Sabtu, 13 Juli 2019

Akad

"Betapa bahagianya hatiku saat
Ku duduk berdua denganmu
Berjalan bersamamu
Menarilah denganku"

Lirik lagu Akad menemani perjalan gua di suatu siang yang terik di Kota Bandung. Bukan waktu yang ideal untuk berpergian tetapi berhubung ini adalah hari besar, mau gak mau gua harus merelakan waktu bobo siang buat pergi ke sebuah tempat di daerah Leuwi Panjang.

"Pak Sani, sudah dimana?" sebuah WA masuk ke ponsel gua.

"Saya sudah di parkiran, ini lagi mau naik ke lantai 4" balas gua.

Tepat waktu. Karena kita janjian jam 1 siang dan gua sudah tiba jam 1 kurang 5 menit. Berhubung gua tidak suka menunggu jadi biasanya kalau ada janjian gua datangnya selalu pas. Tidak menunggu dan tidak telat.

Hari ini adalah hari besar karena gua akan melakukan sebuah akad.

Bukan akad nikah tetapi akad jual beli rumah. Mohon jangat tertipu dengan judul dulu, hihi

.............................................

Bulan Juni 2017, gua memutuskan untuk mengambil sebuah rumah di sebuah perumahan baru daerah Antapani. Ada banyak faktor kenapa gua ambil rumah di daerah sana. Selain dekat dengan rumah (biar kalau kangen mama & papa bisa langsung pulang + rumah ini dibuat oleh Kakak gua sendiri yang bekerja sebagai Arsitek di sebuah Developer).

Berhubung Kakak gua sendiri yang buat jadi sewaktu pembangunan, gua bisa bebas masuk ke area proyek buat liat-liat sambil cari deretan mana yang pas. Gua memilih di Antapani City Mas II yang jalannya lebar jadi mempermudah buat keluar masuk mobil.

Dalam perjanjian awal, gua dapat keringanan buat mengansur DP sebanyak 5x. Harga rumah yang gua beli itu sekitaran 600jutaan dan gua berencana bayar DP setengahnya biar cicilannya kelak gak berat.

Tetapi gua melihat celah atau lebih tepatnya gini, gua memanfaatkan keadaan. Kakak gua ini kebetulan 'anak emas' atau bisa dibilang orang kepercayaan Owner. Gua yakin orang juga jadi segan ke Kakak gua.

Kalau misalnya gua tunda pembayarannya, gua pikir masih aman. Pertimbangan gua buat menunda dikarenakan pertama gua berpikir uang buat DP gua puterin dulu buat usaha. Pertimbangan kedua adalah gua belum akan menempati rumah itu dalam waktu dekat dan juga gua tidak ada rencana sama sekali buat menyewakan.

Kalau sudah begini, ngapain buru-buru bukan? Kalau baca di postingan gua tahun 2017, gua memang sempat menulis akan pindah di tengah tahun tetapi seiring berjalannya waktu, gua rasa itu hanya emosi sesaat saja akibat break up karena sampai sekarang gua masih tinggal di rumah gua yang lama.

Dari DP boleh dicicil 5x, gua bablasin sampai 15x, wkwkwkwk. Sampai si Ambu ngomong, "San, lu beli rumah atau beli gehu, santai gitu"

Sampai akhirnya setelah 2 tahun berjalan, di suatu hari Kakak gua kirim WA:

"De, gua ada rencana mau pindah ke Jakarta. Cepet beresin rumah lu soalnya nanti kalau gua gak kerja disini lagi nanti susah bantuinnya"

Chat itu berarti warning buat gua. Gua harus sesegera menyelesaikan pembelian rumah, menjalani Akad Jual Beli dan renovasi rumah dikit-dikit buat persiapan gua dan calon tinggal disana kelak.

Gua ambil sedikit tabungan gua buat menggenapi jumlah DP supaya bisa mencapai setengah harga rumah. Gua hubungi salah satu kenalan yang bekerja di Bank BCA untuk membantu soal KPR.

Dari yang gua amati, KPR BCA termasuk yang paling kompetitif ketimbang Bank lain. Makin cucok karena gua ambil bertepatan dengan ulang tahun BCA jadi gua dapat banyak keringanan dan kemudahan.

..........................................

Gua memasukkan beberapa berkas sebagai persyaratan dan hanya beberapa hari setelah gua memasukkan berkas, gua sudah dikonfirmasi oleh Analis Kredit dari BCA.

Secara tersurat dia bilang rekening gua aman dan bertanya soal transaksi gua di Bank. Ya maklumlah namanya juga pedagang jadi banyak sekali mutasi kredit.

Gua ditanya soal tagihan CC dan Tagihan Kredit Mobil semuanya aman. Sifat jelek adalah gua suka mengerjakan atau membayar di hari terakhir. Misalnya tagihan CC gua jatuhnya tanggal 6 ya gua bayarnya di tanggal 6. Tidak pernah telat dan juga tidak pernah melunasi sebelum waktunya.

Oh ya, gua dikasih info juga. Kalau kalian punya CC itu sangat membantu sekali untuk proses analisa kredit kalian loh. Kalau kalian bayar tepat waktu dan gak pernah bermasalah maka kemungkinan besar pengajuan kredit kalian akan DISETUJUI.

Lanjut,

Setelah itu biasanya akan ada Team Survey yang datang ke rumah. Sama ketika gua ambil kredit mobil, Team Survey biasanya akan menelpon dan meminta janji ketemu.

Tetapi berhubung mereka ajak ketemuannya selalu siang hari, waktu dimana gua lagi tidur siang, gua selalu mengarahkan sore hari, sebelum gua berangkat pergi.

Di Telpon, mereka sepertinya agak kesal karena gua gak mau ditemuin di siang hari tapi ya mau gimana lagi karena gua gak mau tidur siang gua diganggu ya gua maunya sore hari.

Toh mereka juga yang butuh kan, mereka juga pasti kejar target. Dan lu percaya gak, sejak gua ambil kredit mobil sampai rumah, gua belum pernah ketemu langsung ama Team Survey.

............................................

Tidak sampai 2 Minggu, gua dikabarin kalau pengajuan gua disetujui (Ahay). Tergolong sangat cepat karena dari pengalaman teman gua yang lain bisa sampai 2-3 bulan untuk prosesnya.

Sampai akhirnya sebuah chat via WA datang ke ponsel gua. Mengabarkan kalau gua wajib datang di hari Senin untuk melakukan AJB alias Akad Jual Beli di hadapan Notaris dan pengembang.

Selain pemberitahuan buat tanggal akad, ada kewajiban yang harus segera dibayarkan meliputi Pajak hingga biaya Notaris. Perkiraan gua paling 3-5jt lah dan yang bikin shock, total semuanya adalah 50jt.

Iya 50jt. Gua kaget terus langsung konfirmasi ke Kakak gua dan dia nanya langsung ke bagian jual beli kalau emana segitu biaya akad, dll.

Gua dikasih nomor Tante Notaris, nanya dikit dan speak-speak merayu ala Sani, cuma dapat potongan 1.000.000 doang.

Jadi dalam waktu 3 hari, gua harus menyediakan uang sebesar 49jt. Kalau tidak dibayar maka Akad terpaksa ditunda. Beruntungnya gua ada simpanan darurat jadi bisa ngambil dari sana.

Pelajarannya buat kalian sebelum kalian mengambil rumah baik itu KPR atau cash adalah kalian harus memperhatikan biaya diluar harga rumah.

.......................................................

Jam sudah menujukkan pukul 1 tepat. Gua diajak masuk ke sebuah ruangan di Bank BCA untuk menjalani proses akad. Deb, belum datang karena dia terjebak macet dari UNPAR ke BCA Leuwi Panjang.

Gua memang sudah meminta dia biar datang langsung buat menemani gua karena akan sangat menyenangkan dan membuat hati tentram kalau ada seseorang yang special di sebelah kamu untuk menghadapi sebuah hari besar.

Di dalam ruangan ada Tante Notaris bersama asistennya, saksi dari bank BCA, dan beberapa orang lainnya. Entah kenapa gua merasakan ketegangan yang luar biasa. Rasanya mirip waktu gua masih SMA, tegang menunggu giliran nama gua dipanggil buat test nyanyi di depan kelas ama si Pak Murti.

Jam sudah menujukkan pukul 13:10 belum ada tanda-tanda Deb datang. Gua sudar mengisyaratkan ke Notaris kalau gua maunya Akad dimulai sampai Deb datang.

Untung mereka mengerti jadi kita menunggu Deb datang. Biar gua keliatan sok sibuk, gua pura-pura baca berkas buat Akad. Padahal gua cuma baca selewat doang, hihihi

Tidak lama kemudian Deb datang. Perasaan gua jadi tenang dan lega. Gua seperti membagi rasa khawatir dan tegang gua ke pundak dia. Dua pundak akan lebih kuat menghadapi rasa khawatir dibanding 1 punda bukan?

Akad pun dimulai. Tante Notaris mulai membacakan isi berkas dan bacotan lain soal Akad Jual Beli. Gua mengangguk seperti memahami padahal kenyataanya gua berasa didongengin. Toel dikit kayaknya gua langsung molor deh.

Deb mulai bertanya tentang hal yang dia gak tau dan gua sok menyimak. Mungkin karena Deb adalah seorang Sarjana Hukum, semuanya harus jelas dan terang benderang di mata dia.

