Selasa, 27 Juni 2017

Angan, Harapan, dan Kenyataan

Kalau kamu baca postingan gua di kurun waktu tahun 2009-2012, hampir semua postingan itu gua tulis di food court salah satu Mall yang letaknya gak terlalu jauh dari rumah gua.

Dibilang Mall juga rasanya kurang pas karena dalamnya sepi dan kosong banget. Banyak toko yang sudah tutup, banyak pula toko kecil yang nyaris gak pernah buka (barangnya ditinggalin gitu aja di toko).

Alasan utama gua nulis disana adalah saat itu gua belum cukup mampu buat pasang internet di rumah jadi saat itu gua harus sering kesana itu buat ngejar Wi-fi buat sekedar browsing cari bahan sampai kirim-kirim tulisan.

Gua menulis di food court yang sangat sepi dan hanya ditemani oleh penjaga stand yang sedang menunggu pembeli datang. Biasanya mulai agak ramai kalau lagi ada event misal lomba nyanyi, lomba dance, lomba tari. Dan itu pun yang nonton biasanya cuma juri, tukang kabel & sound system, dan keluarga peserta + gua yang lagi duduk di pojokkan.

Salah satu hal yang gua kejar adalah gua pengen banget bisa nembus di Tabloid Bola. Tabloid Bola adalah Tabloid olah raga nomor satu di Indonesia dan Tabloid Olah raga paling tua (sudah terbit sejak tahun 1986). Saat itu, gua baru bisa tembus menulis untuk versi Majalah belum versi Tabloidnya dan akan menjadi sebuah kebanggaan buat gua pribadi kalau bisa nulis di Tabloid Bola.

Gua denger sih memang susah buat menulis di Tabloid Bola karena mereka memang nyarinya Mahasiswa dengan jurusan tertentu. Mungkin salah satu alasan tulisan yang gua kirim tidak tembus dikarenakan gua belum memenuhi kriteria yang mereka cari.

Iya gak apa-apa kok, gua paham.

Buat gua, hal ini berarti hanya akan seperti angan-angan belaka yang mungkin tidak akan pernah gua capai. Tapi hal itu tidak membuat gua patah semangat, gua tetap menulis dan mengirim seperti biasa walaupun gak pernah dimuat, huehue.

...................................................................................

Tetapi gua percaya, angan-angan itu bisa kita ubah jadi kenyataan kalau kamu mau kerja keras dan tetap mencoba. Di tahun 2017 (hampir 7 tahun), gua sekarang rutin menulis di rubrik 'Sportainment' di Tabloid Bola#uhuk

Banyak orang yang nanya ke gua kok bisa gua nulis disana sampai berapa gua digaji disana. Ok, lewat postingan ini gua bakalan ceritain semuanya biar gak ditanya-tanya lagi.

Di tahun 2017, Tabloid Bola meluncurkan rubrik baru yang diberi nama 'Sportainment'. Rubrik ini menampilkan olah raga yang menggabungkan olah raga dengan hiburan (semisal WWE, UFC, Nascar, dll).

Sebelum ini gua memang sudah rutin menulis soal WWE di Fanpage WWE Indonesia di Facebook dan  di akun Clobberin Time. Menjadi klop karena Tabloid Bola lagi nyari penulis yang tau tentang WWE secara detail dan kebetulan gua yang dipilih, hehe.

Gua kirim contoh tulisan gua dan ternyata pihak Bola suka sampai yang paling membanggakan buat gua adalah tulisan yang gua kirim nyaris gak ada yang diedit oleh Tim Redaksi (hal ini berarti tulisan yang gua kirim sudah sesuai dengan standar dan kualifikasi mereka). Setelah artikel pertama dimuat, gua diminta untuk rutin menulis di Tabloid Bola (selang seling dengan tim redaksi Bola).


Terlihat ganteng di foto?
Banyak yang nanya ke gua, "Eh lu dibayar berapa buat nulis di Bola?". Soal bayaran sebenarnya gua terlalu berpikir ke arah sana karena bisa dimuat juga sudah membahagiakan buat gua karena itu adalah angan-angan gua sejak lama (sejak tahun 2010). Kalau ditanya soal bayaran, gua mau balik nanya. Kalau kamu dikasih pilihan mending dibayar (misalkan) 1 juta per artikel atau kamu bisa ngiklan disana, kamu pilih mana?

Dapet bayaran 1 juta itu emang lumayan tapi biasanya suka gak kerasa kan, tiba-tiba uangnya sudah habis entah kemana. Kalau gua lebih milih bisa ngiklan di Tabloid Bola karena sebagai Tabloid nomor satu di Indonesia, pembaca Bola banyak banget. Ambil contoh aja, kalau misalkan pembaca Tabloid Bola ada 100rb orang per edisi terus 1% nya aja baca iklan Clobberin Time dan beli pasti lumayan banget kan?

Iya, gua menulis di Bola sama sekali gak dibayar tetapi gua mendapat kompensasi buat mempromosikan komunitas WWE Indonesia. Jadi di setiap penulisan gua, gua bakalan mengajak para pembaca buat bergabung ke akun fanpage WWE Indonesia dan Official Account LINE Clobberin Time. Dan karena hampir setiap hari gua beriklan di Fanpage WWE Indonesia jadi otomatis pembaca Bola yang gabung ke Fanpage WWE Indonesia pasti liat iklan gua kan?

Dan terbukti karena sejak gua menulis di Tabloid Bola, orderan Clobberin Time makin melimpah. Terima kasih, terima kasih.

....................................................................................................

Selain bisa nulis di Tabloid BOLA, dulu gua punya angan-angan buat beli rumah sendiri. Bukan soal investasi atau apa tapi gua emang mikir gua harus punya rumah sendiri buat gua tinggal bareng istri gua kelak (uhuk).

Gua sering denger cerita dari temen gua yang sudah nikah dan kebetulan mereka masih tinggal 1 satu rumah dengan orang tua. Mereka curhat pasti ada aja masalah, hal sepele pun bisa jadi besar. Ya maklum sih, 2 pemikiran aja sulit buat disatukan gimana kalau ditambah jadi 3 atau 4 pemikiran.

Sejak tahun 2011, gua selalu menyisihkan sedikit dari penghasilan gua dari menulis dan dari Clobberin Time (saat itu namanya belum Clobberin Time).

Akhir tahun 2016, gua sudah sempet DP sebuah rumah di kawasan Arcamanik Bandung (Cingised) tetapi akhirnya gua batalkan karena mengingatkan gua akan sesuatu yang buruk. Ya gak apa-apa deh rugi ketimbang kamu hidup dalam rasa sakit hati mendalam akan kenangan di rumah itu. Meskipun sebenarnya lumayan sayang juga :(

Salah satu temen gua si Mella banyak gaya pernah cerita ke gua kalau dia bareng mantan pacarnya baru beli rumah di daerah Banjaran. Harga rumah disana bisa dibilang masih lumayan (kisaran 300-400 jutaan) tapi biar lumayan murah, gua mikir NGAPAIN beli rumah di Banjar. Jarak Banjar ke Bandung juga mayan jauh belum lagi kalau hujan, akses utama ke Bandung pasti macet total kalau lagi libur.

Awalnya gua sempet niat cari rumah yang lokasinya di pinggiran kayak si Mella tadi tapi setelah gua pikir gak akan efektif dengan pekerjaan gua yang super mobile sampai akhirnya gua batalkan niatan tersebut. Setelah lama nyari dan nyari, akhirnya nemu juga sebuah Cluster di sekitaran Antapani. Menjadi special karena Cluster ini didesign oleh kakak gua sendiri (yang lagi cari rumah bisa calling ke kakak ya siapa tau dapet harga special, hihi).

Buat ukuran kantong gua, harganya sebenarnya lumayan tinggi tetapi lokasinya sangat strategis dan ada banyak akses terutama jaraknya yang gak terlalu jauh ke rumah gua yang sekarang (sekitar 10 menit). Rumahnya memang gak terlalu besar tapi pas buat keluarga kecil dan ada garasi buat nyimpen mobil.

Apa gua terlihat di foto?
Tahun 2010, mungkin gua gak akan pernah ngebayang bisa beli rumah sendiri. Jangankan ngebayang buat mikir aja gua gak berani tapi ternyata dengan sedikit kerja keras dan kemauan (plus pertolongan Tuhan) bisa kebeli juga rumah. Saran terbaik gua buat para kaum adam adalah dibanding uang kamu habis mubazir, mendingan uang kamu dipakai buat hal yang berguna misalnya buat beli polis asuransi kesehatan, buat reksa dana atau disimpen dikit-dikit buat DP rumah kayak gua.

Eh, ada yang mau jadi pendamping buat mengisi rumah itu?

.......................................................................................

Di hari libur panjang gini, setelah sekian lama gak mampir ke Mall yang gua ceritain di awal tadi, kemarin gua mampir kesana lagi. Gua sebenarnya sama sekali gak pengen libur tetapi gua 'dipaksa' libur karena semua Vendor dan penjahit untuk Clobberin Time lagi libur dan gua sudah cukup menabung banyak tulisan di Tabloid Bola untuk beberapa edisi kedepan.

Gua bawa laptop gua, mau menyelesaikan postingan ini (iya postingan yang kamu baca sekarang ini). Gua duduk di posisi yang biasa gua tempatin, kursi paling deket kaca jendela. Di deket kursi gua ada stand yang dijaga oleh Oma tua, dia jualan minuman kayak Lemon Tea, Ice Tea, dll. Gua mesen Lemon Tea dan kerennya si Oma masih inget gua dong.

Tempat menulis favorite gua ada di pojok kiri dan stand si Oma penjual minum ada di sebelah gua
"Sani, kemana aja? Dulu biasanya Sani yang nemenin Oma disini tapi sekarang sudah gak pernah lagi" kata si Oma sambil menjabat keras tangan gua. Matanya tampak berkaca-kaca dan hebat banget si Oma masih bertahan disini padahal stand lain sudah hampir tutup semua.

"Iya Oma, maaf sekarang sibuk tapi nanti bakalan sesekali kesini lagi. Pesen Lemon Tea kayak biasa ya" kata gua.

Gua duduk sambil menatap sekitar, suasana masih seperti biasa. Di ruangan yang seluas ini, mungkin cuma diisi kurang dari 10 orang saja.

Ada hari dimana kita harus berhenti sejenak untuk menengok ke belakang lalu bersyukur :)

NB: Terima kasih untuk pemilik blog http://farllanlasimpala.blogspot.co.id/2017/04/sebuah-perkenalan-yang-dipaksakan.html yang sudah menulis tentang gua :)

Sabtu, 17 Juni 2017

Good Night & Good Bye

Cerita ini sebenarnya terjadi sekitar 3 bulan yang lalu (tepatnya bulan Maret) dan gua sama sekali tidak ada niatan buat mengangkat cerita ini menjadi sebuah postingan di blog (karena beberapa faktor). Tetapi berhubung, beberapa hari yang lalu gua mendapat sebuah kiriman yang ada korelasinya dengan cerita ini, gua putuskan buat mulai menulis dan mengangkat cerita ini. Ini cerita tentang 'cinta', dikasih komentar yes.

......................................................

Beberapa bulan yang lalu, gua lagi deket dengan seorang perempuan. Sebelumnya sih kita berdua sempat dekat lalu merenggang dan kemarin kita sempet deket lagi, uhuk. Saat itu kita berdua sedang dalam fase yang sama, sama-sama sedang menjalani fase move on. Orang yang sedang menjalani fase ini tentu butuh banyak temen ngobrol agar bisa mengeluarkan semua beban hati - pikiran dan diyakinkan kalau semua akan baik-baik saja seperti semula.

Jujur, dulu gua sempet naksir ama dia dan ketika kita ketemu lagi setelah sekian lama gak ketemu, sedikit demi sedikit perasaan lama gua itu muncul lagi. Dulu dia udah cantik sekarang jadi semakin cantik dan bikin gua jadi lumayan tertarik padahal gua ini adalah orang yang sangat susah buat suka/naksir ama orang walaupun gua punya banyak temen perempuan.

Selain kita intens berkomunikasi kita juga sering pergi bareng, ya ke Gereja bareng, makan bareng. Kebetulan, gak lama lagi dia bakalan ulang tahun dan gua pengen ngasih kejutan kecil yang berkesan. Jangan ngira kalau gua bakalan kasih kejutan yang berlebihan seperti ngajak dia dinner terus gua akan merangkai bunga mawar di atas kolam renang membentuk huruf 'Happy Birtday'.

