Rabu, 27 April 2016

The Next Lupus

Pernah denger Novel Lupus?

Tahun 80-90an bisa dibilang Lupus adalah culture pop di Indonesia. Dimulai dari Cerpen di Majalah HAI, Lupus kemudian menjelma menjadi icon pop untuk generasi di tahun itu.

Gue yang kebetulan emang besar di Generasi 90an (Iya tau, sudah tua gue) gak lepas dari demam Lupus. Hampir semua Novel Lupus gue koleksi dan tiap diajak Bokap ke Gramedia, gue pasti menyelipkan 1 buah Novel Lupus di keranjang belanjaan gue.

Denger-denger sih ya, kalau diakumulasikan Novel Lupus sudah hampir terjual sebanyak 3,5 juta copy dan merupakan rekor penjualan buku hingga hari ini #wow

Dan setelah lama vakum, 30 tahun setelah Novel pertamanya terbit (tahun 1986) Trio pengarang Lupus (Hilman, Boim Lebon, dan Gusur) bekerja sama dengan Tirana Art Management berupaya kembali menghidupkan karakter Lupus dengan gimmick baru dan tampilan yang lebih segar dengan cara menggandeng para penulis muda yang berbakat.

Audisi penjurian dan workshop akan diadakan di beberapa Kota besar di Indonesia (Yogyakarta, Bandung, Jakarta) dan #uhuk gue termasuk salah satu yang lolos audisi.

Kok bisa? Gimana caranya?

Jadi gini, sebenernya gue juga awalnya telat tau tentang Event ini. Gue malah kirim tulisan gue, 30 menit sebelum deadline pendaftaran ditutup. Gue kirim tulisan gue di blog ini yang judulnya "Audisi Nyanyi" dan "Cinta dari atas Balkon" (yang mau baca silahkan diubek-ubek lagi di Blog ini karena postingan lama). Tulisan tersebut sudah gue modifikasi dan gue masukkan tokoh-tokoh di Novel Lupus seperti Lupus, Lulu, Boim, Gusur, dll.

Banner "Nulis Lupus Bareng"
3 Hari kemudian, gue ditelpon dan dikabari panitia kalau 2 tulisan gue tembus dan disuruh datang untuk proses penjurian di depan 3 juri yaitu (Boim, Gusur dan seorang juri dari Tirana Art Management).

Di telpon si gue oke, oke aja dan bilang pasti datang tapi pas tutup telpon gue langsung puyeng karena nanti di penjurian besok, gue harus mempresentasikan karya gue di depan tiga juri tersebut + para peserta yang juga lolos (katanya sekitar 50 orang).

Buat yang kenal gue pasti tau banget kalau gue bukan orang yang suka tampil di depan umum dan lebih suka kerja di balik layar. Belum lagi gue paling gak bisa kalau harus ngomong di depan orang banyak. Pengecualian kalau gue ngomong di depan orang banyak yang sudah gue kenal, gue masih bisa menguasai keadaan tapi kalau ke orang yang gak kenal dan katanya puluhan, udah deh Wallahu a'lam.

Sempet berpikir buat gak dateng tapi temen gue si Ambu terus ngomporin gue dan ngasih motivasi buat gue datang. Saking tegangnya gue gak bisa tidur dan baru bisa tidur jam 3 subuh padahal acara dimulai jam 8 Pagi.

Besoknya, gue memantapkan diri and whatever happened, happened. Audisi dilakukan di Kantinasion Jalan Ambon, gue datang on time dan ketika sampai sudah banyak banget orang disana. Karena gak ada yang gue kenal, gue duduk dekat meja registrasi dan mulai baca-baca Novel Lupus yang sengaja gue bawa buat nambah refrensi.

Ketika Meja Registrasi dibuka, gue registrasi ulang dan luar biasanya gue kebagian di urutan nomor 1. Bener kata si Ambu, dibanding lu deg-degan nunggu giliran kenapa lu gak jadiin aja di urutan nomor 1 biar cepet plong.

Gak lama setelah registrasi, nama kita satu per satu dipanggil ke depan buat mempresentasikan dan dinilai oleh 3 tim juri. Karena gue registrasi di nomor 1 jadilah gue orang pertama yang kebagian buat langsung tampil.

Dewan Juri yang terhormat
Gilak! Bener-bener gilak, tegangnya luar biasa mirip seperti gue waktu disuruh test Nyanyi pas masih SMA dulu. Gue ngalamin yang namanya demam panggung, keringet dingin, dan rahang gue jadi kaku saking tegangnya.

Gue memperkenalkan diri di depan juri dan mempresentasikan tulisan gue yang judulnya "Audisi Nyanyi". Karena gue biasa ngomong cepet, gue mencoba banget buat memperlambat tempo tapi jujur deh rahang gue jadi kaku banget ditambah lidah gue yang berasa membeku saking tegangnya. Susah bener mau digerakkin gara-gara tegang tadi.

Setelah beres presentasi, 2 orang juri yaitu Mas Boim dan seorang dari Tirana Art Management memuji tulisan gue yang dibilang lucu dan sudah punya basic menulis. Mbak dari Tirana Art kemudian nanya, apakah gue sering menulis buat Majalah yang gue jawab sering nulis Cerpen buat Majalah HAI, dll.

Penilaian 2 juri positif tapi ternyata gak buat 1 juri lagi yaitu Om Gusur. Dia awalnya muji tulisan gue tapi belakangan kritik dan bilang kalau 'tulisan kamu itu ya Sani, tidak membawa sesuatu yang baru untuk karakter Lupus. Tidak ada keunikkannya'

Gue lantas mendebat dan bilang ke Om Gusur kalau di tulisan gue ini, gue masih menjadikan karakter Lupus, Boim, Gusur original sebagai pacuan buat gue jadi sengaja gue gak bikin gimmick-gimmick baru di karakter yang gue tulis. Lagi pula, kita disuruh buat nulis 1 halaman dan gue rasa 1 halaman gak akan cukup buat membuat gimmick baru karena harus ada perkenalan dan intro terlebih dahulu.

Om Gusur kemudian menjawab "kalau dari saya sih gak ya tapi semuanya bergantung ke 2 juri lagi. Kalau mereka oke sama kamu, maka kamu lolos"

Bukannya pesimis tapi dari omongannya si Om Gusur itu, gue jadi sedikit yakin gak akan lolos karena gue beranggapan kalau saingan gue yang lain pasti hasil nulisnya jauh lebih keren. Setelah beres presentasi, gue kembali duduk ke kursi dan rasanya bener-bener plong banget. Semua beban dosa di pundak gue langsung lenyap, urusan lolos atau gak itu gimana nanti deh yang penting gue sudah mencoba.

Setelah 20 peserta yang maju, kita diberi waktu untuk rehat dan menikmati santap siang. Nah disaat itu ada salah seorang peserta yang nanya ke gue "Eh, itu baju John Cena yang kamu pake, belinya dimana?"

Begitu tau dia adalah fans WWE, kita langsung nyambung ngobrolin WWE. Seru banget sampai peserta lain ikut nimbrung dan obrolan kita langsung melebar kemana-mana. Kita yang tadi jalan sendiri-sendiri gara-gara ngomongin WWE kini jadi akrab.