Gua sebagai orang yang mentok nonton WWE SmackDown sambil ngemil Makaroni Kering rasa rumput laut mencoba untuk tetap tenang sambil sesekali mengangguk.

30 Menit kemudian, Akad pun selesai. Gua tanda tangan semua berkas sambil salam dengan pihak pengembang dan notaris. Ada perasaan lega karena proses ini berjalan mudah dan cepat (malahan sangat cepat buat gua pribadi).

Tetapi dibalik perasaan lega, gua malah menyimpan rasa khawatir. Gua selalu berhasil untuk menyembunyikan rasa khawatir karena gua yakin masalah itu akan selesai dengan sendirinya.

Anehnya kali ini gua malah merasa khawatir. Khawatir manusiawi seperti "Duh, bisa gak ya kebayar" atau "Duh masih banyak cicilan, bisa gak ya nyimpen uang buat biaya menikah".

Kekhawatiran yang gua rasa manusiawi karena sekeras apapun kita meyakinkan diri yang namanya rasa khawatir itu pasti ada.

..............................................................

5 hari setelah Akad, gua memutuskan untuk mengambil waktu Off. Gua bareng seorang temen SD gua pergi ke Tanjung Pinang. Selain untuk mencari 'peluang', gua sengaja pergi untuk menenangkan hati dan meyakinkan diri kalau semua akan baik-baik saja.

Hampir 1 Minggu gua di Tanjung Pinang. Pikiran dan hati sudah mulai tenang tetapi yang namanya rasa khawatir tetap ada.

Sekembalinya di Bandung, gua janjian buat ketemuan ama Deb di Starbucks. Deb ini penggemar minuman di Starbucks. Gua yang mentok beli Marimas Rasa Buah Naga dengan Topping Cingcau, mau gak mau jadi keikutan juga minum di Bucks.

Enggak ngopi juga sih karena gua emana gak suka minum kopi. Deb yang biasanya memilihkan untuk gua, yang penting manis jangan pahit, pasti gua minum.

Di perjalanan menuju Bucks, Deb juga lagi otw dari Unpar sehabis kerja (kita misah perginya), gua bertemu dengan seorang Kakek penjual layangan mini di pinggir jalan.

Dia duduk, sambil menawarkan layang-layang mini bergamber Spider-Man (not Spiderman but Spider-Man) ke orang yang lewat. Tidak ada yang menoleh dan tidak ada yang membeli.

Gua menepikan motor sementar, panggil si Kakek karena posisi gua suda melewati dia. Gua tanya harganya berate dan dia bilang "2.500". Gua buka dompet, kasih uang secukupnya terus gua minta 1 layang-layang mini.

Gua minta buat nanti dikasih ke tetangga gua. Berhubung gua susah bawahnya jadi gua selipin di stang dekat motor. Akibatnya tiap gua melaju layang-layang bergambar Spider-Man itu terbang di hadapan gua.

Spider-Man dengan kearifan lokal
Melihat layang-layang terbang di depan gua, gua jadi bersyukur. Bersyukur karena gua sudah diberikan berkat yang lumayan sampai bisa kebeli rumah dan kendaraan sendiri. Bersyukur karena gua bisa bangkit dari masa sulit ketika putus hubungan dengan seseorang yang membuat gua down untuk waktu yang lama.

Jadi, setelah semua ini, mengapa kamu harus khawatir? Rasanya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Yang harus gua lakukan adalah tetap berusaha dan berdoa, sisanya serahkan kepada Tuhan biar Tuhan yang bekerja dengan caranya.

Tidak perlu khawatir Sani, semua akan baik-baik saja.

Sabtu, 25 Mei 2019

Jadi Penonton Bayaran

Di suatu Siang yang terik di Kota Bandung,

Sebuah WA masuk ke Ponsel gua. Gua baru bangun setelah hibernasi 2 jam buat boci alias bobo ciang. Dari beberapa chat WA yang masuk khususnya dari buyer Clobberin Time, ada 1 chat nyelip dari temen gua si Arya.

Isi WA-nya gini:

"Sani, lu mau duit gak? Ada yang mau bagi-bagi duit nih"

Apa ini maksudnya? Tetiba di-chat mau duit gak. Kalau ditanya "Mau duit ga?" jawabannya "Mau Dong Bosque"

Biasanya ada 3 alasan kenapa si Arya nge-chat gua.

Alasan pertama buat ngajakkin gua nonton Bioskop. Jadi selain sebagai penulis, si Arya ini kerja juga sebagai reviewer film yang kerjaannya menulis review untuk film yang baru tayang di Indonesia.

Jadi tiap ada film yang baru tayang di Indonesia, ini orang pasti jadi orang pertama yang nonton. Nonton di hari dan jam pertama di CGV Metro Indah Mall, salah satu CGV paling sepi di Kota Bandung.

Gua sering join karena seru juga nonton di show paling pagi, berasa punya bioskop sendiri karena saking sepinya. Biasanya 1 studio cuma dişisi oleh 5-10 orang dari kapasitas ratusan seat bahkan gua juga pernah cuma berdua nonton film Tusuk Jaelangkung si Anya Geraldine. Terpaksa nonton film itu karena si Arya dapat tugas buat review itu film.

Saking sepinya, kalau gua mau ke toilet kayaknya gua tinggal ngomong "Bang, pause sebentar. Mau kencing bentar nih".

Alasan kedua adalar ngajak gua makan Nasi Goreng Mawut di sekitaran ITB atau Martabak Mesir di Jalan Laswi.

Dan, alasan ketiga adalah buat ngajakkin ke rumah hantu. Si Arya ini punya hobby berkunjung ke Rumah Hantu. Jadi setiap ada Event Rumah Hantu di Bandung, ini orang pasti ngajakkin masuk kesana.

Dari yang level cebanan sampai yang ratusan ribu, semua sudah pernah kita masukkin. Ini si Om, bukannya cari duit malah ngabisin duit di Rumah Hantu -_-

Yang menjadi pertanyaan adalah apa maksud dari chat si Arya yang ngomong "Sani, lu mau duit gak? Ada yang mau bagi-bagi duit nih"

Apa gua mau diajakkin syuting Uang Kaget yang si Host-nya Mr. Money Kriss Hatta yang lagi berseteru ama Hilda Vitria (up date banget si Sani) terus gua bakalan dikasih uang 10.000.000 buat dihabisin dalam waktu 1 jam? Kalau kalian dapat 10jt dan dusuruh habisin dalam waktu 1 jam, kira-kira kalian bakalan beli apa?

Gua kayaknya bakalan langsung ngacir ke Toko Action Figure buat beli patung Beauty and The Beast, hihi

.....................................................

Ternyata perkiraan gua salah semua karena maksud dari penawaran Arya adalah dia butuh beberapa orang buat jadi penonton bayaran.

Gimana, gimana maksudnya? Iya maksudnya adalah gua gak tau gimana ceritanya, si Arya sekarang jadi calo buat cari orang buat ngeramein acara 'Hijab Hunt 2019' di basement Masjid Trans Studio Mall (TSM).

Jadi penonton bayaran tuh maksudnya kayak Team Lala Yeye yang di Dahsyat bukan? Yang kalau lagi disorot kamera harus goyang cuci baju atas bawah atau goyang ngocok botol kobokan?

"Enggak San, lu cuma perlu duduk manis aja. Ikutin acaranya sekitar 6 jam nanti dibayar 75.000"

6 jam dibayar 75rb artinya rata-rata sejam dihargai 12.500. Kecil sekali bosque, tidak ada sepersepuluh dari honor gua menulis.

"Please San, bantuin gua. Lu hubungin si Bangsa juga ya, ajakkin dia. Gua juga sudah ajak si Rully"

Kalau ditanya gua mau enggak jawabannya sebenarnya mau gak mau sih. Mau karena nolong temen, gak mau karena ya males gak sih duduk 6 jam sambal liatin teteh berhijab unjuk kemampuan buat jadi yang nomor satu.

Gua iseng tanya Bangsa dan gak pake banyak speak, dia langsung mau. Kebetulan jam dia lagi kosong. Ini orang emang lagi butuh duit 75rb buat jajan Ayam Geprek atau mau ngeceng teteh berhijab?

Karena Bangsa Oke, gua juga jadi oke juga. Cari pengalaman baru buat ditulis di blog. Siapa tau nanti pas gua lagi nonton, ada kamera yang menyorot wajah cool gua dan ada Produser tertarik buat narik gua jadi bintang di Sinetron Anak Jalanan 2.

.................................................

Tetapi sebuah masalah muncul. Masalah ini muncul karena kesalahan atau lebih tepatnya kegoblokan gua. Hari Sabtu siang, gua suda siap buat jadi Team Hore. Disaat gua mau bersiap buat nunggu jemputan si Bangsa, gua nanya ke Arya janjian dimana, si Arya jawab:

"Lah acaranya kan besok. Besok Minggu bukan hari ini San" balesan WA si Arya.

Anjir, giliran udah rapih malah salah jadwal dong. Yang menjadi masalah adalah kalau hari Minggu si Bangsa gak bisa pergi karena dia sudah ada janji. Tapi karena namanya sudah dicantum di list jadi gua harus cari pengganti dia.

Gua agak kesulitan buat cari pengganti si Bangsa karena waktunya mepet dan banyak pula yang gak bisa di hari Minggu. Disaat genting, mau gak mau, gua harus ajak deh pacar sendiri buat gantiin si Bangsa.

"Iya Deb, besok siang ya, temenin. Kita jadi Team Hore, 6 jam. Duduk doang kok gak usah goyang pinggul ke kiri kanan" kata gua di ujung telpon.

