gua ditinggal lagi ama orang yang gua sayang, gua sudah jadi jauh lebih kuat" kata Ary.
Arya juga cerita kalau saat Malam datang dan dia lagi gak pengen gambar, yang dia lakukan adalah cari jurig alias hantu pakai aplikasi Ghost Hunter. Rasa patah hati bahkan bisa mengalahkan rasa takut.
Kalau lu, apa yang lu lakuin San saat patah hati?
Biasanya gua menulis agar pikiran dan jiwa tenang tapi yang lebih sering gua lakukan adalah melamun dan berpikir di balik jendela sambil mencari sendiri jawaban untuk banyak pertanyaan tentang hubungan yang kandas ini.
..............................................................................
Proses penulisan script 'Di Balik Jendela' sudah hampir rampung dan gua tulis di sela-sela rutinintas gua. Biasanya di Malam hari pas sampai rumah, gua langsung geber buat menulis (jarang-jarang nih karena biasanya kalau sampai rumah, yang gua lakukan adalah baca komik atau main Gameboy).
Tapi yang sedikit menjadi masalah adalah gua belum kunjung menemukan narasi yang pas untuk memulai cerita ini. Hampir 5x narasi yang sudah gua buat, gua hapus lagi karena merasa kurang sreg sampai akhirnya gua menenukan narasi yang pas, disaat gua sedang melamun di balik jendela kamar gua.
Di Balik Jendela (Ide Cerita by: Stefanus Sani)
Narasi: Hal apa yang paling menyakitkan yang terjadi di hidup ini? Mungkin saat kamu diitinggal saat sedang sayang-sayangnya. Menyakitkan melihat orang yang pernah kamu sayang kini bahagia dengan orang lain dan kamu jatuh terpuruk sendiri tanpa dia mempedulikan kamu lagi. Melihat dia sedang tertawa bahagia dengan pasangan barunya dan kamu hanya bisa diam sembari meyakinkan diri kamu bahwa semua akan baik-baik saja walaupun kamu tahu tidak pernah tahu kapan hari itu datang. Tetapi rasa kecewa itu akan membuat kamu menjadi jauh lebih kuat dari sebelumnya dan saat waktunya tiba, rasa sakit hati itu akan berubah menjadi motivas berlipat yang akan membawa kamu semakin tinggi lagi.
Terkadang pria membutuhkan rasa sakit agar dia bisa menjadi pria yang lebih baik lagi dan ini adalah cerita tentang arti merelakan.
Gua setuju, terkadang kita membutuhkan rasa sakit agar kita bisa belajar dari kesalahan agar kita bisa naik ke level yang lebih tinggi lagi,
Jelek-jelek gini waktu gua masih SMP, gua pernah ikutan bikin script film pendek yang digagas oleh merk pasta gigi terkenal dan masuk 30 besar. Gua kandas di 30 besar dan gak dapat hadiah apa-apa tapi dapet pengalaman dan kebanggaan sendiri secara gua masih SMP.
Script yang gua buat dulu tentu berasal dari pengalaman pribadi karena semua tulisan gua idenya harus datang dari pengalaman gua sendiri atau minimal gua terlibat di dalamnya supaya gua bisa menulis dengan detil dan lengkap.
Script gua dulu judulnya 'Ayunan Sepeda', cerita tentang anak sekolahan yang lagi naksir ama adik kelasnya dan setiap sore dia ke rumah si pacar sambil mengayuh sepeda dan setiap dia ke rumah si pacar dia selalu membawa wingman atau side kick. Semuanya terasa lancar sampai suatu hari, entah kenapa hari itu banyak sekali gangguan sewaktu si tokoh utama itu hendak pergi ke rumah pacarnya padahal hari itu adalah hari special untuk keduanya.
Jelas ini cerita dari pengalaman pribadi gua karena waktu SMP, gua kalau pacaran pasti naik sepeda dan hampir selalu bawa si Ambu buat jadi wingman. Tapi si Ambu mah gak ikut pacaran, gua suruh tunggu dia di depan Masjid dengan iming-iming "Habis dari sini, gua traktir Dallas Fried Chicken, Mbu"
Dallas Fried Chicken itu nama merk Ayam tepung yang harganya 2.000-3.000 yang dijual di pinggir jalan. Gak tau itu daging apaan yang penting enak lah dan bikin kenyang perut
Gua senang, pacar senang, Ambu senang dan Malamnya si Ambu laporan kalau dia mencret akut gegara makan Ayam tepung 2 rebuan.
...................................................................
Mikir keras akhirnya gua nemu cerita yang bisa dipakai buat script film pendek. Judulnya 'Di Balik Jendela' dan cerita ini datang dari tahun 2013, saat gua masih pacaran dengan Miss. R
Tahun 2013, saat kita masih berpacaran kita terpisah dengan jarak. Rumah dia emang di Bandung dan lumayan dekat ama rumah gua, 10 menitan aja tapi dia kerja di Jakarta dan pulang 1 bulan 1x karena harus berhemat. Ongkos Bandung - Jakarta itu biar naik Travel yang paling murah sekalipun tetap aja harus keluar minimal 150rb.
Kalau dia gak pulang, gua yang berkunjung ke Jakarta, ganti-gantian aja. Saat itu gua masih merintis Clobberin Time, penghasilan sudah mulai lumayan tapi tetep aja gua harus tetap selektif dalam hal pengeluaran karena namanya juga masih merintis usaha.
Kalau misalnya gua ke Jakarta, gua biasanya pergi Jumat Pagi terus ketemu pas dia jam makan siang dan setelah itu dia kembali ke kantornya dan gua ketemu beberapa buyer Clobberin Time terus lanjut ketemu jam 6 Sore sampai Malam.
Biasanya kita ngobrol dan makan di daerah Sarinah karena disana ada Pool Travel buat gua pulang ke Bandung. Makannya kalau daerah Jakarta itu gua paling hafal daerah Sarinah secara tiap pacaran gua selalu disana, huehuehue.
Tapi ada 1 hal yang mungkin dia gak tahu karena Travel disana itu cuma sampai jam 9 Malam dan hari Jumat itu adalah hari dimana orang Bandung di Jakarta otw pulang ke Bandung jadi gua sering banget gak dapat Travel. Ya namanya juga orang jarang ketemu ya sekalinya ketemu pasti pengen lama kan jadi kadang jam pulang juga gak dipedulikan, maklumlah.
Gua selalu ngomong ke Miss R kalau gua sudah naik di mobil travel buat otw pulang padahal belum karena tidak ada travel yang berangkat setelah jam 9 dan kalaupun ada, kecil kemungkinan gua bisa naik karena yang ngantri yang sudah luar biasa banyak.
Jadi apa yang gua lakukan? Yang gua lakukan adalah 'menginap' di McDonalds Sarinah sambil menunggu fajar tiba supaya gua bisa naik Travel yang jam 5 subuh. Kenapa gak nginep di Hotel aja San?
Jawabannya ya itu tadi, gua masih merintis usaha sendiri jadi gua harus benar-benar selektif. Gua mikir gini, gua hanya perlu bertahan sampai jam 5 subuh dan setelah itu pulang. Sayang kan kalau misal kita harus nginep di Hotel padahal cuma dipake buat tidur sebentar?
Sekali lagi harap maklum namanya juga baru merintis usaha, belum seperti sekarang jadi setiap pengeluaran harus diperhatikan betul. Nginep di rumah buyer atau saudara sebenarnya bisa aja tapi gua gak mau ngerepotin orang jadi 'menginap' di McD adalah opsi terbaik buat gua. Oh ya Miss R sendiri gak pernah tau kalau gua 'menginap' di McD karena gua emang sengaja gak kasih tau dia supaya dia gak khawatir.
......................................................................
Saking seringnya menginap, gua sampai hafal alur McD setiap hari Jumat. Biasanya jam 11 malam sampai jam 1 Malam itu para gay datang buat berkumpul. Dan gua bilang ini bukan Gay yang kelas kampung tapi yang putih, bersih dan ganteng.
Pernah gua lihat ada 1 cowok ganteng, bersih, putih terus dia lagi nelpon gitu kan. Dan pas dia nelpon, aslinya keluar dong sampai gua takut sendiri.
"Ih, kamu kenapa gak jadi datang? Aku kan sudah nungguin kamu, sebel deh" Kamu bayangkan cowo kekar, putih dan bersih tapi berbatang terus ngomongnya melambai gitu.
Pernah juga gua lagi duduk terus ngerasa diperhatiin ama cewek, kita sempet curi-curi pandang dan pas gua tilik-tilik kok ada TEMBOLOKnya eh JAKUN maksudnya. Ternyata ini cewek berbatang.
Setelah gay bubar, biasanya rombongan yang habis dugem yang datang. Pernah gua lihat ada 4 orang yang masuk ke McD, 2 orang masih fresh dan normal tapi 2 lagi keliatan parah banget. Si cewek matanya merah banget, mungkin habis mabok dan yang cowok dari pertama dia masuk sampai mereka keluar, dia cuma merem sambil menundukkan kepala.
Bahkan paket burger yang dibeliin ama temannya sama sekali gak disentuh. Gak tau lagi mabok, gak tau lagi sakauw.
Jam 4 subuh biasanya keadaan McD sudah mulai sepi dan tinggal gua seorang diri ditemani cleaning service McD yang ngepel lantai dan jendela untuk persiapan besok Pagi. Gua duduk di balik jendela sambil memikirkan banyak hal, terutama yang gua pikirkan adalah gua harus jadi orang sukses dan usaha gua bisa berkembang supaya gua gak nginep di McD terus dan bisa membahagiakan orang tua dan pasangan.
Buat orang yang suka begadang mungkin bukan masalah ya tapi berhubung gua selalu tidur teratur dan gak pernah begadang, hal itu menjadi sedikit masalah buat gua. Waktu terasa begitu lambat karena gua juga gak tau mau ngapain di McD dan yang cuma bisa gua lakukan adalah duduk melamun di balik jendela sambil menunggu subuh datang.
..............................................................................
Pengalaman itu yang kemudian bakalan gua angkat di script film pendek yang judulnya "Di Balik Jendela".
Sedikit menyimpang, gua yakin semua pria mempunyai cara masing-masing saat mereka sedang mengalami patah hati.
"Lu pas ditinggal si Miss. S, apa yang lu lakuin bor?" tanya gua ke si Arya dalam sebuah obrolan.
"Gua ngegambar" kata si Arya sambil nunjukkin buku sketsa isi gambar dia.
Gua buka buku sketsa si Arya dan takjub liat buku dia yang isinya gambar sketsa Miss. S. Gua heran dan gak nyangka kok si Arya bisa sampai gambar sketsa sebagus ini.
"Gua sebelumnya emang gak bisa gambar tapi buat membunuh rasa sepi gua, gua jadi gambar muka dia tiap Malam karena ingatan tentang dia masih menempel di kepala gua"
War biasa. Putus cinta ternyata bisa bikin orang jadi jago menggambar. Selain menggambar, Arya juga cerita kalau hampir setiap hari dia chat ke Miss. S tapi gak pernah dibalas. Biar gak dibalas tapi si Arya tetep chat seolah gak ada apa-apa.
Maksudnya gimana?
"Iya gua kan pasti chat dia di Pagi hari, ngucapin selamat pagi. Gak pernah dibalas sih dan kalau gak dibalas ya gua chat lagi, ceritain hari ini gua ngapain aja terus nanya kabar dia meskipun gak pernah dibalas, cuma dibaca aja"
Ini sedih. Gua membayangkan rasanya pasti gak enak banget, kita cerita panjang lebar tapi cuma dibaca, gak pernah dibalas dan itu dilakukan si Arya setiap hari. Cerita tentang apa yang dia lakuin tapi gak pernah direspon.
"Tapi hal itu membuat gua jadi belajar. Ketika gua ditinggal lagi ama orang yang gua sayang, gua sudah jadi jauh lebih kuat" kata Ary.
Arya juga cerita kalau saat Malam datang dan dia lagi gak pengen gambar, yang dia lakukan adalah cari jurig alias hantu pakai aplikasi Ghost Hunter. Rasa patah hati bahkan bisa mengalahkan rasa takut.
Kalau lu, apa yang lu lakuin San saat patah hati?
Biasanya gua menulis agar pikiran dan jiwa tenang tapi yang lebih sering gua lakukan adalah melamun dan berpikir di balik jendela sambil mencari sendiri jawaban untuk banyak pertanyaan tentang hubungan yang kandas ini.
