Selasa, 15 Mei 2012
Rasanya gak nge-blog setelah sekian lama itu rasanya seperti balikkan lagi dengan mantan pacar. Masih ada rasa suka sama suka, masih ada gairah yang sama, juga masih ada passion yang lama.
Kalau ditanya kenapa sih gak ada postingan yang baru setelah berbulan-bulan lamanya? Alasannya sebenarnya simple saja.
Gue sedang frustasi.
Ya, frustasi. Tapi frustasi disini bukan karena frutasi gak dapet cowok (eh cewek) dan juga bukan karena frustasi karena banyak hutang di warteg
Tapi frustasi disini lebih disebabkan karena raibnya file-file penting gua termasuk cerita-cerita blog yang belum kelar, termasuk kerjaan, termasuk foto-foto sexy gue -_-
Ini semuanya gara-gara keteledoran gue, nyimpen file.
Ah, D*mn it!
Semua dimulai, gara-gara laptop gue harus segera di-service. Selain udah sering hang, loading-nya juga lama bener. Kayak nungguin kucing mau kawin.
Mau buka yahoo aja lamanya minta ampun, gue yang awalnya udah semangat banget buat ngirim tugas jadi keburu tidak bergairah dan lebih milih nunggu loading sambil nonton FTV. Dan ketika FTV, kelar mata pun sudah mengantuk buat ngirim E-mail.
Dan parahnya itu selalu terulang-ulang, hingga gue nampak seperti pria muda yang tidak produktif dalam menghasilkan 'sesuatu'
Oh, betapa nistanya...
Sesuai saran temen, akhirnya setelah lama berpikir gue mutusin buat bawa ini laptop ke service center.
Niat sih sudah ada tapi yang jadi kendala ada dananya karena gue yakin pasti ini laptop dicari-cari terus kesalahannya. Yang bener juga pasti dianggap rusak, yang rusak makin dirusak-rusakkin biar gue ganti semua onderdilnya.
Benar-benar trik dagang yang briliant
Sebelum semuanya diformat ulang, gue pindahain dulu file-file yang dirasa masih penting dan berguna. File-file gak penting, gue kick semua. Foto-foto sexy gue, gue pindahin semua. Kalau gak dipindahin takut di-copy-paste ama mbak yang jaga disana, hihihi.
Foto gua yang lagi berenang sambil memamerkan perut gua yang berkilau terkena terpaan sinar matahari termasuk foto yang gua simpen baik-baik...
Next,
Setelah basa basi bentar, akhirnya laptop gue harus ditinggal. Dia minta waktu 10 hari buat cek ricek ini laptop dan langsung gue iya-in. Yang penting laptop ini bisa segera normal dan gue bisa kembali menjadi pria yang produktif.
Besoknya, pas gue lagi santai baca komik Dragon Ball, ada telpon masuk. Gue sih ngarep cewek cantik yang salah nelpon, siapa tau kan bisa jadi jodoh gitu, hihihihi
"Hallo, selamat siang" kata suara di ujung telpon yang sialnya cowok
"Ya met siang, dengan siapa ini?" bales gua kurang bergairah karena yang nelpon cowok
"Apa betul ini dengan Ibu Sani?"
Sh*it! Jelas-jelas gua cowok masih dibilang Ibu juga. Dasar kadal. Dilema juga gua harus ngomong apa, kalo diem aja ntar disangka beneran Ibu
"Ya betul, ada apa ya?" bales gue seolah-oleh gak mendengarkan kalau 10 detik yang lalu dia baru manggil gue Ibu
"Jadi gini, kami dari ***** setelah mengecek laptop anda, kami menemukan spare parts yang harus diganti. Dimulai dari hardisk-nya yang kurang optimal, batere yang agak ngedrop. Setelah kami total-total biaya semuanya termasuk biaya pengecekan adalah Rp 2.456.950 belum termasuk PPN. Jadi bagaimana Pak Sani, apakah kami bisa segera melakukan penggantian?
Gue terdesak! Lidah gue terkunci, terkunci gara2 shock perihal dia ngomong total 2jt itu yg belum PPN. Dikira gue lagi beli martabak pake pajak segala. Shock ampe rupiahnya juga disebutin. Gue tetep mencoba cool dan tenang, image harus tetep terjaga.
"Pak, maaf ya. Saya cuma minta diformat ulang, gak minta penggantian ini itu, itu ini. Jadi untuk sementara saya hanya minta format ulang saja. Soal penggantian nanti saja setelah, gampang itu" kata gue cool
Setelah berdebat panjang akhirnya dia menyerah, laptop gue hanya diformat ulang dan tanpa ada penggantian apa-apa. Biayanya pun cukup 88rb saja, hihihihi.