Deb nampak keheranan. Mungkin yang ada di pikiran dia adalah "Orang pacaran diajak Dinner romantis atau vacation kemana eh gua malah diajak jadi penonton bayaran"

Setelah dibujuk rayu seperti Hawa menggoda Adam biar Adam mau makan apel terlarangi akhirnya si Deb mau ngegantiin posisi si Bangsa. Tapi berhubung nama Bangsa sudah tercatat, mau gak mau Deb harus ngaku-ngaku kalau nama dia 'Bangsapraja"

....................................................

Hari minggu siang, gua dan Deb sudah berada di Masjid TSM. Kalau ada orang yang gak tahu dan kebetulan kenal gua, mungkin yang ada di pikiran dia adalah "Ini si Sani ama Deb mau jadi mualaf?"

Acara diadakan di basement Masjid Raya TSM. Disana sudah ada Arya yang menanti dan kita digiring masuk ke dalam untuk kemudian diarahkan ke deretan kursi. Ada Emak-Emak yang mengarahkan buat duduk, ini kata si Arya tuh koordinatornya. Mungkin sepeti Elly Sugigi yang kerjaannya mengkordinasi penonton bayaran.

Karena gua gak tau namanya, kita sebut aja dia Elly Sugigi KW 2. Awalnya kita berempat mau diarahkan ke deretan tengah tapi Arya menolak halus dan dia minta di duduk di deretan belakang. Di deretan tengah ada sekitar 6-8 anak alay yang ternyata adalah anak bawaan Elly Sugigi KW yang hampir kalau setiap ada Acara mereka pasti bakalan ada.

Mungkin kalau di DASHYAT, mereka tuh yang suka teriak "Eaaa, Eaaa"

Total ada 20 peserta yang sedang berkompetisi buat ikutan 'Hijab Hunt 2019". Masing-masing menujukkan kemampuan, dari yang standar nyanyi sampai ada yang baca puisi dan Taekwondo campur Ballet.

Iya serius, jadi ada Teteh yang unjuk kebolehan nari Ballet dan setelahnya langsung unjuk kemampuan buat Taekwondo. Keren sih tapi menurut gua kurang menarik kalau dia lolos jadi 10 besar Nasional.

Bakalan bosenin gak sih kalau setiap di setiap Minggu dia Ballet disusul Taekwondo? Kalau cuma 1 atau 2x pertunjukkan sih lumayan seru tapi kalau tiap Minggu bosen juga.

Baca puisi menurut gua menarik tapi bakalan jadi bosen buat mayoritas penonton yang bukan pecinta sastra. Dan peserta yang baca puisi ini menurut gua melakukan kesalahan.

Kesalahan yang dia buat adalah dia memilih puisi yang durasinya panjang. Terlalu panjang kata gua mah. Pas di awal gua nyaris bobo dan saat gua terbangun dari bobo singkat gua, eh dia masih baca puisi dong.

Pemikiran gua ternyata sama pengan pemikiran Dewan juri si Nycta Gina yang bilan kalau durasinya terlalu panjang. Ngantuk.

Overall, gua lumayan menikmati acara walaupun gua bilang bagian produksinya harus dibenahi lagi. Gua inget ada banyak kesalahan, misal peserta sudah siap tapi layar background belum siap. Ada peserta yang sudah di atas panggung tapi diminta turun lagi karena ternyata belum siap untuk sound-nya sampai yang paling fatal ada peserta yang main piano sambil ngerap buat nyanyi lagu Maroon 5.

Dia udah rap, eh musiknya telat jalan. Zonk deh.

Malu? Pastinya. Sudah mah luar biasa tegang eh ada kesalahan making tegang.

..............................

Setelah 6 jam akhirnya kita sudah sampai juga di puncak acara. Juara 1 yang berhasil lolos ke Nasional adalah Teteh berhijab yang pandai memainkan biola.

Kebetulan di depan gua ada salah satu teteh peserta. Sama-samar gua denger Emaknya ngomong gini ke dia "Geus 2x gagal wae. Geus tahun depan mah main alat musik pake galon aqua. Kagok edan" kata si Emak yang nampak kecewa karena Anaknya gagal lagi.

Dia menyarankan supaya tahun depan anaknya ikutan nyanyi tapi pake galon aqua biar unik karena sudah 'kagok edan'.

Boa Edan pake galon aqua napa gak pake GEROBAK CUANKI sekalian kalau udah kagok edan mah, Bu.

Acara pun kelar tapi gua belum boleh pulang dulu sama si Arya. Katanya disuruh nunggu bentar, si Elly Sugigi KW lagi ngurus honor buat Team Hore.

Disaat gua menunggu ada salah satu dari Team Hore yang datang menghampiri gua, dia ngomong

"Om, nanti habis ini kita ngumpul yuk. Kita ada latihan kore buat acara ulang tahun di Trans TV"

Boa Edan. Udah mah manggil gua Om eh sekarang ngajak gua latihan koreografi buat acara ulang tahun Trans TV. Latihan buat gerakan nyuci baju kiri kanan gitu?

Setelah hampir 30 menit menunggu, honor 75rb yang dimaksud cair juga. Buat dapet 75rb perasaan gini-gini amat yak jadi penonton bayaran segala, wkwkwkwkwkwk.

Berhubung laper, gua ama Deb makan di Pepper Lunch TSM, makan berdua habis 135 sekian. Sisanya buat parkir di TSM sekitar 20rb karena kita hampir 6 jam disana.

Honor pertama gua jadi penonton bayaran habis buat makan di Pepper Lunch.

................................................

Satu Minggu berlalu setelah kejadian dimana gua jadi penonton bayaran, ada WA masuk. Gua baru bangun dari boci alias bobo ciang gua. Setengah sadar, gua lihat WA dari siapa dan ternyata si Arya yang nge-chat. Isinya gini

"San, mau duit lagi gak? Ada yang mau bagi-bagi nih"

Chat itu tidak gua balas dan gua memilih buat melanjutkan tidur siang gua.

Minggu, 03 Maret 2019

Menjadi Terkenal

Gua punya teman yang memiliki cita-cita mulia yaitu menjadi seorang yang femes (famous/terkenal). Biar gua gak kenal banget ama temen gua yang cewek ini tetapi tiap dia nongol di IG/FB gua, selalu ada omongan kalau dia kepengen jadi seorang influencer yang bisa menginspirasi banyak orang.

Tjakep.

Kemarin gua liat dia sedang merintis karir menjadi seorang food vlogger di YouTube. Jadi dia berama pacarnya akan mengunjungi tempat makan yang sedang hitz dan mereka bakalan review makanan disana.

Gua toong dikit dan gua bilang kontennya menarik biar jumlah subscribers dan viewers mereka masih minim.

Tetapi kalau gua boleh fair menilai, temen gua yan cewek ini sepertinya memang tidak berbakat menjadi seorang YouTubers. Untuk si cowok, gua nilai dia gak kaku dan ngomongnya asyik, gak keliatan dibuat-buat.

Tapi aduh ini si cewek, selain masih kaku, suaranya kecil dan mendesah banget.

Iya mendesah banget. Apalagi pas dia ngomong "Enak, enak sekali", wih bikin pikiran gua berasa lagu si Iwa K "Bebas lepas, ku tinggalkan saja semua beban di hatiku....."

Sudah banyak video yang mereka buat tapi selama itu pula, si cewek masih kaku, suaranya kecil dan mendesah pas ngomong "Enak, enak sekali".

..................................................

Mengapa banyak orang ingin menjadi terkenal? Pertanyaan itu tetiba muncul di kepala gua ketika gua baca postingan temen gua si cewek itu yang kepengen jadi femes.

Gua punya temen SMA yang kini sudah beneran femes dan hampir tiap hari muncul di TV. Sejak SMA, si M ini emang sudah beken karena selain punya wajah yang rupawan, dia juga banyak prestasi di bidang modeling.

Beda bangetlah ama temen gua si Meli yang gak punya prestasi apapun selain jadi calo tiket tonton konser Korea.

Hubungan gua dengan temen gua yang artis ini lumayan baik dan kita sering ngobrol di kelas. Kalau kebetulan gua lagi bawa motor ke sekolah, si M ini suka nebeng pulang. Rumah si M di daerah Maleber dan rumah gua di daerah Antapani.

Itu kan jauh Bosque. Emang jauh tapi berhubung si M ini cantik jelita, jauh pun berasa deket :) :)

Ketika lulus SMA, karir M semakin melejit. Dari yang sekedar cuma jadi cameo sampai sekarang jadi Presenter yang perasaan pas tiap buka TV si M ini selalu ada.

Tentu ada perasaan bangga melihat karir si M yang semakin gemilang ini.

Deb (baca: pacar) adalah temen deket si M dan sampai sekarang mereka masih sering berkomunikasi. Kalau si M lagi balik kandang ke Bandung pasti dia ngajak ketemuan si M.

Dari si Deb ini gua baru tau gimana perjuangan si M meniti karir dari bawah hinga manjadi femes seperti sekarang.

"Eh ada gak temen kita waktu SMA dulu yang jadi sok deket gitu ama si M" tanya gua ke si Deb suatu hari.

Berpikir sebentar, Deb kemudian menyebut sebuah nama temen di SMA. Deb cerita dulu waktu SMA si M pernah berantem ama si J. Tetapi setelah si M femes, si J pernah chat via DM IG kayak yang sok deket banget dan seolah si J ini memiliki andil besar dalam kesuksesan karir si M.