Setelah rehat selesai, tiba-tiba nama gue dipanggil lagi oleh juri dan disuruh maju kedepan. Gue kaget, ada apaan ya. Mas Boim tiba-tiba ngomong gini "Setelah kita cek, ternyata tulisan kamu yang dikirim ke panitia ngejiplak dari internet ya? Terpaksa kamu kami diskualifikasi"

Jegerrrr, begitu ngedenger mas Boim ngomong gitu kiamat seolah datang lebih cepat buat gue. Bukan karena gue sedih didiskualifikasi tapi tuduhan ngejiplak karya orang di internet buat gue itu sungguh tuduhan yang menjurus ke fitnah. Gue berani sumpah kalau gue gak pernah sekalipun jiplak karya orang di internet dan tulisan yang gue kirim yang judulnya "Audisi Nyanyi" tersebut aslinya emang kejadian yang pernah gue alamin sendiri terus masak ada orang yang pengalamannya sama persis kayak pengalaman gue.

Gue kemudian mencoba membela diri dengan perasaan yang bercampur aduk, ada rasa malu juga ke peserta lain karena tuduhan tersebut. Gue bilang kalau mungkin itu adalah tulisan gue yang dikirim ke beberapa portal online (karena gue emang suka dapet honor dari beberapa portal online yang nerima tulisan gue). Mas Boim dan juri yang lain tetep gak mau terima dengan alasan gue dan lantas gue dipanggil ke depan meja juri. Sambil cengegesan Mas Boim ngasih gue "Bubble Ticket" yang artinya gue orang pertama yang lolos ke babak selanjutnya. Wowwww

My Bubble Ticket
Anjiiiirrrrr, rasanya luar biasa. Gue bener-bener shock dikerjain kayak gini. Gue jadi tau gimana rasanya peserta audisi Indonesian Idol yang dapet Golden Ticket. Oh gitu toh rasanya, antara seneng, kaget, dan bangga semuanya bercampur jadi satu. Apalagi gue orang pertama yang dapet Bubble Ticket dari Audisi Bandung.

Semua peserta dan penitia lantas memberi tepuk tangan + nyorakkin gue. Gue bisa bilang ini adalah salah satu best moment in my life yang kelak bisa diceritakan ke anak gue kelak. Hahahaha

Setelah dapat tiket, gue diberitahu panitia buat datang lagi besok Pagi jam 9 buat ketemu langsung dengan penulis dan creator Lupus, Hilman Hariwijaya yang kesohor itu. FYI, Mas Hilman adalah penulis naskah untuk sinetron Anak Jalanan di RCTI dan kalau ketemu besok, gue bakalan minta ke Mas Hilman supaya gue bisa dimasukkan ke sinetron Anak Jalanan buat nemenin karakter Boy di Sinetron itu. Kidding bros!

Besoknya gue datang on time. Bedanya dengan kemarin adalah gue datang dengan rasa percaya diri tinggi, gak gugup lagi dan ditambah gue sudah kenal beberapa peserta. Sayangnya beberapa temen yang sudah gue kenal kemarin, banyak yang gak kepilih dan yang kepilih buat ngikutin workshop hari ini memang gak terlalu banyak. 

Workshop hari ini berjalan dengan menyenangkan. Mas Hilman memberi panduan dan bercerita tentang awal dirinya membuat karakter Lupus dan teman-temannya. Persis seperti yang pernah gue baca, mas Hilman itu aslinya pemalu dan keliatan banget gak biasa tampil di depan umum. Seperti yang pernah dia bilang, karakter Lupus adalah alter ego dirinya dan Lupus bukanlah Hilman karena keduanya merupakan 2 identitas yang berlainan.


Poin-poin yang dijabarkan oleh Mas Hilman sebenarnya sedikit banyak sudah gue lakuin setiap kali gue menulis. Mulai dari pengalaman pribadi, membuat side kick untuk tokoh utama, dll. Gue gak segan kalau bilang gaya nulis gue emang terpengaruh banget gaya nulis Mas Hilman karena Lupus adalah bacaan gue sejak masih SMP dulu.

Saat workshop itu, kita dikasih tugas buat bikin Cerpen on the spot dan gue nulis Cerpen yang judulnya "Punten, Punten!" yang terinspirasi dari cerpen lama gue dengan beberapa modifikasi. Acara Workshop cukup lumayan lama karena baru beres jam 4 sore.

Sebelum acara berakhir, dipilih 3 orang perwakilan untuk diwawancarai media lokal dan mungkin karena gue camera face (huek), gue kepilih jadi salah satu wakil buat diwawancarai. Gue harus bercerita tentang pengalaman gue ikutan Event ini dan menjelaskan motivasi gue buat ikutan Event ini apa.

"Gue ikut Event ini karena gue emang ngefans dengan Novel Lupus sejak lama, sejak masih SMP. Waktu kecil, gue tuh orangnya pendiem, introvert, pemalu, dan gak suka main keluar rumah. Kesenangan gue adalah waktu gue lagi baca Novel Lupus karena.....bla....bla......" gue ngebacot.

Gue kemudian ngebayang kalau suatu hari nanti, rekaman ini diputar dan Nyokap gue or Guru Sekolah Minggu gue waktu gue masih kecil gak sengaja nonton, mereka pasti bakalan geleng-geleng kepala sambil ngomong "Luar biasa ini si Sani pencitraannya. Introvert, pendiem, pemalu yang ada lari sana, lari sini. Ngomong mulu gak mau berhenti, jailnya juga nahan"

Ya, namanya juga pencitraan -_-

3 hari kemarin buat gue adalah pengalaman yang sangat berharga. Bisa ketemu temen baru dan dapet ilmu baru. Temennya juga cantik-cantik dan bisa dimodusin (halah). Perjalanan masih panjang karena sehabis ini bakalan ada Camp setelah audisi di Jakarta beres bulan Juni mendatang.

Mohon doanya ya man teman :)

Cari gue yang mana, clue yang paling ganteng

Senin, 18 April 2016

"Meu nome é Stefanus Sani. Até logo!"

Gereja gue sekarang lagi kedatangan temen baru. Doi namanya Ely dan import dari Timor Leste.

Orangnya baik dan pendiem banget, dia juga sudah fasih berbahasa Indonesia dan status dia sekarang adalah seorang mahasiswa di sebuah Universitas di Bandung.

Yang gue suka dari dia adalah orangnya on time banget dan setiap kebaktian gak pernah telat datang. Misalnya tiap Sabtu kan ada kebaktian Youth jam 5 sore dan beneran deh jam 5 sore dia udah nyampe di Gereja padahal pintu Gereja masih ditutup karena banyak yang belum datang.

Sedikit tamparan buat gue yang selalu ngaret datang ke Gereja di hari Sabtu dan Minggu, xixixixi.

Gara-gara Ely juga, gue jadi penasaran dengan bahasa Portugis. Kalau lagi ngobrol, dia biasanya suka pakai kombinasi bahasa Indonesia - Portugis. Biar keliatan keren, gue niat-niatin belajar bahasa Portugis di rumah.

Rencananya adalah ketika di suatu hari pas kebaktian Youth, gue bakalan ngajak ngobrol Ely pake bahasa Portugis. Biar kerenan dikit gicu di depan yang lain, hihihihi.

Hingga di suatu hari ketika gue ngerasa sudah bisa beberapa kalimat Bahasa Portugis, gue nekad ajak ngomong si Ely pake bahasa Portugis.

"Boa tarde! Como vai você?" (Selamat sore, apa kabar?)

Ketika gue ngomong gitu, suasana mendadak jadi hening. Yang lain pasti bengong campur bingung gue ngomong apaan dan si Ely yang gue arepin respon sapaan gue mendadak diem juga.

Gue ulangi lagi kalimat tadi "Boa tarde! Como vai você, Ely?" 

Sengaja gue sebut nama biar si Ely ngerespon gue tapi dia masih bengong sambil natap gue dengan penuh keheranan. Please jawab dong atau minimal responlah, gue udah malu banget soalnya suasana mendadak jadi hening. Gak ada yang ngerti ama apa yang gue omongin.