..............................................................................
Proses penulisan script 'Di Balik Jendela' sudah hampir rampung dan gua tulis di sela-sela rutinintas gua. Biasanya di Malam hari pas sampai rumah, gua langsung geber buat menulis (jarang-jarang nih karena biasanya kalau sampai rumah, yang gua lakukan adalah baca komik atau main Gameboy).
Tapi yang sedikit menjadi masalah adalah gua belum kunjung menemukan narasi yang pas untuk memulai cerita ini. Hampir 5x narasi yang sudah gua buat, gua hapus lagi karena merasa kurang sreg sampai akhirnya gua menenukan narasi yang pas, disaat gua sedang melamun di balik jendela kamar gua.
Di Balik Jendela (Ide Cerita by: Stefanus Sani)
Narasi: Hal apa yang paling menyakitkan yang terjadi di hidup ini? Mungkin saat kamu diitinggal saat sedang sayang-sayangnya. Menyakitkan melihat orang yang pernah kamu sayang kini bahagia dengan orang lain dan kamu jatuh terpuruk sendiri tanpa dia mempedulikan kamu lagi. Melihat dia sedang tertawa bahagia dengan pasangan barunya dan kamu hanya bisa diam sembari meyakinkan diri kamu bahwa semua akan baik-baik saja walaupun kamu tahu tidak pernah tahu kapan hari itu datang. Tetapi rasa kecewa itu akan membuat kamu menjadi jauh lebih kuat dari sebelumnya dan saat waktunya tiba, rasa sakit hati itu akan berubah menjadi motivas berlipat yang akan membawa kamu semakin tinggi lagi.
Terkadang pria membutuhkan rasa sakit agar dia bisa menjadi pria yang lebih baik lagi dan ini adalah cerita tentang arti merelakan.
Gua setuju, terkadang kita membutuhkan rasa sakit agar kita bisa belajar dari kesalahan agar kita bisa naik ke level yang lebih tinggi lagi,
Sabtu, 21 Juli 2018
Gua memiliki masalah dalam hal berkonsetransi. Masalah ini sudah ada sejak gua kecil dan keluhan dari Guru setiap Mama or Papa gua ambil raport gua adalah "Stefanus ini anaknya susah konsentrasi, gak bisa diem".
Gak salah sih karena sampai sekarang gua pun merasakan hal demikian. Contohnya kecilnya adalah kalau gua lagi beribadah ke Gereja setiap hari Minggu. Pas Pendeta lagi khotbah, pasti ada moment dimana gua keluar buat ke Toilet. Sebenarnya mah gak ke Toilet tapi gua keluar Gereja buat cari angin. Karena di dalam gua susah berkosentrasi.
Sewaktu gua kecil gua dianjurkan buat rajin baca karena membaca katanya bisa melatih konsentrasi dan karena itu, sampai sekarang gua demen banget baca. Gua lahap semua buku, komik dan majalah, prinsip gua cukup 1 biar gak pintar secara akademis tapi setidaknya jangan goblok kalau lagi ngobrol ama orang. Malu kalau cuma 'hah-heh-hoh' doang kalau lagi ngobrol.
Tapi itu pun tidak sepenuhnya membantu karena gua sering mengalami missing ketika membaca. Contohnya gini, gua lagi baca Novel Harry Potter, lembar demi lembar gua baca dan sampai di titik "Ron Wesley pun kemudian mencium Hermione Granger".
Terus gua baru sadar, ini kenapa si Ron main cium ke si Hermione. Sebelum mereka cipokkan, mereka sudah ngapain aja ini. Gua balikkin lagi lembar demi lembar dan gua baru sadar 5 lembar yang gua lewat itu meskipun sudah gua buka dan baca tapi gua gak konsentrasi bacanya jadi gua gak ngeh kenapa tiba-tiba si Ron udah main cium ke si Hermione.
.............................................................
Dalam hal menulis pun gua sebenarnya agak kesulitan untuk berkonsentrasi. Gua kagum dengan temen gua si Arya yang sama-sama suka menulis dan dalam 2-3 jam tulisan dia langsung jadi karena dia berkonsentrasi penuh beda dengan gua yangbisa berjam-jam bahkan bisa berhari-hari. Di ruangan kerja gua ada banyak komik/majalah, ada juga Game Boy/PSP jadi banyak sekali gangguannya.
*Ah main dulu Tetris 1x deh sebelum nulis* atau *Ah baca dulu deh komik Detective Conan, penasaran siapa yang jadi pembunuhnya* atau *Ah jajan Cilor dulu deh di depan rumah*. Hal-hal kecil seperti itu memang sangat menghambat tapi selalu aja gua lakukan, hahahaha.
Oleh karena itu, gua membutuhkan tempat yang sepi dan nyaman ketika gua sedang bekerja. Sampai detik ini, gua belum pernah bawa laptop terus bekerja di Starbucks atau McDonalds misalnya. Mengapa? Karena ya itu tadi, gua tau gua tidak akan bisa berkonsentrasi kalau gua ada disana.
Ada 3 tempat yang biasa gua pake buat menulis dan sering gua tulis di blog, pertama adalah ruangan kerja gua pribadi, kedua adalah Food Court sepi di Mall Lucky Square yang deket rumah gua dan ketiga adalah di Warung Darurat, Cafe punya temen gua si Arya.
Warung Darurat letaknya ada di Jalan Dipati Ukur, deket kampus UNPAD dan dalam 1 Minggu gua bisa 3-5x kesini, biasanya Malam hari sehabis gua beraktivitas. Posisi menulis favorit gua ada di pojok kiri karena darisana gua bisa menulis sambil melihat keadaan di luar. Mayanlah pembersihan mata liat yang menyegarkan. Oh ya Wi-Fi disana lumayan kencang jadi bisa dipakai buat donlod file 'itu'.
Maksudnya file Discovery Channel, proses singa melahirkan. Gitu loh
Selain itu, gua juga sering nitip produk Clobberin Time disini jadi kalau ada buyer yang mau beli dan kebetulan gua gak bisa ketemu, biasaya gua suruh ambil dan milih langsung disini.
Tapi sayang, kelangsungan Warung Darurat sudah berakhir karena biasa sewa yang semakin mencekik, 25jt/tahun dan karena biaya sewa yang terus naik maka Arya memutuskan buat pindah dan cari tempat lain.
Untuk perpisahan sebelum pindah, Arya berencana bikin film pendek buat dilibatkan ke sebuah Festival. Film ini didasari dari cerita pendek temannya dan siapa temannya? Kalian pasti tau-lah siapa, hahahaha
Gua baca scriptnya dan asli keren dan detil bener. Gua pun bakalan jadi cameo di film ini, cameo sekitar 5 menitan. Gua dapet peran sebagai cowok tajir tapi lupa bawa duit pas ngajak si cewek makan di restoran.
Dialog gua cuma ini "Eh, sorry, duit gua dipinjem ama Nyokap bisa pake duit kamu dulu gak" sambil pasang muka bingung karena gak bawa duit.
Ini nih yang namanya akting karena sampai detik ini, kalau gua lagi pergi ama kecengan atau pacar, gua selalu bawa dana yang cukup jadi gak ada ceritanya tuh gua minta dibayarin ama cewek.
Sebenarnya untuk peran ini, gua punya orang yang tepat si Dominikus Banu orangnya. Sebenarnya ini aib tapi gua gak tahan kalau gua ceritain, sebuah aib yang datang di tahun 2009 atau 2010, gua lupa.
Gua pernah nulis kan di tahun itu hobby gua dan temen-temen gua di GS Squad (Geng Sani Squad) adalah nongkrong di PVJ setiap Sabtu Malam (dulu itu kalau sekarang mah gua udah menghindari nongkrong gitu). Dulu di PVJ ada kolam di tengah Mall yang biasa dipakai buat duduk sambil ngunyah kacang sukro atau apalah.
Lagi enak nongkrong temen SMP gua si Bernard Bambang chat gua dan ngabarin kalau dia lagi di PVJ dan ajak ketemu. Bernard tuh temen SMP gua dan pas SMA dia pindah ke Australia.
Nama aslinya Bernard Gunawan tapi dipanggilnya Bernard Bambang karena nama bokapnya Bambang. Kadang dipanggil Bambs karena vokalis Band Samson kan namanya Bambang tapi panggilanya Bambs. Tapi gua lebih suka manggil dia 'Bambyfuck', Bamby tuh nama banci untuk nama Bambang dan untuk 'f*ck' kalian sudah tau kan artinya. Dah luar biasanya sampai hari ini si Bernard dipanggilnya masih 'Bambyfuck' dong, hahahaha
"Eh si Bambyfuck lagi di Bandung nih. Dia ajak ketemuan si Sushi Groove" kata gua sambil liatin sms dari si Bambyfuck.
Gua lagi duduk di kolam bareng Dedi, Banu, Ambu. Kita lagi mikir, kalau makan si Sushi Groove, kira-kira berapa ya. Maklum lah masih level anak kuliahan jadi ngepas semua dananya kecuali Dedi yang kaya raya tapi pelitnya kayak Saiton.
Dalam pemikiran gua, si Bambyfuck harusnya mah traktir gua karena gua pernah nolongin dia. Jadi si Bambyfuck ini kurang ajar, dia dibayarin ortunya buat kuliah di Australia eh si koplok bukannya kuliah dia malah ngekost di Bandung dong biar deket ama pacarnya.
Terus berhubung Ortunya kenal baik dengan gua dan percaya ke gua, dia memohon ke gua supaya kalau Mamanya nelpon ke gua, gua harus meyakinkan Mamanya si Bambyfuck kalau dia lagi kuliah di Australia dan gak lagi di Bandung.
"Tolongin gua please Ja, nanti kalau gua di Bandung gua traktir yang lu mau" kata si Bambyfuck di ujung telpon.
Bukan karena gua teriming-imingi janji si Bambyfuck makannya gua mau nolongin dia tapi lebih ke solidaritas antar temenlah.
Pemikiran gua sih gua bakalan ditraktir di Sushi Groove. Tapi si Dedi & Ambu gak yakin kalau liat track record si Bambyfuck yang sering meleset. Si Ambu ngingetin gua dengan cerita pas gua masih SMP sewaktu ujian Seni Musik dimana kita disuruh bikin lagu sendiri terus nyanyiin lagu itu.
Kebetulan si Bambyfuck kan dulu les gitar dan dia nawarin ke Ambu buat beli lagu guru lesnya, harganya 100rb. Karena kepepet si Ambu deal ama si Bambyfuck.
Pas pembayaran beres eh lagunya gak pernah ada dan pas ujian si Ambu jadinya pake lagu gua dong yang gua buat dalam kurun waktu 15 menit sebelum ujian seni musik. Lagu tentang arti memberi, halah.
Emang sadis si Bambyfuck, udah tajir duit 100rb aja masih diembat -_-
..............................................................................
Si Banu setuju ama gua, kata dia "Kayaknya ditraktir deh San, dia kan udah lama gak ketemu kita"
Tapi untuk persiapan, gua cek dompet. 35rb dan gua gak yakin cukup buat makan di Sushi Groove. Si Dedi mah aman karena dia kan kaya raya, si Banu cuma bawa 20rb dan si Ambu bawa dana cukup tapi dia bilang ke gua, sayang kalau buat dipakai makan Sushi mah karena dia gak terlalu suka Sushi.
Maklum kita semua adalah 'Nasi Uduk Uduk Club'. Si Banu biar modal cuma 20rb tapi paling semangat buat ngajakkin kita pergi karena dia yakin kita semua bakalan ditraktir.
Gua sedikit ragu dan biar aman, gua tag si Dedi dulu, pinjem duit dia kalau misalnya harus bayar. Kita jalan ke Sushi Groove dan ketemulah ama si Bambyfuck dan pacarnya si Ika.
Cari tempat duduk dan sekarang di hadapan gua ada deretan Sushi yang harganya naudzubillah. Gua inget banget ada sushi isi 10 potong yang harganya 95rb.
Akhirnya gua menjatuhkan pilihan ke menu nasi berhubung gua gak suka Sushi. Gua lupa namanya tapi nasi itu isinya nasi, sayuran, potongan daging dan telur ceplok di atasnya. Terus makannya dicampur-campur gitu mirip nasi orek telor bikinan mama gua ini mah.
Makan dan ngobrol akhirnya sampai di sesi akhir dan sesuai dugaan si Ambu, eh ditagih dong sama si Bambyfuck, dia melupakan diri kalau punya janji balas budi ke gua.