Itu bukan gua banget.

Kejutannya simple aja, jadi gua bakalan bikinin dia sebuah Video ucapan. Nah di Video itu akan ada gua bersama temen-temen yang lain ngeband sambil nyanyi lagu Happy Birthday dalam bahasa Korea (karena kakak kita yang satu ini emang ngefans dengan Korea, berbeda dengan gua yang cuma mentok tau Kimchi doang).

Setelah lagu selesai, video akan menampilkan foto-foto dia, ada yang dia sendiri dan ada yang bareng ama gua, ehem. Dan di slide terakhir akan menampilkan foto hadiah dia yang sudah gua siapkan. Gua gak bisa bilang isinya apa tapi gua yakin dia bakalan suka dengan isi hadiah itu :)

Nah, pas Video berakhir, gua bakalan nelpon dan bilang "Kamu mau gak hadiahnya, kalau mau keluar rumah dong nanti ada Driver Uber yang nganterin hadiahnya'" (Driver Uber = gua). Itu rencana awal dan gua yakin semuanya akan berjalan dengan baik jika mengikuti alur cerita yang sudah disiapkan.

Tetapi gua salah, ternyata banyak sekali hambatannya. Saat pembuatan Video yang paling stress, gua kira dalam 1-2x take akan beres tapi Ya Alloh diulang mulu. Kesalahannya bukan di temen-temen yang lain tapi di gua sendiri. Jadi dalam skenario, setelah temen gua si Elsa selesai nyanyi dia bakalan ngasih Mic ke gua dan gua bakalan ngucapin selamat ulang tahun buat dia plus kasih harapan.

Terdengar simple kan? Tapi gak buat gua karena setiap gua yang di-take pasti aja salah mulu padahal gua yang nyiapin scriptnya dong. Ada kalanya gua kecepetan ngomongnya, ada kalanya gua terlalu grogi sampai gua lupa nyalain mic. Goblok bener. FYI, yang deket ama gua pasti tau banget kalau gua bukan orang yang suka ngomong di depan umum, tampil di kamera, atau jadi pusat perhatian.

"Kak Stef, sakit tangan aku ini. Diulang mulu" kata Rio yang megang gitar. Hahaha, iya ampun Rio. Gua kasian juga ama dia karena kayaknya sudah hampir 10x dia harus metik gitar dengan lagu yang sama.

Setelah lebih dari 10x take akhirnya dapet juga angle yang bagus. 1 hari diedit, video tersebut akhirnya kelar dan gua ngerasa puas banget. Gua pake score 'Marry Me' dari Michael Giacchino (lagu pengiring di film Up) buat lagu narasi di video itu.

Bukan, bukan berarti gua ngarep nikah ama dia tapi gua pake score 'Marry Me' karena gua emang ngefans berat dengan Michael Giacchino. Sempet mau pake score 'Moving On' tapi pas gua dengerin kok kedengerannya malah bikin sedih. Orang lagi ulang tahun kok malah dibikin sedih.

Beberapa temen gua yang gua liatin video itu bilang video nya bagus, simple tapi bermakna. Tapi mereka bilang video itu bakalan lebih bagus kalau gua gak nampak di video itu.

Ok sip, terima kasih untuk pujiannya.

..........................................................................................

Setelah video beres, hari yang ditunggu akhirnya tiba. Dia ngabarin kalau dia mau pergi bareng temen-temennya dan baru pulang jam 7. Gua bikin dia bete dulu jadi rencana awalnya dia kan bakalan bete seharian dan nanti pas dia pulang kasih sedikit surprise biar lebih bermakna.

Rencana berhasil, karena gua berhasil bikin dia bete dan gak nyaman (gua gitu loh). Gua bilang gini "Ada yang mau aku omongin tapi nanti aja deh ya, habis kamu pulang. Bukan kabar baik sih tapi ya gimana"

Aslinya berat banget buat gua bikin orang yang kamu suka jadi bete tapi demi rencana ini, itu harus dilakukan. Setelah berhasil bikin dia bete, gua sekarang harus nyari 1 orang pengangguran buat nemenin gua ke rumah dia nanti malam (buat jagain kendaraan, dll). Dari banyak opsi, Arya Putra jadi orang yang gak nolak ketika dimintai tolong. Arya ini penulis dengan spesialis bikin review film, gua kenal dengan dia ketika kita sama-sama lolos dari Kompetisi Nulis Lupus Bareng tahun lalu.

Hari itu, waktu terasa sangat lama buat gua. Padahal kalau hari biasa, gua sering ngerasa kalau waktu sangat cepat berjalan. Keluar pagi eh pulang sudah malam lagi, begitu cepat tapi buat gua hari itu terasa sangat lama. Hari itu gua kosongin semua kegiatan gua (No COD, No kirim barang, No ketemu orang, No cek produksi, No menulis dan No-No yang lain).

Jam 5 Sore gua sudah jemput si Arya dan kita berdua berkendara menuju rumah dia. Hati gua berdegup kencang, perasaan gua campur-campur. Takut dia malah marah atau takut dia gak pulang malah nginep semuanya bercampur jadi satu. Jam 6 kita sudah sampai deket komplek rumah dia dan kita menepi di pinggir jalan.

Dia janji bakalan kasih kabar kalau dia sudah pulang tapi sampai jam 8 Malam dia sama sekali gak kasih kabar apa-apa. Gua sudah semakin galau, karena kalau semakin Malam maka gua semakin gak enak ke keluarganya. Batas tolerasinya adalah jam 9 Malam karena kalau sudah lebih dari jam 9, gua malah takut ngeganggu keluarganya yang lagi istirahat (belum lagi di rumahnya ada anjing yang gak tau kenapa tiap gua kesana pasti gonggong mulu). Dasar Anjing lu Njing!

Jam 9 kurang 15 belum ada kabar, gua telpon dan chat juga gak dibalas. Apa jangan-jangan dia ngambek gitu ya ama gua karena tadi Pagi gua bikin dia bete. Gua sekarang sedang sendirian karena si Arya ijin ke gua buat ke McD buat minjem WC. Tangan kiri gua megang bunga dan tangan kanan gua bawa kado buat dia. Dibanding orang yang mau kasih kejutan buat orang yang spesial, gua lebih mirip penjual bunga di acara wisudaan kampus -_-

Plan terpaksa dirubah, jadi gua bakalan nitip hadiah dan bunga ini ke adiknya karena gua lumayan tahu (biar gak terlalu kenal). Jadi pas dia pulang dan nerima hadiah itu, baru gua kirimin video yang gua ceritain tadi. Agak kecewa sih karena menurut gua efek kejutnya bakalan beda kalau rencana awal gua berjalan.

Storyline 'Driver Uber pengantar hadiah' terpaksa diubah karena waktu sudah tidak memungkinkan.

Gua jalan menuju rumah dia, rumah dia aslinya lumayan ngeri karena dikelilingi sawah dan jarak satu rumah dengan rumah lain lumayan jauh belum lagi jalanannya berlubang dan becek. Rada ngeri juga ya jalan tengah malam lewatin sawah yang luas. Gimana coba kalau ada penunggu sawah yang muncul di hadapan gua karena ngira itu bunganya buat dia -_-

Belum lama gua melangkah, dia belakang gua terdengar bunyi tabrakan parah, bunyinya mirip di film Transformers pas Autobots Vs Decepticon. Gua tengok bentar, ada kecelakaan parah. Ada sekitar 3 orang jatuh tergeletak di jalanan dengan bersimbah darah, banyak part dari motor yang sudah lepas dan berhamburan di jalan. Karena suasana sudah mulai sepi jadi sedikit orang yang kasih pertolongan.. Gua simpen bunga dan hadiah gua di saung kecil yang gak tau punya siapa dan nyebrang jalan buat kasih pertolongan.

Ada bapak yang kening dan hidungnya mengeluarkan darah, tangannya seperti patah karena gak bisa digerakkan. Kulitnya sudah memar biru dan di hadapan si Bapak ada 2 santri yang keliatannya baru pulang ngaji yang terkapar. Jadi ceritanya, si 2 santri ini ngelawan arah dan si Bapak yang kaget gak siap buat menghindar sehingga tabrakan tidak terelakkan.

Beberapa orang ngebantuin buat meminggirkan mereka bertiga. Gua paling gak tega liat si Bapak yang begitu kesakitan karena tangannya sudah letoy dan gak bisa digerakkan.

Gobloknya, di saat begini bukannya nolongin orang-orang malah cuma nontonin dan setelah nonton langsung pergi aja. Dari awalnya ada 10an sekarang tinggal 3 orang termasuk gua yang lagi di samping korban.

Jujur, gua juga jadi galau karena kalau gua tetep disini maka plan gua bakalan hancur. Karena semakin malam gua ke rumah dia buat nitip hadiah ini maka akan semakin besar pula kans gua buat ganggu tidur keluarga Ruth.

Tapi disaat begini, gak mungkin juga gua pergi ninggalin si Bapak dan 2 santri. Si Bapak sambil susah payah minta gua buat ambil ponsel di tas kecil dia dan nyuruh gua buat nelpon istrinya, kasih kabar kalau dia baru kecelakaan. Gua ini bukan orang yang punya cukup nyali buat kasih tau kabar buruk ke perempuan tapi karena si Bapak minta gua buat nelpon istrinya, gua bantu dia buat nelpon.

Pas gua telpon, di ujung telpon terdengar suara gini "Ayah, sudah sampai? Ibu jalan bentar ya keluar"

"Bu, Maaf bu. Ini Bapak baru kecelakaan di Jalan Soekarno Hatta dekat bundaran Cibiru tadi habis tabrakan ama motor lagi. Ibu bisa dipanggilkan Ambulance gak?" kata gua di ujung telpon karena kebetulan istri dari si Bapak ini kerja di rumah sakit (Gua sudah mencoba menghubungi beberapa Rumah Sakit dan Kantor Polisi tapi tidak ada jawaban).

Suara tangis langsung pecah di ujung telpon. Yang awalnya senang jadi histeris bercampur shock, dia nanya kondisi Bapak gimana. Gua bohong, gua bilang bapak gak gimana-gimana cuma butuh ambulance aja supaya bisa diperiksa di RS.

Terkadang berbohong untuk hal seperti ini memang diperlukan.

Dia kemudian nanya, disana ada siapa aja yang bersama Bapak, gua bilang cuma ada 3 orang disini dan kita lagi di pinggir jalan. Sambil nangis, dia bilang "Pak, jangan pergi sampai saya datang ya Pak. Bapak jangan ditinggalin sendirian, janji ya Pak"

"Iya Bu saya janji". Disaat begini gua sudah gak terlalu mikirin lagi tentang hadiah yang penting si Bapak selamat dan bisa dibawa ke rumah sakit.

Satu orang kemudian pergi dan sekarang tinggal kita berdua di jalanan yang sepi, jam sudah menunjukkan jam 10 Malam. Gua telponin si Arya, eh gak diangkat padaha pertolongan dari dia sangat diperlukan karena kita berdua bawa kendaraan. Ini orangnya kayaknya lagi keenakkan donlod file porno deh McD karena WiFi di McD lumayan kenceng.

Setelah si Arya gak bisa diharapkan, akhirnya kita berdua bagi tugas. Satu orang yang gua gak tau namanya ini, gua tugasi buat cari polisi terdekat. Karena kemungkinan nemu polisi di jalan sangat kecil, gua nyuruh dia ke Kantor Polisi di Soekarno Hatta. Gak banyak speak, dia langsung berangkat.

Gua menenangkan 3 orang ini bilang kalau pertolongan sebentar lagi akan datang. 2 santri ini kalau dari luar memang terlihat gak kenapa-napa tapi dia bilang badannya sakit banget kalau digerakkan (luka dalam kayaknya). Gua kasih minum buat 3 orang ini sambil nunggu Polisi datang. Semoga ini orang gak bohong ya, beneran nyariin polisi.

30 Menit menunggu, polisi belum kunjung tiba. 3 orang ini sudah terlihat kepayahan semua, gua paling ngilu ngeliat tangan si Bapak yang muter gak karuan. Karena sudah gak tahan si Bapak ngomong gini ke gua "Pak, bawa saja aja ke pesantren, tempat tingga mereka" sambil nunjuk 2 santri yang lagi tergeletak.

