Rabu, 19 Oktober 2022
Salah satu kesepakatan yang kita berdua lakukan sebelum menikah adalah kita tidak akan menunda punya momongan.
Ada banyak faktor mengapa kita tidak akan menunda-nunda, salah satunya adalah faktor umur.
Di tahun ini, istri sudah menginjak usia kepala tiga dan banyak yang bilang jika melahirkan di atas usia 35 perlu penanganan khusus.
Meskipun usia istri masih jauh mendekati usia 35 tetapi lebih cepat tentu lebih baik bukan ketimbang harus menunda-nunda.
.................................................
Setelah menikah di bulan April, kita berdua sebenarnya belum tinggal serumah.
Saya masih tinggal bersama Mama di Sulaksana dan istri masih bersama Mama di sekitaran Jalan Sudirman.
Fakta ini membuat banyak orang sering heran dan bertanya "Suami istri kok belum tinggal serumah sih?"
Untuk soal ini kita berdua memang sudah sepakat. Faktor utamanya adalah soal adaptasi.
Kebetulan Mama kita berdua memang menyandang status janda karena sudah ditinggal suaminya meninggal. Coba bayangkan bagaimana rasanya mereka ditinggal sendiri di rumah? Apalagi istri sudah ditinggal meninggal Papanya semenjak masih berusia 3 tahun.
Saya pribadi masih bertanggung jawab penuh buat Mama di rumah. Begitu pun dengan istri yang masih bertanggung jawab penuh buat Mamanya terutama buat soal makan sehari-hari.
Rumah kita berdua di Antapani sebenarnya sudah siap untuk ditempati tetapi rencana untuk kita pindah masih ditahan sembari memberikan waktu adaptasi kepada Mama-mama kita.
Faktor lain adalah soal adaptasi buat saya pribadi. Entah mengapa, kalau di rumah istri bawaanya pengen leha-leha mulu, wkwkwk.
Mau mandi, sudah disiapin air hangat.
Mau makan, nasi dan lauk sudah disiapkan di atas meja
Mau ngemil kacang sukro, kacang sukro sudah tersedia
Sebagai orang yang sejak dulu terbiasa mengerjakan apapun sendirian, hal ini membuat saya terlena.
Mau nulis kok kerjaanya pengen tidur mulu. Mau ngurus jualan, barang-barangnya ada di rumah Sulaksana semua.
Karena beberapa faktor ini terutama faktor Mama, saya dan istri akhirnya sepakat untuk tidak tinggal serumah dulu.
Jadi kalau dirunut, saya menginap di rumah istri setiap hari Rabu, Jumat, Sabtu dan sisanya saya pulang ke rumah di Sulaksana. Di luar itu saya tetap menyempatkan diri untuk datang ke rumah istri setelah istri pulang kerja.
Hari Sabtu biasanya kita ngecek rumah di Antapani sambil manasin mobil. Untuk mobil memang sengaja disimpan di rumah Antapani karena memang jarang dipakai dan hanya dipakai sesekali oleh istri ke kantor sedangkan saya lebih suka menggunakan sepeda motor untuk beraktivitas.
Beberapa orang bilang kalau suami istri tidak tinggal serumah, biasanya akan lama dikasih keturunan. Sempat khawatir juga sih mendengar omongan itu tetapi tutup kuping saja dan berserah biar Tuhan yang atur.
.........................................................
"Gua sih kayaknya mau Childfree"
Saya sedikit terkejut ketika mendengar omongan salah satu teman ini. Kita berdua sekarang sedang duduk di sebuah lapak menikmati Indomie kombinasi Batagor. Sungguh sebuah kombinasi makanan yang sama sekali tidak bergizi.
Dia bercerita jika pasangannya yang sekarang sudah lama tinggal di Australia dan baru pulang ke Indonesia semenjak tahun lalu.
Seperti orang asing kebanyakan, dia menganut paham childfree alias tidak ingin memiliki anak.
Soal childfree ini saya pernah menulis soal pandangan saya di sebuah platform menulis. Pandangan saya berdasarkan pengalaman dari orang yang menganut faham childfree.
Sebelum pindah ke rumah baru di daerah Sudirman, istri dan Mamanya mengontrak rumah di sekitaran Astana Anyar.
Kalau gak salah mereka sudah mengontrak lebih dari 15 tahun dan Puji Tuhan, istri dapat rejeki dari kantor buat beli rumah pribadi di Sudirman.
Di depan rumah istri yang kama, ada rumah kosong yang statusnya sedang dijual. Dijuak dengan harga sekitar 800 jutaan dan sudah hampir 10 tahun belum laku kejual.
Ada yang bilang rumah itu angker, salah satu cerita paling fenomenal datang dari tukang nasi goreng keliling. Si Mang Nasgor biasanya mangkal di depan rumah itu.
Tapi anehnya, sudah satu bulan si Mang gak pernah mangkal lagi. Dia cuma lewat dan kalau gak ada yang beli ya lanjut lagi, gak pernah stay lagi.
Setelah ditilik lebih dalam, si Mang ternyata trauma. Dia dikerjain hantu berjubah putih yang mesen nasgor tapi pas udah dibuatin, orangnya hilang entah kemana. Dan kata si Mang Nasgor, orang yang mesen keluar dari rumah kosong itu!!
Lah gimana bisa mesen nasgor, wong rumahnya aja udah kosong lama. Gegara ini si Mang Nasgor jadi trauma dan ogah mangkal lagi.
Dasar hantu jalang sialan, bikin repot orang padahal kalau gua laper biasanya tinggal teriak dari dalam rumah
"Mang, nasgornya 1 gak pedes yaaaaa!!!"
1 bulan menjelang istri pindah rumah, rumah itu tetiba laku dijual dan direnovasi kecil-kecilan.
Rumah itu dibeli oleh Oma dan Opa berusia lanjut. Kata mama mertua yang sudah mengobrol dengan mereka berdua, mereka berdua ternyata gak punya anak karena dulu waktu masih muda memang memilih jalan childfree.
Dalam pemikiran saya, kalau kita memilih jalan hidup ini keliatan memang menyenangkan. Hidup cuma berdua, duit buat berdua dan habis buat berdua. Liburan berdua, senang-senang berdua dan gak perlu takut buat mikirin uang sekolah atau uang jajan anak buat jajan Mie Kremez atau agar-agar rumput laut.
Tetapi semakin bertambah usia dan kita semakin menua tentu kita butuh anak bukan?
Hm, bukan berarti kita sebagai orang tua mengharapkan balas budi dari anak yang sudah kita besarkan tapi nantinya kita butuh anak buat menjaga dan mengurus kita saat kita tua kan?
"Dek, bisa bantuin Tante sebentar?" kata si Oma suatu hari. Saat itu saya baru saja sampai ke rumah istri, janjian mau nonton bioskop.
"Oh iya Tante boleh. Kenapa Tante" tanya saya.
Si Oma ternyata salah menekan tombol di remote televisi jadinya tidak muncul gambar dan cuma muncul semut di layar.
Saya yang sebenarnya gak paham-paham amat, utak atik sebentar dan aha akhirnya tv bisa menyala normal.
"Makasih ya" kata si Tante sumringah karena televisinya betul kembali.