Untung gua sudah nge-tag si Dedi dulu jadi aman ditalagin dulu dan ini dia BEST MOMENT yang gak akan gua lupain sepanjang hidup gua. Si Banu dengan muka (sok) lugunya ngomong gini ke si Bernard:
"Bamb, ngutang dulu ya. Gak bawa duit gua" sambil angkat tangan seolah dia adalah Biksu Budha yang sedang hidup selibat dan hidup suci gak makan daging.
Dia yang ngomong eh gua yang malu dengernya. Jir, gua malu banget ke si Ika, pacarnya Bambyfuck. Dan percayalah, sampai detik gua menulis ini, gua yakin si Banu belum bayar itu nasi orek telor ke si Bambyfuck.
Banu adalah orang pertama yang terlintas di pikiran gua ketika si Arya mau kasih peran 'Cowok tajir tapi lupa bawa duit' itu. Si Banu mah gak usah akting karena emang gitu orangnya. Tapi berhubung si Banu lagi kerja di Manado maka gua urungkan niat itu buat merekomendasikan peran itu tadi.
"Eh kalau bisa ada adegan pelukkan atau cium-cium dong kayak Ryan Gosling ama Rachel McAdams di film The Notebook" request gua
"Taekkkk" jawaban dari Arya untuk request gua itu.
Reading sebentar dan kata Arya gua sudah cukup bagus untuk memerankan karakter 'Cowok tajir tapi lupa bawa duit'. Gua kebagian syuting di hari Senen jam 4 Sore karena nungguin pemeran ceweknya selesai kuliah. Oh ya salah satu alasan gua dimasukkan ke film ini untuk menjangkau buyer Clobberin Time yang bejibun itu. Pemikirannya adalah tentu mereka penasaran kan liat mimin-nya Clobberin Time main film dan kalau penasaran tentu mereka gak akan keberatan buat nonton film itu. Lumayan buat nambah Viewers.
..............................................................................
Hari Senin pun tiba dan sialnya hari itu pekerjaan gua di Clobberin Time lagi padat banget. Dari janji jam 4 Sore eh gua baru nongol jam setengah 7 Malam. Apalagi gua gak dikabarin kalau syutingnya kapan mulainya jadi gua berasumsi kalau emang ada keterlambatan buat nunggu pemeran perempuan beres.
Pas gua datang jam setengah 7 Malam, kok suasana adem ayem seperti biasa. Malah ada si Bangsapraja lagi duduk sambil makan nasi goreng.
Dan ternyata syutingnya sudah beres karena lama nungguin gua dan kebetulan ada si Bangsa makannya dia didaulat buat gantiin gua. Anjer si Bangsa, peran 5 menit gua diembat juga.
"Ya lu lama sih. Kebetulan si Bangsa datang jadi dia ajak yang suruh gantiin peran lu"
Gua sempet liat bentar dan ok juga nih akting si Bangsa, ada improvisasi segala, pura-pura nyembur nasi goreng pas ditagih suruh bayar. Meskipun gak jadi main tapi pas gua liat poster filmnya, masih ada nama gua ternyata. Terus gua nanya kok nama gua masih ada padahal gak jadi akting, jawabannya adalah
"Lu kan bawain kalender buat property syuting jadi gua masukkin nama lu" kata si Arya
Sungguh sesuatu yang tidak bisa dibanggakan sama sekali.
.......................................................................................................
Tahun 2011-2015 Rest Area gua ada di Kost si Riekal Fahmi/Erick di daerah Cisitu, Dago. Dia adalah buyer gua dan di tahun itu gua sering banget neduh disana. Itu adalah tahun dimana Clobberin Time masih merintis jadi sehari-hari, waktu gua habis di jalan dan Malamnya gua mampir kesana, buat tiduran atau makan karena di depan Kost si Erick ada angkringan yang enak.
2015-2016 Rest Area gua adalah kost si Gatot di Jatinangor, Sumedang. Ketika gua mengalami patah hati terhebat dalam hidup gua, gua nginep disana sampai 5 hari. Gak ngapa-ngapain hanya tidur-bangun-makan-nonton WWE dan tidur lagi. Terima kasih untuk Gatot yang sudah berbaik hati menyediakan Rest Area untuk gua saat patah hati terhebat itu.
2016-2018 Rest Area gua ada di Warung Darurat. Gua pernah bilang ke Arya, "Bor, kalau suatu hari nanti gua bawa perempuan kesini artinya gua sudah yakin ke dia" dan sampai hari ini hanya ada 1 perempuan yang pernah gua bawa kesana, tanda gua sudah yakin biarpun gak tau dia yakin atau enggak, hahaha
2 hari yang lalu gua mampir lagi Kost si Erick di Cisitu Lama, si Eric mah sudah gak di Bandung karena dia sudah pindah ke Bogor. Gua jajan di angkringan dan aha, si Denny yang biasa jaga di Angkringan masih ingat gua dong.
Dia menjabat tangan gua dan nanyain kenapa gak pernah kesini lagi terus dia bilang pengen nonton WWE bareng lagi kayak dulu. Gua pilih beberapa menu angkringan dan minta ijin buat liat kost si Erick.
Gua buka pintu kost Erick, isinya sudah kosong melompong dan belum diisi lagi sejak si Erick pindah. Ah, gua jadi teringat gimana susahnya gua dulu waktu masih merintis si Clobberin Time, makan seadanya disini terus numpang tidur disini dan pulang larut malam.
Meskipun semua sudah berubah tetapi pasti ada satu moment dimana kita merindukan sesuatu hal dan ingin kembali mengulang hal tersebut untuk 1x lagi.
Gak salah sih karena sampai sekarang gua pun merasakan hal demikian. Contohnya kecilnya adalah kalau gua lagi beribadah ke Gereja setiap hari Minggu. Pas Pendeta lagi khotbah, pasti ada moment dimana gua keluar buat ke Toilet. Sebenarnya mah gak ke Toilet tapi gua keluar Gereja buat cari angin. Karena di dalam gua susah berkosentrasi.
Sewaktu gua kecil gua dianjurkan buat rajin baca karena membaca katanya bisa melatih konsentrasi dan karena itu, sampai sekarang gua demen banget baca. Gua lahap semua buku, komik dan majalah, prinsip gua cukup 1 biar gak pintar secara akademis tapi setidaknya jangan goblok kalau lagi ngobrol ama orang. Malu kalau cuma 'hah-heh-hoh' doang kalau lagi ngobrol.
Tapi itu pun tidak sepenuhnya membantu karena gua sering mengalami missing ketika membaca. Contohnya gini, gua lagi baca Novel Harry Potter, lembar demi lembar gua baca dan sampai di titik "Ron Wesley pun kemudian mencium Hermione Granger".
Terus gua baru sadar, ini kenapa si Ron main cium ke si Hermione. Sebelum mereka cipokkan, mereka sudah ngapain aja ini. Gua balikkin lagi lembar demi lembar dan gua baru sadar 5 lembar yang gua lewat itu meskipun sudah gua buka dan baca tapi gua gak konsentrasi bacanya jadi gua gak ngeh kenapa tiba-tiba si Ron udah main cium ke si Hermione.
.............................................................
Dalam hal menulis pun gua sebenarnya agak kesulitan untuk berkonsentrasi. Gua kagum dengan temen gua si Arya yang sama-sama suka menulis dan dalam 2-3 jam tulisan dia langsung jadi karena dia berkonsentrasi penuh beda dengan gua yangbisa berjam-jam bahkan bisa berhari-hari. Di ruangan kerja gua ada banyak komik/majalah, ada juga Game Boy/PSP jadi banyak sekali gangguannya.
*Ah main dulu Tetris 1x deh sebelum nulis* atau *Ah baca dulu deh komik Detective Conan, penasaran siapa yang jadi pembunuhnya* atau *Ah jajan Cilor dulu deh di depan rumah*. Hal-hal kecil seperti itu memang sangat menghambat tapi selalu aja gua lakukan, hahahaha.
Oleh karena itu, gua membutuhkan tempat yang sepi dan nyaman ketika gua sedang bekerja. Sampai detik ini, gua belum pernah bawa laptop terus bekerja di Starbucks atau McDonalds misalnya. Mengapa? Karena ya itu tadi, gua tau gua tidak akan bisa berkonsentrasi kalau gua ada disana.
Ada 3 tempat yang biasa gua pake buat menulis dan sering gua tulis di blog, pertama adalah ruangan kerja gua pribadi, kedua adalah Food Court sepi di Mall Lucky Square yang deket rumah gua dan ketiga adalah di Warung Darurat, Cafe punya temen gua si Arya.
Warung Darurat letaknya ada di Jalan Dipati Ukur, deket kampus UNPAD dan dalam 1 Minggu gua bisa 3-5x kesini, biasanya Malam hari sehabis gua beraktivitas. Posisi menulis favorit gua ada di pojok kiri karena darisana gua bisa menulis sambil melihat keadaan di luar. Mayanlah pembersihan mata liat yang menyegarkan. Oh ya Wi-Fi disana lumayan kencang jadi bisa dipakai buat donlod file 'itu'.
Maksudnya file Discovery Channel, proses singa melahirkan. Gitu loh
Selain itu, gua juga sering nitip produk Clobberin Time disini jadi kalau ada buyer yang mau beli dan kebetulan gua gak bisa ketemu, biasaya gua suruh ambil dan milih langsung disini.
Tapi sayang, kelangsungan Warung Darurat sudah berakhir karena biasa sewa yang semakin mencekik, 25jt/tahun dan karena biaya sewa yang terus naik maka Arya memutuskan buat pindah dan cari tempat lain.
Untuk perpisahan sebelum pindah, Arya berencana bikin film pendek buat dilibatkan ke sebuah Festival. Film ini didasari dari cerita pendek temannya dan siapa temannya? Kalian pasti tau-lah siapa, hahahaha
Gua baca scriptnya dan asli keren dan detil bener. Gua pun bakalan jadi cameo di film ini, cameo sekitar 5 menitan. Gua dapet peran sebagai cowok tajir tapi lupa bawa duit pas ngajak si cewek makan di restoran.
Dialog gua cuma ini "Eh, sorry, duit gua dipinjem ama Nyokap bisa pake duit kamu dulu gak" sambil pasang muka bingung karena gak bawa duit.
Ini nih yang namanya akting karena sampai detik ini, kalau gua lagi pergi ama kecengan atau pacar, gua selalu bawa dana yang cukup jadi gak ada ceritanya tuh gua minta dibayarin ama cewek.
Sebenarnya untuk peran ini, gua punya orang yang tepat si Dominikus Banu orangnya. Sebenarnya ini aib tapi gua gak tahan kalau gua ceritain, sebuah aib yang datang di tahun 2009 atau 2010, gua lupa.
Gua pernah nulis kan di tahun itu hobby gua dan temen-temen gua di GS Squad (Geng Sani Squad) adalah nongkrong di PVJ setiap Sabtu Malam (dulu itu kalau sekarang mah gua udah menghindari nongkrong gitu). Dulu di PVJ ada kolam di tengah Mall yang biasa dipakai buat duduk sambil ngunyah kacang sukro atau apalah.
Lagi enak nongkrong temen SMP gua si Bernard Bambang chat gua dan ngabarin kalau dia lagi di PVJ dan ajak ketemu. Bernard tuh temen SMP gua dan pas SMA dia pindah ke Australia.
Nama aslinya Bernard Gunawan tapi dipanggilnya Bernard Bambang karena nama bokapnya Bambang. Kadang dipanggil Bambs karena vokalis Band Samson kan namanya Bambang tapi panggilanya Bambs. Tapi gua lebih suka manggil dia 'Bambyfuck', Bamby tuh nama banci untuk nama Bambang dan untuk 'f*ck' kalian sudah tau kan artinya. Dah luar biasanya sampai hari ini si Bernard dipanggilnya masih 'Bambyfuck' dong, hahahaha
"Eh si Bambyfuck lagi di Bandung nih. Dia ajak ketemuan si Sushi Groove" kata gua sambil liatin sms dari si Bambyfuck.
Gua lagi duduk di kolam bareng Dedi, Banu, Ambu. Kita lagi mikir, kalau makan si Sushi Groove, kira-kira berapa ya. Maklum lah masih level anak kuliahan jadi ngepas semua dananya kecuali Dedi yang kaya raya tapi pelitnya kayak Saiton.