"Jangan Pak, kita tunggu Polisi ama Ambulance datang. Kalau dipaksa kesana nanti lukanya makin jadi"

Si Bapak terus maksa dan ngomong kalau dia udah gak tahan, dia sempet nanya ada orang yang bisa ngurut gak di Pesantren si 2 santri dan dijawab ada ama si santri. Si Bapak minta tolong ke gua buat bonceng dia pake motor dia ke pesantren, ngikutin si 2 santri. Salah satu dari mereka walaupun terlihat kepayahan, bilang masih kuat buat nyetir motor kesana.

Dibanding kita nunggu gak ada kepastian gini dan si Bapak sudah mengerang terus akhirnya gua setuju dengan rencana tadi. Gua yang nyetir pake motor bapak sambil bonceng dan ngikutin santri ke pondok pesantren, darisana gua minta dianter lagi ke tempat semula. Gua nengok sebentar ke hadiah ama bunga gua yang gua tinggalin ke saung, gua asli dilema banget ini. Satu sisi gua pengen kasih kejutan kecil ke orang yang kamu sukai tapi satu sisi gua juga gak tega buat ninggalin mereka gini aja.

Motor si bapak sebenarnya sudah lumayan hancur tapi masih bisa dipake, gua naik motor dia dan dengan susah payah si Bapak naik juga. Langkah gua diikuti oleh 2 santri yang naik juga ke motor sambil megangin perut dan dada.

Belum juga berangkat, mobil polisi akhirnya tiba. Ternyata orang yang tadi beneran cari polisi, maaf banget sudah suudzon tadi ya :)

Polisi datang dan langsung nelpon Ambulance, gua nelpon lagi ke si Ibu dan bilang kalau Polisi datang dan lagi nunggu Ambulance. Sambil nangis, Ibu bilang makasih berulang-ulang ke gua padahal gua ngerasa gak melakukan apa-apa, hehe

Bapak yang habis kecelakaan juga ngomong terima kasih ke gua dan bilang, gak apa-apa kalau gua mau pergi. Gua yakin dia sebenarnya tau kalau gua itu sedang diburu-buru waktu meskipun gua akting seolah biasa aja.
........................................................................................

Jam sudah menunjukkan jam 11 lebih (nyaris setengah 12). Apa gua pulang aja gitu ya tapi kalau pulang, rencana yang telah gua susun bakalan buyar terus bukannya akan lebih bermakna kalau kamu jadi orang pertama yang ngucapin selamat ulang tahun ke orang yang kamu suka bukan?

Tapi pikiran gua masih berkecamuk soal keluarganya karena gak sopan juga kalau datang malam-malam. Setelah berpikir keras akhirnya gua nekad aja, perkiraan gua 10 menit cukup buat semuanya jadi gak usah banyak ngomong, kasih hadiah dan kasih ucapan terus langsung pamit pulang.

Gua cek HP, dia sudah kasih kabar kalau dia sudah pulang dan kalau gua mau nelpon, boleh sekarang. Gua kirimin dulu Video yang tadi dan minta dia tonton, durasinya sekitar 2 menit aja.

Mungkin ya, 2 menit itu menjadi 2 menit terlama dalam hidup gua. Gak lama kemudian, dia bilang makasih dan terharu habis liat video itu dan ini dia yang gua tunggu.

Gua chat dia, "Eh, tapi aku rasanya nyuruh Driver Uber buat nganterin hadiah ulang tahun kamu yang di foto deh. Kamu keluar bentar ya, bentar aja, kasian Drivernya nunggu dari tadi"

Dia bales dengan emoticon kaget dan gua langsung lari menuju rumah dia, melewati jalak lubang dan sawah. Asli ini NGERI banget, gua berasa liat ada bayangan hitam di sawah yang gak taunya cuma orang-orangan sawah. Rasa takut gua ama Tuyul di sawah terkalahkan dengan rasa kalut gua yang bakalan kasih dia hadiah.

Gak lama, dia keluar rumah dan berpapasan dengan gua yang lagi nyengir sambil bawa bunga dan kado buat dia. Dia tampak speechless sampai gak tau mau ngomong apa.

When I looked deep into her eyes, I smile. Time seems so slow and then she hugs me. Maybe this moment will be the greatest part of my life.

Gua ngerasa bahagia karena setidaknya bisa membuat dia tampak senang dan melupakan kejadian buruk yang belum lama ini terjadi di kehidupan dia. Jika 1 jam dibilang lama, gua sudah cukup bahagia bisa liat dia melupakan sejenak hal yang buruk tersebut meskipun hanya 10 menit saja. Iya 10 menit.

Anjing peliharaan dia mulai menggonggong, tanda gua supaya pulang walaupun menurut gua rasanya kurang adil, gua nungguin dia dari jam 6 sore tapi cuma ketemu kurang dari 10 menit.

"Good Night Good Bye" kata gua sambil berjalan pulang menelusuri sawah dan jalan rusak lagi.

FYI, buat yang nanya Arya kemana ternyata kakak kita yang ganteng ini ketiduran di dalam di parkiran McDonalds. Ganteng bener.

......................................................................................

3 hari yang lalu, gua mendapat kiriman kue dari orang yang gak dikenal. Gua lagi asyik nulis di depan laptop dan dipanggil ama Nyokap, Nyokap bilang ada kiriman kue buat gua yang bikin gua lumayan bingung. Gua biasanya kalau dapet kiriman itu pasti barang (entah hadiah gua nulis atau paket action figure yang gua beli). Gua turun dan di kue itu ada tulisan 'Dari Fauzan Januar' dengan nomor hp yang bersangkutan. Siapa ya Fauzan Januar, apa buyer gua gitu tapi seinget gua mah gak ada yang namanya Fauzan Januar.

Gua telpon ke nomor dia dan ternyata Fauzan Januar adalah Bapak si korban kecelakaan 3 bulan lalu itu. Dia tau alamat gua dari Pak Polisi yang kebetulan waktu itu minta data diri gua kalau keterangan gua diperlukan. Keadaan Bapak Fauzan sekarang sudah lumayan membaik meskipun belum pulih benar.

"Makasih ya Pa, buat pertolongannya waktu itu, sekali lagi terima kasih" kata suara di ujung telpon.

"Iya pak sama-sama. Cepat sembuh ya Pak, salam buat Ibu juga" balas gua.

....................................................................................

"Kue dari siapa Dek?" tanya Nyokap gua sambil motong kue dan membaginya jadi banyak. Jangan kira kue mahal kayak The Harvest gitu ya, ini 'cuma' kue pandan wangi aja.

"Dari fans mah" jawab gua ngasal

"Punya fans tapi kok belum punya pacar lagi" goda Nyokap

"Soalnya belum ada lagi yang bisa meluluhkan hati aku sih Mah" jawab gua sambil tersenyum.

Nyokap gua cuma tersenyum simpul sambil memandang gua, menatap gua yang sedang menikmati kue sambil pasang muka nakal.

Minggu, 04 Juni 2017

Jadi Badut Sepatu

Dulu waktu gua masih SMP, gua suka banget ama video clip Ada Band yang judulnya 'Manusia Bodoh'. Gua anggap keren karena di video itu ada cowok yang nyamar jadi badut buat menghibur orang yang dia suka. Si cewek yang awalnya sedih jadi tersenyum lagi habis liat tingkah polah si badut. Endingnya nyesek karena si cewek malah jadian ama yang lain dan si badut tetaplah jadi badut yang harus terlihat bahagia meskipun hatinya sedang bersedih.

Ini melankolis habis dan cukup membuat gua yang waktu itu masih SMP sedikit menitikkan air mata.

Meskipun gua sekarang tidak sedang berada di posisi si badut tetapi gua jadi sedikit kepo, gimana sih rasanya jadi badut atau kalau gak jadi badut, gimana sih rasanya jadi boneka besar di jalanan?

Kalau kalian lagi main ke Bandung dan jalan-jalan ke daerah pusat kota pasti bakalan sering lihat boneka besar di jalan yang ngajak foto. Bayar seikhlasnya dan kalian sudah bisa berfoto dengan si badut. Ada badut Doraemon, Elsa Frozen, Pikachu sampai Hulk jadi-jadian. Semuanya ada.

Gua kepikiran gimana sih rasanya jadi badut di jalanan? Apa bisa rangkul-rangkul mahasiswi cakep yang ngajak foto gitu? Atau bisa nepok kepala anak kecil gendut yang nakal?

Menjadi klop karena salah satu kenalan gua yang bekerja di sebuah Toko Sepatu di Cihampelas membutuhkan orang buat mengisi peran jadi sebuah boneka sepatu buat mempromosikan toko sepatu tempat dia kerja. Tugasnya adalah bagiin flyer dan welcome setiap ada yang ngajak foto.

"Tapi dari pihak toko, kita gak ada alokasi dana buat bayar kamu jadi boneka sepatu" kata temen gua waktu gua mengutarakan niat gua jadi boneka sepatu.

"Gak usah kok gua cuma murni buat bahan menulis aja" balas gua. Iya seperti gua yang jadi Driver Ojek Online menjadi boneka sepatu pun murni untuk bahan menulis gua bukan buat cari tambahan uang.

Setelah ngatur waktu, akhirnya ketemu juga waktu yang pas dimana gua bisa jadi seorang badut sepatu yang selalu tersenyum dan ramah terhadap anak-anak.

...................................................................

Di hadapan gua sekarang, ada seperangkat kostum badut. Bentuknya lonjong menyerupai sepatu dengan senyum yang mengembang di bibir. Yang menjadi masalah adalah ternyata make ini kostum SUSAH banget. Setelah gua dipakaikan kostum itu, gua harus mencari celah buat ngeluarin tangan gua dan itu susah banget. Butuh waktu yang lama supaya tangan gua bisa keluar dari itu kostum dan yang menjadi masalah kedua adalah ini kostum ternyata lumayan berat + daya pandang yang sangat terbatas. Gua masih bisa menatap kedepan tapi untuk melirik kanan-kiri gua agak kesulitan karena pandangan begitu kabur. Jadi kapanpun gua diserang oleh boneka lain (misal diserang oleh boneka Pikachu atau boneka Golgom yang gak rela karena lahannya gua tempatin) gua hanya bisa pasrah karena tidak memiliki pertahanan apapun.

Ok sip.

Setelah semuanya oke, gua dituntun buat jalan ke Trotoar di daerah Cihampelas (di bawah Teras Cihampelas). Seperti yang gua bilang tadi, job gua adalah membagikan flyer sepatu yang lagi diskon 50% dan menujuk arah toko supaya orang tertarik datang. Terdengar mudah kan? Tapi ternyata gak semudah seperti yang dibayangkan karena selain berat, rasanya panas banget di dalam kostum ini. Gua berasa di sauna dengan tingkat uap tinggi. Gua bisa merasakan semua daleman gua sudah basah karena keringat padahal baru juga mulai. Di saat begini gua jadi teringat dosa. Baru segini doang, gua udah kepayahan. Gimana kalau kita terkena azab api neraka? Ouch

Lagi asyik berdiri saambil sedikit goyang-goyang, ada Ibu gemuk lagi neteng kresek datang menghampiri gua. Dengan polosnya dia nanya gini ke gua "Mas, stand Sozzisnya dimana? Saya mau beli buat anak saya"

KOK SOZZIS SIH? GUA BONEKA SEPATU WOY BUKAN BONEKA SOZZIS. Tapi setelah gua pikir, iya ya gua mirip banget ama Boneka Sozzis karena bentuknya lonjong ke atas dan warnanya coklat. Gua pernah sekali ke Pabrik Sozzis dan boneka Sozzis yang disana MIRIP BANGET ama boneka sepatu yang gua pakai sekarang.

Terlihat ganteng di depan kamera?
Gua sekarang bingung mau jawab apa, mau ngomong juga percuma karena gak akan kedengeran ama si Emak gemuk. Satu-satunya yang bisa gua lakuin adalah kasih kode tangan kalau gua bukan Boneka Sozzis tapi boneka sepatu. Entah dia ngerti apa gak tapi setelah gua kasih kode tangan dia beranjak pergi sambil pasang muka bingung.