Let's see. Pekerjaan remeh temeh seperti ini seharusnya bisa dibantu oleh anak kan. Nah kalau kayak tadi, siapa coba yang bisa dimintai tolong?
Satu lagi yang menjadi pemikiran saya. Si Tante dan Om sudah berusia lanjut, usia sudah di atas 70 tahun. Puji Tuhan si Om dan Tante masih sehat dan diberi umur panjang.
Si Om jarang sakit karena dia hampir tiap hari olahraga Taichi. Nah ini yang saya takutkan, kalau misalkan salah satu dari mereka dipanggil Tuhan duluan, gimana coba?
Hidup sendirian dan gak ada yang menemani. Mungkin hidup akan terasa semakin sepi dan coba bayangkan kalau ada sesuatu yang terjadi di rumah sewaktu si Om atau Tante sendirian?
Hush, enyahlah pikiran jelekku ini. Doa saya, semoga si Om dan Tante selalu diberi kesehatan dan umur panjang
Ngomongin soal Taichi, gua kok jadi pengen belajar Taichi ke si Om ya buat membungkam mulut temen gua si Dedi yang mangap terus, wkwkwk.
............................................................
Apa yang ditunggu akhirnya datang juga.
Setelah 4 bulan kosong akhirnya istri hamil juga. Tanda-tanda kehamilan sudah mulai muncul sejak bulan September. Mulai dari sering mual, ingin muntah dan puncaknya adalah telat datang bulan.
Kalau saya merasa kalau istri sedang 'isi' itu ketika melihat sikapnya yang jadi super sensitif.
Karakter istri adalah pendiam dan kalem tetapi belakangan jadi rewel dan seperti ngidam sesuatu.
Ngidamnya sebenarnya gak aneh-aneh, pengen makan bakmie di daerah Jalan Pahlawan.
Gak ada yang salah sebenarnya tapi kalau mau makan bakmie itu harus booking dulu terlebih dahulu buat tanggal yang telah ditentukan.
Buat yang kenal saya secara pribadi, pasti paham lah mana mau gua makan seribet itu. Makan ya tinggal datang ngapain daftar-daftar segala.
Toh rasa ya pasti segitu-segitu aja.
Kali ini beda, penolakan saya membuat istri ngambek, beda dari biasanya.
Oalah ternyata ini toh yang namanya ngidam, wkwkwk.
Kita berdua lantas menguatkan mental. Kita beli test pack buat cek kehamilan dan hasilnya positif. Dicek sampai 3x hasilnya tetap positif.
Rasanya? Wah gak usah ditanya. Semuanya campur-campur. Dari gugup, senang, takut, bersyukur semuanya tercampur menjadi satu.
Checkout di Toped pun kini berganti. Dari yang biasanya beli action figure dan komik kini berganti menjadi susu dan vitamin untuk ibu hamil.
Setelah mencari referensi dari beberapa orang soal Dokter kandungan akhirnya pilihan kita jatuh kepada seorang Dokter yang buka praktek di sebuah klinik Jalan Padjajaran.
Soal dokter memang harus cocok-cocokan sih. Ada dokter yang terkenal tapi katanya judes dan cuek. Ada dokter yang kata orang bagus tapi katanya sering ngomong hal yang membuat mental jatuh.
Walah jangan deh kalau gitu.
Pilihan kita ternyata tepat. Dokter yang kita pilih sangat baik, menenangkan dan lucu. Sempat ada kekhawatiran karena istri sempat mengeluarkan flek darah hingga 2x. Jawaban Dokter sangat menenangkan:
"Saya tidak bisa mendiagnosa sesuatu yang sudah terjadi. Kita gak usah lihat ke belakang tapi lihat hari ini, bayi Bapak ama Ibu hari ini sehat"
Di layar monitor, kita diperlihatkan hasil USG di perut istri. Ada detak jantung yang terdengar dan ini yang paling penting, ada jabang bayi berusia 2 bulan di perut istri.
SUMPAH, di detik itu gua pengen banget nangis. Nangis terharu terutama sewaktu dokter bilang "Selamat ya buat bapak ama ibu. Coba denger detak jantungnya". Asli pengen banget nangis tapi saya tahan-tahan, malu ada suster yang ngeliatin soalnya, hihi.
Saya dan istri langsung saling menatap dengan sumrigah. Dari matanya, saya pun bisa merasa jika istri sedang manahan tangis juga.
Puji Tuhan, kita 'kosong' cuma 4 bulan saja semenjak menikah dan kondisinya kita memang belum tinggal serumah tetapi sudah Tuhan titipkan bayi di perut istri.
........................................................
Tidak semua orang tahu berita bahagia ini. Saya baru mengabari saudara-saudara dari almarhum Papa. Kenapa mereka yang pertama?
Karena meskipun Papa sudah tidak ada, saya tetap ingin menjaga tali komunikasi dengan mereka. Jadilah semua Kakak dan Adik dari Papa langsung saya kabari semua.
Dari keluarga istri, baru sebagian yang diberitahu soal ini. Beberapa orang sudah mengucapkan selamat dan ada satu ucapan yang membuat saya mesem-mesem sendiri.
"Sani, selamat yaa buat kelahiran Debby. Tokcer ya kamu"
T.O.K.C.E.R. Entah kenapa saya geli sendiri membaca kata TOKCER tadi, hihihi.
Sambil mesem-mesem, saya mengelus perut istri. Masih butuh waktu sampai beberapa bulan lagi sampai baby lahir dan selama itu pula, saya akan berusaha menjadi Ayah yang baik yang akan mencukupkan segala kebutuhanmu.
Doaku pun berubah, kalau setiap malam saya berdoa semoga segera diberi keturunan, kini doanya berubah.
"Ya Tuhan, semoga anakku nanti pintar seperti Ibunya, jangan seperti Ayahnya yang pernah gak naik kelas"
:)
Sabtu, 07 Mei 2022
".......Masalah akan datang, konflik mungkin ada, problematika hidup akan terus mewarnai kehidupan tetapi selama kita berdua ingat dengan janji suci yang kita ucapkan tadi maka saya yakin kita berdua akan bisa melewatinya"
Tidak terasa air mata langsung menetes dari kelopak mata. Emosi terasa memuncak dan setelah sekian lama akhirnya saya menangis juga.
Ah, rasanya sudah begitu lama saya tidak menangis. Terakhir kali menangis itu kalau saya tidak salah terjadi 3 tahun lalu saat Ayah meninggal dunia.
Dulu saya pernah menangis gegara telenovela Amigos x Siempre tetapi kali ini berbeda rasanya.
Ini seperti luapan dari hati dan pikiran langsung melayang teringat ke Ayah. Coba kalau beliau masih ada tentu kebahagiaan ini akan begitu paripurna.
Speech tadi saya ucapkan saat proses pemberkatan pernikahan berakhir. MC yang memimpin mempersilahkan saya untuk pidato singkat sekaligus mengucapkan terima kasih kepada tamu yang hadir.
Berhubung saya memang tidak terbiasa untuk berbicara di depan orang banyak, saya sudah menyiapkan catatan kecil untuk dibacakan di depan.