Dalam pemikiran gua, si Bambyfuck harusnya mah traktir gua karena gua pernah nolongin dia. Jadi si Bambyfuck ini kurang ajar, dia dibayarin ortunya buat kuliah di Australia eh si koplok bukannya kuliah dia malah ngekost di Bandung dong biar deket ama pacarnya.
Terus berhubung Ortunya kenal baik dengan gua dan percaya ke gua, dia memohon ke gua supaya kalau Mamanya nelpon ke gua, gua harus meyakinkan Mamanya si Bambyfuck kalau dia lagi kuliah di Australia dan gak lagi di Bandung.
"Tolongin gua please Ja, nanti kalau gua di Bandung gua traktir yang lu mau" kata si Bambyfuck di ujung telpon.
Bukan karena gua teriming-imingi janji si Bambyfuck makannya gua mau nolongin dia tapi lebih ke solidaritas antar temenlah.
Pemikiran gua sih gua bakalan ditraktir di Sushi Groove. Tapi si Dedi & Ambu gak yakin kalau liat track record si Bambyfuck yang sering meleset. Si Ambu ngingetin gua dengan cerita pas gua masih SMP sewaktu ujian Seni Musik dimana kita disuruh bikin lagu sendiri terus nyanyiin lagu itu.
Kebetulan si Bambyfuck kan dulu les gitar dan dia nawarin ke Ambu buat beli lagu guru lesnya, harganya 100rb. Karena kepepet si Ambu deal ama si Bambyfuck.
Pas pembayaran beres eh lagunya gak pernah ada dan pas ujian si Ambu jadinya pake lagu gua dong yang gua buat dalam kurun waktu 15 menit sebelum ujian seni musik. Lagu tentang arti memberi, halah.
Emang sadis si Bambyfuck, udah tajir duit 100rb aja masih diembat -_-
..............................................................................
Si Banu setuju ama gua, kata dia "Kayaknya ditraktir deh San, dia kan udah lama gak ketemu kita"
Tapi untuk persiapan, gua cek dompet. 35rb dan gua gak yakin cukup buat makan di Sushi Groove. Si Dedi mah aman karena dia kan kaya raya, si Banu cuma bawa 20rb dan si Ambu bawa dana cukup tapi dia bilang ke gua, sayang kalau buat dipakai makan Sushi mah karena dia gak terlalu suka Sushi.
Maklum kita semua adalah 'Nasi Uduk Uduk Club'. Si Banu biar modal cuma 20rb tapi paling semangat buat ngajakkin kita pergi karena dia yakin kita semua bakalan ditraktir.
Gua sedikit ragu dan biar aman, gua tag si Dedi dulu, pinjem duit dia kalau misalnya harus bayar. Kita jalan ke Sushi Groove dan ketemulah ama si Bambyfuck dan pacarnya si Ika.
Cari tempat duduk dan sekarang di hadapan gua ada deretan Sushi yang harganya naudzubillah. Gua inget banget ada sushi isi 10 potong yang harganya 95rb.
Akhirnya gua menjatuhkan pilihan ke menu nasi berhubung gua gak suka Sushi. Gua lupa namanya tapi nasi itu isinya nasi, sayuran, potongan daging dan telur ceplok di atasnya. Terus makannya dicampur-campur gitu mirip nasi orek telor bikinan mama gua ini mah.
Makan dan ngobrol akhirnya sampai di sesi akhir dan sesuai dugaan si Ambu, eh ditagih dong sama si Bambyfuck, dia melupakan diri kalau punya janji balas budi ke gua.
Untung gua sudah nge-tag si Dedi dulu jadi aman ditalagin dulu dan ini dia BEST MOMENT yang gak akan gua lupain sepanjang hidup gua. Si Banu dengan muka (sok) lugunya ngomong gini ke si Bernard:
"Bamb, ngutang dulu ya. Gak bawa duit gua" sambil angkat tangan seolah dia adalah Biksu Budha yang sedang hidup selibat dan hidup suci gak makan daging.
Dia yang ngomong eh gua yang malu dengernya. Jir, gua malu banget ke si Ika, pacarnya Bambyfuck. Dan percayalah, sampai detik gua menulis ini, gua yakin si Banu belum bayar itu nasi orek telor ke si Bambyfuck.
Banu adalah orang pertama yang terlintas di pikiran gua ketika si Arya mau kasih peran 'Cowok tajir tapi lupa bawa duit' itu. Si Banu mah gak usah akting karena emang gitu orangnya. Tapi berhubung si Banu lagi kerja di Manado maka gua urungkan niat itu buat merekomendasikan peran itu tadi.
"Eh kalau bisa ada adegan pelukkan atau cium-cium dong kayak Ryan Gosling ama Rachel McAdams di film The Notebook" request gua
"Taekkkk" jawaban dari Arya untuk request gua itu.
Reading sebentar dan kata Arya gua sudah cukup bagus untuk memerankan karakter 'Cowok tajir tapi lupa bawa duit'. Gua kebagian syuting di hari Senen jam 4 Sore karena nungguin pemeran ceweknya selesai kuliah. Oh ya salah satu alasan gua dimasukkan ke film ini untuk menjangkau buyer Clobberin Time yang bejibun itu. Pemikirannya adalah tentu mereka penasaran kan liat mimin-nya Clobberin Time main film dan kalau penasaran tentu mereka gak akan keberatan buat nonton film itu. Lumayan buat nambah Viewers.
..............................................................................
Hari Senin pun tiba dan sialnya hari itu pekerjaan gua di Clobberin Time lagi padat banget. Dari janji jam 4 Sore eh gua baru nongol jam setengah 7 Malam. Apalagi gua gak dikabarin kalau syutingnya kapan mulainya jadi gua berasumsi kalau emang ada keterlambatan buat nunggu pemeran perempuan beres.
Pas gua datang jam setengah 7 Malam, kok suasana adem ayem seperti biasa. Malah ada si Bangsapraja lagi duduk sambil makan nasi goreng.
Dan ternyata syutingnya sudah beres karena lama nungguin gua dan kebetulan ada si Bangsa makannya dia didaulat buat gantiin gua. Anjer si Bangsa, peran 5 menit gua diembat juga.
"Ya lu lama sih. Kebetulan si Bangsa datang jadi dia ajak yang suruh gantiin peran lu"
Gua sempet liat bentar dan ok juga nih akting si Bangsa, ada improvisasi segala, pura-pura nyembur nasi goreng pas ditagih suruh bayar. Meskipun gak jadi main tapi pas gua liat poster filmnya, masih ada nama gua ternyata. Terus gua nanya kok nama gua masih ada padahal gak jadi akting, jawabannya adalah
"Lu kan bawain kalender buat property syuting jadi gua masukkin nama lu" kata si Arya
Sungguh sesuatu yang tidak bisa dibanggakan sama sekali.
.......................................................................................................
Tahun 2011-2015 Rest Area gua ada di Kost si Riekal Fahmi/Erick di daerah Cisitu, Dago. Dia adalah buyer gua dan di tahun itu gua sering banget neduh disana. Itu adalah tahun dimana Clobberin Time masih merintis jadi sehari-hari, waktu gua habis di jalan dan Malamnya gua mampir kesana, buat tiduran atau makan karena di depan Kost si Erick ada angkringan yang enak.
2015-2016 Rest Area gua adalah kost si Gatot di Jatinangor, Sumedang. Ketika gua mengalami patah hati terhebat dalam hidup gua, gua nginep disana sampai 5 hari. Gak ngapa-ngapain hanya tidur-bangun-makan-nonton WWE dan tidur lagi. Terima kasih untuk Gatot yang sudah berbaik hati menyediakan Rest Area untuk gua saat patah hati terhebat itu.
2016-2018 Rest Area gua ada di Warung Darurat. Gua pernah bilang ke Arya, "Bor, kalau suatu hari nanti gua bawa perempuan kesini artinya gua sudah yakin ke dia" dan sampai hari ini hanya ada 1 perempuan yang pernah gua bawa kesana, tanda gua sudah yakin biarpun gak tau dia yakin atau enggak, hahaha
2 hari yang lalu gua mampir lagi Kost si Erick di Cisitu Lama, si Eric mah sudah gak di Bandung karena dia sudah pindah ke Bogor. Gua jajan di angkringan dan aha, si Denny yang biasa jaga di Angkringan masih ingat gua dong.
Dia menjabat tangan gua dan nanyain kenapa gak pernah kesini lagi terus dia bilang pengen nonton WWE bareng lagi kayak dulu. Gua pilih beberapa menu angkringan dan minta ijin buat liat kost si Erick.
Gua buka pintu kost Erick, isinya sudah kosong melompong dan belum diisi lagi sejak si Erick pindah. Ah, gua jadi teringat gimana susahnya gua dulu waktu masih merintis si Clobberin Time, makan seadanya disini terus numpang tidur disini dan pulang larut malam.
Meskipun semua sudah berubah tetapi pasti ada satu moment dimana kita merindukan sesuatu hal dan ingin kembali mengulang hal tersebut untuk 1x lagi.
Senin, 25 Juni 2018
Gua baru inget, ternyata di bulan ini tepat 3 tahun gua pindah rumah (baca postingan gua di tahun 2015 yang judulnya 'Move On'.
Kalau kalian baca postingan itu, kalian pasti tahu betapa beratnya gua buat pindah rumah. Jarak rumah gua yang lama dengan yang baru sebenarnya deket banget, 10 langkah juga sampai.
Tapi apa artinya dekat kalau kita sudah tidak bisa lagi masuk ke rumah itu lagi bukan?
Gua adalah orang yang sangat menghargai kenangan. Gua banyak menyimpan surat cinta pertama gua, tiket nonton, tiket travel, struk makan gua dan pacar, perahu kertas hasil lipatan pacar, sampai nilai ulangan dan tugas gua pas masih sekolah dulu, semuanya masih tersimpan rapih.
Kalau hal sekecil itu aja gua simpan dan kenang, kalian tentu bisa menebak gimana susahnya gua ketika gua harus pindah dari rumah gua yang gua tempatin sejak kecil ke rumah baru.
Disaat Ortu dan Kakak gua sudah pindah, cuma gua yang masih bertahan tinggal di rumah lama gua. Pokoknya gua mau tidur disana sampai hari terakhir dimana gua sudah gak bisa tidur disana lagi.
Selama 2 bulan lamanya gua tidur sendiri di lantai atas yang tinggal menyisakan sofa buat gua tidur dan laptop buat gua kerja. Pokoknya gua bakalan bertahan disini sampai hari terakhir meskipun gua sadar, hari itu akan datang hari dimana gua gak akan bisa kesini lagi.
Setelah hari itu tiba dan gua mulai pindah ke kamar gua yang baru, rasanya gimana gitu. Seperti ada yang beda dan ketika pertama kali bangun di kamar baru gua, gua belum seutuhnya menerima kenyataan kalau gua harus pindah.
Biarpun hati gak terima tapi gua HARUS menerima kenyataan kalau gua harus pindah. Satu hal yang mengganjal sebelum gua pindah adalah rumah yang gua tempatin sekarang, banyak banget cerita mistisnya.
Satu hal yang paling gua ingat adalah cerita tetangga gua yang pas lagi jalan kaki buat sholat subuh di Masjid. Nah, pas di lewatin rumah gua ini (dulu masih diisi orang lain sebelum dibeli oleh keluarga gua), dia ngedenger suara cewek lagi cekikikan.
Wah, wah sudah gak beres ini mah. Dan pas Pak Haji nengok, dia lihat ada kuntilanak lagi duduk di batang pohon sambil menggoyangkan kakinya. Pak Haji langsung teriak 'Allahu Akbar' dan langsung ngacir ke Mesjid. Cerita itu kemudian menyebar ke tetangga dan pas pertama gua denger cerita itu dari Mama, satu kalimat yang keluar dari mulut gua adalah 'Untung kita gak tinggal disana ya Ma'
Eh suek bener, gak taunya beneran gua sekarang malah tinggal disana dan pohon yang katanya jadi tempat kuntilanak nakutin si Pak Haji letaknya pas ngadep ke jendela kamar gua. Suek, suek.
Hal itu diperparah dengan fakta tentang kondisi di dalam rumah. Dulu rumah ini ditempati ama si Trendy temen SMP gua dan pas gua sekali main kesana, yang ada di pikiran gua adalah ini rumah dalamnya sempit amat jir.