Ternyata gak cuma si Ibu yang ngira gua jadi boneka Sozzis karena gak lama setelah si Emak Gemuk beranjak, datang segerombolan anak sekolah (sepertinya lagi Study Tour ke Bandung) menghampiri gua. Salah satu dari mereka bawa kamera di tangan dan sedang bikin VLOG tentang kegiatannya di Bandung.

"Kris, ojo lali videoin karo boneka Sozzis" kata salah seorang anak dengan logat Jawa yang kental.

5 orang sekarang mengelilingi gua, gua kira mau diapain, gak taunya mereka goyang sambil nyanyi lagu legenda "SMS Semua Makan So Nice, SMS  Semua Makan So Nice"

BANGSAT, gua sekarang jadi model video clip lagu "SMS Semua Makan So Nice". Mereka nyanyi sambil angkat tangan ke atas ke bawah dan dengan polosnya gua ikutin gaya mereka biar mereka seneng.

"Suwun Mas So Nice" kata si anak yang megang kamera sambil cekikan. Suwun, suwun jidat koe woy!

20 Menit berada di dalam kostum ini bener-bener bikin gua menderita. Panasnya itu yang gak ketulungan, belum lagi kalau ketemu anak nakal yang nepuk pantat lu terus habis nepuk langsung lari.

Dulu waktu gua kecil, gua hobby banget nepuk pantat si badut terus langsung ngumpet dan rasanya ternyata ini nyebelin banget. Ada yang nepuk pantat lu terus pas lu balik eh yang nepuk udah ngacir kemana. Awas aja itu kalau sampai ketangkep bakalan gua Smack deh.

Beruntungnya gua adalah ketika ada anak gendut yang di tangan kirinya lagi megang es serut nepuk pantat gua. Pas gua tengok dia langsung ngacir tapi kata Mamanya gini "Sini foto dulu ama Om Sepatu"

Aha ini waktunya gua balas dendam. Dia berdiri di depan gua sambil megang es serut karena sudah terlanjur sebel, lutut gua sengaja diarahin ke pantat dia. Agak keras sih gua ngarahinnya.

Dia langsung noleh ke arah gua sambil megang pantatnya, di balik kostum ini gua ketawa ngakak, kikikik.

Selain jailin bocah, gua juga jailin mahasiswi cantik yang kebetulan lagi lewat. Pas mereka lewat melengos di depan gua, gua pura-pura lari ke arah mereka sambil buka tangan lebar-lebar minta dipeluk.

"Kyaaaa...." jerit mereka sambil lari cekikikan menghindari gua. Tapi ini khsus buat yang cantik aja karena kalau yang biasa aja, gua mendadak jadi boneka pendiem lagi *rasis*

............................................................

Hampir satu setengah jam gua jadi badut sepatu dan rasanya luar biasa kliyengan. Gua ngerasa kepala gua sudah nyaris mendidih saking panasnya. Gua menyerah, Give Up sudah gak bisa melanjutkan lagi. Gak apa-apa deh gua dikatain cowok lemah syahwat karena asli gua emang udah gak kuat.

Gua cari tempat sepi buka sebentar ini kostum sepatu dan duduk selonjoran. Semilir angin serasa tiupan angin dari surga. Gak jauh dari gua beristirahat, ada boneka Doraemon yang sama-sama lagi istirahat kayak gua. Dan pas dia buka kepalanya, lu percaya gak ternyata yang ngisi Dorameon itu seorang Kakek tua. Gua kaget banget karena awalnya gua pikir yang ngisi peran jadi boneka Doramemon adalah muda mudi yang lagi cari tambahan uang jajan.

Si Kakek duduk sambil minum dari botol air mineral yang dia selipkan di pinggang. Persis seperti gua, dia juga tampak seperti kecapean. Bedanya adalah kalau gua cuma cowok lemah syahwat yang cuma bisa bertahan selama 1 jam, si Kakek ini sepertinya sudah stay dari tadi Pagi. Gua ngebayang gimana rasanya jadi si Kakek karena ASLI panas banget di dalam kostum. Kalau kaos dalam gua diperes, rasanya udah cukuplah buat ngisi 1 gelas air mineral.

Ok Kek, yang semangat ya. Semoga hari ini dan seterusnya banyak yang ngajak minta foto bareng biar Kakek bisa cepet pulang dan dapat uang banyak.

............................................................................................

Beberapa hari setelah gua jadi nyaru jadi Boneka Sozzis eh boneka sepatu maksudnya, gua bareng temen-temen yang lain lagi jalan-jalan ke Cihampelas. Gua sedikit kepo, si Kakek Doraemon ada gak ya. Gua ajak mereka naik ke atas dan Aha ternyata ada si Doraemon yang sedang manggil-manggil pengunjung supaya mau foto bareng ama dia. Gua gak tau siapa itu yang ngisi karena gua gak bisa lihat dengan jelas siapa yang ngisi ini kostum. Apa si Kakek apa orang lain. Ah, gak apa-apalah yang penting foto ama Doraemon


Aku sayang sekali, Doraemon
Gua kemudian foto bareng Doraemon dan kasih uang secukupnya. Well, gua kadang jadi mikir gini. Menurut gua menjadi badut adalah sebuah pekerjaan yang mulia.

Kok mulia?

Iya gini, itu badut kan kalau diperhatikan pasti mukanya selalu tersenyum dan selalu tampak bahagia tapi kita gak pernah tau gimana perasaan sebenarnya si pemeran badut itu. Apa dia memang bahagia atau malah aslinya bersedih karena banyak masalah? Ya kita gak pernah tahu sih tapi satu hal yang bisa gua dapat ketika menjadi seorang badut adalah tentang bersyukur..

"Bahagia secukupnya, sedih seperlunya, mencintai sewajarnya, tapi bersyukurlah sebanyak-banyaknya"

Gua melambaikan tangan ke Doraemon dan berlalu meninggalkan Doraemon yang masih bersemangat mengajak anak-anak supaya mau berfoto bareng.

Selasa, 09 Mei 2017

UBER

"Ketika kamu sedang memulai usaha, kamu harus seperti sinar laser yang ditembakkan, fokus lurus dan tidak berbelok" 

Itu adalah salah satu obrolan gua dengan Pak Nim, salah satu penumpang UBER gua. Pak Nim adalah Owner dari 'Belah Doeren' salah satu brand kuliner yang menjual berbagai macam olahan duren di Bandung. Brand ini sudah lumayan terkenal dan gua beruntung banget bisa ketemu dengan Pak Nim.

Pak Nim awalnya gak mau ngaku kalau dia adalah Owner dari Belah Doeren tapi berkat 'lobby' gua akhirnya dia mengakui kalau dia adalah pemilik dari Belah Doeren. Pak Nim berbaik hati buat membagikan tips bisnisnya ke gua + gua dikasih salah satu produk Belah Doeren secara cuma-cuma.

Gua suka dengan istilah 'seperti laser yang ditembakkan, lurus dan tidak berbelok'. Saat kita sedang menjalankan bisnis, memang kita harus seperti sinar laser yang ditembakkan. Fokus ke depan, jangan berbelok atau menengok ke belakang. Banyak teman gua yang ketika mencoba menjalankan usaha terlihat tidak fokus, rugi sedikit langsung udahan. Baru mulai usaha dan hasilnya masih rugi langsung beralih ke usaha lain. Dikritik dikit langsung pundung dan ngambek gak mau lanjutin usaha yang dirintis.

Mendapat penumpang seperti Pak Nim ini buat gua adalah sebuah 'bonus' ketika gua nyaru menjadi Driver Uber. Selain bisa mendengar cerita hebat dari penumpang, inspirasi seperti ini yang gua cari untuk semakin membesarkan Clobberin Time. Kalau ketemu dengan orang semodel Pak Nim ini sebenarnya gua juga pengen cerita tentang Clobberin Time tetapi karena gua harus tetap menjaga gimmick gua sebagai 'Mahasiswa semester akhir yang kekurangan dana buat skripsi', gua berusaha keras buat ngerem supaya gak kelepasan cerita, haha.

Belakangan ini, gua semakin jarang nyaru jadi Driver Uber dikarenakan sibuk ngurus Clobberin Time. Orderan belakangan makin menggila dan karena gua sekarang kerja sendiri, repotnya jadi berkali-kali lipat. Biar repot tapi hati tetap fun karena gua mengerjakan sesuatu yang gua suka. Tapi tenang, masih ada banyak cerita yang gua dapat selama gua jadi Driver UBER yang masih bisa gua bagi.

..........................................................................

"Selamat Pagi Bu Celine, Stefanus Sani dari UBER. Mau dijemput dimana?"

Tidak ada balasan, di layar HP gua sih dia naruh titik jemput di daerah Tanjungsari Antapani. Daerah Tanjungsari adalah salah satu daerah rawan buat Ojol (Ojek Online) karena banyak Ojek Pangkalan yang stay disana. Meskipun berbahaya tapi gua sering masuk kesana buat angkut orang dan biasanya gua wanti-wanti dulu sebelum cus.

"Mbak nanti kalau misalnya kita ditanyatain bilang aja kita temen deket ya. Nama lengkap saya Stefanus Sani, masih kuliah, rumah di Sulaksana" kata gua sambil nanya biodata singkat penumpang.

Gua mengikuti Waze dan tepat di titik jemput, seorang cewek keluar dari sebuah rumah. Belum sempat nyapa dan kasih salam, dia langsung teriak "Lu Sani kan?" Gua nengok sebentar dan anjerrr ternyata yang gua jemput adalah (mantan) gebetan gua. Njir!

Gua sulit untuk mendeskripsikan hubungan kita berdua, pokoknya gua sempat sangat dekat dengan dia dan HAMPIR PASTI JADIAN tetapi karena satu hal, hubungan kita gak berlanjut dan setelah itu kita sama-sama jaga jarak. Dari deskripsi singkat tadi, gimana perasaan lu kalau lu jadi gua. Ketemu mantan gebetan dengan posisi lu lagi jadi Driver Ojol?

Ada 1.000 kemungkinan gua ketemu ama dia di tempat yang lebih baik. Di Gereja kek, di Mall kek pas gua lagi rapih lah ini kok ketemunya pas gua belum cuci muka pake BIORE.

Asli gua salah tingkah, mau ngomong gimana juga ya gimana. Kalau gua ngomong "Iya nih, aku jadi Driver UBER cuma buat cari materi menulis". Gua yakin dia gak bakalan percaya kayak beberapa temen gua yang nganggep gua terlalu 'totalitas' buat sekedar nulis aja sampai beneran jadi Driver Ojol. Kalau gua bilang "Iya, ini gua sekarang kerjanya jadi Driver Ojol soalnya belum dapet pekerjaan lagi", ini kesannya kok gua gak ada keren-kerennya.

Celine masih kaget dan disana ada juga Nyokapnya yang gua sudah lumayan kenal. Ya Tuhan gini-gini banget sih cobaan tuh. "Udah setiap hari minta dijemput aja ama Sani, gak usah pake aplikasi nanti bayarnya bulanan aja" kata Tante sambil senyum.

Ok sip, gua sekarang dikenal sebagai Driver Uber yang anter jemput tiap Pagi di mata keluarga si Celine. Celine kemudian minta dianter ke sebuah bank swasta di daerah Sudirman. Dia ternyata kerja disana, kalau denger cerita dia sih sudah lumayan lama juga.

"San, nguber sudah berapa lama? Gak coba kerja yang lain apa" tanya Celine

Gua cuma bisa bergunam di hati, dilema mau jawab apa. "Lu mampir ke blog gua aja Cel, gua tulis semua disana. Itu juga kalau lu belum block FB gua ya" kata gua salah tingkah.

Dan lu tau, kalau gua salah tingkah biasanya gua bakalan makin banyak omong buat menutupi rasa gugup gua. Gua yang biasanya sudah banyak omong bakalan makin banyak omong dan sepanjang perjalanan gua gak berhenti buat ngomong hingga akhirnya dia ngomong sesuatu yang membuat perjalanan ini menjadi hening.

"Waktu itu kenapa sih?"

Satu kalimat ini rasanya sudah seperti plester di mulut gua. Gua gak bisa menjawab pertanyaan ini karena jawabannya bakalan panjang dan GAK BANGET harus dijelasin dengan posisi seperti ini karena yakin gak akan jelas juga kalau gua ngomong karena angin lagi lumayan kencang.