Hampir seminggu lamanya saya membuat catatan tersebut. Padahal isinya simple tetapi karena saya ingin membuat lebih bermakna, dibutuhkan proses yang tidak sebentar.
Begitu speech saya bacakan, saya bisa melihat dan merasakan kekaguman dadi tamu yang hadir. Mungkin kalau wajah mereka bisa berbicara, mereka bakalan ngomong gini "Ajig, si monyet ini bisa keren juga"
Kocaknya adalah satu hari sebelum hari pernikahan, kita sempat latihan buat persiapan pemberkatan pernikahan.
"Nanti gua mau drama sedikit ya, mau keliatan nangis biar keren. Nanti kamu mainan lagu Moving On ya biar lebih keren" kata saya ke Rio yang menjadi Keyboardis di hari pernikahan.
Ternyata gak butuh drama karena saya malah nangis beneran, wkwkwkwk
.....................................................
Awalnya, pernikahan akan dilangsungkan pada tanggal 26 Maret 2022. Persiapan sudah nyaris sempurna tetapi satu Minggu sebelum acara, istri dan Mamanya positif COVID-19.
Gejalanya memang tidak terlalu parah karena 'hanya' batuk dan demam saja. Setelah diskusi, kita memutuskan untuk menunda pernikahan sampai Istri dan Mama mertua sehat kembali.
Kita tidak boleh egois atau menutupi soal ini karena akan ada banyak saudara berusia lanjut yang akan hadir. Akan terasa berdosa sekali jika kita tetap memaksakan acara padahal salah satu dari kita ada yang positif.
Puji Tuhan, pihak Hotel menerima pengunduran pernikahan kita. Tidak ada denda atau penalty yang diberikan padahal acara tinggal 1 Minggu lagi.
Satu-satunya hal yang merepotkan adalah kita harus menghubungi satu per satu tamu yang sudah mengkonfirmasi hadir kalau acara terpaksa ditunda.
Oh ya untuk pernikahan kali ini kita menerapkan sistem reservasi. Jadi tamu yang sudah mendapat undangan akan kita hubungi lagi untuk konfirmasi kehadiran.
Menurut saya pribadi ini cara yang paling efektif untuk memastikan jumlah yang hadir agar tidak terjadi penumpukkan yang berujung kepada kerumunan.
Ya repotnya itu tadi, kita harus bersabar menunggu konfirmasi dari undangan.
"Saya usahain hadir ya" atau "Nanti saya kabarin lagi" adalah beberapa jawaban menyebalkan yang saya dapat, hahaha.
Oh ya karena alasan yang sama pula, kita membatasi 1 undangan untuk 2 orang saja. Ini pun membuat kita harus siap dengan pertanyaan seperti:
"Nanti anak kita siapa yang jagajn" atau "Ini si Andrea pengen ikut katanya, pengen liat Sani ama Debi menikah, boleh ya ikut?"
Kita harus siap dengan banyaknya negosiasi yang diajukan dan untuk beberapa orang akhirnya kita mengalah dengan memperbolehkan membawa anak padahal aturan ini dibuat untuk kebaikan bersama agar tidak terjadi kerumunan.
Selain dua hal itu tadi, kita juga harus siap dengan nyinyiran dari orang yang tidak bisa kita undang.
Karena kita memang membatasi jumlah tamu maka mau tidak mau harus ada yang 'dikorbankan' alias tidak bisa diundang.
Lansia di luar keluarga terpaksa kita pinggirkan karena sesuai saran dari hotel, lansia lebih baik tidak diundang.
Agar win-win solution dan mencegah nyinyiran maka kita akan membuat acara tersendiri di Gereja. Belum juga dibicarakan, nada sumbang sudah mulai terdengar dari orang yang tidak diundang.
Omongan sumbang tersebut sebenarnya tidak berdampak apapun ke kita berdua apalagi ke saya pribadi yang pada dasarnya cuek dan santai.
Beda kasus jika nyinyiran tersebut datang dari teman di lingkungan kerja. Bisa dibayangkan kan, gimana gak enaknya kita dinyinyirin orang yang setiap hari bertatap muka dengan kita?
Ini yang saya maksud dengan nyinyiran berdampak dengan nyinyiran yang tidak berdampak.
....................................................
Satu hal yang membuat saya pribadi sangat senang adalah kehadiran Maria Vania sebagai pendamping istri. Kebetulan Istri adalah sahabat dekat Maria sejak SMA dan saya sendiri lumayan dekat dengan Maria sewaktu masih SMA.
Maria sekarang sudah sangat sibuk di layar kaca. Dia rutin tampil di acara Indosiar dan kemarin sedang sibuk dengan syuting Ramadhan.
Tanggal 24 April, di hari pernikahan kita sebenarnya Maria masih harus melakoni satu episode pamungkas untuk sebuah sinetron di SCTV tetapi Maria berhasil melobi agar scene dia dibereskan di tanggal 23 agar dia bisa datang ke pernikahan kita.
Dan lobi berhasil karena Maria akhirnya bisa datang ke pernikahan kita dan menjadi pendamping istri.
Mohon maaf sekali kepada Maria karena banyak tamu yang mengajak foto bareng Maria. Terima kasih untuk keramahan dan kesediaan Maria berfoto dengan tamu yang hadir.
"12 tahun lamanya Sani memendam rasa kepada sahabat saya...."
Speech dari Maria tersebut membuat saya berpikir sejenak. Ah benar juga ya, waktu berjalan begitu cepat.
Sejak duduk di bangku SMA, saya sudah menaruh hati kepada istri tetapi apa daya, belum ada keberanian untuk mendekati dia.
Saingannya berat dan jauh dibanding saya tapi siapa yang nyangka sih kita berdua kini bisa berjalan di pelaminan yang sama? Rencana Tuhan memang sulit untuk ditebak.
...........................................................
"Yang mau foto dengan mempelai, silahkan mendaftar ke saya ya" panggil MC saat kita semua sedang menyantap makanan yang tersaji.
Sambil mengunyah chicken blackpapper yang enak, saya memperhatikan dari kejauhan si Banu datang menghampiri MC.
Si asu ini sepertinya mau mendaftar buat foto bareng. Oh ya, temen saya sejak SD ini juga sudah berencana nikah di bulan Agustus loh.
"Ya silahkan untuk GS Squad alias GENG SANI SQUAD untuk maju dan berfoto dengan kedua mempelai"
ASYUUUUU, SYAITONNNNN. KENAPA BANGKE NAMA GENG ITU YANG DISEBUT!!
"Apaan tuh Geng Sani Squad?" bisik istri
"Itu Geng yang ditakuti dan dikagumi pas di SMP PROVA" jawab saya ngasal
Padahal aslinya ini adalah geng cupu yang beranggotakan 4 orang yang hobby nya ngeliatin banci di Taman Lalu Lintas setiap Malam Minggu.
Ah beneran deh, waktu rasanya begitu cepat berlalu. Perasaan baru kemarin kita berempat makan steak tepung di Waroeng Steak eh sekarang saya sudah berdiri di pelaminan.
Overall acara berjalan dengan baik. Makanan tidak kurang dan banyak tamu yang bilang kalau makanan yang disajikan enak. Makasih sebesar-besarnya buat Juan sebagai owner Hotel yang sudah turun tangan langsung untuk menjaga kualitas rasa agar terjamin.