Yang paling ngeri adalah bagian toiletnya yang lembab dan ada sumur, makin angker. Terus gua nanya ke Trendy "Trend, ini depan WC kok banyak cucian baju ama cucian piring kotor sisa makan"
"Iya San, di rumah ini gak ada dapur ama tempat cuci piringnya. Jadi mandi, cuci baju, cuci piring di toilet"
Anjeer, gua yang sejak kecil diajar untuk selalu rapih & bersih cuma bengong sambil ngebayang gimana susahnya jadi si Trendy. Gimana kalau adiknya lagi kebelet boker terus si Trendy yang kebagian cuci piring. Cuci piring dapet bonus cium tinja adik.
Gua naik ke lantai 2, ini mah lebih parah lagi. Selain gak terawat, auranya juga sudah beda. Gua ingat banget di lantai 2 ada tiang dan tiang itu dijadiin sandaran buat ngiket anjing. Jadi itu anjing makan disana, berak disana + ena-ena disana kalau ada pasangannya.
Dan coba kamu bayangkan dengan semua fakta tersebut, gua harus keluar dari zona nyaman gua dari rumah lama ke rumah itu.
Berat? Super berat. Apalagi pas awal-awal pindah, gua hampir tiap malam bermimpi kalau gua masih di rumah gua yang lama. Gua bahkan sampai tahapan dimana gua sadar kalau gua itu lagi mimpi tapi gua gak mau bangun karena gua masih ingin disana.
Pas gua bangun, gua buka tirai dan mengintip rumah lama gua. Dari jendela kamar gua emang bisa liat langsung rumah lama gua. Dan gua baru sadar 1 fakta baru yaitu dari jendela kamar gua yang ini ternyata bisa langsung lihat ruangan tempat gua menulis di lantai 2.
Jadi selama ini kalau gua lagi melakukan hal-hal pribadi keliatan dong sama si Trendy? Hal-hal pribadi seperti berdoa dan baca Alkitab misalnya. Sudah mikir jorok ya lu semua.
"Coba kamu belajar untuk mulai menyukai yang baru. Yang baru juga bisa baik asal kamu bisa menerimanya" kata Mama di suatu hari ketika gua mengeluh soal rumah baru.
Perlahan tapi pasti Kakak gua yang seorang Arsitek mulai merombak rumah baru gua. Sumur sudah ditutup, toilet diberi sentuhan modern, dibuat dapur dan wastafel buat cuci piring biar gak nyatu lagi ama WC. Diberi sentuhan cat berwarna biar terasa fresh dan elegan.
Gua yang kebagian lantai 2 mulai merombak semuanya dengan gaya gua. Pohon depan rumah sengaja ditebang dan lantai diberi sentuhan vynl agar modern dan seiring berjalannya waktu, gua mulai betah tinggal di rumah sini.
Gak pernah ada kejadian aneh-aneh di rumah gua karena kita percaya ada Tuhan yang menjaga rumah ini. Gua yang awalnya gak mau pindah kini malah betah tinggal disini dan menikmati hari demi hari gua disini.
Kalau dulu tiap lewatin rumah lama, gua masih ada perasaan belum rela kalau rumah ini diisi oleh orang lain sekarang gua ngerasanya biasa aja. Seperti penggalan kisah lama yang pernah mengisi hidup gua, tidak lebih.
.............................................................................................
"Min, lu pernah jadi Yes Man gak?" tanya temen gua si Bangsapraja suatu hari. Jadi ceritanya gua dan si Bangsa ini lagi janjian mau ketemuan. Gua mau nanya soal Console 'Nintendo Switch' karena gua lagi ngidam ini barang.
"Yes Man? Gimana, gimana maksudnya" tanya gua. Dalam posisi nyetir mobil, Bangsa cerita kalau dia pernah dekat dengan seorang perempuan. Pas gua diliatin fotonya, wah cantik ini mah. Cocoklah ama gua eh salah cocok ama Bangsa maksudnya.
Maksud YES Man adalah sikap kita ke pacar/gebetan. Jadi setiap pacar/gebetan kita minta tolong, kita pasti bilang "BISA". Mau sesibuk apapun tapi begitu pacar/gebetan minta tolong, kita pasti bakalan bilang "BISA" alias YES Man.
"Pernah jam 1 Malam, gua lagi tidur terus dia telpon minta dijemput, gua bilang 'BISA'. Yang penting mah bilang bisa dululah biar gak mengecewakan" cerita si Bangsa.
Gua ngakak denger cerita si Bangsa dan apa yang diomongin si Bangsa, ada benarnya juga ya. Gua pun berlaku demikian. Kalau si Bangsa minta jemput jam 1 dini hari buat jemput gebetannya, gua malah lebih subuh lagi, jam 3 Subuh gua pernah jamput mantan pacar di rumahnya buat ngejar travel dia ke Jakarta.
"Omcan, nanti bisa kan jemput jam 3? Aku mau pulang ke Jakarta naik Travel yang jam 4"
"Iya bisa" jawab gua. Bangun jam 3 mah gampang karena gua gak ribet soal bangun tidur tapi gua gak enak ke orang tua terutama Papa karena gua harus ngeluarin kendaraan, buka gerbang, manasin kendaraan dulu. Gak enak juga kan ke tetangga tapi karena faktor 'YES MAN' tadi gua ambil semua resiko itu.
"Omcan, nanti bisa antar Mamaku ke Akupuntur di Jalan Peta. Asam uratnya naik, kasian gak ada yang nganterin" kata dia di suatu hari.
"Iya bisa". Dan jadilan selama 2 bulan penuh gua jemput dan nunggu Mamanya mantan pacar buat akupuntur setiap jam 4 Sore sampai jam 6 Sore di hari Senin, Rabu, Jumat. Gua batalin semua janji gua ketemu dengan buyer cuma buat nganter Mama dari Miss R ini buat akupuntur.
"Omcan, aku sakit sekarang dirawat di RS Siloam. Kamu bisa gak bilangin ke Mama supaya gak perlu kesini"
"Iya bisa". Tanpa disuruh gua langsung berangkat ke Jakarta dengan bawaan seadanya. Dia dirawat di ruangan kelas 2 yang gak ada kursi atau sofa buat pendamping, jadilah gua tidur di lantai beralaskan jaket gua dan tas gua sebagai bantalnya selama 2 malam berturut-turut.
Padahal status gua dan dia adalah sudah bukan pasangan lagi tetapi hanya mantan pasangan. Pas gua cerita ke si Ambu, reaksi si Ambu luar biasa ngeri. Dia marah besar karena tahu gua masih berhubungan dengan Miss R. Kebetulan Ambu ini tahu semua cerita gua dari awal dan dia yang paling keras menentang hubungan gua dan Miss R setelah tahu alasan gua putus dengan Miss R.
Sampai satu titik dia mau ambil paksa ponsel gua dan mau block semua kontak Miss R. Gua mohon ke Ambu supaya jangan diblock karena gua masih naif yakin kalau hubungan kita bisa seperti awal lagi walaupun akhirnya gua salah dan Ambu yang benar.
............................................................................................................
Dari ngobrolin soal Nintendo Switch akhirnya kita malah nyasar sampai Floating Market Lembang. Kebetulan si Bangsa belum pernah masuk kesini dan gua sudah lama banget gak kesini. Terakhir gua kesini itu bareng Miss R di tahun 2014, hampir 4 tahun lalu.
Sudah banyak yang berubah ternyata, makin keren aja. Semakin banyak wahananya di dalam padahal dulu mah cuma ada wahana naik perahu mengitari danau. Langkah demi langkah akhirnya membawa gua ke tempat penyewaan perahu.
Bentuknya belum berubah, sama seperti dulu dan ingatan gua langsung melayang ke tahun 2014 silam saat gua dan Miss R bersama temen gua si Dominikus Banu dan mantan pacarnya si Miss T lagi main kesini.
"Ayo naik perahu yuk. Seru pasti" kata Miss R. Awalnya gua nganggap dia cuma bercanda secara dia kan takut banget sama kolam renang, danau. Takut tenggelam kata dia tempo hari.
"Ah ngapain. Mending duduk aja sambil liatin anak naik perahu terus lempar kerikil biar oleng perahunya terus mereka jatuh" usul jahat gua.
Tapi Miss R ini terus memaksa dan gua tanya berulang kali, kamu berani gak. Dia jawab 'berani'. Setelah yakin dia berani, gua beli tiket naik perahu yang harganya lumayan mahal jir, 90rb buat 30 menit doang. Gua bayar patungan dengan si Banu dan setelah dapat tiket, kita mulai menaiki perahu di Floating Market dan bersiap mengitari danau.
Kita dibekali dayung dan Miss T pacar Banu (sekarang mantan pacar) duduk di posisi paling depan dan berturut-turut dibelakangnya ada Banu, Miss R, dan gua di posisi balik belakang. Gak tau ini kapal keberatan muatan atau emang gini dari awal mengayuh perahunya sudah goyang-goyang dong.
Bukannya mengayuh, Miss T ini malah jerit-jerit karena ketakutan. Gua sudah bilang 'Tenang, tenang' kalau panik nanti bakalan makin goncang, bukanya tenang dia malah makin panik dan hal yang sudah gua prediksi akhirnya terjadi juga.
Dia minta udahan padahal baru aja lepas landas dong. Kalau ada catatan rekor di floating market kayaknya kita berempat bakalan masuk ke daftar 'penyewa perahu kano dengan rekor pulang - pergi paling cepat'.
Gak sampai 5 menit kita lepas landas eh sekarang sudah karam. Satu kalimat yang masih gua ingat adalah ketika si Banu ngomong ke Miss R "Balikkin duit aing woy", si Banu merasa rugi karena duit dia lenyap tanpa berbekas, hahahaha.
Ya, seperti hubungan kita ini. Awalnya kita yakin dan kamu percaya tapi seiring berjalannya waktu rasa yakin dan kepercayaan kamu mulai luntur karena goncangan dan akhirnya hubungan kita karam seperti perahu yang kita naiki di Floating Market itu.
........................................................................................
"Kok ngelamun Min?" kata Bangsa membuyarkan lamunan gua. Mata gua masih tertuju di tempat penyewaan perahu kano.
"Oh enggak, hahahaha. Lagi inget masa lalu" kata gua sambil menyeruput susu Milo yang gua dapat di Floating Market.
Apakah kamu masih sayang dengan dia? Sebuah pertanyaan yang datang dalam lamunan gua di Floating Market. Kebetulan gua lagi sendiri, nunggu Bangsa lagi sholat di Musholla.
Gua bisa bilang enggak, perasaan gua ke dia sudah sama seperti dulu ketika gua menganggap dia sebatas teman biasa. Mungkin bukan rasa sayang tapi terkadang masih ada rasa kecewa dan sakit hati mendalam yang sebenarnya sudah gua kubur sejak lama.
Ingetan gua selalu mengulang di hari terakhir kita bertemu secara tidak sengaja dan kamu membuang muka seolah tidak pernah mengenali seseorang yang berada di depan kamu.
Itu sangat menyakitkan apalagi setelah gua menjadi 'YES Man', gua merasa setidaknya gua bisa mendapat penghargaan yang lebih baik ketimbang yang gua dapat saat itu.
Tapi tidak apa-apa, kejadian itu membuat gua jauh lebih kuat dari sebelumnya. Seperti saat gua pindah rumah, awalnya berat tapi setelah hari berganti hari semuanya akan kembali baik-baik saja.
Ya seperti itulah gua sekarang, awalnya memang berat buat mengubur rasa kecewa dan sakit hati tetapi seiring berjalannya waktu, perpisahan kita dulu mungkin adalah cara terbaik dari Tuhan untuk kita berdua.
..................................................................................
"Kau bukanlah yang terbaik untukku
Karna kau tak bisa melumpuhkan hatiku
Kau hanya sepenggal kisah dalam waktu
Yang kulalui dan takkan kulupakan"
Lagu 'Penggalan Kisah Lama' dari Laluna menemani gua di perjalanan pulang dari Floating Market Lembang ke Bandung.
Gua lagi asyik dengerin cerita soal Bangsa tentang 'YES Man' lagi dan gua nanya ke Bangsa tentang hubungan dia dengan gebetan dia itu.
Dia bilang gebetannya itu sekarang lagi 'menghilang' karena lagi pacaran dengan orang lain tapi Bangsa yakin suatu hari nanti, gebetan dia bakalan datang lagi dan dia mau nunggu.