Gua diem aja, pura-pura gak mendengar dan 10 menit kemudian, kita sampai di tujuan. Dari awal gua niat bakalan menggratiskan perjalanan ini karena aneh aja nerima uang dari orang yang kita kenal.

"Simpen aja uangnya buat makan siang tar" kata gua sambil End Trip di layar HP.

"Ih gak mau ah, nanti gua ngerasa punya utang uang ama lu. Di HP gua tulisannya 15rb, gua bayar sesuai argo di HP gua ya"

"Ya udah gini aja, bayarnya pake makan siang bareng aja"

"Dimana Emang"

"Gimana kalau di Sierra yang di Dago?"

"Ah serius?"

"Iya depannya Sierra ada pecel lele enak, Cel" kata gua sambil nyengir

"Ah lu mah"

Gua kemudian pamit dan ternyata dari UBER gua bisa mencairkan hubungan yang gua dengan dia yang sudah lama membeku, hihi.

.......................................................................................

"Jemput saya di Restoran RISES ya depan Pasar Kosambi. Saya tunggu" kata suara di ujung telpon.

Gua sempet merasa aneh, nama di HP gua keluarnya Shanty tapi suara di telpon kok kayak cowok. Yang bikin was-was adalah rating penumpang dia yang agar mengkhawatirkan yaitu 3,7 (FYI, Driver UBER setelah pick up bisa kasih rating ke Customer dan kalau Customernya nyebelin biasanya ratingnya bakalan kecil). Rating 3,7 ini menurut gua agak mengkhawatirkan dan sedikit ngebuat gua kepo kenapa ini orang ratingnya bisa jeblok gitu.

Tapi sebelum gua cari tau, gua sekarang lagi bingung. Emang ada ya Restoran RISES depan Pasar Kosambi? Gua hampir tiap hari lewat Kosambi dan asli gua baru denger ada Restoran Rises depan Pasar Kosambi. Ada juga toko sepatu BATA depan Kosambi mah tapi terlalu jauh dari BATA ke RISES.

Gua sampai nanya ke tukang parkir dimana Restoran Rises dan mereka pun gak ada yang tahu, Apa ini Restoran baru gitu ya yang harus masuk ke dalam gang? Apa selama ini ada restoran tersembunyi dengan cita rasa tinggi tapi gak semua orang tau gitu? Asli keren kalau beneran tapi masalahnya yang gua tau depan Pasar Kosambi cuma ada 1 gang dan gang itu sempit banget, masak iya ada restoran di gang sempit.

Buat memastikan, gua telpon "Pak, ini saya gak nemu Restoran RISES. Restoran RISES yang mana sih Pak?"

"Itu yang jual ayam pake cocolan keju, masak gak tau"

Ayam dicocol keju? Itu mah RICHEESE kali. RICHEESE kok bisa jadi RISES. Kalau Richeese emang ada di depan Kosambi Om!

Gua chat bilang sudah sampai depan RISES dan gak lama kemudian, keluar seorang yang belum bisa teridentikasi jenis kelaminnya dan ngehampirin gua "UBER ya?"

Mulut gua terkunci dan gua sekarang berada dalam posisi sulit. Nama di HP keluar Shanty, suara kayak cowok, dandanan kayak cewek tapi ada jakunnya.

JADI GUA HARUS NGANTERIN WADAM GITU?

Kalau gua bilang kalau gua bukan UBER, plat dan muka gua pasti sudah muncul di HP dia. Tapi kalau nganterin dia, gua sedikit terancam karena rating dia yang jeblok banget artinya dia suka macem-macem nih selama perjalanan.

Masak iya gua harus bilang "Maaf ini saya mendadak mules, saya harus ke toilet dulu. Maaf banget ini". Alasan yang kurang elegan menurut gua tapi belum sempet gua ketemu alasan yang pas dia sudah minta helm ke gua.

Oh My GOD ini asli dilema, dilema banget rasanya. Kenapa gua sue mulu sih, kemaren dapet si Nikita Kong sekarang dapet WADAM. Mending gua nganter si Nikita Kong bolak balik lah ke Baleendah dibanding dapet WADAM gini. Gua rasa ini kharma buat gua karena selalu alesan ke Nikita setiap dia chat gua minta dijemput. Ampun deh Nikki, tolong hentikkan kharma ini. Cobaan ini terlalu berat :(

Pak/Bu Shanty kemudian naik. Dia minta dianter ke sebuah travel di Pasteur katanya dia mau ke Jakarta (mau arisan bareng temen-temennya, mungkin arisan antara Wadam gitu ya). Gua diem aja, gua yang biasanya membuka pembicaraan diem aja sambil komat-kamit berdoa doa Bapa Kami biar aman.

"Sudah lama jadi UBER?" Pa/Bu Shanty memulai pembicaraan.

"Iya lumayan lama dari pertama kali dibuka" jawab gua

"Kamu tau tenpat dugem yang bagus gak? Buat cari hiburan"

"Cobain aja ke Shelter yang di Dago, lagi sering diomongin tuh" jawab gua sok paham padahal seumur-umur belum pernah masu.

"Bukan, bukan yang biasa kayak Shelter. Yang khusus gitu"

Yang khusus? Gua mencoba mencerna maksud pertanyaan ini. Dan GOBLOKNYA, gak lama setelah dia nanya gitu, dia megang paha kiri gua dong.

Jantung gua berdegup kencang, keringet dingin gua sudah nyaris keluar. Gua sama sekali gak punya pertahanan apapun. Tangan kiri gua megang kopling motor, tangan kanan megang stang. Kapanpun dia mau, dia bisa mengambil KEPERJAKAAN gua saat itu juga.

Kenapa sih gua yang sue mulu, kemaren dapet Bigfoot raksasa (baca: Nikita) sekarang dapet Gay Agresive. Kenapa harus PAHA gua yang dipegang Nyet!

Gua pura-pura ambil dompet di celana belakang gua, gua ambil dompet sekaligus menghalau tangan jahanam dia yang sudah megang paha mulus gua. Dan entah dia emang doyan ama gua atau emang agresive, eh dia megang paha gua lagi dong. Gua gak mau kalah, gua pura-pura ambil sesuatu ke kantong belakang buat menghalau tangan dia dari paha gua.

Sebelum dia makin agresive, gua alihin dulu fokus dia. Gua nanya "Tempat dugem fokus tuh yang kayak gimana Pak?"

Tanpa malu-malu dia langsung nyamber "Yang cowok ama cowok juga".

MANA GUA TAU NJING! Kalau gua jawab "Ah gak tau nih Pak", ada kemungkinan dia bakal merongrong paha gua lagi. Tapi kalau gua jawab "Oh iya saya tahu Pak" nanti yang ada gua disuruh nganterin lagi kesana.

Dalam sepersekian detik , gua harus langsung mengambil keputusan. Dibanding paha gua terus dielus dan ada kemungkinan tangan dia merembet ke yang lain, gua bilang "Iya saya tau Pak"

"Dimana"

"Itu di daerah Sudirman, nanti kan nemu Jalan Klenteng. Nah dari sana belok aja, sampai mentok terus belok kiri. Pasti nemu kok"

"Nama tempatnya apa?"

"Aduh saya lupa, kalau gak salah namanya Bintang 88 nama tempatnya" kata gua sok iye. Padahal Bintang 88 adalah nama restoran jualan Nasi Campur di Jalan Klenteng.

Gua selamat, sepanjang perjalanan birahi si Pak/Bu Shanty tampaknya sudah turun. Tangan dia sudah gak aneh-aneh lagi dan fokus ngomongin soal Club Bintang 88 -_-

"Jadi berapa?" sesampainya di Travel tujuan.

Gua klik argo dan muncul biaya 14rb, dia kasih uang 15rb sambil ngomong "Nanti kalau saya ke Bandung, saya chat lagi ya minta dijemput"

".................................."

.............................................................................

Buat yang jadi Driver Ojol di Bandung, entah itu Gojeg, Grab atau UBER pasti tau kalau di Bandung itu banyak sekali Zona Merah yang tidak bisa sembarangan kita lalui. Aturan Zona Merah itu jelas, kita dilarang keras ngambil penumpang di Zona itu karena kalau ketahuan HP kita bisa disita dan baru bisa diambil 1 bulan kemudian (bahkan untuk beberapa daerah ada yang disita selama 2 bulan).

Meskipun banyak Zona Merah, gua sih tetep biasa aja. Gua sering banget ambil penumpang di Zona Merah seperti Setra Dago, Antapani, Arcamanik, Tanjung Sari. Mungkin karena tampilan gua, motor gua yang bukan matic/bebek sampai perangai gua, gak ada orang yang percaya kalau gua ini sedang menjalani profesi sebagai Driver Ojol (meskipun bukan buat serius).

Kalau mau aman sebenarnya kita bikin janjian dulu ama Customer yang dijemput. Tanya dia pake baju apa sampai tanya nama, alamat lengkap, kuliah/kerja dimana jadi kalau misalnya ke gap Opang (Ojeg Pangkalan), gua bisa beralibi kalau gua ini adalah temen/pacar dia.

Tapi yang namanya musibah emang bisa datang kapan aja. Jadi di suatu hari, gua dapet orderan yang minta dijemput di Bandara Husein Sastranegara. Bandara ini termasuk daerah rawan yang gak bisa dijamah. Pernah denger berita kalau ada Driver Ojol yang ditusuk? Nah kejadiannya di Bandara Husein ini.

Gua sebenarnya sudah ragu mau diambil apa gak tapi gua rada gak tega kalau harus cancel ini orderan karena Nadya (customer yang order) nelpon dan bilang kalau dia baru pertama ke Bandung jadi takut kesasar. Sebenarnya kalau mau aman, si Nadya bisa dijemput di deket rel kereta api tapi ya itu si Nadya harus jalan lumayan jauh dulu (zona aman untuk penjemputan ada di seberang rel kereta api). Gua sudah mengarahkan Nadya buat jalan kaki dulu lewatin rel kereta tapi si Nadya malah nyasar lewat Pintu Utama. Kasihan juga kalau gua suruh balik lagi karena lumayan jauh juga sih jaraknya. Kebetulan di deket pintu utama ada Alfamart kan, gua bikin janji ama dia di telpon.

Nadya bilang kalau dia bawa tas abu, pake jilbab ungu. Gua tanya dulu ini itu seperti nama lengkap dia, kuliah dimana, tujuan dimana. Buat jaga-jaga siapa tau gua kegap didalam jadi gua bisa beralibi "Lah ini Nadya kan temen deket saya, masak saya dikira Ojol sih"

Padahal emang Ojol sih, hihihi.

Setelah mengamati keadaan, gua ngeliat seorang cewek berhijab lagi berdiri depan Alfamart. Gua yakin, dia orangnya karena sesuai banget cirinya + dia lagi fokus liatin hp. Gak jauh dari dia ada kumpulan Opang yang lagi nunggu penumpang dan asli gua seperti masuk ke lembah kekelaman. Disaat orang menjauh, gua malah masuk tapi karena sudah terlanjur kita hajar saja.

Gua menghampiri Nadya dan kita berdua sempat kontak mata dan dari gerakan bibir dia, dia benar yang order UBER dan gua benar Drivernya. Tapi gua gak tau gimana, ada 1 orang Opang yang keliatannya curiga dengan Nadya bergerak ke arah kita berdua.

Lu tau kan kalau misalnya Spider-Man dapet serangan mendadak dari lawannya, Spider Sense dia akan bereaksi? UBER Sense gua pun demikian, gua merasakan akan ada sesuatu yang tidak baik yang akan terjadi.

Tanpa pikir panjang, gua langsung jabat tangan si Nadya dan mantapnya si Nadya juga keliatannya sudah tau kalau ada bahaya mengancam, dia langsung salim tangan gua. Persis kayak istri lagi cium tangan suaminya dan setelah dia salim tangan gua, si Opang yang awalnya mau ngehampirin gua mendadak mundur teratur kembali ke markasnya, hihihi.

Di jalan kita berdua ketawa ngakak gak berhenti-henti. Untungnya gua gak reflek narik tangan pas si Nadya salim ke tangan gua.

Coba kalau misalnya si Nadya gak peka, kayaknya gua bakalan habis deh 'dimangsa' disana, hiwww

.....................................................................................