.......................................................
Sebelum hari pernikahan, saya sempat bertemu dan ngobrol dengan salah satu teman yaitu Albert a.k.a Ambu.
Btw, si Ambu ini yang fotoin kita berdua untuk pra wedding loh. Hasilnya okey banget dan banyak tamu yang bilang kalau konsep foto kita menarik dan unik.
Padahal buat foto itu kita cuma bener-bener bertiga. Gak pake asisten, pengarah gaya atau make up. Semuanya dilakukan secara mandiri.
Salah satu request saya untuk foto pra wedding ke pasangan adalah saya pengen si Ambu yang fotoin.
Jujur aja, saya bakalan merasa kagok banget kalau yang foto itu bukan temen sendiri. Kalau temen sendiri kan enak, mau maki atau bacot apapun pasti ditampung.
Mau gaya ini itu tinggal ngomong lah kalau orang lain jatohnya kagok gak sih.
Saya juga mengajukan request ke Ambu supaya fotonya jangan sama seperti orang lain. Hampir semua foto pra wedding yang saya perhatikan konsepnya mengambil di alam terbuka atau hutan dengan pria menggunakan jas dan si perempuan menggunakan gaun.
Ah gak cocok rasanya kalau kita berdua mengambil konsep begitu. Itu mau nikah apa mau berburu babi hutan sih.
Kembali lagi ke obrolan saya dan Ambu, si Ambu cerita kalau bulan lalu dia menjadi Best Man untuk temannya yang menikah.
Pernikahan mereka diadakan di Green Forrest dan entah mereka salah perhitungan atau bagaimana, budget pernikahan mereka tetiba melambung tinggi.
Dari rencana awal cuma mengundang 50 orang, naik menjadi 100 orang. Setelah pemberkatan dan menunggu untuk acara resepsi, mempelai pria dan mempelai perempuan berantem gegara soal duit.
Bayangin berantem pas hari pernikahan karena si mempelai perempuan sudah kehabisan duit buat bayar kekurangan dan dia minta ke suaminya yang juga kehabisan 'bensin' buat membayar biaya overload pernikahan mereka!
"Terus gimana Mbu?"
"Ya temen gua itu jadinya minjem 5jt ke gua buat lunasin dulu. Dibayarnya pakai angpau setelah pernikahan"
Puji Tuhan Yesus Kristus, dana buat pernikahan kita sudah aman dan lunas jauh-jauh hari.
Sesuai komitmen kita berdua, biaya pernikahan kita ini ditanggung oleh kita berdua. Kita tidak akan meminjam uang kepada siapapun atau menjual aset untuk membiayai hari besar kita berdua.
Kalau kalian baca postingan saya sebelum ini, bersamaan dengan kita yang sedang merencanakan pernikahan, istri pun sebenarnya mendapat berkat berupa fasilitas pembelian rumah dari kampus tempat dia bekerja.
Meskipun begitu, istri harus tetap membayar setengah harga rumah secara cash. Waktunya sebenarnya bisa dibilang kurang pas karena menikah dan membeli rumah (biar cuma setengahnya), keduanya membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Dan inilah kebesaran Tuhan, kita berdua bisa membereskan keduanya dengan baik. Urusan rumah beres, begitu pula urusan menikah beres juga tanpa harus merepotkan orang lain.
Beberapa saudara yang berbaik hati sempat menghubungi kita berdua dan menawarkan bantuan "Kalau ada yang bisa dibantu, telepon aja ya". Kurang lebih seperti itu bantuan yang ditawarkan kepada kita berdua.
Terima kasih untuk kebaikan hatinya, semoga Tuhan membalas kebaikan kalian semua.
............................................................
Jam sudah menunjukkan pukul 8 Malam, satu per satu tamu sudah mulai berangsur pulang.
Saya melirik ke arah buffet, masih ada beberapa piring yang menumpuk pertanda ada lebih dan tidak kurang.
Alunan lagu "We Could Be In Love" dari Lea Salonga mengalun di seantero ballroom.
"Be still my heart
Lately it's mind is on it's own
It would go far and wide
Just to be near you
Even the stars
Shine a bit bright I've noticed
When you're close to me"
Saya terduduk sembari menatap seisi ruangan yang sudah sepi. Beberapa jam lalu, ruangan ini terisi penuh tetapi sekarang sudah nyaris kosong.
Dengan berakhirnya acara resepsi pernikahan ini berarti kehidupan yang baru, baru saja akan dimulai.
Jumat, 11 Februari 2022
Kalau misalkan saya ditanya, hal apa yang tidak ingin kamu lakukan lagi dalam hidup maka saya akan menjawab 'beli rumah'.
Serius, beli rumah itu gak gampang dan banyak dramanya. Udah naksir ama rumahnya eh harganya bikin sebel.
Gilirannya duitnya ada eh rumahnya udah kejual ama orang lain.
Udah cocok ama rumahnya eh gak cocok ama tetangganya yang julid. Pokoknya segala macam warna warni dalam hidup ada saat kita sedang berencana buat beli rumah.
Seperti yang pernah saya tulis di blog ini, tahun 2017 saya memutuskan untuk mengambil sebuah rumah di bilangan Antapani, Bandung.
Faktor utama kenapa saya mengambil rumah di perumahan itu dikarenakan harga yang kompetitif, suasana yang tenang dan yang terutama dekat rumah saya yang sekarang
Jadi kalau laper tinggal pulang buat makan masakan mama, hihihi.
...................................................
Sewaktu saya membeli rumah itu, banyak sekali ceritanya. Mulai dari soal memilih posisi rumah, cerita pengajuan KPR sampai cerita soal biaya yang tidak terduga.
Menurut perkiraan saya, mungkin saya adalah 10 orang pertama yang membeli rumah di perumahan itu. Kebetulan Kakak bekerja sebagai salah satu arsitek di perumahan itu jadi saya dapat banyak kemudahan buat beli rumah disana.
Apesnya, gegara rumah itu belum saya tempatin sampai sekarang, saya malah berasa mirip anak bawang disana gegara belum kunjung menempati rumah itu.
Harusnya bisa tuh gua mencalonkan diri jadi Ketua RW disana yang kelak akan mengayomi warganya.
Sewaktu Akad Jual Beli (AJB) rumah juga banyak cerita kejutan. Habis keluar banyak buat DP rumah, masih ada biaya notaris, pajak, dll.
Nilainya BESAR sekali. Untung aja masih ada uang simpanan karena kalau sampai gak ada duit simpanan, bisa batal AJB tuh dan harus menunggu saya jual ginjal dulu biar lunas.
Dengan semua keruwetan itu (termasuk biaya yang besar) kalau boleh memilih saya memilih untuk tidak mengulang sirklus beli rumah.
Bukannya gak mau kalau dikasih rejeki buat beli yang rumah yang lebih besar tetapi untuk saat ini, cukup sekali saja dalam hidup, saya merasakannya.
.....................................................
Tetapi memang yang namanya hidup, kita memang gak bisa memprediksi apa yang bakalan terjadi.