Kalau Bangsa mau nunggu, gua rasa itu sebuah pilihan yang salah. Kalau dia sayang ke dirinya sendiri, dia pasti gak bakalan nungguin 'gebetan yang sudah jadian dan nungguin gebetan itu putus sama pacarnya'. Gimana kamu bisa membahagiakan orang lain tapi ke diri kamu sendiri aja gak bisa, hehehehe
Melupakan memang tidak mungkin tetapi dengan merelakan maka semua akan menjadi baik-baik saja.
Kalau kalian baca postingan itu, kalian pasti tahu betapa beratnya gua buat pindah rumah. Jarak rumah gua yang lama dengan yang baru sebenarnya deket banget, 10 langkah juga sampai.
Tapi apa artinya dekat kalau kita sudah tidak bisa lagi masuk ke rumah itu lagi bukan?
Gua adalah orang yang sangat menghargai kenangan. Gua banyak menyimpan surat cinta pertama gua, tiket nonton, tiket travel, struk makan gua dan pacar, perahu kertas hasil lipatan pacar, sampai nilai ulangan dan tugas gua pas masih sekolah dulu, semuanya masih tersimpan rapih.
Kalau hal sekecil itu aja gua simpan dan kenang, kalian tentu bisa menebak gimana susahnya gua ketika gua harus pindah dari rumah gua yang gua tempatin sejak kecil ke rumah baru.
Disaat Ortu dan Kakak gua sudah pindah, cuma gua yang masih bertahan tinggal di rumah lama gua. Pokoknya gua mau tidur disana sampai hari terakhir dimana gua sudah gak bisa tidur disana lagi.
Selama 2 bulan lamanya gua tidur sendiri di lantai atas yang tinggal menyisakan sofa buat gua tidur dan laptop buat gua kerja. Pokoknya gua bakalan bertahan disini sampai hari terakhir meskipun gua sadar, hari itu akan datang hari dimana gua gak akan bisa kesini lagi.
Setelah hari itu tiba dan gua mulai pindah ke kamar gua yang baru, rasanya gimana gitu. Seperti ada yang beda dan ketika pertama kali bangun di kamar baru gua, gua belum seutuhnya menerima kenyataan kalau gua harus pindah.
Biarpun hati gak terima tapi gua HARUS menerima kenyataan kalau gua harus pindah. Satu hal yang mengganjal sebelum gua pindah adalah rumah yang gua tempatin sekarang, banyak banget cerita mistisnya.
Satu hal yang paling gua ingat adalah cerita tetangga gua yang pas lagi jalan kaki buat sholat subuh di Masjid. Nah, pas di lewatin rumah gua ini (dulu masih diisi orang lain sebelum dibeli oleh keluarga gua), dia ngedenger suara cewek lagi cekikikan.
Wah, wah sudah gak beres ini mah. Dan pas Pak Haji nengok, dia lihat ada kuntilanak lagi duduk di batang pohon sambil menggoyangkan kakinya. Pak Haji langsung teriak 'Allahu Akbar' dan langsung ngacir ke Mesjid. Cerita itu kemudian menyebar ke tetangga dan pas pertama gua denger cerita itu dari Mama, satu kalimat yang keluar dari mulut gua adalah 'Untung kita gak tinggal disana ya Ma'
Eh suek bener, gak taunya beneran gua sekarang malah tinggal disana dan pohon yang katanya jadi tempat kuntilanak nakutin si Pak Haji letaknya pas ngadep ke jendela kamar gua. Suek, suek.
Hal itu diperparah dengan fakta tentang kondisi di dalam rumah. Dulu rumah ini ditempati ama si Trendy temen SMP gua dan pas gua sekali main kesana, yang ada di pikiran gua adalah ini rumah dalamnya sempit amat jir.
Yang paling ngeri adalah bagian toiletnya yang lembab dan ada sumur, makin angker. Terus gua nanya ke Trendy "Trend, ini depan WC kok banyak cucian baju ama cucian piring kotor sisa makan"
"Iya San, di rumah ini gak ada dapur ama tempat cuci piringnya. Jadi mandi, cuci baju, cuci piring di toilet"
Anjeer, gua yang sejak kecil diajar untuk selalu rapih & bersih cuma bengong sambil ngebayang gimana susahnya jadi si Trendy. Gimana kalau adiknya lagi kebelet boker terus si Trendy yang kebagian cuci piring. Cuci piring dapet bonus cium tinja adik.
Gua naik ke lantai 2, ini mah lebih parah lagi. Selain gak terawat, auranya juga sudah beda. Gua ingat banget di lantai 2 ada tiang dan tiang itu dijadiin sandaran buat ngiket anjing. Jadi itu anjing makan disana, berak disana + ena-ena disana kalau ada pasangannya.
Dan coba kamu bayangkan dengan semua fakta tersebut, gua harus keluar dari zona nyaman gua dari rumah lama ke rumah itu.
Berat? Super berat. Apalagi pas awal-awal pindah, gua hampir tiap malam bermimpi kalau gua masih di rumah gua yang lama. Gua bahkan sampai tahapan dimana gua sadar kalau gua itu lagi mimpi tapi gua gak mau bangun karena gua masih ingin disana.
Pas gua bangun, gua buka tirai dan mengintip rumah lama gua. Dari jendela kamar gua emang bisa liat langsung rumah lama gua. Dan gua baru sadar 1 fakta baru yaitu dari jendela kamar gua yang ini ternyata bisa langsung lihat ruangan tempat gua menulis di lantai 2.
Jadi selama ini kalau gua lagi melakukan hal-hal pribadi keliatan dong sama si Trendy? Hal-hal pribadi seperti berdoa dan baca Alkitab misalnya. Sudah mikir jorok ya lu semua.
"Coba kamu belajar untuk mulai menyukai yang baru. Yang baru juga bisa baik asal kamu bisa menerimanya" kata Mama di suatu hari ketika gua mengeluh soal rumah baru.
Perlahan tapi pasti Kakak gua yang seorang Arsitek mulai merombak rumah baru gua. Sumur sudah ditutup, toilet diberi sentuhan modern, dibuat dapur dan wastafel buat cuci piring biar gak nyatu lagi ama WC. Diberi sentuhan cat berwarna biar terasa fresh dan elegan.
Gua yang kebagian lantai 2 mulai merombak semuanya dengan gaya gua. Pohon depan rumah sengaja ditebang dan lantai diberi sentuhan vynl agar modern dan seiring berjalannya waktu, gua mulai betah tinggal di rumah sini.
Gak pernah ada kejadian aneh-aneh di rumah gua karena kita percaya ada Tuhan yang menjaga rumah ini. Gua yang awalnya gak mau pindah kini malah betah tinggal disini dan menikmati hari demi hari gua disini.
Kalau dulu tiap lewatin rumah lama, gua masih ada perasaan belum rela kalau rumah ini diisi oleh orang lain sekarang gua ngerasanya biasa aja. Seperti penggalan kisah lama yang pernah mengisi hidup gua, tidak lebih.
.............................................................................................
"Min, lu pernah jadi Yes Man gak?" tanya temen gua si Bangsapraja suatu hari. Jadi ceritanya gua dan si Bangsa ini lagi janjian mau ketemuan. Gua mau nanya soal Console 'Nintendo Switch' karena gua lagi ngidam ini barang.
"Yes Man? Gimana, gimana maksudnya" tanya gua. Dalam posisi nyetir mobil, Bangsa cerita kalau dia pernah dekat dengan seorang perempuan. Pas gua diliatin fotonya, wah cantik ini mah. Cocoklah ama gua eh salah cocok ama Bangsa maksudnya.
Maksud YES Man adalah sikap kita ke pacar/gebetan. Jadi setiap pacar/gebetan kita minta tolong, kita pasti bilang "BISA". Mau sesibuk apapun tapi begitu pacar/gebetan minta tolong, kita pasti bakalan bilang "BISA" alias YES Man.
"Pernah jam 1 Malam, gua lagi tidur terus dia telpon minta dijemput, gua bilang 'BISA'. Yang penting mah bilang bisa dululah biar gak mengecewakan" cerita si Bangsa.
Gua ngakak denger cerita si Bangsa dan apa yang diomongin si Bangsa, ada benarnya juga ya. Gua pun berlaku demikian. Kalau si Bangsa minta jemput jam 1 dini hari buat jemput gebetannya, gua malah lebih subuh lagi, jam 3 Subuh gua pernah jamput mantan pacar di rumahnya buat ngejar travel dia ke Jakarta.
"Omcan, nanti bisa kan jemput jam 3? Aku mau pulang ke Jakarta naik Travel yang jam 4"
"Iya bisa" jawab gua. Bangun jam 3 mah gampang karena gua gak ribet soal bangun tidur tapi gua gak enak ke orang tua terutama Papa karena gua harus ngeluarin kendaraan, buka gerbang, manasin kendaraan dulu. Gak enak juga kan ke tetangga tapi karena faktor 'YES MAN' tadi gua ambil semua resiko itu.
"Omcan, nanti bisa antar Mamaku ke Akupuntur di Jalan Peta. Asam uratnya naik, kasian gak ada yang nganterin" kata dia di suatu hari.
"Iya bisa". Dan jadilan selama 2 bulan penuh gua jemput dan nunggu Mamanya mantan pacar buat akupuntur setiap jam 4 Sore sampai jam 6 Sore di hari Senin, Rabu, Jumat. Gua batalin semua janji gua ketemu dengan buyer cuma buat nganter Mama dari Miss R ini buat akupuntur.
"Omcan, aku sakit sekarang dirawat di RS Siloam. Kamu bisa gak bilangin ke Mama supaya gak perlu kesini"
"Iya bisa". Tanpa disuruh gua langsung berangkat ke Jakarta dengan bawaan seadanya. Dia dirawat di ruangan kelas 2 yang gak ada kursi atau sofa buat pendamping, jadilah gua tidur di lantai beralaskan jaket gua dan tas gua sebagai bantalnya selama 2 malam berturut-turut.
Padahal status gua dan dia adalah sudah bukan pasangan lagi tetapi hanya mantan pasangan. Pas gua cerita ke si Ambu, reaksi si Ambu luar biasa ngeri. Dia marah besar karena tahu gua masih berhubungan dengan Miss R. Kebetulan Ambu ini tahu semua cerita gua dari awal dan dia yang paling keras menentang hubungan gua dan Miss R setelah tahu alasan gua putus dengan Miss R.
Sampai satu titik dia mau ambil paksa ponsel gua dan mau block semua kontak Miss R. Gua mohon ke Ambu supaya jangan diblock karena gua masih naif yakin kalau hubungan kita bisa seperti awal lagi walaupun akhirnya gua salah dan Ambu yang benar.
............................................................................................................
Dari ngobrolin soal Nintendo Switch akhirnya kita malah nyasar sampai Floating Market Lembang. Kebetulan si Bangsa belum pernah masuk kesini dan gua sudah lama banget gak kesini. Terakhir gua kesini itu bareng Miss R di tahun 2014, hampir 4 tahun lalu.
Sudah banyak yang berubah ternyata, makin keren aja. Semakin banyak wahananya di dalam padahal dulu mah cuma ada wahana naik perahu mengitari danau. Langkah demi langkah akhirnya membawa gua ke tempat penyewaan perahu.
Bentuknya belum berubah, sama seperti dulu dan ingatan gua langsung melayang ke tahun 2014 silam saat gua dan Miss R bersama temen gua si Dominikus Banu dan mantan pacarnya si Miss T lagi main kesini.
"Ayo naik perahu yuk. Seru pasti" kata Miss R. Awalnya gua nganggap dia cuma bercanda secara dia kan takut banget sama kolam renang, danau. Takut tenggelam kata dia tempo hari.
"Ah ngapain. Mending duduk aja sambil liatin anak naik perahu terus lempar kerikil biar oleng perahunya terus mereka jatuh" usul jahat gua.
Tapi Miss R ini terus memaksa dan gua tanya berulang kali, kamu berani gak. Dia jawab 'berani'. Setelah yakin dia berani, gua beli tiket naik perahu yang harganya lumayan mahal jir, 90rb buat 30 menit doang. Gua bayar patungan dengan si Banu dan setelah dapat tiket, kita mulai menaiki perahu di Floating Market dan bersiap mengitari danau.
Kita dibekali dayung dan Miss T pacar Banu (sekarang mantan pacar) duduk di posisi paling depan dan berturut-turut dibelakangnya ada Banu, Miss R, dan gua di posisi balik belakang. Gak tau ini kapal keberatan muatan atau emang gini dari awal mengayuh perahunya sudah goyang-goyang dong.