Sungguh ini merupakan sebuah contoh teman yang fake. 

Menjadi femes beraeti kamu akan menjumpai banyak teman yang fake yang tetiba menjadi nice di depan kamu.

"Deb nanti kamu jadi pengiring aku ya pas aku menikah nanti" kata si M ke Deb.

Gua sekarang sedang duduk bertiga bersama Deb dan M di sebuah Cafe di PVJ Mall. Si M lagi main ke Bandung dan ngajak kita ketemuan.

Btw, gegara jalan bareng si M, gua baru tau gimana rasanya jalan terus diliatin banyak orang, hahaha. Banyak orang yang tampaknya ngeh kalau si M ini artis yang saban hari nongol di TV.

Request dari M ke Deb itu membuat gua jadi berpikir, kenapa si M ini memilih Deb padahal gua yakin dia punya banyak temen dari kalangan artis, kenapa dia malah milih si Deb yang berasal dari kalangan orang biasa aja?

"Deb ini temen gua yang enggak fake. Paling lurus dan baik" jawab M.

Kalau soal itu mah gua juga tahu tapi dari omongan si M ini, gua nangkepnya akan ada banyak temen  yang fake ketika karir kita semakin meroket. Yang tetiba mendekat dan seolah memiliki kontribusi dalam karir si M.

.........................................................

"Enak, enak. Nagih banget" kata temen gua si Cewek yang gua ceritakan di awal yang kebelet jadi seorang Influencer.

Dia sekarang lagi me-review solo tanpa didampingi pacarnya. Makanan yang lagi dibahas adalah Sushi di salah satu Cafe di Bandung.

Gua kira bakalan ada perubahan setelah beberapa saat tetapi ternyata masih sama aja. Masih kaku, suaranya masih kecil dan Mendesah pas bagian dia ngomong "Enak, enak".

Tidak pernah salah kalau kita memiliki impian tetapi terkadang kita harus menyadari dan jujur kepada diri sendiri kalau kita memang tidak berbakat di bidang itu meskipun kita memiliki impian mulia menjadi seorang influencer. 

Kalau gua misalnya ditawarin jadi food vlogger misalnya, pasti gua tolak karena gua memang tidak memiliki bakat di bidang itu. Lah si Sani kalau ngomong aja cepet gitu masak jadi di food vlogger ditambah gua ini termasuk orang yang kurang suka makan di Cafe atau Mall gitu.

"Pokoknya kalian harus coba karena ini enak banget. Enak banget" 

Suara mendesah teman gua itu membuat pikiran gua menjadi tidak terkendali seperti lagu si Iwa K "Bebas lepas, ku tinggalkan saja semua beban di hatiku....."

Kamis, 21 Februari 2019

2019

Apakah gua terlambat kalau gua sekarang baru mengucapkan selamat tahun baru? Harapannya semoga kalian selalu sehat, bahagia, dan semua kebutuhan kalian terpenuhi.

Ada Amin? Amin

Ini adalah posting pertama gua setelah 1,5 bulan absen menulis. Kalau ditanya kemana aja gua selama 1,5 bulan ini, jawabannya ya gua kemana-mana, masih tetap biasa menjalankan kewajiban sebagai seorang pria pada umumnya sambil sesekali nonton Infotainment di TV nontonin perseteruan Dewi Perssik ama keponakannya si Rosa Meldianti.

Btw, ada yang ngikutin konflik ini gak? Hihihihi

............................................

Gua mengawali tahun dengan perasaan penuh khawatir. Khawatir kenapa San? Gua inget banget, di suatu Pagi pas tanggal 3 Januari, pas gua lagi kencing di toilet, mendadak warna urine gua berubah warna jadi merah.

Awalnya gua masih tidak menghiraukan tetapi kenapa pas gua kencing lagi beberapa jam kemudian kok warnanya jadi merah lagi.

Disini gua mula panik, kenapa kencing gua jadi merah Jir! Gua browsing sebentar dan ada sebuah blog 'Tanya Dokter' yang menjawab sebuah pertanyaan seorang remaja yang gelisah.

Permasalahan si remaja gelisah itu sama seperti gua, dia bertanya kenapa kencing dia berwarna merah bukan kuning. Di blog 'Tanya Dokter' itu, Dokter menjawab kalau ada kemungkinan si remajaa gelisah itu terkena Kanker karena salah satu ciri orang terkena kanker adalah warna urine berwarna merah.

ANJAY, Kanker dong. Gua langsung gelisah dan keringat dingin. Gua Stefanus Sani, umur masih muda, sedang merencanakan pernikahan, cicilan beli LEGO belum lunas dan gua sekarang kena KANKER?

Gua langsung cek polis asuransi gua, apakah asuransi Prudenti** yang sudah gua ikuti ceja tahun 2013 menanggung penyakit Kanker. Gua kalut, gua terkejoet, dan gua merasa kecil di hadapan Tuhan #halah

Untuk menenangkan hati gua, gua nanya masalah ini ke salah satu teman gua, mungkin dia bisa memberikan sesuatu hal untuk menyanggah yang bisa menyejukkan hati gua.

"Eh kencing gua kok warnanya jadi merah ya. Gua tadi browsing katanya gejala Kanker"

"Ah kata gua mah terlalu jauh kalau dikaitkan ama Kanker mah. Lu ngerasa ada gejala lain gak? Ngerasa nyeri apa gimana gitu?"

"Kalau nyeri mah gak sih. Biasa aja" Omongan dari salah satu temen gua ini setidaknya lebih menenangkan hati gua. Ini nih yang namanya teman, bisa menenangkan temannya ketika salah satu dari mereka sedang kalut.

"Lu sering C*L* di WC ya? Kayaknya lu kena Herpes atau Raja Singa deh jadi aja kencing lu warnanya merah"

Ah TAEK bener. Udah lega dibilang gak mungkin kena Kanker sekarang malah dibilang kena Raja Singa. Mau konsul ke Dokter juga malu kali tar dikira gua suka 'jajan' sembarangan.

Itu mah kalau kita suka bergonta-ganti pasangan kan? Lah, pasangan gua aja cuma satu kan terus mana pernah gua mesum di tempat maksiat. Kalau itu yang kena si Arya mah wajar sih soalnya dia kan suka maksiat. Hahaha, bercanda bor :) :)

Kalau gitu, apa yang bikin air kencing gua berwarna merah di hari itu? Kenapa, kenapa. Sebelum gua makin frustasi dan pergi ke Dokter penyakit dalam, Nyokap gua manggil:

"Dek, mau dipotongin buah naga lagi gak?"

"Gak Ma" jawab gua. Ya gimana mau makan buah naga, pikiran gua lagu kalut gini. Orang memulai tahun itu dengan perasaan dan keyakinan optimis. Keyakinan untuk melangkah dan mendapatkan hasil yang lebih baik lagi dari tahun sebelumnya.

Lah gua memulai tahun dengan kencing darah -_-

Tapi gegara Nyokap mention soal buah naga, gua jadi mikir apa kencing gua jadi merah gegara gua makan buah naga di hari sebelumnya ya. Gua browsing dan TERNYATA BENAR, makan buah naga bisa menyebabkan air urine menjadi berwarna.

Gua belum seutuhnya tenang dan buat memastikan soal buah naga dan kencing merah ini, gua harus memperhatikan warna kencing gua keesokan harinya.

Sungguh sebuah pekerjaan yang sangat berfaedah di Pagi hari, memperhatikan warna air urine -_-

Besoknya, gua kencing di Pagi hari dan warnanya sudah normal seperti biasa. Yang ada di pikiran gua sekarang adalah gua pengen banget memaki temen gua yang membuat spekulasi kalau gua kena Raja Singa.

Duh

............................................................

Kesibukkan gua di tahun 2019 ini masih seperti biasa. Jualan di Clobberin Time dan menulis. Btw, sudah tau kabar kalau Tabloid BOLA resmi tidak terbit lagi setelah 25 tahun lebih terbit? Di satu sisi gua sedih, sedih karena dengan berhentinya Tabloid BOLA maka gua tidak bisa menulis lagi soal WWE di Tabloid BOLA.

Tetapi tidak apa karena masih banyak saluran yang bisa dipakai gua untuk gua menulis soal WWE termasuk di fanpage WWE Indonesia Reborn yang kini sedang berkembang.

Kesibukkan gua yang lain sekarang adalah membantu kerjaan pasangan gua si Deb. Jadi buat yang belum tahu, Deb ini bekerja sebagai Kepala Sub Bagian Akademik di Fakultas Hukum Universitas Parahyangan (UNPAR).

Kalau kamu punya saudara atau teman di FH Unpar tanyain "Kenal gak ama yang namanya Deb", 99% pasti kenal karena Deb ini yang mengurusi soal akademik mahasiswa FH Unpar yang bejibun itu.

Dari soal absen, nilai, ngibul soal absen pasti berhubugan dengan Deb. Dan sebagai pasangan yang baik dan care (haish), gua terkadang membantu pekerjaan si Deb yang bejibun itu.

Dari mulai input nilai, input absen, sampai cek ulang jadwal Dosen mengawas ujian.

TIATI aja nih ya buat kamu yang masih kuliah di FH Unpar terus banyak bacot, pas ujian akhir bakalah gua masukkin di kelas yang pengawasnya galak dan gua taruh di bangku paling depan yang menghadap langsung meja pengawas.