Lagi sibuk ngurus pernikahan tetiba calon istri dapat kabar kalau dia mendapat 'jatah' rumah dari kantor.
Maksudnya, kantor tempat dia bekerja memberikan fasilitas pinjaman tanpa bunga untuk para karyawan buat beli rumah
Fasilitas yang diberikan memang tidak mencakup keseluruhan harga rumah dan ini berarti sisanya harus dari kantong sendiri.
Kesempatan ini konon belum tentu datang 2x jadi setelah berembug disertai perdebatan, calon istri berencana untuk mengambil fasilitas itu.
Salah satu cita-cita dari calon istri adalah dia ingin membelikan rumah untuk Ibunya. Dibanding ngontrak terus tapi gak jadi rumah ya mending beli gak sih kalau ada kesempatan?
Seperti yang saya tulis di awal tadi, beli rumah itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar dan biaya yang besar.
Bedanya dengan saya ketika membeli rumah, proses beli kali ini bentrok dengan rencana pernikahan yang sama-sama membutuhkan biaya besar.
Setelah berbicara empat mata dengan calon istri maka rumah adalah prioritas utama. Pertimbangannya adalah kesempatan ini belum tentu datang lagi dan harga rumah akan semakin naik setiap tahunnya.
Tanggal untuk menikah sedikit digeser untuk memberi nafas kita berdua. Sesuai komitmen awal, untuk menikah kita tidak akan meminjam uang kepada siapapun dan murni dari kantong kita berdua.
...................................................
Seperti sirklus saat saya mencari rumah, calon istri pun merasakan suka duka mencari rumah.
Ada yang bagus tapi harga gak cocok
Ada yang murah tapi letaknya di pinggiran
Ada yang murah dan posisi di Kota tapi di sekeliling rumah banyak diisi oleh wanita malam. Saya sih gak masalah tapi calon yang pasti gak setuju, hahaha.
Setelah lama mencari akhirnya ketemu juga rumah yang dimau. Sebuah rumah di bilangan Jalan Sudirman, biar rumahnya masuk gang tapi dirasa cocok.
Awalnya harga yang diminta tidak sesuai dengan budget tetapi mungkin ini yang namanya jodoh tetiba yang punya rumah menelepon dan bilang kalau harganya masih bisa nego.
Nego seharian akhirnya deal di angka sekian. Puji Tuhan akhirnya rumah yang dimau bisa didapat.
Eits tapi emang tidak semudah itu karena disinilah segala titik keruwetan dimulai.
Mulai dari sertifikat rumah yang belum balik nama, soal NPWP, dll. Pokoknya banyak sekali drama yang menguras air mata dan pikiran, halah.
Tetapi mungkin karena ini jalannya Tuhan, satu per satu masalah bisa teratasi. Dibandingkan saat saya beli rumah dulu, jauh lebih banyak ini dramanya.
Mungkin inilah perbedaan beli rumah ke developer dan beli rumah second.
.................................................
Apa yang ditunggu akhirnya tiba. Uang dari kantor sudah turun, notaris sudah siap dan tinggal menunggu beberapa hari lagi untuk Akad Jual Beli (AJB). Biaya pun sudah dipersiapkan dan tentu saja kita harus siap-siap dengan 'kejutan' yang tidak terduga.
Saya sempat mengobrol dengan pasangan dan bertanya, mengapa dana buat beli rumah cairnya kok sewaktu kita sedang merencanakan pernikahan.
Apakah ini berkat atau apa gitu ya. Beli rumah dan menikah tentu saja membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Kalau ditopang ortu yang tajir sih gak masalah tapi ini murni dari uang kita berdua. Rasanya kalau dipikir menggunakan akal manusia rasanya seperti mustahil tetapi kenyataanya ternyata BISA.
Setelah urusan rumah hampir rampung, kita kembali fokus menyiapkan pernikahan yang tertunda.
Karena tertundanya cukup lama sampai berganti tahun, harga tahun 2021 ternyata sudah berbeda dengan harga 2022. Tentu saja lebih mahal dan sekali lagi ada pertolongan Tuhan.
Calon istri nego langsung ke owner hotel yang kebetulan adalah teman semasa sekolah sampai kita mendapat harga bagus. Puji Tuhan!
Jika tidak ada masalah, pernikahan akan diadakan di akhir bulan Maret. Semoga kondisi aman terkendali supaya semua saudara yang diundang bisa datang.
Mohon doanya ya manteman!
Selasa, 21 September 2021
Entah ini cuma perasaan gua atau apa tapi dari pengalaman gua, gua banyak menjumpai teman yang terlihat culun dan polos dari luar tetapi libidonya luar biasa tinggi.
Type culun yang dimaksud adalah orangnya pendiam dan gak banyak omong. Sukanya menyendiri di pojokan dan kalau waktunya pulang ya pulang bukan nongki gak jelas.
Ada temen sekolah gua yang orangnya luar biasa diam. Tugas gak pernah ngerjain dan kalau di kelas sukanya tidur tapi waktu gua main ke rumahnya, gua menemukan harta karun eh salah maksudnya sesuatu yang tidak baik.
Awalnya gua heran, kok PC si E ini dalam kondisi menyala pas gua masuk ke kamarnya. Ini artinya selama si E sekolah, PC dia nyala terus dong. Gua intip sebentar, oalah ternyata si E sedang mengunduh sesuatu nih.
Tapi kok ada tulisannya AV ya. AV kan Adult Video ya, wah wah wah ada apa ini. Jiwa kepo gua bergejolak mencari tahu. Gua tanya si E dan tanpa malu-malu si E bilang kalau dia lagi donlod video dewasa alias porno.
Wanjir, nyesel gua gak bawa flash disc eh maksudnya nyesel gua udah nanya ke dia. E lantas dengan bangga menunjukkan koleksi folder XXX miliknya. Entah sudah berapa ribuan video porno tersimpan raoih di Hardisk dia.
Kemungkinan besar sampai 6 generasi setelah E wafat dan Hardisk dia diwariskan, rasanya gak bakalan habis deh ditonton.
Sungguh sebuah warisan yang sangat berharga, hahahaha.
Ada juga teman yang asli pendiam dan belum pernah pacaran seumur hidupnya. Tapi punya hobby datang ke Spa++ buat pijet.
Gua kadang suka mikir, ini si culun apa enggak kagok gitu ya berada dalam 1 kamar bareng therapist. Gua membayangkan setelah selesai dipijat, si Therapist lalu menawarkan layanan++ dan si culun dengan polosnya bertanya "Layanan ++ itu maksudnya apa ya Mbak?"
Pernah sekali gua isengin temen gua ini. Gua diceritakan oleh salah seorang teman kalau di ruko dekat Pasar Kosambi ada layanan Spa++ dengan 2 Angel alias 2 Therapist.
Jiwa iseng gua bergejolak, gua chat si D bilang gini "D, lu udah nyobain pijat di *****. Ada service baru, bisa booking sewa 2 therapist! Gua baru nyobain tadi siang!"
Padahal SUMPAH, sampai detik gua menulis post ini, gua belum pernah masuk ke tempat-tempat seperti itu. Bukan karena sok suci tetapi emang gak minat sih.