Atau jangan-jangan gue salah ngapalin kalimat lagi? Gue malah belajar bahasa Nigeria jadi si Ely gak ngerti?

Dibanding keadaan makin awkawrd akhirnya gue buka suara dan ngomong pake bahasa Indonesia "Ely, itu gue ngomong selamat sore, apa kabar pake bahasa lu. Lu napa malah diem aja"

Ely langsung ketawa cekikikan sambil nutupin muka dan setelah ketawanya habis, dia baru bilang kalau gue salah ucap jadi aja dia kagak ngerti apa yang gue omongin.

Harusnya di kalimat "Boa tarde! Como vai você?" tersebut ada akhiran 'eu' saat pengucapan. Oh begicu toh, syetan itu buku yang gue baca gak ngasih tau sedetil itu.

Setelah gue disorakkin ama yang lain dan dikatain sok-sokan akhirnya atas ide yang lain diputuskan tiap Youth hari Sabtu kita belajar 4 kalimat bahasa Portugis tiap Minggunya.

Sekarang lumayan sudah jalan sekitar 3 bulanan dan untuk bahasa sehari-hari gue udah lumayan bisa. Untuk tau bisa atau gaknya gue mau ngetest ke tetangga baru gue yang juga dari Timor Leste.

Kebetulan di suatu hari pas gue mau main, tetangga gue yang Ibu lagi ngobrol ama Nyokap di depan Rumah gue. Setelah gue pamit ke Nyokap mau pergi, gue salam ke Ibu tersebut:

"Bom dia! Prazer em conhecê-lo" (Selamat Pagi, senang berjumpa denganmu")

Dia diem bentar, mungkin karena kaget disapa ama gue. Jangankan dia, Nyokap gue juga kaget dan pasti gak ngerti gue ngomong apa. Dikiranya gue abis ngelem aibon kali jadi ngomongnya awur-awuran.

"Obrigado. Qual é o seu nome?" (Terima kasih, siapa namamu?) balas si Ibu sambil tersenyum

"Meu nome é Stefanus Sani. Até logo!" (Namaku Stefanus Sani. Sampai jumpa lagi!)

Dan suenya gara-gara gue ajak ngobrol si Ibu pake bahasa Portugis, setiap ketemu seluruh anggota keluarganya, gue pasti diajak ngomong pake bahasa Portugis. Kalau gue bisa jawab ya gue jawab ya kalau gak bisa pake cara lama.

Kalau kita gak fasih ngomong bahasa Inggris biasanya kan kita cuma bisa bales yes, yes atau no, no doang kalau lagi diajak ngobrol. Gue pun pake cara yang sama kalau gak ngerti. Gue bakal jawab "sim, sim" alias iya, iya atau "não, não" alias tidak, tidak.

Cerita lain gue di Minggu ini adalah gue lagi lumayan seneng karena beberapa tulisan gue dimuat di portal berita vivanews.com yang merupakan salah satu portal berita terbesar di Indonesia (selain detikcom, kompascom).

Vivanews berada dalam 1 group dengan TV One & ANTV dan gak gampang bisa nembus portal berita ini. Beberapa tulisan gue yang dimuat di situs ini:




Respon orang yang sudah baca ternyata positif dan makin bikin gue semangat nulis lagi. Tapi tetep sih ada proses editing dari pihak VIVA sebelum akhirnya tulisan kita dimuat. Dan di proses editing itu kalau gue boleh jujur meskipun gak mempengaruhi cerita tetapi feel-nya jadi sedikit berkurang.

Contohnya di kalimat ini: "Gue terdesak dan hanya bisa menutup mata sambil berharap waktu ini cepat berlalu. Gue sudah pasrah kalau si Gay itu menyerang gue kapan saja"

Kalimat itu memang agak vulgar kalau ditampilkan dan setelah melewati proses editing menjadi "Saya terdesak dan hanya bisa berdoa semoga Tuhan mempercepat waktu ini. Saya hanya bisa pasrah jika pria penyuka sesama jenis itu menghampiri saya"

Makna kalimatnya sih sama aja tapi menurut gue jadi agak sedikit rancu aja sih. Ini kalau dianalogikan seperti kamu bisa bikin Indomie enak tetapi kali ini kamu makan Indomie yang bikinan temen kamu.

Rasanya emang sama kayak Indomie yang biasa kamu buat tapi tetep ada yang beda.. Gitu sih ya menurut gue tapi terlepas dari itu gue tetap acungkan jempol buat editor yang sudah sudi ngedit tulisan gue.

Jadi, kapan kamu mulai menulis?

Rabu, 13 April 2016

Overweight & Overload

Pernah ngalamin yang namanya overweight alias kelebihan berat badan?

Bagaimana rasanya? Apa lutut menjadi linu gara-gara gak kuat nahan perut yang makin membuncit? Atau telinga jadi sakit karena dikomentarin negatif ama orang-orang?

2 bulan belakangan ini, gue lagi bener-bener ngerasa overweight alias kelebihan berat badan. Kelebihan berat badan ini lebih karena pola makan yang gak teratur. Biasalah kalau lagi semangat cari duit, makan siang pun jadi makan malam dan abis makan lanjut tidur. Wajar kalau perut jadi makin membuncit.

Satu hal yang bikin gue sadar kalau gue lagi kegendutan adalah ketika gue datang ke tempat setting langganan gue. Kebetulan udah sekitar 2 bulan gue gak kesini dan waktu ketemu ama operator setting yang jadi langganan gue si mbak Cindy dia kayak kaget gitu liat gue:

"Ini Sani? Kok mukanya beda ama terakhir kesini? Lebih besar dan pipinya jadi tembem banget?" kata Mbak Cindy kebingungan.

Segitu gendutnya gue kah ampe muka gue bikin pangling? Si Mbak Cindy ini operator langganan gue yang sering gue sogok pake ice cream Magnum biar kerjaan gue diduluin dan kalau dia ampe bingung liat gue artinya emang gak ada beres nih ama gue.

Bukan cuma Mbak Cindy aja, temen bokap yang kebetulan lagi datang ke rumah juga berkomentar yang sama "De, makin gendut aja nih. Calon bos nih"

Dibilang calon bos ya gue aminin tapi kalimat makin gendut itu bikin gue lesu. Puncak dari kegendutan gue adalah gue yang biasanya pake baju size L sekarang naik jadi XXL dan celana gue mulai sempit semua. Bahkan ada baju 2 tahun lalu yang gak pernah gue pake karena kegedean sekarang muat waktu gue pake.

Tidak ada jalan lain kecuali gue harus mulai diet total.

Dalam ingetan gue, gue sempat 2x mengalami masa obesitas yaitu waktu gue kelas 5 SD dan 1 SMP. Dulu, gue punya kecengan waktu kelas 1 SMP namanya Lia dan saat itu gue emang bener-bener tertarik banget ama dia. Kita sering pulang seangkot berdua karena kebetulan kita 1 arah pulang.

Dari temennya gue dapet info kalau dia gak suka cowok gendut karena suatu alasan. Ngedenger temennya ngomong kayak gitu, gue langsung mati-matian nurunin berat badan.

Gue yang tiap Pagi dianter ama bokap menolak buat dianter lagi. Gue lebih milih naik sepeda buat membakar lemak. Gue yang biasa jajan nasi kuning di sekolah tiap istirahat memutuskan buat gak pernah jajan lagi.