Bukannya mengayuh, Miss T ini malah jerit-jerit karena ketakutan. Gua sudah bilang 'Tenang, tenang' kalau panik nanti bakalan makin goncang, bukanya tenang dia malah makin panik dan hal yang sudah gua prediksi akhirnya terjadi juga.
Dia minta udahan padahal baru aja lepas landas dong. Kalau ada catatan rekor di floating market kayaknya kita berempat bakalan masuk ke daftar 'penyewa perahu kano dengan rekor pulang - pergi paling cepat'.
Gak sampai 5 menit kita lepas landas eh sekarang sudah karam. Satu kalimat yang masih gua ingat adalah ketika si Banu ngomong ke Miss R "Balikkin duit aing woy", si Banu merasa rugi karena duit dia lenyap tanpa berbekas, hahahaha.
Ya, seperti hubungan kita ini. Awalnya kita yakin dan kamu percaya tapi seiring berjalannya waktu rasa yakin dan kepercayaan kamu mulai luntur karena goncangan dan akhirnya hubungan kita karam seperti perahu yang kita naiki di Floating Market itu.
........................................................................................
"Kok ngelamun Min?" kata Bangsa membuyarkan lamunan gua. Mata gua masih tertuju di tempat penyewaan perahu kano.
"Oh enggak, hahahaha. Lagi inget masa lalu" kata gua sambil menyeruput susu Milo yang gua dapat di Floating Market.
Apakah kamu masih sayang dengan dia? Sebuah pertanyaan yang datang dalam lamunan gua di Floating Market. Kebetulan gua lagi sendiri, nunggu Bangsa lagi sholat di Musholla.
Gua bisa bilang enggak, perasaan gua ke dia sudah sama seperti dulu ketika gua menganggap dia sebatas teman biasa. Mungkin bukan rasa sayang tapi terkadang masih ada rasa kecewa dan sakit hati mendalam yang sebenarnya sudah gua kubur sejak lama.
Ingetan gua selalu mengulang di hari terakhir kita bertemu secara tidak sengaja dan kamu membuang muka seolah tidak pernah mengenali seseorang yang berada di depan kamu.
Itu sangat menyakitkan apalagi setelah gua menjadi 'YES Man', gua merasa setidaknya gua bisa mendapat penghargaan yang lebih baik ketimbang yang gua dapat saat itu.
Tapi tidak apa-apa, kejadian itu membuat gua jauh lebih kuat dari sebelumnya. Seperti saat gua pindah rumah, awalnya berat tapi setelah hari berganti hari semuanya akan kembali baik-baik saja.
Ya seperti itulah gua sekarang, awalnya memang berat buat mengubur rasa kecewa dan sakit hati tetapi seiring berjalannya waktu, perpisahan kita dulu mungkin adalah cara terbaik dari Tuhan untuk kita berdua.
..................................................................................
"Kau bukanlah yang terbaik untukku
Karna kau tak bisa melumpuhkan hatiku
Kau hanya sepenggal kisah dalam waktu
Yang kulalui dan takkan kulupakan"
Lagu 'Penggalan Kisah Lama' dari Laluna menemani gua di perjalanan pulang dari Floating Market Lembang ke Bandung.
Gua lagi asyik dengerin cerita soal Bangsa tentang 'YES Man' lagi dan gua nanya ke Bangsa tentang hubungan dia dengan gebetan dia itu.
Dia bilang gebetannya itu sekarang lagi 'menghilang' karena lagi pacaran dengan orang lain tapi Bangsa yakin suatu hari nanti, gebetan dia bakalan datang lagi dan dia mau nunggu.
Kalau Bangsa mau nunggu, gua rasa itu sebuah pilihan yang salah. Kalau dia sayang ke dirinya sendiri, dia pasti gak bakalan nungguin 'gebetan yang sudah jadian dan nungguin gebetan itu putus sama pacarnya'. Gimana kamu bisa membahagiakan orang lain tapi ke diri kamu sendiri aja gak bisa, hehehehe
Melupakan memang tidak mungkin tetapi dengan merelakan maka semua akan menjadi baik-baik saja.
Rabu, 06 Juni 2018
Jadi ceritanya kemaren ini gua baru nemu kamera lama gua. Kamera ini gua dapat dari hadiah nulis di tahun 2008 dan jadi saksi hidup gua di kisaran tahun 2008-2012.
Gua cek memory kamera dan ternyata masih banyak foto ganteng gua saat masih muda dan energik (halah) di memory kamera itu. Selain foto gua, banyak juga foto temen-temen gua yang biadab kayak si Banu Nugget, Dedi Maniak, Albert Ambu pas mereka masih muda dan belum merasakan betapa sulitnya mencari uang, hihihi.
Tapi dari banyak foto yang ada di memory hp itu, gua sedikit tergelitik dengan sebuah foto yang datang dari tahun 2008 silam. Ini fotonya:
Foto ini diambil di tahun 2008, valid karena gua inget kalender yang dipaku di dinding itu hadiah dari Koran KOMPAS (jadi saat itu gua dapat honor nulis + kalender 2008). Foto ini diambil di rumah lama gua dan lokasinya adalah 'ruang kerja' gua yang masih sangat sederhana. Ini aslinya ruang tamu di lantai 2 tapi gua sulap jadi 'ruang kerja' gua. Berbeda jauh kan dengan ruangan kerja gua yang sekarang, hehe.
Tahun 2008, saat usia masih muda dan belum akil baliq. Kalau kalian liat foto itu keliatan keren ya, gua pake hastag dan sedang menulis di laptop. Di tahun 2008 masih sedikit orang yang punya laptop dan masak iya di tahun itu gua punya laptop?
Jawabannya kamu salah. Ada cerita yang datang di foto itu. Di tahun 2008, semuanya masih terbatas. Udah kuliah kakak mahal dan Ortu empot-empotan buat bayarnya, rasanya masih sulit untuk punya laptop.
Iya itu sebenarnya laptop punya temen kakak dan kebetulan kakak itu pinjam buat kerjain tugas kuliahnya. Terus pas lagi nganggur dan sebelum dibalikkin, gua minta ke Kakak buat foto sambil keliatan lagi nulis di laptop. Terus gua pura-puranya pake semacam hastag biar keliatan kayak Jurnalis beneran karena saat itu gua emang bercita-cita jadi Jurnalis di Tabloid Bola. Kalian bisa liat di atas meja itu ada banyak Tabloid BOLA buat referensi gua menulis. Gua pelajari gaya bahasanya termasuk pemilihan katanya buat menambah pembedaharaan kata gua. Gua sering kirimin corat-coret gua kesana dan hasilnya gak pernah dimuat karena gua tidak masuk kualifikasi, hahahahaha. Ya jelaslah, sebagai Tabloid Olah Raga nomor 1 di Indonesia, emang gak gampang nulis disana dan pendidikan juga harus tinggi.
Hastag yang gua pakai itu sebenarnya adalah hastag untuk ID karang taruna buat acara 17 Agustus di lingkungan rumah gua, hahaha. Gaya dikit, cekrek dan aha jadilah sebuah foto yang menggambarkan 'seorang pria yang berprofesi sebagai Jurnalis sedang memikirkan mau menulis apa' padahal laptopnya juga mati.
Di tahun 2008 dengan segala keterbatasan, gua harus banyak putar otak dan dituntut untuk berpikir kreatif. Salah satunya adalah berkaitan dengan hobby. Dulu, tiap malam minggu, salah satu temen gua si Nugget ini sering banget ngajak ke Mall PVJ buat ngeceng. Pokoknya pas malam minggu dulu rasanya semua cewek cantik di Bandung datang ke PVJ deh dan si Nugget ini yang emang punya hobby ngeceng pasti ngajak gua.
Ngeceng doang sambil liat pemandangan. Terus kalau makan mah tetep di Nasi Uduk seberang PVJ bukan makan di dalam PVJ-nya. Di antara semua temen gua paling cuma si Dedi Maniak yang kaya raya tapi pelitnya naudzubilah. Gua inget dulu pernah beli pizza yang harganya 35rb, dia 20rb gua 15rb. Kalau udah gitu ngebaginya ya 50:50 lah ya. Eh dasar si maniak, dia motong pizza itu dengan komposisi 65 ke dia dan 35 ke gua.
Alasannya 'kan gua bayarnya lebih banyak'. Terkutuk maneh Ded.
Saat itu, gua mulai putar otak gimana caranya kita bisa ke PVJ tapi melakukan sesuatu gitu, salah satunya adalah nonton. Nonton malam minggu di PVJ itu mahal apalagi bioskop di PVJ itu adanya Blitz Megaplex (sekarang ganti namanya jadi CGV). Kalian bisa baca tulisan gua di tahun 2010, dimana gua bisa dapat voucher nonton dan makan gratis setiap Minggunya.
Temen-temen gua itu harusnya berterima kasih ke gua karena gua telah menyelamatkan masa muda mereka. Bayangkan, kita semua bisa nonton dan makan gratis setiap Minggunya, iya setiap Minggu! Kok bisa, disini gua bilang keterbatasan menuntut kita untuk berpikir kreatif, haha.
Gua membayangkan kalau misal saat itu, gua gak putar otak buat kita semua, gua yakin masa muda kita akan dihabiskan dengan nonton DVD Sukeban setiap malam.
DVD Sukeban adalah DVD legenda yang gak mungkin terlupakan. Seinget gua ini DVD awalnya punya si Oktavianus Ruben temen SMP gua dan nyebar ke temen-temen yang lain. Urutannya itu Ruben - Banu - Dedi - Gua - Ambu - balik ke Banu lagi. Pas pertama kali dipinjemin, gua dibilang gini "San, DVD bagus ini. Tonton ama orang tua, tentang Monster di Jepang".
Kalau gua liat di covernya keliatan emang kayak DVD Monster gurita gitu. Kepo dong gua, gua stel di suatu siang di ruang tengah. Terus di belakang gua ada Nyokap lagi setrika baju.
Adegan awal udah aneh banget, jadi ada sekumpulan cewek yang sepertinya dijadikan eksperimen terus ini yang bikin masa muda gua rusak, tiba-tiba datang perempuan cantik yang NENEN-NYA bisa keluar TENTAKEL GURITA. Selain bisa keluarin TENTAKEL GURITA itu NENEN bisa nembak PELOR.
Lu bayangin aja dah, gua nonton gituan terus ada Nyokap gua lagi setrika di belakang gua. INI ANJING gua dijebak pasti. Dan bener, Sukeban adalah DVD Porno Jepang dengan genre tentakel gurita yang gua baru tahu di kemudian hari.
Pas gua cerit ke si Nuget ama si Dedi, semuanya langsung Ngakak dan mereka semua juga kena jebakkan. Karena gua gak mau jadi ampas, gua oper ke si Ambu terus bilang "Mbu, ada DVD bagus. Ada gituannya dikit, lu pasti suka"
Maaf mbu, gua sudah merusak masa muda lu :(
Sekali lagi kalau temen gua baca, lu semua sudah seharusnya berterima kasih ke gua karena telah gua fasilitasi buat nonton dan makan gratisan di PVJ tiap Malam Minggu, hahahaha.
......................................................................................................
Tetapi kini semua sudah berubah. Kita semua sudah gak butuh tiket gratis buat nonton di PVJ atau voucher makan gratisan. Banu selalu ingat dengan cerita ini dan kalau gua lagi jalan ama si Banu dan calon istrinya si Meli pasti dia bakalan ngomong gini ke si Meli:
"Dulu kita ini nonton gratisan tiap Minggu loh berkat si Sani" waktu kita lagi beli tiket nonton The Avengers di BTC.
Banu sudah sukses dengan pekerjaannya di Indomaret tapi anehnya tiap gua minta voucher Indomaret gak pernah dikasih. Disini saya merasa kecewa.
Gua pun merasakan perubahan itu. Gua mulai merasa perubahan itu waktu kemarin gua ngecek rumah baru gua. Rencana awal sebenarnya tahun kemarin gua sudah mau pindah tapi karena 1 alasan akhirnya sampai sekarang gua masih tinggal di rumah orang tua gua (ya mayanlah makan terjamin setiap hari).