Chat gua cuma dibaca doang tanpa dibalas. Gua kira dia sudah gak tertarik dengan dunia lendir semodel itu. Eh ternyata gua salah. Bener-bener salah.
Malamnya dia baru balas chat gua "San, sorry baru bales. Thanks infonya, barusan gua udah cobain. Mantap bener"
ANJ*NG, gak banyak ini itu ternyata langsung digarap dong.
......................................................................................
"San, lu pernah datang ke Spa++ atau Saritem gitu gak sih?" tanya salah seorang teman dengan polosnya.
Kita berdua sedang duduk di lapangan sehabis bermain bola. Pertanyaan yang cukup mengejutkan gua karena tidak menyangka dia bakalan bertanya seperti itu.
"Enggak sih. Kenapa emang?" gua balik bertanya.
"Enggak apa-apa, nanya doang, hehe"
Jiwa kepo gua kembali bergejolak. Menurut gua ada yang aneh nih, kenapa tetiba dia nanya soal Saritem dan Spa++. Gua pancing dulu biar dia mulai bercerita.
"Lu kemarin baru dari Saritem ya? Berapa sekarang tarifnya" todong gua. Biar dia gak bisa berkelit langsung gua todong.
Awalnya dia seperti ragu menjawab tetapi bukan Sani namanya kalau tidak bisa mengorek cerita orang, Pancing-pancing dikit dan HAP, umpan berhasil dimakan oleh si 'ikan'.
"Bukan Saritem San tapi di Stasiun"
STASIUN? Ini gua gak salah denger apa? Si ganteng ini artinya booking PSK yang suka menjajakan diri pinggir jalan? Dan maaf ini mah, setau gua PSK yang mangkal di Stasiun kan kebanyakan sudah berusia lanjut ya, di atas 40 semua.
Kok Sani bisa tahu? Ya tahulah secara gua sering lewat Stasiun terus mata gua lirik kanan kiri lah.
"Jangan bilang lu ena-ena ama Ibu-Ibu disana"
"Enggak tau sih. Ngakunya ke gua mah umur 33 tahun tapi kayaknya lebih deh"
Temen gua yang polos ini ternyata lepas keperjakaan di tangan PSK berusia lanjut. Sungguh sebuah prestasi yang begitu membanggakan.
Satu hal yang paling buat gua penasaran adalah gimana caranya temen gua yang polos, pemalu dan pendiam ini nawar si PSK. Sepengetahuan gua ya, dia itu orangnya pemalu dan susah buat memulai obrolan dengan orang baru.
Lah ini gimana caranya dia negosiasi ama PSK Stasiun.
"Gua deketin aja San. Pertama gua minta nomor HP dia tapi gak dikasih. Dia bilang, dia jualan m*m*k bukan jualan no HP"
Eh bener juga ya. Ngapain juga minta No HP si PSK, kan lu mau ena-ena bukan buat chat dia tiap hari. Setelah itu, X mulai bertanya berapa tarifnya dan dijelaskan untuk short time itu 200k.
Sepengetahuan gua, maksud dari short time itu adalah hanya untuk 1x ejakulasi saja. Jadi kalau sudah ejakulasi ya berarti permainan sudah berakhir dan kalau mau extra time ya harus bayar lagi.
Cerita semakin menarik dan gua mendengarkan cerita dari X dengan seksama. Proses pembuahan tersebut dilakukan di kamar kost-kostan. Jadi 200k itu sudah include dengan kamar.
Alasan dia memilih si PSK itu karena memiliki buah dada besar dibanding PSK lain. Ehm, okey deh.
Nah satu lagi yang bikin gua penasaran adalah bagaimana ceritanya temen gua yang polos dan pemalu ini memulai kegiatan ena-ena apalagi dia sebelumnya belum pernah having sex. Apa dia cuma bermodal nonton video porno yang dia tonton di kamar?
Dasar polos, dia malah ngaku ke Tante PSK kalau dia belum pernah having sex sebelumnya. Terlalu jujur juga salah karena bisa dimanfaatkan oleh PSK.
Duit 200k ternyata belum termasuk pengaman alias kondom. Nambah kondom harus bayar 20k terus karena si PSK tahu kalau pelanggannya adalah anak polos, dia meminta uang tambahan kalau si X mau minta nomor HP dia. Harganya adalah 20k dan DIBAYAR juga ama si X.
Dan ini dia yang detik bersejarah sudah tiba. Kondom sudah terpasang dan tingga eksekusi saja. Si X dengan polosnya minta diajari ke PSK karena dia masih awam.
Dia gak cerita sih gimana ngomongnya pas minta diajarin. Tapi yang ada di kepala gua adalah dia ngomong gini "Teteh, saya serahkan semua tubuh saya termasuk organ vital saya untuk Teteh hari ini"
"Terus gimana?" cecar gua yang begitu bersemangat mendengar pengalaman dia.
"Sakit San"
Lah kok sakit sih. Karena sakit itulah, X minta ganti posisi. Dari Woman on Top ke posisi Misionaris. Di posisi inilah si X sepertinya menemukan hasrat seksualnya yang terpedam. Eh dasar polos si X malah bertanya ke Tante PSK yang membuat Tante PSK sepertinya turn off
"Teteh boleh cium bibirnya"
"Teteh boleh remas payudaranya"
"Teteh maafin ukuran penis aku kecil" Pertanyaan yang terakhir ini bohong, haha
Pertanyaan gua kemudian adalah kenapa harus nanya aih NJING! Gua gak tau gimana perasaan Tante PSK tapi gua gak bisa kebayang sih, gimana rasanya lagi berhubungan badan tapi ditanya-tanya terus. Yang ada jengkel lah.
Dan mungkin karena faktor jengkel inilah yang membuat first sex si X berjalan singkat. Tante PSK meminta X buat cepat-cepat ejakulasi supaya cepat mengakhiri permainan ini.
"Lu ejakulasi gak?"
"Enggak San. Gak bisa"
Gegara tidak bisa ejakulasi itulah, permainan diakhiri. Kalau mau perpanjangan waktu, si Tante PSK meminta uang tambahan sebesar 500k yang tidak bisa disanggupi oleh X karena dia tidak memegang duit lagi.
...............................................................................
Gua pernah menulis di sebuah platform soal keresahan gua tentang PSK yang belum tersentuh teknologi. Maksud belum tersentuh teknologi adalah kadang gua suka miris melihat wanita berpakaian mimim berjejer di pinggir jalan untuk menjajakan diri.
Bukan berarti gua mendukung prostitusi tetapi gua terkadang merasa kasihan melihat mereka menjual diri seperti tidak ada harga dirinya. Banyak PSK yang kini menjual diri secara online lewat Twitter atau lewat MiChat. Nyalakan aplikasi ini di sekitaran Apartemen dan AHA,maka langsung akan muncul deretan foto perempuan molek yang sedang menjajakan diri lengkap dengan harganya.
Foto-fotonya waduh dijamin bikin mimisan. Gua pernah diperlihatkan foto wanita yang OPEN BO di aplikasi MiChat dan WADAW kok cantik semua ya. Harganya berkisaran 500-700k.