Ternyata bikin jadwal ngawas itu sulit. Paling sulit adalah kalau jadwal sudah dibuat tapi Dosen minta pergantian karena berhalangan. Kalau satu diganti, wih yang lain juga mau gak mau harus ganti karena banyak yang bentrok atau jadwal salah satu dari mereka menjadi terlalu padat.

Pokoknya salutlah sama Deb yang bisa meng-handle pekerjaan yang bejibun itu.

Sekitar 5 tahun lalu, gua sempat berpikir untuk memulai bekerja formal. Bekerja dimana kita datang Pagi hari, pulang sebelum senja dan menerima gaji rutin tiap awal bulan.

Gua pikir itu akan menjanjikan tetapi selama gua berpacaran dengan Deb dan selama itu pula gua sering bantuin Deb buat menyelesaikan pekerjaannya, gua semakin yakin kalau gua memang sangat tidak cocok bekerja formal seperti itu.

Akan sangat membosankan sekali buat gua, dimana gua harus bangun Pagi, sampai di tempat kerja langsung dihadapkan dengan setumpuk kerjaan, belum lagi ada presure dari atasan yang gak mau tau gimana pokoknya kerjaan harus beres. Kalau kerjaan belum beres, kerjaan itu mau tidak mau harus dibawa pulang, kerjain di rumah dan waktu istirahat kita jadi berkurang.

Apakah gua sanggup melakoni itu semua? Rasanya enggak sih. Membayangkannya pun sulit. Gua pribadi menikmati pekerjaan gua yang sekarang. Pekerjaan yang gua sukai dan (tentunya) menghasilkan.

Kita berdua memang suka bekerja keras tetapi mungkin dengan cara yang berbeda.

Semoga tahun baru kalian menyenangkan yes!

Rabu, 12 Desember 2018

DEMI TUHAN (GOJEK LAGI)

Gua barusan cek statistik di blog dan kalau gua urutkan untuk 5 besar postingan gua yang paling banyak dibaca, 4 post gua tentang Ojos (Ojek Online) ada di dalam 5 besar sebagai post yang paling banyak dibaca.

1 post non Ojol yang paling banyak dibaca itu adalah postingan yang judulnya 'Diplomasi Bacang & Siomay' yang isinya tentang hubungan gua dan Deb. Wajar secara Deb itu temen gua waktu SMA dulu jadi mungkin banyak temen SMA gua yang kepo dan nanya 'Kok bisa sih si Sani jadian ama Deb?'

Jawabannya: bisa dong, hihihi.

Dari paparan gua diatas jadi harap wajar kalau sampai hari ini gua masih rutin julis soal Ojol. Ya mau gimana lagi karena banyak yang baca artinya banyak yang suka kan. Mayanlah buat nambah Adsense buat jajan siomay cocol depan BORMA.

........................................................................

Di dunia GOJEK akan selalu ada pertemuan tidak terduga. Gua pun beberapa kali mengalami yang namanya pertemuan tidak terduga. Tetapi pertemuan gua dengan Miss D ini mungkin akan menjadi pertemuan yang sungguh sangat tidak terduga.

Di suatu sore, ponsel gua berbunyi tanda ada orderan masuk. Di aplikasi tertulis nama 'D' dan minta dijemput di sebuah sekolah daerah Lodaya.

Gua konfirmasi sebentar dan benar si 'D' ini yang order. 3 menit kemudian gua sampai di sekolah yang dimaksud dan gak lama menunggu, Miss D keluar.

First Impression gua adalah Miss D ini cantik, kulitnya putih. Mukanya unik dan imut. Konfirmasi sebentar dan tujuan D adalah ke Kopo. Mayan jauh dan ongkosnya itu kalau gak salah 12rb.

Setelah ngobrol sebentar, ternyata si D ini sekolahnya bukan di SMA Lodaya itu tetapi di SMK daerah Soekarno Hatta. Dia lagi di SMA Lodaya buat latihan Theater karena mau ikutan Event di Mall Bandung Indah Plaza (BIP).

Rumah dia di Kopo dan sekolah dia di Soekarno Hatta. Itu kan jauh banget ya.

"Cari pacar yang mau anter jemput biar ngirit ongkosnya" goda gua di perjalanan.

"Hahahahaha", D hanya tertawa menganggapi saran dari gua.

Hasil dari obrolan singkat dengan D, gua bisa menarik kesimpulan kalau si D ini mempunyai passion di dunia Entertainment. Dia join di Management Artis dan rutin ikutan Theater. Sejak kecil si D ini bilang kalau dia emang pengen jadi artis.

Apalagi Ayah dari D ini katanya memang dekat dengan dunia hiburan jadi aja si D sejar kecil sudah kepengen jadi Artis.

Pas gua nanya kerja apa sih si Ayah si D ini, Artis atau Produser atau apa gitu, D bilang kalau Ayahnya itu (sebelum bangkrut) bisnis di peralatan syuting. Jadi Ayahnya D ini punya usaha jual kamera, dll untuk keperluan syuting.

Ketika obrolan kita berdua semakin seru, D cerita kalau di tahun 2010, Ayahnpernah menghiasi layar kaca. Wah gua jadi semakin kepo dong. Siapa sih Ayah si D ini.

"Ayah pernah main film atau sinetron ya?" tanya gua.

"Enggak tapi pernah masuk Infotaiment. Pernah ada kasus heboh"

"Yang mana ya?" gua makin kepo.

"Itu yang kasus Eyang Subur" jawab D.

EYANG SUBUR? Yang Kakek tua yang istrinya banyak itu bukan? Yang istrinya 8-9 itu bukan sih? Asli dulu gua salut banget ama si Eyang Subur. Udah uzur tapi gairah masih tinggi dan kuat buat memuaskan istri sampai 8 orang.

Jadi si D ini Anak dari Eyang Subur?

"Bukan Eyang Subur tapi saya anak Arya Wiguna"

ANJIR INI LEBIH SHOCK LAGI, ARYA WIGUNA yang teriak "DEMI TUHAN" sambil ngomong "SUBUR, SAYA TIDAK TAKUT DENGAN KAMU! SAYA SUDAH MENGIRIMKAN PASUKAN UNTUK MENGHANCURKAN PASUKAN GOIBMU"

"Arya Wiguna yang teriak DEMI TUHAN?" tanya gua ke D

"Iya" jawab D.

Gua langsung ketawa ngakak di jalan. Bisa-bisanya gua ketemu anak si Arya Wiguna DEMI TUHAN dong, hahahahahahaha.

"D, ini maaf ya saya ketawa bukan mau ngejek Papa tapi ketawa kaget aja bisa ketemu anaknya Arya Wiguna" kata gua sambil nahan geli.

D terus cerita banyak soal Arya Wiguna tapi maaf sekali tidak bisa semuanya gua tulis disini untuk menghormati D dan keluarganya.

D cerita waktu Arya Wiguna lagi heboh gegara teriak DEMI TUHAN sampai urat lehernya mau putus itu, D jadi korban bully di sekolah. Saat itu D masih kelas 4 SD dan di kelas temennya selalu teriak 'DEMI TUHAN' kalau liat si D.

D juga bilang kalau dia kadang merasa kecewa pas liat Ayahnya di layar kaca. Apalagi si Arya Wiguna ini kan sempet beberapa kali masuk berita karena dekat dengan artis kan.

"Kalau gak salah, Papih pernah masuk Infotaiment karena deket ama si Dewi Sanca kan?" tanya gua. Dewi Sanca yang pedangdut itu loh yang kalau goyang suka pake uler sanca.

"Iya bener, waktu itu aku cuma ngomong kok Papih gitu sih" kata D.

Tapi satu hal yang gua salut dari si D ini adalah biar si Arya Wiguna bikin kehebohan sana sini karena dekat ama Artis A terus sama Artis B (gua yakin itu mah settingan), si D ini masih menghormati Arya Wiguna sebagai seorang Ayah.

"Tapi sama Papih masih suka kontak gak sih?"

"Udah gak pernah lagi sekarang mah. Papih sekarang tinggalnya di Jatinangor"

Hampir 45 menit kita ngobrol selama di perjalanan dan tibalah D di tempat tujuan. Kita berdua sempat tukeran akun Instagram. Jadi kalau kamu kepo, cek di akun IG gua ya @stefanus_sani, cari yang mana anaknya Arya Wiguna (kebetulan akun si D ini gak digembok).

DEMI TUHAN kalian keren kalau sampai nemu :D

..................................................................

Kalian pasti tau dong Novel Dilan? Itu loh Novel tentang seorang anak cengeng yang selalu meminta tolong kepada robot Kucing kalau diganggu oleh temannya yang bernama Giant & Suneo.

Eh ngaco, itu mah komik Doraemon.

Gua pribadi belum pernah membaca Novel Dilan termasuk menonton filmnya karena kurang menggemari Novel remaja. Novel asli Indonesia yang terakhir kali gua baca adalah 'Supernova' punya Dee Lestari dan Jomblo-nya Adhitya Mulya.

Meskipun gua belum pernah baca Novel Dilan tetapi gua sudah punya sedikit gambaran tentang Dilan yang gua dapat dari pelbagai referensi. Dilan itu misterius dan puitis, suka menggoda kecengannya dengan kata-kata manis.

Dari kacamata gua, bacotan ala Dilan itu emang pas dilakukan di era 90an tetapi sungguh tidak pas di era sekarang, dimana wanita sudah bisa membedakan mana tas yang merk BILABONG dengan tas yang bermerk BELIDONG.