Sama kayak di Jakarta, Bogor, Tangerang beberapa Minggu yang lalu Bandung juga diserbu oleh demo angkot. Dia berbagai macam forum sudah dibuat pengumuman supaya para Driver tiarap dulu alias jangan ngebid dulu sampai keadaan kondusif. Tetapi berhubung gua orangnya cuek, gua sih tetep ngebid di hari itu karena gua yakin bakalan dapet banyak materi bagus buat menulis.

Di rumah Nyokap dan Bokap sudah wanti-wanti gua supaya gua gak usah ngebid dan stay di rumah aja buat ngelakuin kerjaan lain. Dia bilang, dibanding cuma cari bahan nulis tapi nanti bisa celaka mending udah di rumah aja.

Gua gak menghiraukan seruan itu karena jam 9 Pagi, gua cus keluar dan mulai ngebid. Dan mungkin karena para Driver lain tiarap di rumah karena takut ngebid, Pagi itu gua dapet banyak banget orderan. Bahkan saking banyaknya, alarm UBER gua terus berbunyi padahal gua masih dalam posisi ngangkut orang.

Jam 11 siang tetiba Bokap gua nelpon, tumben nih nelpon, ada apaan ya. Gua angkat dan Bokap gua bilang kalau Nyokap nangis terus dari Pagi. Gua nangis kenapa? Dia bilang khawatir dan kangen ama gua, minta gua supaya cepet pulang.

Buat gua ini sebenarnya rada aneh sih karena setiap hari juga gua ketemu karena gua masih tinggal ama orang tua. Emang sih intensitas kita bertemu emang makin jarang karena sejak Pagi gua sudah cus pergi tapi buat gua ini aneh aja.

"Udah kamu pulang sekarang, Mama daritadi nangis terus" kata Bokap di ujung telpon.

Mau pulang juga sudah kagok karena rencananya siangnya gua mau ketemuan ama temen. Tapi karena didesak terus biar pulang akhirnya gua balik badan, cus pulang.

Sesampainya di rumah, gua liat mata Nyokap yang sembab karena nangis. Ternyata beneran dia khawatir karena gua nekad narik disaat keadaan lagi tidak memungkinkan + katanya dia kangen ama gua karena jarang di rumah sekarang.

"Hm, iya Ma. Saya gak pergi lagi hari ini" kata gua sambil peluk Nyokap. Gua membatalkan janji gua hari itu dan lebih memilih stay di rumah nemenin Nyokap yang tampaknya lagi merasa kesepian.

Ternyata, menjadi UBER Driver itu tidak sebatas kamu bisa ketemu banyak orang baru, kamu bisa denger cerita hebat orang, atau buat materi menulis seperti yang gua lakuin. Tetapi ada yang lebih besar dari itu semua yaitu kamu bisa tahu betapa sayangnya Ibu ke diri kamu sendiri :)




Berpose, kikikik
.............................................................................

Cerita UBER gua yang lain, bisa dibaca disini yes (diurut dari pertama kali):

*) http://sanipunyablog.blogspot.co.id/2016/12/jadi-ojeg-online.html
*) http://sanipunyablog.blogspot.co.id/2017/01/1-minggu-jadi-diver-ojek-online-lagi.html 
*) http://sanipunyablog.blogspot.co.id/2017/02/kembali-jadi-driver-ojol-lagi-dan-lagi.html  
*) http://sanipunyablog.blogspot.co.id/2017/02/thanks-from-your-bitch.html 
*) http://sanipunyablog.blogspot.co.id/2017/03/sharefa-om-uber-nasi-uduk-korea.html
*) http://sanipunyablog.blogspot.co.id/2017/03/driver-berdedikasi.html
*) http://sanipunyablog.blogspot.co.id/2017/04/filosofi-uber.html 

..........................................................................

Gua baru bikin akun Instagram pribadi, yang mau follow boleh follow kesini yes: https://www.instagram.com/stefanus_sani/ (tidak disarankan untuk orang yang gemar debat politik & agama, gemar traveling atau foto makanan enak karena seperti blog gua, IG gua bersih dari hal itu semua).

Jumat, 14 April 2017

Ih....Ngeri

Sampai gua menulis postingan ini, Clobberin Time punya 3 Vendor kepercayaan yang gua percaya untuk memproduksi Tees/Hoodie/Cap/Polo Clobberin Time. 

Masing-masing Vendor ada kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Gua sempet coba kerja sama dengan beberapa Vendor lain tapi dari banyak Vendor, menurut gua 3 Vendor ini adalah yang terbaik dari semuanya meskipun tetap saja ada kekurangan.


Kamu punya pasangan/gebetan yang labil, suka PHP atau sering ingkar janji? Rasanya gimana? Nyesek dan jengkel kan? Gua sudah sangat terlatih menghadapi orang dengan kategori ini (labil, PHP, dan suka ingkar janji).

Kenapa? Karena dari semua Vendor yang gua pake, semuanya masuk ke kategori itu semua. Pas awal memulai Clobberin Time, gua sering banget kena PHP. Misalnya, Vendor X bilang kalau orderan bakalan beres hari Rabu. Kalau Vendor sudah bilang gitu, gua bakalan chat ke buyer yang sudah mesen untuk melunasi pembayaran. Dan kenyataannya hari Rabu versi Vendor itu berbeda dengan hari Rabu versi kita.

Hari Rabu Pagi, gua biasanya bakalan chat ke Vendor "Kapan orderan bisa diambil?" dan PASTI ada 1000 alasan. Dari yang lagi sakit, lagi banyak orderan lain, sampai gua pernah dikasih alasan kalau barang gua hilang dicuri maling yang ngejebol atap rumah dia. Ini sungguh alasan yang paling gak masuk akal yang pernah gua denger.

Dari janji hari Rabu eh beresnya hari Selasa, Minggu depannya. Dan selama itu pula, gua harus cari sejuta alasan buat para buyer yang sudah transfer uang. Ketika Clobberin Time belum punya nama seperti sekarang, banyak yang nuduh gua penipu (sudah ditransfer tapi gak dikirim barangnya). Ya gimana mau kirim barangnya, barangnya aja belum gua pegang. Gua sampai kebal dikatain penipu pas di awal karir dulu.

Sisi positifnya adalah ketika gua harus berhadapan dengan orang yang sifatnya kayak para Vendor ini (labil, PHP, suka ingkar janji), gua sudah cukup terlatih untuk tetap tenang dan gak terlalu kaget lagi. Hehehe.

Salah satu Vendor yang sering gua pake (kita kasih inisial Och) pernah berterima kasih ke gua karena gua rutin masukkin orderan kesana. Namanya juga jualan ya pasti ada masa-masa sepinya ya (masa dimana barang nyetok banyak tapi gak ada yang beli). Puji Tuhan, hingga hari ini Clobberin Time masih bisa terus bertahan meskipun katanya daya beli orang lagi rendah. Penjualan tetap stabil dan semua akun Media Sosial Clobberin Time yang dipakai untuk jualan tetap ramai seperti biasa.

Vendor Och ini service-nya lumayan dibanding lain. Dia ngejanjiin 1 Minggu beres (Vendor lain biasanya 2 Minggu baru beres). Walaupun suka PHP dan ingkar tapi ingkarnya gak kebangetan dengan yang lain deh.

Hubungan gua dengan Mbak Och (Owner Vendor) pun terjalin dengan baik. Bahkan, saking baiknya saat dia menikah dari semua orang yang masukkin project ke dia, cuma gua yang diundang ke pernikahan dia.

Tetapi belakangan ini, ada yang gak beres dengan Mbak Och. Selain susah dihubungi, service Mbak Och makin kesini makin buruk. Ngaretnya jadi gak ketulungan sampai bikin gua sedikit stress karena gua juga dikejar-kejar ama buyer yang sudah bayar.

Setiap gua datang ke rumahnya, rumahnya selalu kosong. Rumah Mbak Och ini merangkap sebagai tempat sablon/konveksi dan pas gua intip seolah gak ada kegiatan apapun disana.

Gua jadi lumayan kepikiran juga ini si Mbak Och kenapa. Kenapa gak bisa dihubungi terus kenapa rumahnya jadi sepi gini kayak gak ada kehidupan. Gua tetap mencoba untuk berpikir positif, gua yakin Mbak Och gak mungkin juga kabur bawa uang DP produksi baju gua karena selain jumlahnya yang gak seberapa, gua rasa Mbak Och juga gak akan mempertaruhkan nama baik usahanya deh.

2 hari berselang setelah gua mampir ke rumahnya, gua dapet telpon dari nomor tidak dikenal. Gua angkat dan ternyata yang nelpon adalah adik dari Mbak Och. Dia ngajak gua ketemuan karena mau membicarakan 'sesuatu' yang penting yang katanya gak bisa diceritakan lewat telpon.

Gua jadi sedikit kepo, apa sih yang dimaksud dengan 'sesuatu' itu. Dari nada bicara adik si Mbak Och yang sedikit terbata-bata dan seperti habis terisak, gua rasa 'sesuatu' ini adalah sebuah masalah besar.

Perkiraan gua tidak salah karena besoknya saat gua bertemu dengan adik Mbak Och, gua dapet cerita yang lumayan bikin gua ngeri juga kalau ke WC tengah malam sendirian. Jadi gini, Mbak Och dan suaminya baru saja kena GENDAM, iya GENDAM alias Santet yang biasa kita tonton di film Jurig Indonesia. Gua yang awalnya percaya gak percaya sekarang jadi percaya juga karena menimpa orang yang gua kenal.

Singkatnya gini, jadi sebelum Mbak Och menikah dengan Mas Dhik, ada orang yang ngedeketin si Mbak Och. Yang ngedeketin sih gak tahu diri kalau kata gua. Umurnya sudah hampir 60 tahun dan sudah punya istri dan 5 anak. Ngedeketinnya juga lumayan jor-joran (katanya sering kasih ini itu sampai sering kasih uang segala). Salahnya Mbak Och menurut gua adalah dia merespon si Kakek itu dan nerima semua pemberian dia.

Cowok ya, kalau sudah sering kasih sesuatu terus dia ngomong "Aku gak ngarepin apa-apa kok dari kamu" itu jelas Bullshit karena dia pasti mengharapkan sesuatu yang lebih. Seharusnya sih kalau Mbak Och sudah tau GAK AKAN mungkin jadi ama si Kakek ya harusnya barang pemberian si Kakek jangan diterima. Bener gak? Pelajaran buat kamu kaum hawa, sedikit mawas diri kalau ada orang yang ngedeketin kamu terus suka kasih ini itu atau jangan mencoba manfaatin orang yang lagi ngedeketin kamu karena kalau misal dia jadi sakit hati, kadang orang bisa bertindak di luar batas kewajaran.

Seperti yang diduga. si Kakek gak terima begitu tahu kalau si Mbak Och bakalan nikah dengan orang lain. Awalnya, dia minta semua pemberian dia dikembalikkan (ini asli gak tau malu banget). Setelah gak dikasih, si Kakek kirim orang buat meneror Mbak Och supaya balikkin uang dan barang-barang pemberian dia karena menurut si Kakek itu semua hutang yang harus dibayar. Mbak Och nolak karena pas si Kakek ngasih, dia gak bilang kalau barang pemberian itu hutang yang harus dibayar nantinya.

Setelah teror gagal, si Kakek kemudian pakai cara terakhir yaitu SANTET. Santetnya pun gak kira-kira karena menyerang Mbak Och dan suaminya. Santetnya pun ngeri (maaf kalau rada vulgar bahasanya) karena menyerang kemaluan si Mas Dhik dan Mbak Och. Kemaluan si Mas Dhik dibikin lecet dari dalam (Ouch!!!) terus kemaluan si Mback Och dibikin kayak ditusuk jarum. Walah

"Iya Kak Sani, jadi sekarang Mbak Och dan Mas Dhik udah gak bisa kerja lagi. Banyak project yang terpaksa ditolak karena Mbak Och gak bisa jalan karena perih banget" cerita adik si Mbak Och sambil terisak.

"Iya Mbak gak apa-apa kalau gitu. Lusa saya kesana ya, mau liat kondisi Mbak Och" kata gua

Adik Mbak Och menjanjikan kalau orderan gua bakalan beres lusa. Jadi lusa besok, gua bisa ambil orderan gua sekaligus jenguk Mbak Och. Setidaknya dengan gua datang, gua bisa memberikan dorongan moril dan gua pun bukan type orang yang bakalan marah-marah karena orderan lama banget beresnya (bukan gua banget itu mah).