Ini gak salah? Kok PSK nya cantik-cantik banget. Buat wajah secantik itu rasanya gak mungkin deh harganya cuma kisaran 700k. Ini mah harusnya bisa jutaan ya.
Gua sudah bilang ke Mr. Y supaya dia berhati-hati karena untuk ukuran wanita secantik itu, rasanya gak mungkinlah jadi PSK terus jualan diri di MiChat. Mungkin karena keburu nafsu, dia menghiraukan saran gua. Dia chat si PSK MiChat tadi dan deal akhirnya tercapai.
Di bayangan dia, dia bakalan menyalurkan hasrat duniawinya ke perempuan bertubuh semok dan berwajah ala orang Korea. Mereka deal di angka 500k setelah nego alot. Gua penasaran banget nih denger cerita dia dilayani PSK berwajah rupawan.
Besoknya, gua ketemu lagi Mr. Y saat sedang bermain basket. Dia seperti kecewa dan begitu melihat gua, reaksi dia seperti orang yang malu.
Ternyata benar dugaan gua, perempuan yang di foto itu ternyata wadul alias ngibul. Foto itu bukan EDITAN tapi foto PALSU alias comot foto orang!
Entah itu foto siapa yang dicomot tapi PSK yang datang JAUH dari aslinya. Dia bercerita dengan lirih kalau yang datang adalah seorang PSK berusia 40 tahun lebih dengan kondisi tubuh sudah kendor.
"Anjinglah San, gua ketipu. Sudah bayar DP eh yang datang Ibu-Ibu lah. Gua batalin aja, gak apa-apalah DP angus yang penting gua gak maen ama emak-emak"
Kalau itu foto editan mungkin masih bisa dimaafkan tapi ini ini foto orang dicomot terus diaku-aku dan modus ini ternyata sudah banyak dilakukan oleh PSK MiChat. Kalau kasusnya kayak gini, ini masuk penipuan gak sih? Berharap yang datang Hermione Granger eh yang datang malah Fiona Shrek.
"Kapok gak lu?" tanya gua ke Y
"Kapok pake MiChat. Besok-besok mending gua datang langsung deh dibanding ketipu lagi"
Buat X dan Y, hasrat untuk berwisata lendir memang sudah menjadi kebutuhan untuk mereka. Rasanya jika sudah pernah tercebur ke dunia ini akan sangat sulit untuk menarik diri.Orang yang sudah menikah pun masih bisa mencari pelampiasan di dunia lendir, entah untuk melepas kepenatan, tidak puas dengan istri atau entah karena alasan apa.
Gua sendiri sudah lama berusaha untuk tidak mengurusi masalah orang. Kalau si X dan Y senang bermain di dunia lendir ya itu urusan masing-masing. Mereka sudah cukup dewasa jadi pasti sudah paham soal baik buruknya.
Tetapi yang menjadi ganjalan buat gua adalah KENAPA si X milih ***** AMA IBU IBU!!!!
Rabu, 21 Juli 2021
Setelah lama menjalani hidup sebagai solo (baca: single), salah seorang teman gua kini sedang menjalani hubungan serius dengan seorang perempuan.
Gua belum pernah ketemu dengan pacar dari temen gua yang kita panggil saja dengan inisial 'AJ'. Sebelum menjalin hubungan baru ini, AJ menjalin hubungan dengan seorang perempuan muda yang sekantor dengan dirinya.
Kalau galah mantan pacar si AJ ini kerjannya jadi sekretaris si AJ. Gua curiga kalau si AJ mengiming-imingi mantanntya ini buat jadi pacar dia.
"Kamu mau naik jabatan gak? Atau kamu mau bonus tambahan? Kalau mau kuy jadi pacar saya"
Mungkin itu adalah iming-iming yang dijanjikan si AJ. Mungkin loh, hahahaha
Tetapi hubungan yang sudah berjalan 1 tahun ini harus kandas karena perbedaan agama dan keduanya tidak ada yang mau mengalah.
"Lu pernah ke rumahnya?" tanya gua tempo hari
"Pernah"
"Terus apa kata Ibunya?"
"Gua disuruh jadi mualaf?
"Ya kenapa lu gak jadi mualaf aja" gua merespon sambil cekikikan.
Pertanyaan yang sebenarnya gak usah ditanyakan karena rasanya gak mungkin. Biar si AJ ini orangnya gak taat-taat banget dalam hal beragama tetapi rasanya dia gak mungkin menggadaikan iman dia gegara cinta.
Kalaupun iya si AJ mau pindah agama, ada 1 lagi hambatan yaitu faktor orang tua. Mama si AJ ini orangnya keras banget. Kalau sudah bilang enggak pasti enggak Pilihannya cuma 2 buat si AJ, dia ngotot pindah agama atau diusir dari rumah.
Berhubung si AJ belum mampu beli rumah sendiri jadi mending gak usah dululah cari masalah ama Ibu sendiri, hahaha.
........................................................................
Pasca putus dari pacarnya yang beda agama itu, AJ kini berhasil menemukan tambatan hati baru. Seorang perempuan yang berasal dari Jakarta dan bekerja sebagai guru bahasa Inggris.
Kalau gua lihat sih harus aman ya. Agama udah sama, muka juga lumayan jadi rasanya gak ada alasan penolakan dari Mama si AJ. Seiring berjalannya waktu ternyata ada penolakan dari si Mama AJ.
Lah kenapa lagi sih ini.
Ternyata gaya hidup dari pacar baru si AJ yang kita sebut saja dengan nama Mandy yang menjadi masalah. Si Mandy ini ternyata lama hidup di Australia sebelum balik ke Jakarta nah karena lama di Australia ini, gaya hidup si Mandy jadi 'kebarat-baratan' ala bule.
Itu yang menjadi masalah buat Mama AJ.
Gaya hidup bebas ala bule itu misalnya tinggal serumah dengan pacarnya meskipun belum terikat dengan pernikahan. Nah itu yang jadi masalah buat Mama si AJ.
Mama AJ pasti pengen anaknya dapat perempuan perempuan baik-baik. Bukan berarti gua bilang kalau si Mandy gak baik-baik tetai gaya hidup si Mandy rasanya kurang cocok dengan AJ dan keluarganya.
Apa yang ditakutkan pun terjadi. Mama AJ tidak memberi restu kepada hubungan mereka berdua. AJ sudah cukup dewasa buat membangkang permintaan Mamanya dan lebih memilih untuk melanjutkan hubungan.
Meskipun tidak direstui, setiap Seminggu sekali AJ PP Jakarta - Bandung untuk menemui kekasih hatinya tersebut. Sekitar 10 tahun yang lalu, si AJ pernah menjalin kasih dengan seorang gadis berwajah oriental yang cantik dan berkulit putih,
Ibu dari AJ sudah memberi restu.karena memang mantan si AJ yang ini memang kaya dan berasal dari orang berada. Tetapi ini yang menjadi masalah.
Ok buat AJ dan keluarganya tapi gak OK buat keluarga si perempuan. Disaat orang tua AJ setuju dan memuj calon menantunya setinggi langit eh di ujung sana, Bapak dari perempuan gak memberi restu.
Alasannya mereka berdua beda ras dan si AJ ini 'cuma' karyawan biasa. Si Om nyari yang mapan dan si AJ ini masih jauh dari kata mapan karena saat itu baru mulai bekerja di tahun pertama.