Inget si Dilan, gua jadi teringat ama temen gua si 'Y'. Y ini besar di era Dilan dimana gombalan ala Dilan bisa membuat wanita terbang melintas cakrawala.

Saat gua masih kelas 2 SMA di Santa Maria 1, si Y yang usianya terpaut sekitar 5 tahun dari gua menghubungi gua di suatu hari. Ternyata si Y ini naksir ke adik kelas gua yang notabene adalah temen Gereja gua. Jadi, dulu itu gua, Y, dan M (cewek yang ditaksir si Y) adalah teman 1 Sekolah Minggu di Gereja.

Si Y mau memberikan kejutan ke M yang besok bakalan berulang tahun. Kejutannya adalah Y dan gua bakalan menyelinap masuk ke Santa Maria di Malam hari, masuk ke kelas si M buat simpen hadiah ulang tahun di atas meja M dan bikin ucapan selamat di papan tulis.

Sungguh sangat romantis sekali, iya romantis kalau dilakukan di era Dilan tetapi TIDAK di era sekarang.

Lanjut,

Gua dan Y berhasil masuk ke ruang kelas M di suatu Malam setelah bernego dengan satpam. Y lantas meletakkan sekuntum bunga mawar dan sekotak coklat di atas meja M. Kalau gua yang jadi si M terus diajak pernikahan dini sama si Y, gua langsung mau da (betapa murahnya si Sani itu).

Belum cukup dengan sekuntum mawar dan cokelat, Y yang emang jago menggambar langsung menggambar ucapan ulang tahun di papan tulis. Dia juga nulis puisi yang judulnya 'SAJAK MERINDU' di papan. Gua inget banget isi puisinya gini:

"Saat sepi, aku teringat kamu. Dalam heningnya malam, bintang di langit seolah membentuk wajah indahmu. Sajak merindu ini dibuat oleh pria yang setia menunggu kamu"

Dulu gua anggap 'SAJAK MERINDU' ini keren banget, gua ampe salin itu 'SAJAK MERINDU' buat gua kasih ke gebetan pas SMA. Tetapi itu KEREN kalau dibuat di era Dilan tapi SANGAT TIDAK KEREN kalau dibuat di era sekarang.

"Cie yang dapat kejutan. Suka gak lu?" tanya gua ke M ketika kita berpapasan di kantin. Tangan gua lagi megang lontong sayur abis jajan di kantin

"Itu kerjaan lu ya?"

"Enggaklah, gak mungkin gua buat gituan. Lu pasti tau siapa yang buat"

"Bilangin, itu FREAK banget. Jangan buat kayak gitu lagi ah, malu gua" jawab si M. Ternyata 'SAJAK MERINDU' tidak berhasil membuat M terkesan tapi dia malah TAKUT.

Untung itu 'SAJAK MERINDU' belum gua pakai buat chat gebetan, bisa-bisa gua dianggap FREAK juga -_-

Kenapa tetiba ngomongin soal 'Dilan' karena di suatu hari, gua dapat penumpang yang tidak terduga yaitu Guru Bahasa Indonesia si Pidi Baiq, penulis Novel Dilan.

"Kamu tau kan Pidi Baiq yang bikin Novel Dilan? Itu murid saya dulu. Orangnya cuek dan idealis banget waktu masih SMK" kata Bu Maya.

Bu Maya juga nyebut nama Sindentosca sebagai murid yang pernah di ajar dulu, itu loh Sindentosca yang nyanyi lagu 'Kepompong'.

"Kamu sudah baca Dilan belum? Disana penggambaran Sekolah Dilan kan punya halaman luas, itu teh ya sekolah yang Ibu ajar. Sok aja kamu cek, ada gak Sekolah lain yang punya halaman seluas ini"

Dan bener, pas gua masuk ke SMK yang letaknya ada di daerah Cijaura Hilir itu, halamannya luas banget. Gua sendiri gak tau bagaimana penggambaran Sekolah si Dilan karena belum pernah baca novelnya tetapi kalau dibilang halamannya luas emang bener ini Sekolah luas banget.

"Bu Maya, kalau menurut Ibu si Dilan tuh Pidi Baiq atau bukan sih?" tanya gua.

"Kalau kata saya mah bukan ya karena saya tau nakalnya Pidi waktu sekolah. Mungkin itu gambaran Pidi Baiq tetapi ada sedikit dramatisasi. Tapi kalau kata saya mah bukan sih" jelas Bu Maya.

"Yang kayak gitu mah gak asah dipikirin, nikmati saja karyanya"

Betul Bu Maya, tidak perlu kepo. Nikmati saja karyanya dan biarlah hal diluar itu tetap menjadi misteri.

......................................................................

Gua sering menulis kalau tujuan utama gua nge-GOJEK adalah untuk bahan menulis di blog. Dan karena sampai sekarang banyak yang suka (mayanlah punya beberapa pengemar cantik, hihi), gua masih rutin menulis soal Ojol.

Gua pun tidak munafik kalau tujuan gua menulis goal Ojol di Blog Adalah untuk mengejar Adsense. Tetapi setelah hampir 2 tahun gua menulis soal Ojol, gua menemukan 'kesenangan' lain.

'Kesenangan' yang menurut gua tidak bisa diukur dari Adsense semata tetapi lebih dari itu, banyak hal dan pengalaman menarik yang gua dapat. Dan tenang, masih banyak stock cerita lain yang belum gua tulis loh.

Kamu sendiri, sudah bosen belum baca tulisan Ojol gua?

Klik bisa jelas

Klik biar jelas


Jumat, 09 November 2018

Sunny Day

Salah satu teman gua yang sering gua tulis (baca: dihujat) di blog adalah si D. Dia adalah temen gua sejak SMP dan masih berteman sampai hari ini.

Rumah si D ini deket rumah gua dan dulu kalau gua lagi suntuk, gua sering mampir ke rumah dia. Kalau gak maen PS, tonton film atau numpang bikin Indomie Cabe Hijau di rumah dia.

Gua pun sering berenang bareng dia. Lebih seringnya sih berenang di Apartemen punya Kakaknya dan berhubung Kakaknya punya unit disana, gua jadi bisa ikut nebeng renang.

Kalau misal ditanya Satpam, tinggal bilang saja "Saya penghuni Emeral E-11" dan kita pun bisa melenggang buat renang dengan bebas.

Postur tubuh D ini luar biasa gemuk. Ukuran tubuhnya mirip si Nazar KDI tetapi dalam ukuran lebih besar lagi. Kalau misalnya gua lagi berenang ama si D, kadang gua sedikit malu.

Malunya adalah gini, kalau orang gendut kan biasanya dadanya agak besar dan turun kebawah ya. Nah ukuran TETEK si D itu besar dan merosot kebawah banget.

Malunya adalah kalau gua lagi jalan dari kamar ganti ke kolam renang, wadaw itu orang langsung lirik-lirik ke arah TETEK si D sambil bisik-bisik dan diakhiri dengan ketawa ngece bareng.

Gua yakin yang diomongin adalah gini "Itu cowok yang gendut kok TETEKnya melar banget ya. Diapain itu ama temen disebelahnya". Setelah itu mereka pun tertawa bersama.

Gegara itu tiap gua pergi berenang bareng si D, gua selalu cepet-cepet cus duluan dari kamar ganti dan langsung nyebur ke kolam. Jangan sampai gua berjalan bareng si DS ke kolam, tar bisa-bisa gua disangka orang yang suka maenin TETEK si D -_-

Oh ya, si D ini punya cemilan favorit. Cemilan favoritnya adalah Indomie kremes tanpa dimasak. Maksudnya gimana San?

Iya, jadi gini. Lu tau Indomie kan? Nah Indomie bisa dijadiin mirip seperti Mie Kremez. Jadi cara makannya adalah masukkin bumbu ke Indomie, remes, kocok-kocok agar bumbunya tercampur dan aha Indomie Kremez sudah bisa disajikan.

Biar banyak micin dan bikin Bego tapi tetap enak sih, hihihi.

Tapi si D beda sendiri. Kalau misalnya Indomie kuah kan masih bisa ditolerir ya tapi si D beda. Dia makannya Indomie Goreng dan semua bumbu dari kecap, sambal, sampai bumbu bawang dimasukkin semua terus dikocok dan dimakan perlahan.

Bisa dibayangkan kayak apa bentuk dan rasanya?

....................................................................................

Si D adalah salah satu teman gua yang kaya raya karena punya usaha bengkel. Kalau mau ketemu dia, gampang banget. Cari aja bengkel motor yang rame terus di sekitaran Ahmad Yani dan perhatikan ada cowok gendut lagi mangap sambil liat jalan, nah itu pasti si D.

Sebenarnya si D ini ogah-ogahan jaga bengkel tetapi berhubung dia bisa diomelin ama Emaknya karena gak jaga bengkel maka mau gak mau dia ikut jaga bengkel.

Si D ini baru bangun jam 10 dan pergi ke bengkel jam setengah 11 siang padahal bengkel sudah jam 8 Pagi.

"Om, ini D belum datang? Jadi Om sendirian aja nih" tanya gua. Jadi ceritanya gua lagi ganti ban motor dan berhubung gua paling ogah ngantri, biasanya gua datang pas bengkel baru buka. Biar jadi orang pertama.

"Iya San, tolong si D dinasehatin biar jangan subuh terus tidurnya. Terus jangan telat terus datangnya" kata si Om ke gua.