Waktu gua sampai, semua rumah di blok gua sudah terisi semua dan ada tetangga yang nanya gini ke gua "Oh ini toh yang punya. Soalnya saya sudah 1 tahun ngontrak disini belum liat muka yang punya"
Gua tersenyum dan salim karena gua emang sudah lama banget gak kesini. Rumah ini didesign oleh kakak gua dan waktu pertama datang, gua ingat banget masih kosong melompong. Gua bisa masuk lewat akses yang dipunya oleh Kakak kalau enggak mah gak akan boleh masuk.
Foto dulu dikit di depan rumah dan Malamnya setelah gua lihat foto itu, gua baru merasa kalau "sudah banyak yang berubah". Sekarang gua sudah beneran jadi Jurnalis di Tabloid BOLA dan sekarang rasanya gak perlu lagi cari tiket nonton gratisan buat sekedar nonton karena dananya sudah tersedia. Membayangkan bisa mobil ama rumah sendiri aja rasanya dulu gak akan berani deh.
Kalau dulu cita-cita gua adalah jadi jurnalis dengan punya usaha sebagai sampingan sekarang terbalik, gua punya usaha sendiri dan menulis sebagai sampingannya. Ya mirip-miriplah dikit, hihi.
Satu hal yang gua bisa nilai dari diri gua sendiri adalah karena gua memulainya semuanya dari 0, gua jadi punya banyak alasan bersyukur. Sampai sekarang gua masih mempertahankan gaya hidup gua yang dulu, nyaris gak ada yang berubah. Mungkin yang sedikit berubah, kalau dulu pengen beli action figure gua cuma bisa ngarep di etalase toko sambil ngarep punya sekarang ya kalau sekarang bisalah beli.
Perubahan yang paling gua rasakan adalah malah datang dari diri gua sendiri. Kalau dulu tiap Minggu gua pergi ke PVJ bareng temen yang lain, sejak 2013 gua malah menghindari datang ke tempat ramai yang banyak orang. Gua jadi gak suka ketemu orang banyak dan gua senang melakukan semuanya sendiri.
Contoh kecilnya itu nonton. Gua malah lebih suka nonton pas siang hari di jam sibuk biar sepi dan gak banyak orang. Gua sudah gak pernah lagi nonton pas Malam Minggu dan gak suka juga berpergian. Disaat yang lagi pergi berlibur, gua lebih milih di rumah melakukan hal yang gua suka karena gua yang sekarang tidak menyukai berpegian jauh.
Jangan pernah menyerah dengan keadaan karena hanya kamu yang bisa membalikkan keadaan kamu, bukan orang lain. Kemarin telah berlalu, besok belum pasti, hanya hari ini yang kamu miliki. Jalani dengan sebaik mungkin :)
Gua cek memory kamera dan ternyata masih banyak foto ganteng gua saat masih muda dan energik (halah) di memory kamera itu. Selain foto gua, banyak juga foto temen-temen gua yang biadab kayak si Banu Nugget, Dedi Maniak, Albert Ambu pas mereka masih muda dan belum merasakan betapa sulitnya mencari uang, hihihi.
| Beli enggak, banyak gaya iya (Nugget & Dedi) |
| Di usia dimana pria ini belum mengenal yang namanya Cinta. Ahiw |
| Saat masih sering main bola sekarang sudah tidak bertenaga :( |
| Aku percaya orang ini kelak akan membintangi sinetron Ganteng-Ganteng Serigala |
Tahun 2008, saat usia masih muda dan belum akil baliq. Kalau kalian liat foto itu keliatan keren ya, gua pake hastag dan sedang menulis di laptop. Di tahun 2008 masih sedikit orang yang punya laptop dan masak iya di tahun itu gua punya laptop?
Jawabannya kamu salah. Ada cerita yang datang di foto itu. Di tahun 2008, semuanya masih terbatas. Udah kuliah kakak mahal dan Ortu empot-empotan buat bayarnya, rasanya masih sulit untuk punya laptop.
Iya itu sebenarnya laptop punya temen kakak dan kebetulan kakak itu pinjam buat kerjain tugas kuliahnya. Terus pas lagi nganggur dan sebelum dibalikkin, gua minta ke Kakak buat foto sambil keliatan lagi nulis di laptop. Terus gua pura-puranya pake semacam hastag biar keliatan kayak Jurnalis beneran karena saat itu gua emang bercita-cita jadi Jurnalis di Tabloid Bola. Kalian bisa liat di atas meja itu ada banyak Tabloid BOLA buat referensi gua menulis. Gua pelajari gaya bahasanya termasuk pemilihan katanya buat menambah pembedaharaan kata gua. Gua sering kirimin corat-coret gua kesana dan hasilnya gak pernah dimuat karena gua tidak masuk kualifikasi, hahahahaha. Ya jelaslah, sebagai Tabloid Olah Raga nomor 1 di Indonesia, emang gak gampang nulis disana dan pendidikan juga harus tinggi.
Hastag yang gua pakai itu sebenarnya adalah hastag untuk ID karang taruna buat acara 17 Agustus di lingkungan rumah gua, hahaha. Gaya dikit, cekrek dan aha jadilah sebuah foto yang menggambarkan 'seorang pria yang berprofesi sebagai Jurnalis sedang memikirkan mau menulis apa' padahal laptopnya juga mati.
Di tahun 2008 dengan segala keterbatasan, gua harus banyak putar otak dan dituntut untuk berpikir kreatif. Salah satunya adalah berkaitan dengan hobby. Dulu, tiap malam minggu, salah satu temen gua si Nugget ini sering banget ngajak ke Mall PVJ buat ngeceng. Pokoknya pas malam minggu dulu rasanya semua cewek cantik di Bandung datang ke PVJ deh dan si Nugget ini yang emang punya hobby ngeceng pasti ngajak gua.
Ngeceng doang sambil liat pemandangan. Terus kalau makan mah tetep di Nasi Uduk seberang PVJ bukan makan di dalam PVJ-nya. Di antara semua temen gua paling cuma si Dedi Maniak yang kaya raya tapi pelitnya naudzubilah. Gua inget dulu pernah beli pizza yang harganya 35rb, dia 20rb gua 15rb. Kalau udah gitu ngebaginya ya 50:50 lah ya. Eh dasar si maniak, dia motong pizza itu dengan komposisi 65 ke dia dan 35 ke gua.
Alasannya 'kan gua bayarnya lebih banyak'. Terkutuk maneh Ded.
Saat itu, gua mulai putar otak gimana caranya kita bisa ke PVJ tapi melakukan sesuatu gitu, salah satunya adalah nonton. Nonton malam minggu di PVJ itu mahal apalagi bioskop di PVJ itu adanya Blitz Megaplex (sekarang ganti namanya jadi CGV). Kalian bisa baca tulisan gua di tahun 2010, dimana gua bisa dapat voucher nonton dan makan gratis setiap Minggunya.
Temen-temen gua itu harusnya berterima kasih ke gua karena gua telah menyelamatkan masa muda mereka. Bayangkan, kita semua bisa nonton dan makan gratis setiap Minggunya, iya setiap Minggu! Kok bisa, disini gua bilang keterbatasan menuntut kita untuk berpikir kreatif, haha.
Gua membayangkan kalau misal saat itu, gua gak putar otak buat kita semua, gua yakin masa muda kita akan dihabiskan dengan nonton DVD Sukeban setiap malam.
DVD Sukeban adalah DVD legenda yang gak mungkin terlupakan. Seinget gua ini DVD awalnya punya si Oktavianus Ruben temen SMP gua dan nyebar ke temen-temen yang lain. Urutannya itu Ruben - Banu - Dedi - Gua - Ambu - balik ke Banu lagi. Pas pertama kali dipinjemin, gua dibilang gini "San, DVD bagus ini. Tonton ama orang tua, tentang Monster di Jepang".
Kalau gua liat di covernya keliatan emang kayak DVD Monster gurita gitu. Kepo dong gua, gua stel di suatu siang di ruang tengah. Terus di belakang gua ada Nyokap lagi setrika baju.
Adegan awal udah aneh banget, jadi ada sekumpulan cewek yang sepertinya dijadikan eksperimen terus ini yang bikin masa muda gua rusak, tiba-tiba datang perempuan cantik yang NENEN-NYA bisa keluar TENTAKEL GURITA. Selain bisa keluarin TENTAKEL GURITA itu NENEN bisa nembak PELOR.
Lu bayangin aja dah, gua nonton gituan terus ada Nyokap gua lagi setrika di belakang gua. INI ANJING gua dijebak pasti. Dan bener, Sukeban adalah DVD Porno Jepang dengan genre tentakel gurita yang gua baru tahu di kemudian hari.
Pas gua cerit ke si Nuget ama si Dedi, semuanya langsung Ngakak dan mereka semua juga kena jebakkan. Karena gua gak mau jadi ampas, gua oper ke si Ambu terus bilang "Mbu, ada DVD bagus. Ada gituannya dikit, lu pasti suka"
Maaf mbu, gua sudah merusak masa muda lu :(
Sekali lagi kalau temen gua baca, lu semua sudah seharusnya berterima kasih ke gua karena telah gua fasilitasi buat nonton dan makan gratisan di PVJ tiap Malam Minggu, hahahaha.
......................................................................................................
Tetapi kini semua sudah berubah. Kita semua sudah gak butuh tiket gratis buat nonton di PVJ atau voucher makan gratisan. Banu selalu ingat dengan cerita ini dan kalau gua lagi jalan ama si Banu dan calon istrinya si Meli pasti dia bakalan ngomong gini ke si Meli:
"Dulu kita ini nonton gratisan tiap Minggu loh berkat si Sani" waktu kita lagi beli tiket nonton The Avengers di BTC.
Banu sudah sukses dengan pekerjaannya di Indomaret tapi anehnya tiap gua minta voucher Indomaret gak pernah dikasih. Disini saya merasa kecewa.
Gua pun merasakan perubahan itu. Gua mulai merasa perubahan itu waktu kemarin gua ngecek rumah baru gua. Rencana awal sebenarnya tahun kemarin gua sudah mau pindah tapi karena 1 alasan akhirnya sampai sekarang gua masih tinggal di rumah orang tua gua (ya mayanlah makan terjamin setiap hari).
![]() |
| Kerjanya apa? Jadi Driver Gojeg biar gak banyak ditanya tentang pekerjaan asli |
Gua tersenyum dan salim karena gua emang sudah lama banget gak kesini. Rumah ini didesign oleh kakak gua dan waktu pertama datang, gua ingat banget masih kosong melompong. Gua bisa masuk lewat akses yang dipunya oleh Kakak kalau enggak mah gak akan boleh masuk.
Foto dulu dikit di depan rumah dan Malamnya setelah gua lihat foto itu, gua baru merasa kalau "sudah banyak yang berubah". Sekarang gua sudah beneran jadi Jurnalis di Tabloid BOLA dan sekarang rasanya gak perlu lagi cari tiket nonton gratisan buat sekedar nonton karena dananya sudah tersedia. Membayangkan bisa mobil ama rumah sendiri aja rasanya dulu gak akan berani deh.
Kalau dulu cita-cita gua adalah jadi jurnalis dengan punya usaha sebagai sampingan sekarang terbalik, gua punya usaha sendiri dan menulis sebagai sampingannya. Ya mirip-miriplah dikit, hihi.
Satu hal yang gua bisa nilai dari diri gua sendiri adalah karena gua memulainya semuanya dari 0, gua jadi punya banyak alasan bersyukur. Sampai sekarang gua masih mempertahankan gaya hidup gua yang dulu, nyaris gak ada yang berubah. Mungkin yang sedikit berubah, kalau dulu pengen beli action figure gua cuma bisa ngarep di etalase toko sambil ngarep punya sekarang ya kalau sekarang bisalah beli.
Perubahan yang paling gua rasakan adalah malah datang dari diri gua sendiri. Kalau dulu tiap Minggu gua pergi ke PVJ bareng temen yang lain, sejak 2013 gua malah menghindari datang ke tempat ramai yang banyak orang. Gua jadi gak suka ketemu orang banyak dan gua senang melakukan semuanya sendiri.
Contoh kecilnya itu nonton. Gua malah lebih suka nonton pas siang hari di jam sibuk biar sepi dan gak banyak orang. Gua sudah gak pernah lagi nonton pas Malam Minggu dan gak suka juga berpergian. Disaat yang lagi pergi berlibur, gua lebih milih di rumah melakukan hal yang gua suka karena gua yang sekarang tidak menyukai berpegian jauh.
![]() |
| CGV berasa milik pribadi saking kosongnya |
Langganan:
Postingan (Atom)






