Seperti perkiraan hubungan mereka berdua harus kandas. Giliran Mama si AJ sudah setuju eh Mama si perempuan malah gak setuju.
Kalau kondisi sekarang berbeda. Mama si Mandy sudah setuju tapi Mama si AJ gak setuju. Tetapi kasusnya kali ini berbeda. Mungkin karena sudah merasa dewasa dan tidak mau diatur-atur lagi si AJ akhirnya memaksakan untuk melanjutkan hubungan mereka berdua.
.................................................................
"Gua kemarin jujur ke Mama gua kalau gua udah pernah nge-sex sama Mandy" kata si AJ sambil mengunyah potongan steak tepung yang baru saja dia potong.
"Anj*ng, seriusan lu" gua terkaget-kaget hampir keselek dengar pengakuan dari si AJ. Mungkin si AJ belum punya nyali buat ngehamilin pacarnya terus ngomong gini ke Mamanya "Ma, Mama sebentar lagi mau punya cucu baru soalnya pacarku hamil"
Tapi nyali si AJ ok juga nih, berani bener dia ngomong ke Mamanya kalau sudah pernah ML bareng pacarnya. AJ mungkin sudah kehabisa akal buat dapat restu jadi dia buat pengakuan kontroversial.
Mama AJ marah besar tapi gak bisa berbuat apa-apa. Lah mau ngapain lagi kan udah penis si AJ udah penetrasi gimana bisa ditarik lagi, hahahaha. Kalau Mama AJ marah besar, Ayah si AJ gak banyak ngomong dan pasrah.
Tetapi seiring berjalannya waktu, Mama AJ mulai luluh dan pasrah. Ya mau gimana lagi, si AJ sudah bucin banget ke pacarnya yang sekarang. Gua sendiri kalau boleh memberikan pendapat merasa kalau si AJ ini kurang cocok dengan gaya hidup si Mandy. Lah si AJ yang gua tahu hobby-nya makan pempek di pinggir jalan sekarang harus ngikutin makan di Mall Jakarta ya aneh juga.
Giliran ama gua aja kalau lagi jalan maunya makan pempek lenjer sekarang makan di Mall Kelapa Gading yang sekali habis makan goban.
Gua gak tau bagaimana kelanjutan kisah cinta AJ dan Mandy tapi sebagai seorang teman, tentu saja gua berharap temen gua yang satu ini menemukan kebahagiaanya.
Selasa, 13 Juli 2021
Gegara Pandemi ini, gua merasa jadi makin banyak orang parno termasuk orang terdekat gua.
Mama dan Kakak wanti-wanti gua buat di rumah aja biar aman. Pasangan juga kasih warning supaya gua lebih aware dan lebih baik di rumah saja.
Berhubung gua orang yang patuh (baca: takut dimarahin) jadilah gua dalam beberapa Minggu terakhir ini lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.
Keluar seperlunya aja, misal pas lagi kirim paket pesanan buyer atau kalau lagi pengen jajan tahu walik di sekitaran Antapani, haha.
Sisanya ya di rumah. Gua banyak menghabiskan waktu buat nonton serial TV misal The X-Files, Breaking Bad sampai Money Heist.
Mau pergi ke bioskop juga percuma, bioskopnya juga gak buka. Toko buku juga tidak boleh buka jadilah gua harus mengurungkan niat buat beli komik dan buku.
...........................................................
Beberapa hari yang lalu, gua berkunjung ke salah satu Mall di daerah Kepatihan. Mall memang ditutup tetapi beberapa tennant F&B masih diperbolehkan buka.
Alasan gua maksain pergi kesana adalah karena voucher pizza yang gua dapat hangus hari itu. Mayan sih nominalnya jadi dibanding hangus, cus deh.
Tennant pizza itu letaknya ada di lantai 3 Mall. Suasana Mall gelap bener mirip suasana Mall di The Walking Dead. Beberapa Tennant masih buka, mereka mengandalkan orderan dari Ojek Online. Yang laku ya laku, yang sepi ya sepi.
Paling laku itu Tennant Dear Butter yang baru buka. Gua iseng mau beli eh ditolak soalnya cuma bisa dibeli via Ojek Online.
Sekilas gua liat bentuknya kayak wafel yang dulu dijual di Yogya Express tapi bedanya di Yogya Express harganya 6.500 dapat 4 pcs lah kok ini 29rb cuma dapat 2 pcs.
Seenak apa itu? Karena gak bisa beli ya lain kali aja deh. Dari baunya, gua sudah bisa membayangkan seperti apa rasanya, wkwkwk.
Akses ke Tennat Pizza yang gua tuju cuma bisa lewat lift. Suasana masih siang tetapi berasa mencekam karena lampu dalam Mall yang dimatikan.
Di lantai 3 yang luas itu, ternyata cuma ada 2 Tennant yang buka yaitu Pizza dan CFC. Dibanding dipake buat jualan, area seluas ini lebih cocok dipake buat Uji Nyali. Salut buat pegawai tennant yang masih berani jualan.
Gua pesan menu pizza dan bayar pake voucher yang gua dapat. Mungkin yang ada di pikiran si Mbak pizza adalah "jualan lagi sepi, sekalinya ada yang beli malah bayar pake voucher. Nasib nasib"
Si Mbak kemudian cerita kalau di lantai 3 ini cuma 2 tennant yang beroperasi. Buka jam 11 siang dan tutup jam 7 Malam.
Kalau sepi, bosen juga gak sih nunggu selama 8 jam di area seluas itu. Gabut pasti tapi ya mau gimana lagi, namanya juga kerja.
........................................................
Gegara Pandemi ini juga, status resepsi pernikahan gua pun jadi terombang ambingkan, hahahaha.
Resepsi rencananya di akhir bulan September nanti menjadi tidak pasti padahal pembayaran sudah masuk sebagian dan gift untuk tamu sudah beres dibuat.
"Nanti gak perlu dikasih tanggal ya di gift biar aman" kata gua ke pasangan.
Ini mencegah hal yang tidak diinginkan seperti harus mundur karena kondisi yang tidak memungkinkan. Kan malu ya, sudah ditulis tanggal 25 September eh jadinya tahun depan.
Sedikit banyak hal seperti ini membuat gua dan pasangan kepikiran terutama pasangan yang memang type pemikir.
Gua mencoba untuk membawa santai tetapi tetap saja sih kepikiran padahal jarang-jarang gua mikirin masalah.
Untuk undangan, gua hanya menyebar 200 undangan saja. Tidak perlu ramai yang penting berkesan dan bisa dihadiri oleh keluarga besar.
Whatever happened, happened. Kita berdua memilih untuk mengikuti alur saja.
Jika harus diundur, gua jadi lebih punya banyak waktu buat mempersiapkan pernikahan. Ya ada nilai plus minusnya sih.
Mohon doanya ya!
Selasa, 01 Juni 2021
Setelah semua barang berhasil dipindah, Malamnya kita berencana mengunjungi Mall Of Indonesia buat cari makan. Dulu gua tiap hari sering melewati Mall ini tapi belum pernah sekalipun masuk.