"Wah pasti saya kasih tau Om. Kasian ya Om jadi jaga sendirian kalau saya yang jadi anak Om mah saya jam 8 juga sudah ikut jaga" kata gua MAKAN TEMEN sendiri.

"Iya nih San, repot juga kalau Pagi karena Om cuma sendirian"

"Ok Om nanti saya tegur si D ya. Kasian si Om jadi jaga sendiri aja" kata gua MAKAN TEMEN lagi.

Sebenarnya gua mah uda tau dari awal kalau si D kalau tidur emang selalu nyubuh karena dia pasti begadang main PS4 terus datang ke bengkel pasti siang. Tetapi berhubung gua lagi ngincer diskon ban di bengkel si D, gua lagi manas-manasin si Om.

"Ok Om, nanti saya tegur si D ya. Om, minta diskon dikit dong. Ini uangnya mepet Om" bujuk rayu ala gua.

"Ya udah Om kasih diskon 15% persen ya. Kalau ke yang lain mah cuma 10% aja tapi bukan Sani, dilebihin jadi 15%"

Mantul Bosque.

Malamnya pas gua ketemu lagi si D, si D ngomong kalau dia diomelin ama Bokapnya dan kata Bokapnya bilang "Kamu itu harus niru si Sani, Pagi-pagi sudah kerja bukan tidur terus"

"Aneh banget tiba-tiba kok gua diomelin dan dibandingin ama lu" kata si D heran.

Gua hanya tertawa ringan sambil menawarkan Chiki Piatos untuk mengalihkan keheranan si D.

........................................................

Mengapa tetiba jadi ngomongin si D? Sebenarnya ini adalah bentuk 'penghargaan' gua buat si D karena di hari ulang tahun gua tanggal 4 Nov kemarin, D adalah orang pertama yang ucapin selamat ultah buat gua.

Ucapannya sih cuma 'HBD' doang tanpa ada tembel-embel apapun di dalamnya tetapi tetap berkesan buat gua karena si D gak melupakan hari jadi gua, hihihi.

Gegara liat ucapan ultah dari si D, gua jadi ngitung umur gua dan aha, ternyata gua sudah lumayan uzur ya karena sebelumnya gua tidak pernah menghitung umur gua.

Di usia gua yang sekarang, gua sudah harus memikirkan langkah besar selanjutnya. Gua bilang usia gua yang sekarang ini merupakan sebuah peralihan untuk gua supaya menjadi lebih dewasa lagi.

Kalau dulu tiap gua ulang tahun, gua selalu request pengen dibeliin ini itu ke orang tua kalau sekarang gua malah gak pengen apa-apa.

1 bulan sebelum gua ultah, gua lagi nemenin Ibu Pendeta di Gereja buat nunggu Grab Car datang. Maklum si Tante sudah tua jadi gak tau caranya pake aplikasi dan jadilah tiap Minggu, gua menjadi orang yang orderin + nungguin Tante Pendeta biar dapat Grab Car.

Kalau nolak takut kualat -_-

Pas lagi nunggu Grab Car datang, gua curhat kayak gini ke si Tante (sebelumnya sih gak pernah curhat), kurang lebih gini isi curhatnya:

"Tante, doain saya dong biar ketemu jodoh yang terbaik" kata gua malu-malu. Saat itu, gua memang dekat dengan beberapa temen lawan jenis tetapi tidak juga kunjung bertemu yang cocok.

"Iya tapi nanti kalau sudah ketemu, harus serius ya. Sama yang terakhir kenapa udahan?" tanya Tante Pendeta.

Gua lantas menceritakan kenapa hubungan gua dengan Miss M kandas dan Tante bilang gua juga harus berdoa supaya jodoh terbaik lekas datang.

Dan gak lama setelah Tante Pendeta bilang gitu, jodoh pun benar datang dan gua meyakini jika doa orang benar jika didoakan dengan sungguh maka akan terjadi (maksudnya doa Tante Pendeta).

Dulu, gua sering mengeluh kalau si Tante yang pimpin doa di Gereja. Protes karena terlalu lama, sekali doa bisa sampai 20-30 menit. Buat gua yang mentok berdoa 5-10 menit, 30 menit itu terlalu lama buat berdoa (maafkan Ya Tuhan). Tetapi sekarang gua gak mau banyak protes karena doa Tante buat gua dijawab oleh Tuhan :D

Tante mau berdoa sampai 1 jam juga gua tungguin deh, beneran deh, hihihihi.

Dari semua hadiah gua yang pernah gua terima, mungkin hadiah tahun ini adalah hadiah yang terbaik. Tidak ada alasan apa-apa sih tapi

sekali lagi gua pengen bilang kalau 'hadiah' tahun ini adalah hadiah terbaik yang pernah gua dapat.

:) :) :)

Jumat, 02 November 2018

GOJEG Move On

Malam ini, gua lagi terdampar di daerah Cibadak. Urusan Clobberin Time sudah kelar semua dan jam baru  menunjukkan jam 9 Malam, masih terlalu 'pagi' buat pulang.

Kalau begitu enaknya ngapain? Jawabannya adalah nge-GOJEG dong. Siapa tau dapat, mbak cakep yang searah pulang, lumayan buat temen ngobrol di sepanjang perjalanan pulang, hihi.

Gua nyalain aplikasi dan gak pake lama, sebuah orderan langsung masuk ke ponsel gua. Gua klik dan muncul nama 'Riska'. Hmm, gua tilik-tilik sebentar, dari nama sih keliatannya cantik nih. Gua telpon buat konfirmasi dan dari suara keliatannya Riska ini seumuran dengan gua. Oh ya, tujuan Riska adalah ke Arcamanik. Satu arah dengan tujuan pulang.

Riska minta dijemput di sebuah gang di Cibadak dan gak lama kemudian gua sudah mencapai tujuan. Keluar seorang perempuan berhijab merah dan gua konfirmasi ulang, bener nama dia Riska.

Kalau gua menggambarkan, Riska itu perempuan berhijab yang usianya mungkin di kisaran 25-28 tahun dan berlesung pipit. Dan seperti biasa, di tengah perjalanan gua mulai ajak ngobrol santai.

"Teh Riska, ada acara apa tadi di Cibadak?" tanya gua memulai obrolan.

"Oh enggak, ini saya habis dari rumah Kakak saya, biasa silahturahmi"

Teh Riska kemudian bercerita bahwa dirinya baru 1 bulan ini resign dari kantor dan selama 1 bulan ini dia sedang beradaptasi dengan kehidupan barunya. Maksudnya adalah Teh Riska yang biasa tiap hari berangkat kerja terus pulang Sore jam 5 sekarang otomatis 'menganggur'. Ini tentu bisa menjadi masalah terutama saat rasa jenuh tiba. Dari yang awalnya sibuk mengerjakan pekerjaan kantor kini hampa, gak ada kerjaan.

Dari yang gak biasa nonton TV di Pagi hari, kini jadi nonton acara bongkar aib orang punya si Uya Kuya tiap Pagi.

"Biar saya gak jenuh makannya saya sering main ke rumah Kakak saya di Cibadak tadi" lanjut Teh Riska.

Mungkin karena sudah mulai merasa nyaman dengan gua, Teh Riska mulai menceritakan hal-hal pribadi dirinya sampai di satu titik dia ngomong gini:

"Kamu mirip dengan mantan pacar saya. Sipit gimana gitu"

"Pasti mantannya Teh Riska ganteng soalnya mirip ama saya" goda gua

"Ah bisa aja kamu"

Teh Riska kemudian bercerita bahwa dia pacaran dengan Mr. X selama 8 tahun dan akhirnya harus kandas karena perbedaan agama. Teh Riska beragama Muslim sedangkan Mr. X beragama Kristen.

Awalnya hubungan mereka lancar karena keduanya berbohong soal status mereka. Mr. X bercerita kepada keluarganya kalau Teh Riska itu beragama Kristen. Keluarga Mr. X percaya karena kalau diselidik, wajah Teh Riska memang terlihat 'agak' oriental meskipun bukan.

Teh Riska kemudian bercerita bagaimana serunya hubungan mereka berdua selama 8 tahun. Gimana baiknya si Mr. X dan betapa perhatiannya Mr. X. Pernah satu hari mereka berdua berantem hebat tetapi meskipun berantem, si Mr. X tetap menjemput Teh Riska pulang.

Seperti di FTV Indonesiar, Teh Riska awalnya ogah naik dan malagan berbalik badan berjalan ke arah berlawanan. Mr. X kemudian turun dari mobil dan menyuruh Teh Riska padahal saat itu kondisi sedang hujan dan banyak kendaraan yang lalu lalang.

"Pokoknya itu berkesan banget" kata Teh Riska.

Tetapi hubungan 8 tahun itu akhirnya harus kandas karena restu dari orang tua. Alasan agama menjadi 'momok' untuk hubungan mereka berdua.

Begitu tahu kalau Teh Riska beragama Islam, Kakak perempuan dari Mr. X langsung menangis hebat karena hubungan keduanya yang memang sangat dekat. Orang tua dari Mr. X juga sangat sedih karena mereka sudah merasa sangat cocok dengan Teh Riska.

Tapi apa lacur, prinsip adalah hal yang sulit untuk ditembus dan oleh karenanya hubungan keduanya harus kandas.

Dan setelah hubungan keduanya kandas, Teh Riska kemudian dikenalkan dengan seorang duda beranak 3 dan orang tua Teh Riska berharap jika Teh Riska bisa menikah dengan Om mapan beranak 3.