"De mama mau beli lele. Kamu mau gak?" kata Nyokap suatu hari

"Gak mau, aku gak makan malam". Demi kamu Lia, ampe lele crispy favorit gue pun gue lewatin,

Yakin deh Nyokap gue pasti bingung saat itu. Gue yang paling doyan makan lele, tumben-tumbenan nolak pas ditawarin lele. Biar lele gue lewatin yang penting Lia gak gue lewatkan, pikir gue saat itu.

Setelah beberapa Minggu kemudian, berat badan gue turun dratis, Gue jadi mengecil, pipi mulai kempes dan perut gue nyaris rata. Setelah liburan kenaikkan kelas dan gue ketemu Lia lagi setelah 1 bulan libur, reaksi dia adalah "Sani kok kurus gini? Kamu jadi jelek loh kalau kurus gini"

Anj*********************************

Dan cara yang sama ketika gue SMP itu akhirnya gue pakai kembali agar berat badan gue kembali normal. Beberapa temen gue pake cara extreme supaya kurus, misalnya gak makan seharian atau yang pernah gue liat ada yang nanem sejenis paku di deket telinga tujuannya untuk menghilangkan nafsu makan. Ngeri!

Gak perlu sih menurut gue pake cara-cara yang menyiksa tubuh. Tips dari gue, setiap pagi saat bangun minum air putih minimal 2 gelas. Abis minum olah raga ringan (kalau gue biasanya fitness santai).

Jam 10 Pagi makan buah-buahan dianjurkan pisang karena mengenyangkan. Siang hari saat makan siang baru makan berat. Tapi nasinya gak usah banyak-banyak, lauknya boleh banyak (dianjurkan sayur-sayuran).

Terus sejak mulai makan siang ampe Malam jangan makan lagi. Kalau laper ya makan pisang secukupnya dan gue tambahin dengan olah raga Malam seperti sepeda, renang (biar gue gak jago amat), futsal atau kadang basket.

Lakukan secara teratur dan yep setelah 3 Minggu berat badan gue turun 7 Kg. Masih belum normal sih butuh turun beberapa Kg lagi dan buat ngetest apakah diet gue berhasil atau tidak adalah dengan gue dateng ke Mbak Cindy lagi.

"Wah Sani, udah kurus lagi ya sekarang" kata Mbak Cindy ketika ngeliat gue.

"Jadi ganteng lagi kayak dulu gak?" goda gue

"Gak juga sih"

--__--

Over gue yang lain di Minggu ini adalah gue mengalami yang namanya Overload. Minggu ini pengiriman barang dari Clobberin Store bener-bener Overload. Jujur gue bener-bener keteteran karena gue kerjain sendiri semua dan wow luar biasa capek.

Rekor gue terjadi di hari Rabu kemarin, total ongkos kirim yang harus gue bayar mencapai 1,4 juta di hari itu.Biar ongkir ditanggung pembeli tapi tetep nyesek juga sih ngeliat angka 1,4 juta cuma buat ongkir doang.

"Lagi banyak orderan nih Kak Sani" kata Mbak Rani, operator JNE yang jadi langganan gue ngirim.

"Iya nih Mbak Rani. Itu mintain diskon dong ke bos, lumayan kan kalau dikasih potongan 10%" bujuk rayu gue.

"Bentar aku ke atas dulu. Tanyain ke bos, siapa tau dikasih"

Setelah menunggu 10 menit dan karena gue juga langganan di agen ini, gue dapet diskon 10% dari total biaya pengiriman. Buat ucapan terima kasih gue traktir Mbak Rani paket KFC buat doi makan malam.

Jam sudah menunjukkan jam 10 Malam, jalanan sudah mulai sepi. Gue angkat tangan gue tinggi-tinggi, ada rasa capek yang sangat, ada kelelahan yang mendera tapi ada juga rasa bersyukur yang besar untuk semua berkat ini.

Rabu, 09 Maret 2016

Hati Hati Penipuan Buku Voucher

Pernah gak kamu lagi diem di jalan atau di Mall terus tiba-tiba dideketin cewek cakep yang ngomong "Kak, maaf. Boleh minta waktunya? 1 Menit aja"

Kalau kamu bilang boleh, bisa jadi 1 menit itu akan menjadi waktu yang panjang buat kamu.

Kalau gue gak salah hitung, sudah hampir 10x gue dideketin cewek cakep sambil nanya pertanyaan yang sama. Saat pertama kali gue dihampirin, yang ada di pikiran gue ada 3 kemungkinan. Kenapa ini cewek cakep ngedeketin gue.

Kemungkinan pertama, dia lagi cari artis baru buat diorbitin terus dia lihat kalau gue punya tampang yang lumayan oke buat diorbitin buat main di Anak Jalanan atau Ganteng Ganteng Serigala Reborn. Uhuk

Kemungkinan kedua, dia emang mau kenal lebih deket ama gue. Aih

Dan kemungkinan terakhir, dia adalah sales yang mau nawarin gue produk. Untuk kemungkinan pertama dan kemungkinan kedua sih udah gue coret secara gue gak ganteng dan gak mungkin juga gue ditawarin casting.

Jadi gue udah sangat yakin ini cewek cakep pasti mau nawarin sesuatu produk dan ujungnya sih gue bakalan ngeles "Aduh Mbak maaf, gak bawa uang" atau "Aduh Mbak, uangnya buat bayar kost"

Perkiraan gue gak sepenuhnya salah sih. Mereka bukan nawarin produk tapi nawarin buku potongan voucher diskon. Dan luar biasanya mereka selalu bawa-bawa nama Yayasan Sosial seperti Yayasan Anak Indonesia, Yayasan Anyo Indonesia, Yayasan Lupus Indonesia, Yayasan Kanker Indonesia, Sahabat Veteran, Kick Andy Foundation, dll.

Mulia banget menurut gue. Jarang banget ada cewek (yang ngakunya mahasiswi) muterin Mall tanpa dibayar sambil nawarin buku voucher. Buku voucher tersebut dibandrol 100rb dan mereka yang mengatas namakan Yayasan pasti ngomong "UANG 100rb INI SELURUHNYA AKAN KAMI SUMBANGKAN KE YAYASAN xxx. TERIMA KASIH BANYAK KAK SUDAH MEMBANTU"

Dijamin pahala lu besar di surga, gak ada yang salah sih tapi kalau dilihat-lihat lagi ternyata emang gak ada beres dan kalau ditilik lebih jauh lagi ternyata banyak orang yang ngeluh karena hal ini.

Ternyata uang 100rb yang kita sumbangkan itu gak semuanya buat Yayasan yang dimaksud. Sumbangan yang diberikan ternyata hanya 10rb saja dan kalau kamu jeli tulisan 10rb itu ditulis seminimalis mungkin di buku voucher (nyaris gak terlihat).

Jadi secara gak langsung, 90rb kita pake buat beli voucher-voucher itu. WTF!

Sudah banyak yang tertipu dan emang rasanya nyesek banget gak sih. Niat nyumbang 100rb malah cuma disumbang 10rb.

Pernah 1 kejadian gue lagi ama temen lagi makan siang di Mall PVJ. Lagi asyik-asyiknya menyantap steak (dapet voucher dari KG) gue didatengin 2 cewek cakep yang langsung nyerocos soal Yayasan Kanker dan mereka ngakunya dari Yayasan yang sedang cari dana.

"Ayo dong Kak, bantu untuk amal. Masak kakak bisa makan di Mall tapi buat nyumbang aja gak bisa?"

WOY, GUE JUGA MAKAN DISINI GARA-GARA DAPET VOUCHER KALAU GAK DAPET VOUCHER JUGA GUE BIASA MAKAN DI WARUNG PECEL LELE!" jerit gue dalam hati.