Hari lusa pun datang. Gua datang ke Tempat produksi sekitar jam 7 Malam. Awalnya janjian jam 5 Sore tetapi kerjaan gua banyak dan gak bisa ditinggal ternyata. Gua janjian dengan adik Mbak Och dan karena gua ngerasa gak enak kalau gua langsung naik ke atas (ke kamar Mbak Och) jadi gua diem dulu di tempat produksi. Adik Mbak Och kebetulan lagi keluar (beli obat pewarna) dan nyuruh gua nunggu sebentar.

Gua duduk di tempat produksi. Suasana sepi banget, gak ada orang padahal biasanya tempat ini selalu ramai dengan pegawai yang sedang mengerjakan orderan. Gua lihat ada beberapa kaos Clobberin Time yang dipajang di sudut ruangan dan di papan tulis ada nama 'Sani' di urutan nomor satu sebagai Customer yang rutin order disini.

Praktis gua gak bisa ngapa-ngapain disini karena mau main HP pun percuma karena sinyalnya yang super bapuk. Mau ikut nyablon juga gak bisa karena alat-alatnya gak ada dan yang bisa gua lakuin cuma diem sambil mainin bolpen di tangan.

Lagi ngelamun tiba-tiba gua denger ada suara orang turun tangga. Di ujung tempat produksi, gua liat Mbak Och lagi berjalan. Tatapannya lurus ke depan kulitnya tampak pucat (mungkin akibat efek sakit). Dari ujung, gua sapa "Mbak Och apa kabar? Sudah sehat sekarang?"

Gak ada jawaban, dia cuma berjalan sebentar seperti mengambil sesuatu kemudian berbalik punggung dan kembali ke tempat dia muncul.

Sombong bener si Mbak Och, gua sapa tapi jangankan balik nyapa noleh badan pun tidak. Padahal kalau kita ketemuan biasanya kita keketawaan bareng karena gua sering ngelucu di depan dia. Gua pikir mungkin kondisi Mbak Och masih gak stabil jadi males buat nyapa atau nyamperin gua. Maklumin aja.

Gua liat ada gitar nganggur di atas meja sablonan, dibanding gak ngapa-ngapain mending main gitar lah. Nyanyiin lagunya Sheila On 7, bae lah suara jelek karena gak ada yang denger ini.

Gua inget banget, saat itu gua lagi nyanyiin lagunya Sheila On 7 yang judulnya Bait Pertama. Bukan nyanyi yang keras cuma nyanyi bisik-bisik karena sadar diri kalau suara fals dan yang bikin ngeri adalah waktu gua lagi nyanyi, gua kayak ngedenger suara ORANG NANGIS. Iya asli, ORANG NANGIS padahal tadi suasana sudah sepi banget.

SE-FALS ITU KAH SUARA GUA SAMPAI PAS GUA NYANYI BIKIN ORANG NANGIS KARENA TELINGANYA BERASA KECUCUK JARUM? Kalau emang gitu, gua ikhlas deh gak akan nyanyi lagi.

Awalnya suaranya samar-samar tapi makin lama suara nangisnya kok makin keras. Dan yang lebih bikin ngeri adalah suara tangisnya tidak lazim. Kalau orang nangis kan biasanya 'huhu...huhu...' ini beda. Gua susah mendeskripsikan gimana suara tangisnya tapi mirip suara tangis Kuntilanak.

Gua langsung diem, simpen gitar dan sok cool. Padahal ditoel dikit juga kayaknya gua bakalan langsung terkencing-kencing. Untungnya gak berapa lama kemudian, adik Mbak Och datang sambil tergesa-gesa.

"Sudah lama Kak Sani? Maaf nih jalanan macet jadi aja terlambat"

"Iya gak apa-apa eh tadi saya ketemu Mbak Och" 

Pas gua ngomong gitu, raut muka dia langsung berubah pucat. Sambil pasang muka penuh ketakutan, dia ngomon gini ke gua "Tapi Mbak Och dari Pagi lagi di-Ruqyah di Rumah Sakit dan pulangnya baru besok Sore"

JADI TADI SIAPA YANG GUA LIAT DAN GUA SAPA, NJING?

Pantesan Mbak Och KW yang tadi mukanya pucat bener terus sombong pula ke gua. Gua terus cerita kalau gua denger suara orang nangis pada awalnya sepi aja. Adik Mbak Och makin shock dan dia cerita yang asli bikin gua ngeri dan yakin deh gak bakalan nutup pintu kamar mandi pas lagi mandi, dia cerita beberapa hari sebelumnya rumahnya emang sering dikirimin gangguan dari si Kakek Laknat (suara orang nangis, dll). Ada satu pegawai yang lagi istirahat, asyik main gitar (gitar yang gua mainin tadi) dan persis kayak gua tetiba dia denger suara orang nangis. Ini orang nyalinya mungkin gede malah nantangin sambil terus nyanyi dengan suara lantang dan lu tau gak besoknya dia ditemui lagi pingsan di atas meja produksi, dengan luka memar di dada dan lengan. Dan itu gitar semua senarnya putus. Aihhh

Gua shock banget denger ceritanya, dari kejadian ini gua percaya kekuatan doa. Gua yakin setiap Pagi Nyokap pasti ngedoain gua, doa Nyokap dan doa gua pribadi ternyata cukup untuk menjaga diri kita dari hal-hal seperti ini.

Setelah mendengar cerita dari Adik Mbak Och, dia kasih pesanan gua dan gua beranjak pulang. Sepanjang perjalanan pulang, asli gua masih ngerasa ngeri gara-gara ketemu Mbak Och KW + denger suara orang nangis tadi.

....................................................................

Jujur, gua merasa kecewa dengan hasil produksi yang dikasih ke gua. Banyak request gua yang gak diturutin terutama dalam hal komposisi warna yang berantakkan. Wajar karena Mbak Och gak bisa turun langsung buat cek hasil produksi jadi hasil pun berantakkan. Gua pun dalam posisi dilema, kalau gua protes kesannya gak enak ya, orang lagi sakit kok ini malah banyak omong. Tapi kalau gua protes, gua jadi gak enak juga ke pelanggan gua yang sudah order. Nama besar Clobberin Time dipertaruhkan disini.

Akhirnya gua memutuskan buat rugi aja. Gua masukkin orderan ini ke Vendor lain dan untuk sementara gua gak bakalan masukkin orderan dulu ke Mbak Och sampai dia benar-benar terlepas dari gangguan Gendam.

2 bulan kemudian, gua berencana buat masukkin orderan ke Mbak Och lagi. Kebetulan orderan lagi ramai dan Vendor gua yang lain lumayan kewalahan buat memenuhi orderan dari gua. Gua sms/telpon gak dibales, nomor yang gua telpon pasti gak bisa dihubungi. Gua telpon ke nomor Adik Mbak Och juga sama aja gak nyambung.

Gua memutuskan buat datang langsung ke rumahnya sekalian menjenguk Mbak Och, siapa tau kondisi dia sudah membaik (meskipun jujur gua lumayan trauma juga ke rumah dia sejak ketemu Mbak Och KW dan suara orang nangis). Sesampainya disana, rumah Mbak Och seperti gak ada kehidupan lagi. Rumahnya gelap dan ditutup tirai. Gua nanya ke Ibu-ibu yang rumahnya depan Mbak Och, pas gua nanya kemana Mbak Och sekeluarga, sambil ketakutan dia bilang "Sudah, sudah jangan nyari Och kesini lagi"

Hah?
............................................................................................

NB: Gua baru bikin akun Instagram pribadi (akhirnya), yang mau follow boleh ke www.instagram.com/stefanus_sani ya. Follow aja, siapa tau jodoh :D

Selasa, 04 April 2017

Untitled

Thanks for the beautiful days you gave to me....

I can know you deeper, I know you are the good woman with high vision....

I will pray all the bestest for you always and I will always pray for your Mama to get full recovery.....

I might be do something that bothers you or I bother your day, I truly apologize for those.....

Don't forget you still owe me 1 ice cream promise

When will you do your promise? 

One more thing I ask is I wanna see you wear that dress that I gave....

Hope you will be happy always....

See you when I see you :)

4 April 2017 @Lucky Square lantai 2 yang sepi dan sunyi seperti biasa



Minggu, 02 April 2017

Filosofi UBER

Banyak temen gua yang nanya ke gua "Lu asli San, cuma buat materi menulis aja sampai beneran jadi Driver Ojek Online?"

"Iya bener. Napa emang" balas gua

"Hm, aneh aja sih"

Sebenarnya gak ada yang aneh dari pertanyaan ini. Jangankan dia, Nyokap ampe Kakak gua juga bingung dengan gua. Ngapain lu jadi Driver Ojol mendingan ngurusin Clobberin Time biar makin maju.

Seperti yang pernah gua tulis di postingan awal gua jadi Driver Ojol, gua harus terjun langsung supaya gua bisa merasakan 'sensasi' jadi Driver Ojol. Imajinasi liar di otak gua rasanya tidak cukup untuk gua membuat cerita karena feel-nya belum gua dapat.

Dari yang awalnya 1 Minggu, geser jadi 2 Minggu eh sekarang malah kebablasan karena ternyata banyak orang yang suka dengan cerita gua menjadi Driver Ojol. Setiap postingan gua pas jadi Driver Ojol, gua liat view nya selalu tinggi, di atas 10.000x klik (apalagi yang judulnya 'Thanks, from your Bitch' dibaca sampai lebih dari 25.000x).

"Lu jadi Driver Ojol pasti buat jadi Driver Modus ya" tanya si Ambu ke gua suatu hari. Ini salah besar karena gua sama sekali gak pernah modus, ngajak penumpang gua jalan atau chat dia duluan ngajak berteman.

Seperti yang sering gua tulis, gua ini bukan type orang yang bakalan memulai chat pertama semisal "Hai, apa kabar?" atau sekedar "Eh ketemu yuk, udah lama kita gak ketemu". Itu bukan gua banget, jangankan ke orang yang baru kenal, ke teman lama gua aja jarang banget (sesekali sih suka tapi jarang banget).

Kalau ditanya penghasilan pun, jujur penghasilan dari UBER mah gak seberapa. Pendapatan gua dari UBER dalam 1 Minggu itu sama seperti gua ngejual 2-3 tees Clobberin Time. Kalau ditanya capek gimana? Ini baru bener, jadi Driver UBER tuh capek banget. Pantat panas karena duduk mulu belum lagi kalau cuaca lagi gak oke, hujan - kering - hujan - kering. Udah mirip kutang yang lagi dijemur.

Satu yang membanggakan dari 'pekerjaan' gua sebagai Driver UBER adalah rating Driver gua yang tinggi (di angka 4.9 dari batas maksimal 5.0). Setiap Customer yang dapetnya gua sering nanya gini "Wah, tinggi sekali ratingnya pasti servicenya bagus nih"

Kalau misalnya kamu order UBER dan sudah sampai ke tujuan kan biasanya muncul rating untuk Driver, kalau service kamu bagus biasanya customer bakalan kasih bintang 5. Kalau customer kasih rating dibawah bintang 5 biasanya rating Driver akan terus turun dan batasnya adalah 4,4. Kalau rating Driver sudah dibawah 4,4 artinya dia bakalan kena suspend dan akunnya tidak akan bisa dipakai lagi.

...................................................................................

Tuing-tuing-tuing, bunyi alarm di HP gua tanda ada orderan masuk. Gua klik dan muncul nama 'Randy' dengan titip jemput di depan Yomart, Jalan Terusan Jakarta. Gua sms buat memastikan titik jemput dan dia konfirmasi kalau benar dia minta dijemput di Yomart.

5 menit kemudian gua sampai disana dan langsung ketemu dengan Randy yang tampak lagi tergesa-gesa. Gak pake banyak speak dia langsung bilang "Kita ke Radio ***** ya. Sekarang, buru-buru nih".

"Ok, kita agak ngebut ya" kata gua

Seperti biasa, di tengah perjalanan gua mulai membuka perjalanan, "Mau siaran ya?"