"Teh Riska yakin mau menikah dengan Om Duda itu?" tanya gua

"Sejujurnya sih enggak. Bahkan pas 1 Minggu sebelum acara pernikahan, saya sudah mau membatalkan tetapi karena Ayah saya sampai sakit akhirnya saya pilin buat lanjut"

Hm, demi Ayah bukan demi hati.

Teh Riska juga bercerita bahwa hubungan dirinya dengan 3 anak sambungnya tidak baik terutama dengan si sulung yang sampai hari ini, tidak pernah menganggap Teh Riska sebagai seorang 'Ibu'. Sedangkan 2 Adiknya masih mau mendengar Teh Riska.

Berat gak sih jadi Teh Riska? Harus putus hubungan dengan mantan pacar yang sudah pacaran selama 8 tahun, menikah dengan Om Duda yang sebenarnya belum sayang-sayang amat, resign dari kantor, dan setiap hari harus ketemu dengan 3 anak sambung yang belum bisa menerima Teh Riska seutuhnya.

Oh ya suami Teh Riska bekerja di Balikpapan dan pulang 1 bulan sekali saja. Disaat begini, Teh Riska terkadang kepikiran mantannya itu.

"Rumahnya di daerah Pinus Regency, gak jauh dari sini kan? Saya juga masih ingat rute kesana"

"Mau gak, anterin saya kesana? Gak mampir cuma pengen lewat rumahnya aja. Nanti saya lebihin ongkosnya" sambung Teh Riska

Ongkos Cibadak - Arcamanik via Go-PAY itu kalau gua gak salah sekitar 23rb dan Teh Riska bilang bakalan kasih lebih asal gua mau nganterin dia ke rumah mantannya, lewat doang.

Berpikir sejenak, gua jawab gini:

"Bukannya gak mau Teh Riska tapi menurut saya mah mending gak usah. Nanti malah semakin kepikiran mending yang ada sekarang disyukuri aja"

Gua pernah dalam posisi Teh Riska. Dulu kalau lewat daerah rumah mantan pacar, gua sering pengen lewatin rumahnya sambil ngarep berpapasan dengan dia. Beberapa kali gua coba dan hasilnya adalah malah semakin menyakiti diri sendiri.

Disaat kamu ngarep bisa berpapasan dengan mantan pacar yang sebenarnya sudah gak peduli dengan diri kamu, dia malah lagi asyik dengan pacar barunya.

Sungguh sangat menyedihkan bukan.

Gua pun berpikir demikian, kalau misalnya gua mengiyakan request Teh Riska, hal itu malah akan semakin menyakiti dirinya. Dia bakalan terus teringat kenangan dan pasti makin bikin susan move on.

Toh Teh Riska sudah punga kehidupan sendiri bukan? Dan gua juga percaya kalau si Mr. X sudah memiliki kehidupan sendiri.

Perjalanan yang lumayan jauh ini diakhiri tepat di depan gerbang rumah Teh Riska. Teh Riska mengucapkan terima kasih sambil tersenyum dan gua hanya jawab:

"Jangan dipikirin terus Teh Riska, yang sekarang juga pasti gak kalah baik kok dari sebelumnya"

Teh Riska hanya tersenyum sambil masuk ke dalam rumahnya.

.........................................................................................

Sudah bukan rahasia lagi kalau banyak orang yang pengen banget join GOJEG. Mungkin mereka mendengar 'katanya besar penghasilannya'. Ya kadang 'katanya, katanya' itu yang bikin orang ngiler padahal terkadang kenyataannya gak seindah 'katanya, katanya'.

Itu pun yang membuat Teh Yola tertarik untuk bergabung ke GOJEG, bukan buat dia sih tapi untuk suaminya.

Di suatu Malam, gua lagi menikmati Es Kepal Milo. Ini makanan yang sempat booming beberapa bulan lalu tetapi berhubung gua paling tidak tertarik buat mengantri cuma buat makan doang, gua baru ngicip dong ini Es Kepal Milo seharga 15rb perak ini -_-

Rasanya ternyata gitu doang yak, gua kira bakalan kayak apa rasanya. Di bayangan gua rasanya bakalan kayak ada sensasi koklat lumer di mulut ternyata kayak es serut biasa.

Lagi asyik icip Es Kepal Milo, orderan GOJEG masuk ke HP gua. Sebuah orderan atas nama 'Nita', gua chat dan posisi Teh Nita ada di depan BORMA Antapani, gak jauh dari posisi gua yang sedang menikmati Es Kepal Milo.

Gua habiskan Es Kepal Milo yang kurang enak itu dan segera bergegas menjemput Teh Nita. Seorang perempuan muda sedang berdiri di depan BORMA bersama seorang anar kecil usia 4 tahun. Feeling gua itu adalah Teh Nita dan pas gua konfirmasi ternyata benar dia adalah Teh Nita.

Tujunnya adalah UBERTOS (Ujung Berung  Town Square), sebuah Mall sepi yang letaknya di Bandung timur.

Di perjalanan, gua nanya ngapain ke UBERTOS malam-malam gini dan jawabannya adalah

"Saya mau coba kredit HP buat dipake suami saya nge-GOJEG karena kata tetangga saya banyak toko HP di UBERTOS yang bisa nyicil belinya"

"Saya sudah foto copy buat persyaratannya. Kata tetangga saya penghasilan dari GOJEG lumayan banget. Buat nambah-nambah"

Hm, gimana ya bilangnya. Gua gak tau ya berapa sih penghasilan Driver yang tiap hari kerjannya emang jadi Driver GOJEG tetapi buat gua yang Nge-GOJEG buat fun dan buat menulis buat blog, kisaran yang gua dapat itu 30rb dan ludes di hati itu juga buat isi bensin dan makan Ayam Geprek di Kiara Condong atau makan Nasi Mawut bareng si Arya, Bangsa, dll.

Kalau gua mengibaratkan adalah penghasilan gua di GOJEG itu tiap Minggunya sama seperti saat gua menjual 2 Tees Clobberin Time.

Dan lagi, sepengetahuan gua, penerimaan Driver GOJEG di Bandung sudah tutup dan belum dibuka lagi untuk jangka waktu yang belum ditentukan. Nambahin lagi, cicilan HP yang di Konter HP gitu, yang gua tau bunganya sangat mencekik kan?

Dengan semua fakta di atas, kalau kalian jadi gua, apa yang bakalan kalian lakukan? Bilang kalau GOJEG lagi menutup pendaftaran, bilang kalau nyicil di konter HP bunganya kayak syetan mencekik atau bilang kalau penghasilan GOJEG tidak seindah yang dibayangkan?

Gua bisa aja cerita itu semua tetapi jujur gua gak tega apalagi pas si Ibu ngomong kalau mereka baru saja berhutang besar buat menebus anar mereka yang baru lahir.

Kalau sudah begini, gua harus gimana menurut lu?

Dalam obrolan antara gua dan Teh Nita, di bayangan Teh Nita sudah terbayang kalau jadi Driver GOJEG itu penghasilannya bakalan besar dan bisa merubah perekonomian keluarga dia.

"Kalau penghasilan kakaknya berapa dari GOJEG?" tanya Teh Nita ke gua

"Saya? Ya kisaran 100an lah sehari" kata gua ngibul. Karena gak mungkin juga gua ngomong ke Teh Nita kalau gua jadi Driver cuma buat fun doang.

"Lumayan banget. Doain saya ya supaya gampang nyicil HP-nya terus suam saya gampang daftar jadi Drivernya" kata Teh Nita.

"Oh iya Teh, pasti saya doakan" jawab gua. Tentu gua akan mendoakan yang lebih baik lagi, lebih dari menjadi seorang Driver GOJEG.

20 menit kemudian, kita sampai ke tujuan dan ongkosnya adalah sekitar 20rb. Gua gratisin, bilang buat jajan si adek kecil.

"Makasih ya Om" kata si Adek kecil sambil ngedadahin gua di depan UBERTOS.

..............................................................

"Ini anaknya tadi ngomong, dia pengen pegangan. Boleh gak?" tanya seorang Mbak muda yang lagi dibonceng gua.

"Oh iya, silahkan pegang aja" kata gua. Si kecil langsung memegang erat gua dan oh ya, anak kecil ini (maaf banget, tidak ada maksud menyinggung siapapun) adalah anak autis.

Setelah berpegangan erat dengan gua, si anak yang awalnya gak bisa diem mendadak jadi tenang. Kepalanya bersender ke punggung gua dan tangannya memegang erat pinggang gua.

"Biasanya dia suka gak mau kalau pegangan ama orang yang baru dikenal" kata si Mbak muda yang sepertinya adalah pengasuh si Anak.

Jari jemari letik yang berpegangan erat
Buat gua pribadi, hal-hal seperti inilah yang membuat gua semakin susah move on dari dunia Ojol karena selalu ada banyak cerita di dalamnya.

Selalu ada banyak alasan untuk bersyukur karena sudah diberikan kehidupan yang begitu baik karena dengan menjadi Driver Ojol, kita bisa bertemu dengan banyak orang, mendengar cerita mereka untuk kemudian bersyukur karena masih banyak orang yang memiliki masalah lebih berat dari kita.

"De, sudah dimana? Cepetan pulang, sudah malam. Banyak orang jahat di jalan" suara Papa di ujung telpon.

Jam sudah menunjukkan pukul 23:30, waktunya untuk pulang.


Koleksi Bintang 5