"Aduh saya tertarik sih tapi maaf nih lagi gak bawa uang. Lain kali aja" kata temen gue

"Kalau kakak gak bawa uang cash, bisa kok transfer. Saya anterin kakak ke ATM di bawah atau kalau gak pake E-banking aja gimana?"

Gilak bener. Maksanya gak nahan. Ini kalau dalam relationship, cewek ini masuk kategori tukang morotin cowoknya.

"Kalau transfer, transfernya ke rekening Yayasan atau ke rekening pribadi?" gue mancing

"Ke rekening saya kak setelah itu akan saya teruskan dananya ke yayasan"

MANA GUE PERCAYA TONG! Namanya nyumbang via transfer ya ke rekening yayasan agar bisa diaudit. Kalau gue transfer ke lu terus dibawa kabur, gimana?

"Saya gak mau kalau transfernya ke rekening pribadi. Kalau transfernya ke rekening Yayasan, saya mau sekarang transfer pake E-banking"

"Tapi saya gak dikasih rekening yayasan ama senior saya kak"

"Ya udah saya tungguin. Kamu sekarang sms atau chat senior kamu"

"Oh ya udah deh kak kalau gitu. Mungkin lain kali, maaf mengganggu" dia langsung ngeloyor pergi.

Aslinya gue itu orangnya gak enakkan apalagi ke cewek tapi gara-gara kadung kesel juga sering digangguin ya gue debat aja si cewek.

Karena sudah berpengalaman, indra Spider-Man gue udah mulai bertambah buat mengantisipasi hal-hal kayak gini. Kalau gue lagi jalan sendiri terus ada yang seolah ngehampirin gue, gue langsung percepat langkah kaki.

Kalau lagi di Mall terus ada yang cegat gue sambil minta waktu, gue bakalan akting nunjuk jam sambil bilang sorry, buru-buru.

Kalau gue lagi duduk di Mall balesin chat orang terus ada orang yang tiba-tiba duduk di sebelah gue dan mulai cerita aneh-aneh gue langsung pura-pura angkat telpon sambil berlalu ninggalin orang itu.

Hal-hal seperti itu juga harus diwaspadai sih, gue sering banget nemu Ibu-Ibu curcol bilang gak punya uang terus mau pulang hari ini. Pokoknya kalau ada Ibu-Ibu gak dikenal terus mulai deketin kamu dan kalimat pertama yang keluar dari mulut dia adalah "Ibu mau pulang tapi....." langsung aja tinggalin, jangan iba karena itu biasanya nipu. Ngakunya mau pulang kok tiap hari ada terus malakkin orang

Kembali lagi ke soal buku voucher itu. Hari Minggu kemarin gue dapet jackpot lagi. Lagi duduk di McD nunggu pesenan McBurger buat Nyokap gue, tiba-tiba ada cewek sipit yang ngehampirin sambil ngomong kalimat sakti "Kak, boleh minta waktunya 1 menit atau 30 detik aja?"

Gak mungkin sih 30 detik, gue kencing aja lebih lama dari itu -_-

Gue sudah mencoba untuk menolak dan bilang kalau gue buru-buru tapi si cewek sipit itu (gak rasis ya karena gue juga sipit) maksa buat ngomong ama gue. Gue sih udah tau ini pasti mau nawarin buku voucher lagi.

Dan seperti dugaan gue, dia langsung ngaku Mahasiswi dari Jakarta (gayanya emang stylish kayak mahasiswi) mewakili yayasan x sedang dalam pencarian dana. Duh, kalau posisinya gue sendiri gini jujur sedikit susah buat gue nolaknya. Gak tega nolak cewek cakep :(

Coba kalau di samping ada Nyokap gue, yakin deh itu si cewek sipit pasti langsung diceramahin ama Nyokap gue "Mbak ini gimana kok maksa sih. Kalau saya gak megang uang masak disuruh beli. Mbak mau maksa saya kayak gimana juga, saya gak ada uang!"

Mungkin inilah yang dibilang kekuatan seorang Ibu. Hahaha

Dalam waktu 1 menit ini otak gue langsung muter, gimana caranya gue supaya bisa menghindari dari Mbak Sipit ini. Sialnya gue itu sedang dalam posisi nunggu pesanan datang jadi agak susah kalau mau kabur.

Di saat genting itu gue jadi keinget tentang isi buku voucher itu dari temen gue yang pernah kejebak beli. Gue inget ada voucher Restoran Sushi dan Restoran Braga Punya Cerita.

"Wah kamu nawarinnya telat. Hari Minggu kemarin, saya beli 4 buku di Jalan Braga (temen gue belinya emang di Braga). Itu yang isinya ada voucher Braga Punya Cerita kan?" kata gue sok iye

"Ya iya Kak. Wah sayang sekali ya. Mungkin kakak mau beli lagi untuk nambah amalnya?" 

"Saya belinya baru kemaren banget, belum saya pake malah. Next time ya"

Dia seperti yang kecewa dan masih maksa supaya gue beli buku itu. Gue yang dulu dijuluki Raja Voucher (baca postingan blog gue di kurun waktu 20009-2011) kok sekarang disuruh beli voucher. Hancur reputasi gue :) :) :)

Karena gue penasaran akhirnya gue kulik-kulik ke temen gue dan ada beberapa hal yang perlu gue infokan ke kalian supaya kalian gak kejebak:

*) Mereka bukan berasal dari Yayasan apalah itu namanya. Mereka hanya volunteer yang mendapat komisi 25rb per buku. Jadi kalau 1 hari mereka bisa jual 10 buku, dapet deh 250rb. Lumayan
*) Adalah ngarang banget kalau 100rb itu seluruh disumbangkan ke Yayasan karena hanya 10rb saja yang disumbangkan (90rb untuk kamu beli buku voucher yang saya yakin gak bakalan kamu pakai juga).
*) Gak semua voucher bisa dipakai, ini terjadi ke salah satu temen gue yang beli terus mau nukerin di Restoran Braga Punya Cerita dan ditolak dengan alasan yang kalau pihak mereka sudah tidak menjalin kerja sama dengan yang mengeluarkan buku tersebut.
*) Perusahaan yang mengeluarkan buku voucher tersebut adalah PT. G****** Marketing dan kalau disearch di google perusahaan ini ternyata banyak mendapat reaksi negatif. Banyak pula job seeker yang protes karena merasa dibohongi (daftar untuk lowongan kerja apa tapi malah disuruh jualin buku voucher).
*) Selain dapet komisi, makin banyak penjualan buku voucher maka makin banyak pula reward yang bisa didapat (mirip MLM & Sistem Piramida).

Untuk meluruskan gue sih gak bilang kalau perusahaan itu nipu tapi alangkah baiknya kalau para volunteer dibekali pemahaman dan SOP yang bagus dan gak boong. Jangan ngomong kamu dari yayasan si anu terus bilang seluruhnya disumbangkan untuk anak penderita kanker padahal cuma ceban doang yang disumbang.

Coba kalau itu dibalik, kamu punya anak kena kanker terus sumbangan dari orang dipotong buat dipake jajan. Nyesek gak hayo? 

Gue pernah jadi Volunteer buat koran Media Indonesia (2011) dan yang namanya Volunteer emang sama sekali gak dapet komisi, namanya juga suka rela. Kalau ngarepin komisi namanya bukan Volunteer tapi sales atau bahasa kerennya tenaga marketing.