"Enggak, ini saya ada janji mau ketemu si Raisa. Udah janjian saya, dia sekarang lagi nungguin saya nih"

Gua melirik ke kaca spion, rada gak percaya juga sih. Si Randy ini kalau gua perhatiin gayanya kucel dan berantakkan gini. Rambutnya gak disisir juga dibiarin acak-acakkan. Masak yang kayak gini mau ketemu si Raisa? Tapi jangan menilai orang dari luar juga, siapa tau kucel-kucel gini, dia komposer buat lagu barunya si Raisa.

"Mau ketemu ama Raisa Andriana yang penyanyi itu?" tanya gua

"Iya si Raisa. Yang lagunya Could It Be Love itu loh. Bukan Raisa Kayang yang artis Pantura ya"

Ngakak gua ngedenger Raisa Kayang artis Pantura :D

Jalanan ternyata sedang tidak bersahabat karena macet parah. Si Randy sudah mulai menggerutu di belakang tanda sudah mulai tidak sabar. Terus dia bergunam gini "Duh, takut Raisa marah nih. Gak enak udah bikin dia nunggu"

"Chat aja dulu si Raisa. Bilangin jalanan macet, suruh nunggu sebentar" kata gua

Karena penasaran, gua masih yakin kalau si Randy lagi dikerjain ama temennya yang lagi ngaku-ngaku jadi si Raisa. Pas lampu merah, gua bilang ke Randy mau liat chat Raisa ke dia. Gua ditunjukkan isi chat dia dengan Raisa dan ternyata.....

Ternyata masih banyak orang ***** di dunia ini. Lu tau gak chat yang dimaksud si Randy adalah chat via Official Account LINE Raisa.

Jadi si Randy ganteng ini berteman dengan Raisa lewat OA LINE dan kalau kita berteman via OA kan biasanya kita dikabarin apa saja kegiatan artis yang bersangkutan dan chat itu dikirim secara broadcast ke orang yang berteman dengan OA itu kan?

Dan kerennya (sampai kerennya melebihi kegantengan Baim Wong) si Randy ngira kalau chat dari OA Raisa itu dikirim khusus buat dia.

"Hai, hari ini aku ada di Radio ***** buat mempromosikan single baru aku. Kalian jangan lupa sampai datang ya. Aku tunggu kehadiran kalian" isi chat "Raisa"

Gua gak tau ini si Rendy kebanyakkan makan cilor apa gimana, bisa-bisanya dia ngira kalau chat itu dikirim khusus buat dia. Dan yang bikin gua mesem-mesem sendiri adalah si Randy bales lah chat itu.

"Wah, Raisa sayang lagi di Bandung ya. Aku kesana ya"

"Raisa kok gak dibales? Kamu marah ya ama aku? Pasti aku datang kok"

SETERAH LU AJA DEH.

Gua diem aja, gak mau ngerusak kesenengan dia. Gak berapa lama kemudian, kita sampai ke Radio yang dimaksud dan dengan setengah berlari si Randy masuk ke Radio itu. Gua gak tau dia bakalan diapain disana tapi semoga beneran bisa ketemu Raisa ya vroh!

.......................................................................................

Jam sudah menunjukkan jam 8 Malam, gua sedikit bimbang. Gua ada janji buat ke Kost salah satu temen gua, mau ngomongin project menulis. Gua udah chat dia tapi belum dibales, gua rada ngeri juga ditinggal tidur. Di saat hati bimbang mending langsung ke kost dia atau nunggu dia bales dulu, alarm UBER gua berbunyi. Gua klik dan muncul nama NIKITA. Gua rada trauma liat nama NIKITA (baca postingan gua yang judulnya 'Driver Berdedikasi'). Nikita masih kelas 2 SMA tapi badannya gede banget, sekali tonjok dijamin kita mental deh.

Gua cek nomornya si NIKITA, beda sih ama nomor dia yang sebelumnya. Gua mencoba berpikir positif aja, bisa aja ini Nikita lain. Toh, udah jam 8 Malam gak mungkin juga ketemuan si NIKITA KONG. Gak berapa lama kemudian, gua sms tanya mau jemput dimana dan dia bales 'dijemput di Theater Rumentang Siang di Kosambi". Ok, cus dong gua kesana.

Gak beberapa lama, gua sudah sampai di tujuan dan sms kalau sudah sampai. Belum juga sms itu kekirim, ada rombongan yang keluar masih pake seragam. Dan lu percaya gak, ada si NIKITA KONG disana.

Gua yakin di Malam itu ada puluhan Driver UBER yang sedang beroperasi dan ada pula puluhan Customer yang ada kans buat gua jemput. KENAPA MALAH DAPETNYA SI NIKITA KONG LAGI?

Nikita Kong langsung teriak "Kakak Sani!". Temennya-temennya langsung heboh teriak gini "Kakak, Nikita tiap hari mikirin kakak terus katanya", ada yang nimpalin "Kakak, Nikita katanya pengen ngechat kakak terus tapi gak berani". Mereka ngomong gitu sambil cekikikan dan 'cie-cie'-in gua.

Lu bayangin ya, NIKITA KONG ini gua perkirakan baru berumur 16 tahun dan keliatannya belum pernah dapet Haid pertama dan gua yang umurnya sudah 2++ dicengcengin buat dijodohin ama si Niki. Dibanding jadi pacar, si Niki lebih cocok jadi bodyguard eh maksudnya lebih cocok jadi adik gua sendiri.

Entah kenapa sejak gua SMP, tiap ada yang naksir gua pasti orangnya mirip NIKITA KONG semua. Badannya besar, lenganya besar, pinggulnya besar. GITU AJA TERUS.

Belum pake aba-aba, si Niki langsung naik ke motor dan bikin gua nyaris jatuh nyenggol gerobak mie kocok. Ini orang gak kira-kira, udah badan gede gak ada aba-aba langsung main hajar aja. Pas dia naik temen-temennya langsung teriak 'cie-cie', 'pegangan dong ama kak Sani'.

"Ih apaan sih kalian" kata Niki malu tapi aslinya mau pegangan ke gua.

Semua tukang jualan dari tukang bubur kacang hijau, tukang pempek, tukang odading, dll ngeliatin gua semua. Karena ini terlalu heboh bener. Buat dijemput pulang suasananya berasa udah mau lamaran saking hebohnya.

Satu hal yang gua takutkan adalah kalau Niki minta dianter pulang ke Baleendah lagi karena jarak ke Balendah itu jauh banget sekitar 25 - 30 KM padahal gua sudah janjian harus ketemu ama temen gua kan.

Tapi untungnya Niki gak minta dianter pulang, dia minta dianter ke sebuah tempat di daerah Pasteur.

"Kak Sani, anterin ke Pasteur ya bawah jembatan layang. Aku mau main Dildo" kata si Nikki.

WHAT? MAIN DILDO? Nikki, kamu masih umur 16 tahun dan masa depan kamu masih panjang. Ngapain Main Dildo sih, pikir gua dalam hati. Gua harus nasehatin ke Nikki kalau Main Dildo itu bukan sesuatu yang baik.

"Kamu main Dildo setiap Minggu?" tanya gua.

"Iya kak, 1 Minggu biasanya Nikki 2x main ke DILO" jawab Nikki.

"Oh DILO, DILO yang tempat main game itu?"

"Iya DILO. Emang kakak mikirnya apa?

"Gak usah dibahas Nik" kata gua malu berat. Gembel bener telinga gua, dari DILO naha bisa jadi DILDO.

Niki ternyata seorang Gamers, perlengakapan perang dia komplit bener. Dari mulai Keyboard, Mouse dia bawa sendiri. Dia ngajakkin gua buat main DOTA bareng dia, gua sih iya-iyain aja padahal gua main TETRIS gak pernah tamat.

Sesampainya di tujuan, Nikki turun dan dia beruntung (lagi) karena dapat promo 0 rupiah dari UBER jadi gak usah bayar ke gua. "Kak, nanti kalau Kakak gak sibuk jemput aku lagi bisa ya? Tapi gak usah pake aplikasi ya"

"Iya, kalau kakak gak sibuk pasti kakak jemput" kata gua. Tapi kayaknya sih bakalan sibuk terus nih Nik :) :) :)

......................................................................................

Setelah nganter NIKI KONG, Alarm UBER gua kembali berbunyi. Wih, lumayan gacor juga orderan Malam ini karena datang beruntun tanpa harus menunggu. Gua klik dan muncul nama 'Alya'.

Hm, dari nama sih sudah terlihat bagus. Gua sms dulu dan dia bales minta dijemput di Lembaga Kursus Ariyanti yang letaknya di sebelah Mall Istana Plaza. Ini keliatannya bakalan cantik apalagi setau gua yang les di Ariyanti kebanyakkan cakep-cakep karena disana kursus buat perhotelan, dll.

Sesampainya disana, gua telpon dan konfirmasi kalau gua sudah sampai. Gak lama setelah gua telpon, ada cewek yang menghampiri gua dan aha ternyata orangnya emang manis. Dibilang cantik sih gak terlalu tapi manis dan enak diliat. Tujuan di ke BIP dan dalam perhitungan gua jarak IP ke BIP gak terlalu jauh, kalau mulus paling 10 menit sampai.

"Kadang saya aneh ama UBER. Di depan tempat kursus saya kan suka banyak Driver UBER yang mangkal tapi kok dapetnya malah kamu yang jauh dari sini?" tanya Alya

UBER emang gitu sih. Semakin deket malah gak masuk orderannya karena bisa dianggap orderan fiktif. Kalau kamu ordernya hadap-hadapan dengan Driver yakin deh gak akan dapet, dapetnya ke Driver lain yang jauh.

"Kayak hidup ya. Kadang apa yang kita mau, gak selamanya bisa kita dapat. Pengen dapet yang deket eh dapetnya malah yang jauh" kata Mbak Alya mulai berfilosofi.

"Atau gak kayak gini Mbak Alya, kita sayang ama orang dan kita sudah ngerasa paling deket ama dia, kasih perhatian lebih ke dia tapi akhirnya dia milih orang baru yang sebenarnya jauh dari hidup dia" balas gua dengan berfilosofi juga.

Kita pun tertawa bersama....

Dari obrolan singkat gua dengan Mbak Alya, Alya ini sekarang lagi kursus jurusan perhotelan di Ariyanti. Dia awalnya kursus di jurusan tata boga tapi belakangan pindah ke Perhotelan, alasannya karena gak kuat dengan bawang.

"Iya, saya gak kuat ama bawang. Selalu nangis tiap motong bawang. Kayak cowok aja ya, selalu bikin sedih" kata Alya kembali berfilosofi.

Dari omongan Alya, gua yakin dia sedang menjalani fase move on persis seperti gua. Bedanya adalah gua bisa menyembunyikan perasaan sedih/kecewa/sakit hati gua dengan baik dan yakin semuanya akan kembali baik-baik saja sedangkan Alya butuh seorang 'pendengar' yang baik yang mau mendengar semua keluh kesah dia.

Intinya simple kok Alya, kamu suka ama orang tapi dia gak suka ama kamu. Kalau udah gitu, ya kamu harus terima, gak usah ngeributin soal perjuangan, usaha, pemberian kamu buat dia. Semakin kamu pikirin itu, semakin keras pula usaha kamu buat move on. Kalau dia emang naksir ama kamu, dia gak bakalan bikin kamu harus berusaha keras kok buat dapetin dia.

"Ya udah gini aja Mbak Alya, kalau misal Mbak Alya lagi masak terus harus motong bawang, telpon saya aja. Nanti saya kesana buat motongin bawangnya" kata gua

"Hahaha, bisa aja kamu" balas Alya.

Perjalanan kali ini terasa singkat karena jarak tempuh yang memang tidak terlalu jauh. 10 menit rasanya tidak cukup buat Alya mengeluarkan keluh kesahnya. Ya seperti yang gua bilang tadi, kita berdua memiliki masalah yang sama tetapi yang membedakan adalah bagaimana kita menjalani proses ini.

Seperti bawang yang tadi dikatakan oleh Alya. Awalnya memang bikin dia menangis ketika dipotong tetapi setelah selesai, tangis dia akan berakhir dan dia bisa mulai melanjutkan memasak dengan bawang yang telah diiris itu. Move on pun seperti itu, awalnya menyakitkan dan berat tetapi setelah semuanya dilewati, kita akan baik-baik saja.

Iya baik-baik saja :)

Mejeng di FB orang, hihi