Jujur gue sedikit terganggu kalau lagi diem terus dideketin, diajak ngobrol terus dipaksa beli. Mending kalau dibilang gak terus pergi tapi yang gue alamin maksa mulu sambil neken "Buat amal nih kak", "Masa kk makan di Mall, nyumbang gak bisa?" "Kak, bukunya tinggal 3 lagi, kalau mau dibeli semua juga boleh. Untuk bayi Rizki yang sedang tergolek lemah di rumah sakit Kak"

Makan di Mall bukan berarti gue orang kaya woy. Kalau gue ordernya paket hemat KFC yang isinya sayap ama Nasi doang masih dibilang kaya? Kualat juga bawa-bawa penyakit orang karena itu kesannya malah 'menjual' musibah ya.

Kalau ada masalah publik gini sih gue biasanya nulis surat terbuka (di Kompas atau Pikiran Rakyat). Gue pernah nulis hampir 8x yang isinya komplain gue tentang pelayanan publik (dari pelayanan parkir, tarif parkir yang gak sesuai, voucher gue yang ditolak, gue nyaris baku hantam ama petugas parkir Gramedia, ampe pelayanan kasir McDonalds) dan semuanya merespon dengan sangat baik sampai rumah gue didatangi Managemen dari mereka.

Tapi untuk kali ini gue sengaja tulis di blog biar kalau ada orang yang search bisa langsung baca dan lebih waspada soal buku voucher ini. Mumpung viewers blog gue lumayan banyak.

Saran gue buat kalian yang mau beramal, gak usah jauh-jauh. Lihat aja di sekitar kamu:




Carilah alasan terbaik buat kamu beli barang yang mereka jual. Dibanding kita ngeluarin 100rb untuk hal yang gak pasti mending kita beli barang yang mereka jual meskipun kita gak butuh. Kalau emang mau nyumbang buat Yayasan, cari tau dulu legalitas yayasan tersebut dan jangan pake perantara kalau mau transfer (transfer langsung ke no rekening resmi).

Jika ada pihak-pihak yang berkeberatan dengan tulisan saya ini, silahkan Email saya di Ssani38@yahoo.co.id atau di lotek_enak@yahoo.co.id.

Ciao! Bonjour

Minggu, 28 Februari 2016

Lidah Tak Berasa

Salah seorang temen gue pernah ngomong gini ke gue "San, gue percaya kalau semua hal itu ada sirklusnya. Sekarang mungkin lu lagi bosen melakukan sesuatu tetapi suatu saat nanti lu bakal kembali lagi melakukan hal yang pernah lu lakuin dulu"

Hmmm, bener juga sih apa yang dia omongin. Belakangan ini gue lagi demen banget nulis buat banyak hal padahal hampir 2 tahun belakangan ini gue sudah vakum menulis (kecuali nulis di blog). Salah satu alasan gue vakum adalah gue sempat merasa jenuh dan ingin mencoba hal yang baru.

Orientasi gue dulu saat menulis adalah ngincer hadiah atau honor kalau sekarang sedikit berbeda sih. Gue gak terlalu ngincer hadiahnya tetapi lebih ke arah presitise aja.

Dan bersyukurnya, sentuhan gue belum hilang. Hari Minggu kemaren gue ditelpon karena tulisan gue soal Perbankan masuk 20 besar dan meskipun gak sampai juara tapi gue tetep bersyukur. Artinya sentuhan gue masih ada dan bersyukur dapet hadiah duit yang bisa dipake buat beli figure Dragon Ball. Xixixixixi

Ngomong-ngomong soal nulis, belum lama ini gue ditawari buat jadi food blogger. Food blooger adalah blogger yang mengandalkan materi blognya pada hal di seputar makanan atau kuliner. Kamu bakalan dibayar/diendorse buat review makanan dari tempat yang direkomendasikan.

Menarik gak? Coba kamu bayangkan, kamu yang hobby makan dibayarin buat makan dan kamu tinggal kasih review tentang makanan tersebut. Sepertinya menarik bukan? Kalau kata temen gue ini adalah kesempatan bagus yang gak akan datang 2x.

Awalnya gue tertarik buat mencoba tapi setelah lama berpikir dan tanya sana-sini akhirnya gue mengambil kesimpulan kalau gue gak akan mengambil kesempatan itu. 

Why? Karena gue sadar diri. Sadar diri karena lidah gue gak sedetil yang lain. Gue ngerasanya gini, kalau gue lagi makan selama itu masakkan berasa ya buat gue enak-enak aja.

Ada temen gue di Bandung yang lidahnya kata gue bagus. Setiap lagi makan ama gue dia pasti komentarin soal makanan yang habis dimakan. 

"Sausnya kata gue masih kurang enak. Perpaduan bumbu kurang menyatu jadinya agak tawar di lidah gue. Terus soal tempura, kata gue bakalan lebih enak lagi kalau digorengnya pake minyak Samin. Gimana kata lu San?

"Iya, iya bener. Menurut gue lebih renyah kalau digorengnya pake Minyak Samin. Lebih kerasa gurih" kata gue ngebacot.

MINYAK SAMIN yang kayak gimana aja gue gak tau. Satu-satunya minyak yang gue tau itu minyak curah yang dijual di warung-warung dan begonya, pas pertama kali ngedenger soal minyak samin yang ada dipikiran gue malah minyak buat pijet -_-

Satu kejadian yang bener-bener meyakinkan gue kalau lidah gue emang gak detil dalam menilai makanan adalah ketika salah satu temen gue kedatangan temennya yang dari Warsawa. Kata temen gue si Warsawa (kita panggil aja dia dengan nama Warsawa) ini pernah kerja jadi Chief tapi gak berlanjut.

"Dia lagi pengen makan steak nih. Kata lu steak di Bandung yang authentic dan enak dimana ya?" tanya dia.

"Di L* M**** aja" gue rekomendasiin nama restoran yang kata gue steaknya enak dan banyak dapet review positif dari orang yang yang pernah makan disana.

Besoknya kita chatt di WA dan temen gue itu bilang kalau si Warsawa gak doyan makan disana. Belum 2 gigitan aja udah gak mau dimakan lagi terus dengan kejinya si Warsawa ngomong kalau steak di tempat itu like a sh*t. Dia juga protes soal tingkat kematangan, penyajian hingga rasa saus.

Gile bener. Steak yang enak dan mahal gitu disamain ama FESES. Kalau yang enak gitu aja disamain ama FESES gimana coba kalau gue ajak dia makan steak tepung di W*****G *****. Jangan-jangan disamain ama kencing kuda kali -_-

Btw, ngomongin soal makan enak. Temen gue yang lain, baru buka tempat makan murah dan enak di Bandung loh. Doi bikin stand di Warung Ciendog Jln Veteran dan menu yang dijual ada Okonomiyaki, Dorayaki, dll.

Kemarin gue udah kesana dan hmmm rasanya enak. Kombinasi antara saus teriyaki dan mayonaise di atas hidangan Okonomiyaki berpadu dalam gurihnya dashi terasa meleleh di lidah dan menghadirkan sensasi sendiri ke penikmatnya *uhuk*

Oh ya kalau nanti kesana bilang aja temennya Stefanus ya, siapa tau ntar dapet malu eh dapet service lebih. Siapa tau pas kamu beli dorayaki, coklatnya dibanyakkin atau siapa tau pas jajan takoyaki, dagingnya dibanyakkin. 

GGC (Ganteng Ganteng Cantik)
Semoga jualannya laris terus ya Sam, jangan lupa juga buat mampir yes :D

Senin, 01 Februari 2016

Kick Sani

Pernah nonton acara Kick Andy yang tayang di Metro TV? Itu loh acara yang biasanya mengundang sepasang suami istri yang sedang berkonflik lalu konflik mereka disiarkan di siaran televisi biar seluruh masyarakat tahu?

Eh...sorry salah. Itu mah acara gak bermutu Rumah Uya.

Kick Andy adalah acara talk show yang dipandu oleh Andy F. Noya yang sering mengangkat tema-tema human interest yang mampu menginspirasi banyak orang. Acara ini sudah sering mendapat banyak penghargaan karena inspiratif dan mendidik.

Awal tahun ini, gue dapet undangan buat nonton langsung Kick Andy di Studio Metro TV. Undangan yang tidak bisa dilewatkan begitu saja karena gue penasaran dengan cara kerja crew + suasana saat Kick Andy taping.

Meskipun jujur dan minta maaf banget ke Om Andy kalau gue gak pernah nonton Kick Andy karena gue lebih demen nonton sinetron Anak Jalanan di RCTI eh sebenarnya karena gue emang jarang nonton TV.

Di undangan tertulis taping dilaksanakan pada tanggal 6 January dan baru akan tayang tanggal 29 January 2016. Masalah pertama muncul saat gue gak tau dimana lokasi Studio Metro TV.

Gue cuma tau lokasinya ada di Kedoya dan Kedoya itu luas banget. Biar pun gue sering di Jakarta tapi pengetahuan jalan gue gak pernah bertambah karena cuma kesitu-situ aja.

Setelah tanya-tanya ke tukang baso dan ketoprak akhirnya kita (berdua bareng temen gue juga yang diundang) bisa nyampe juga ke studio Metro TV. Habis registrasi untuk cek undangan, kita dikasih makan dulu sebelum memasuki Grand Studio tempat taping Kick Andy.

Dari banyak studio di Metro TV, taping Kick Andy diadakan di Grand Studio yang merupakan studio terbesar di Metro TV. Kalau gue bandingin dengan Studio Kompas TV yang pernah gue kunjungi, Grand Studio Metro TV memang terlihat lebih besar.

Gue dan teman kebagian di posisi depan dan sebelum acara dimulai, kita diberi pengarahan oleh Floor Manager (FL) tentang tata cara, aturan yang harus diikuti saat taping, aba-aba kapan kita harus bertepuk tangan.

Satu yang paling sulit buat gue pribadi adalah bagaimana caranya selama 2 jam itu, gue bisa duduk manis, tidak gelisah dan tetap cool saat kesorot kamera.

Orang yang kenal dekat dengan gue pasti tau banget kalau gue orangnya susah buat diem. Setengah jam aja susah ini malah harus 2 jam.

Tapi demi kelangsungan acara ini gue harus bertahan. Gue pernah diceritain ama temen gue yang jadi penonton di Dahsy*t. Gara-gara dia kaku dan gak ikut goyang 'cuci piring' saat bintang tamu nyanyi pas lagi break iklan Floor Manager Dahsy*t ngomong gini "Mas yang duduknya disitu (sambil nunjuk temen gue) duduknya pindah aja ya ke kursi belakang."

Usut punya usut ternyata dia (katanya) gak terlihat bagus di kamera TV gara-gara kaku.

Dan gue ngebayang kalau gue gak bisa tenang dan cool terus FL Metro TV bakalan bilang gini "Itu Om yang pake baju batik coklat, sekarang keluar aja ya. Anda tidak terlihat kece di kamera" 

Mampus

Sebelum taping dimulai, kita dihibur terlebih dahulu dengan home band yang menyanyikan lagu-lagu hits baik lokal maupun mancanegara. Setelah dua lagu dari Band The Script dinyanyikan, vokalis cewek yang cantik jelita bertanya kepada para penonton "Ada yang mau request lagu gak?"

Gak disangka-sangka, Om-om di sebelah gue ngomong gini kenceng banget "Request lagu Goyang Dumang" dan didenger oleh si Vokalis dan seluruh penonton yang hadir.

Dan luar biasanya si vokalis langsung meluruskan permintaan tersebut dan mulai bernyanyi lagu Goyang Dumang. Gilak, drastis sekali ini. Beneran deh

Dari awalnya gue denger lirik "Yeah, You could be the greatest....You can be the king kong banging on your chest" berubah menjadi "Ayo goyang dumang biar hati senang pikiranpun tenang galau jadi hilang"

Kerasa banget jomplangnya bro -_-

Jackpot gue di Malam itu adalah ketika si vokalis ngasih mic ke depan si Om yang request lagu Goyang Dumang itu buat nyanyi bareng (jarak duduk gue dan si Om emang deket banget dengan posisi band di pinggir panggung).

Dan dengan kejinya si Om yang gue gak tau namanya itu langsung ngoper Mic ke gue. Musik pun mengalun dan si vokalis sudah ngasih kode ke gue buat gue nyanyi reff Goyang Dumang.

Lu bayangin gue yang gak pernah lulus nyanyi dari gue SD ampe SMA sekarang suruh nyanyi bagian reff Goyang Dumang di hadapan sekitar 500 penonton yang hadir dan juga kenapa harus Goyang Dumang yang gue nyanyiin -_-

Urusan bagus atau gak gimana entar deh yang penting gue bantuin si vokalis kece itu buat nyanyi dulu.

"Ayo goyang dumang biar hati senang pikiranpun tenang galau jadi hilang"

Gak tau suara gue emang oke, si vokalis bilang "Asyik banget" sambil ngelanjutin lagu itu. Demi Apa suara gue dibilang Asyik banget sama si vokalis kece, xixixixixi.

Next,

Taping pun dimulai dan tema yang diangkat di episode itu adalah "Menulis dengan Hati" dengan bintang tamu para pelukis yang memiliki keterbatasan tetapi mampu untuk berprestasi. Tema yang bagus menurut gue.

Gue berusaha untuk cool dan terlihat keren di depan kamera tapi Om yang disamping gue yang dengan keji ngasih mic ke gue keliatan banget gak tenang. Ada kalanya kaki diangkat terus angkat tangan buat perenggangan.

Yang paling sok iye adalah ketika seorang bintang tamu yang (maaf) gak memiliki tangan tapi tetap bersemangat buat melukis. Si Om langsung colek gue terus ngomong gini "Kita sebagai manusia yang masih diberi kesempurnaan oleh Tuhan, harus selalu bersyukur dan mencontoh Bapak itu"

IYA GUE JUGA TAU KALI OM KALAU HIDUP ITU HARUS SELALU BERSYUKUR!!!

Overall, acara berlangsung lancar. Total 2 jam lamanya gue harus duduk membeku dan bersikap cool biar keliatan keren pas kesorot kamera. 

Dan sebelum pulang (berkat bantuan kenalan), gue kebagian foto bareng Om Andy F. Noya dan pas salaman wihhh kerasa bener deh kharisma orang hebat. Gue sempet ngobrol sebentar, ngomongin buku Andy F. Noya yang baru gue baca (walaupun gue bacanya ampe tamat di Gramedia).

Sebelum pulang, gue bilang gini "Sukses terus ya Om Andy" terus dijawab "Iya, sama-sama. Terima kasih sudah datang"

Ah, terlepas dari gue suruh nyanyi Goyang Dumang dan mendapat gangguan dari si Om yang duduk di sebelah gue, malam itu benar-benar menyenangkan deh.....

Undang-undang lagi ya Om :D

Selasa, 29 Desember 2015

Jangan Lupa Bahagia

"Jangan Lupa Bahagia"

Kalimat itu gue dapet dari status facebook temen gue beberapa hari yang lalu. Gak ada yang kasih jempol dan gak ada yang comment tetapi entah kenapa cukup membekas di pikiran gue.

Gara-gara baca status itu, gue jadi mikir, kapan ya terakhir gue merasa bahagia? Menurut gue ada perbedaan antara kondisi dimana kita merasa 'sangat senang sekali' dengan kondisi dimana kita merasa 'bahagia'

Gue kemudian mencoba mengingat-ingat moment yang membuat gue merasa bahagia. Saat masih kecil, gue pernah ngerasa bahagia banget saat Nyokap gue ngebeliin VCD SmackDown bajakan karena saat itu gue lagi bener-bener ngefans banget dengan yang namanya SmackDown.

Beranjak ke remaja, gue pernah ngerasa bahagia banget ketika gue iseng-iseng nulis terus hasil tulisan gue dimuat di koran terus dikasih honor 250rb. Waktu gue nembak cewek dan diterima, gue juga ngerasa bahagia banget.

Tapi seiring berjalannya waktu hal yang awalnya membuat gue merasa 'bahagia' lama-lama berubah menjadi tahap 'sangat senang sekali' dan akhirnya masuk ke tahap 'biasa saja'

Apalagi kalau hal tersebut terjadinya secara berualang seperti saat gue menulis. Awalnya bahagia bisa dimuat tapi karena belakangan sudah rutin dimuat di Majalah ya gue akhirnya merasa biasa saja.

Iya, biasa saja karena kadar bahagianya sudah berkurang karena berulang.

Gue punya temen namanya si Gatot. Dalam 1 Minggu gue sering banget mampir ke kostnya yang kebetulan deket kampus.

Kalau ditanya ngapain gue kost si Gatot, tambahin kata 'numpang' di kata-kata berikut ini: (numpang) tidur, (numpang) makan, (numpang) toilet, dan numpang-numpang yang lain. Kalau lagi kemaleman biasanya gue nginep di Kost si Gatot ini.

Suatu hari ketika gue lagi berkunjung, si Gatot tampak lagi bete parah. Mukannya kuyu kayak habis dicabuli di angkot. Ditanya juga jawabannya awur-awuran. Setelah gue desek-desek nanya kenapa dia bete, dia cerita kalau dia lagi bete gara-gara sepatu converse asli yang baru beli (harga 600rb) hilang di Masjid pas lagi Jumatan.

Pas gue denger cerita itu, aslinya gue pengen ketawa ngakak. Bisa-bisanya sepatu Converse dicuri. Malingnya tau barang bagus nih. Tapi menurut gue ada unsur kelalaian dari si Gatot ngapain juga Jumatan pake sepatu bagus.

"Gue doain orang yang curi sepatu Converse gue, jempolnya nempel ama sepatu gue yang dicuri" kata si Gatot sambil coret-coret sepatu Converse dia yang lama.

Pas gue perhatiin, dia lagi nulis "Cepat lulus ya Tot" di sepatu Converse dia yang lama. Alasan dia corat-coret sepatu biar kelak sepatu dia gak dicuri lagi kalau lagi Jumatan di Masjid. Maling juga tentu mikir kalau mau curi sepatu yang sudah dicorat-coret model gitu.

"Gue boleh bantu coret-coret di sepatu yang sebelah kanan?" tanya gue

"Sok aja"

Sambil asyik dengerin si Gatot cerita, gue tulis pake spidol di tepi sepatu itu "Mampus lu Tot" dan pas dia baca tulisan gue, komentarnya cuma satu "Anj*ng lu San"

Hahahahahaha

Sementara Gatot masih asyik coret-coret, gue lagi (numpang) tidur sambil baca buku Inferno (Dan Brown) yang baru gue beli. Keadaan hening karena masing-masing punya kesibukkan sendiri.

Gak berapa lama terdengar suara chat masuk di HP Gatot dan Gatot yang tadinya keliatan bete habis langsung bersorak kegirangan penuh suka cita seperti baru mendengar sangkakala dari surga.

Gue pikir mungkin isi chatnya gini "Selamat Sdr Tri Gatot, anda memenangkan hadiah berupa kapal pesiar dengan tambahan para gadis molek berbikini yang siap melayani anda. Dari program undian Bank BTN" tapi gak taunya kagak. 

Isi chatnya cuma "Dimana?" Yang ngirim adalah kecengan si Gatot.

Gue yakin sih kalau yang nanya "Dimana" itu Nyokap si Gatot dia gak bakalan penuh suka cita kayak gitu tetapi karena yang kirimnya kecengannya, lonceng surgawi seolah bergema untuk Gatot.

Dia nunjukkin HPnya ke gue sambil tertawa bahagia. Rasa KZL gara-gara sepatu dicuri langsung berganti dengan kebahagiaan. Gak lama setelah itu dia langsung cuci muka sambil ganti baju bagus.

Jam sebenarnya sudah menunjukkan pukul 9 Malam tapi buat seorang Gatot malam hari bukanlah sebuah halangan ketika seorang gadis yang kita sayangi ngajak ketemuan.

"San, gue pergi dulu ya. Kalau lu mau nginep, kuncinya lu simpen dibawah karpet ya. Jangan lupa tutup korden kamar juga. Di bawah rak ada biskuit. Kalau lu mau, abisin aja"

SWT, dari tadi gak ditawarin biskuit. Giliran seneng baru deh ditawarin biskuit. Meski gak secara ekspilisit diungkapkan, gue tau kalau Gatot itu sedang BAHAGIA.

Iya, bahagia. Saat orang merasa bahagia, semua unsur negatif yang sebelumnya ada dalam diri kita untuk sesaat pasti langsung berganti dengan hal-hal positif yang membuat kita bahagia.

Ah, kapan ya terakhir gue ngerasa bahagia kayak si Gatot? Rasanya tahap 'bahagia' gua akhir-akhir ini masih dalam tahap 'senang sekali' belum mencapai level 'bahagia'

Besoknya setelah pulang dari Kost Gatot, Nyokap gue ngabarin kalau Magic Jar di rumah rusak jadi susah kalau bikin nasi putih. Biasanya sih soal kayak gini dicover oleh kakak tetapi karena kakak saat itu lagi gak ada, gue berinisiatif ngajak Nyokap beli Magic Jar baru.

Setelah milih Magic Jar, gue traktir Nyokap gue makan di Ampera karena Nyokap gue paling doyan di mamam di Ampera. Sambil makan, kita cerita-cerita banyak hal dan ada kebahagiaan tersendiri saat liat Nyokap senang.

Pulang belanja, di jalan gue ngeliat ada Kakek tua jualan ikan. Gue kemudian menepi dan beli ikan ke si Kakek padahal gue sendiri gak punya kolam atau akuarium di rumah.

Gue beli 20rb dan ketika gue beli si Kakek terlihat bahagia sekali. Dia berulang kali bilang terima kasih sampai gue ngerasa gak enak

Sedia Ikan sebelum digoreng
Nyokap gue juga bingung ngapain gue beli ikan karena dia yakin ini ikan pasti bakalan jadi almarhum keesokan harinya. Ya kalau ditanya kenapa gue beli ikan ya gue cuma kasihan ama si Kakek tua.

Gue merebahkan diri di atas kasur. Mata gue lagi menerawang ke sekitaran kamar gue. Gue menatap poster Star Trek dengan tatapan kosong sambil kembali bertanya ke diri gue sekali lagi.

"Kapan ya terakhir kali gue ngerasa bahagia banget?" Gue teringat gimana bahagianya si Gatot gara-gara diajak jalan ama kecengannya. Gue juga jadi keingetan gimana bahagianya Nyokap gue tadi pas makan bareng dan gak lupa betapa bahagianya si Kakek penjual Ikan ketika gue beli ikannya.

Mungkin... Di detik itu, gue merasa bahagia... Mungkin....