Besoknya gue ambil itu laptop dan sesampainya di rumah langsung gue pindahin semua file-file penting gue yang sebelumnya udah di-back up di hardisk external
Dan ujian sesuangguhnya baru dimulai sekarang. Gue baru sadar kalau gua punya 2 folder.
Folder pertama namanya "Sunny Poenya" dan folder kedua namanya "Sani Punya". Folder "Sunny Poenya" isinya gak penting-penting banget, isinya cuma lagu-lagu band alay kayak Kangen Band, Setia Band, Merpati Band yang gue pun lupa dapet darimana sedangkan folder "Sani Punya" itu adalah isinya kerjaan gua semua selain cerita-cerita buat blog gue ini yang belum selesai.
Detak jantung gue udah berdegup lebih kencang, keringat dingin mulai menetes. Gua lupa, gua itu mindahin folder yang mana. Sambil mulut komat-kamit tetap berdoa tangan gue masuk ke folder yang baru selesai di-copy ulang.
Jeng...Jenggg...Jengggggg
Mampus! Ternyata gue malah MASUKKIN FOLDER "SUNNY POENYA" yang isinya gak mutu itu! Keringet dingin mulai netes, mikirin semua tulisan-tulisan gue yang harus segera masuk, gue masih mencoba berspekulasi buat masuk ke folder-folder yang ada di folder "SUNNY POENYA" itu, hati gue agak tenang ketika liat folder lain dengan tag PENTING. Dan pas gue buka isinya adalah:
Alaynya si Sani itu
Oh, no. Gue pengen nangis. Foto gue yang lagi bergaya alay malah masih tersimpan rapih sedangkan foto-foto gue yang lainnya kehapus.
Rasanya sumpah serapah ini gak akan ada habisnya kalau gue inget kejadian itu...
Cukup lama gue frustasi terutama ada beberapa tulisan gua yang menyimpan data-data riset yang penuh perjuangan buat dapetinnya dan semuanya telah berganti dengan foto gue lagi labil megang sabuk WWE SmackDown!
But, life must go on
Yup, hidup harus tetap berjalan apapun yang terjadi. Gue mulai merintis dari awal lagi, mulai baca-baca lagi buat nambah-nambah referensi.
Mulai nulis-nulis lagi dari awal... Yang biasanya gue ditemenin ama lagu-lagu kesukaan gue yang kebanyakkan lagu-lagu theme song WWE SmackDown kini berubah...
"Bertahan satu CIN------TA... Bertahan satu C.I.N.T.A"
Dan lagu-lagu itu sekarang menemani tiap malam gue... Oh, no...
Kalau ditanya kenapa sih gak ada postingan yang baru setelah berbulan-bulan lamanya? Alasannya sebenarnya simple saja.
Gue sedang frustasi.
Ya, frustasi. Tapi frustasi disini bukan karena frutasi gak dapet cowok (eh cewek) dan juga bukan karena frustasi karena banyak hutang di warteg
Tapi frustasi disini lebih disebabkan karena raibnya file-file penting gua termasuk cerita-cerita blog yang belum kelar, termasuk kerjaan, termasuk foto-foto sexy gue -_-
Ini semuanya gara-gara keteledoran gue, nyimpen file.
Ah, D*mn it!
Semua dimulai, gara-gara laptop gue harus segera di-service. Selain udah sering hang, loading-nya juga lama bener. Kayak nungguin kucing mau kawin.
Mau buka yahoo aja lamanya minta ampun, gue yang awalnya udah semangat banget buat ngirim tugas jadi keburu tidak bergairah dan lebih milih nunggu loading sambil nonton FTV. Dan ketika FTV, kelar mata pun sudah mengantuk buat ngirim E-mail.
Dan parahnya itu selalu terulang-ulang, hingga gue nampak seperti pria muda yang tidak produktif dalam menghasilkan 'sesuatu'
Oh, betapa nistanya...
Sesuai saran temen, akhirnya setelah lama berpikir gue mutusin buat bawa ini laptop ke service center.
Niat sih sudah ada tapi yang jadi kendala ada dananya karena gue yakin pasti ini laptop dicari-cari terus kesalahannya. Yang bener juga pasti dianggap rusak, yang rusak makin dirusak-rusakkin biar gue ganti semua onderdilnya.
Benar-benar trik dagang yang briliant
Sebelum semuanya diformat ulang, gue pindahain dulu file-file yang dirasa masih penting dan berguna. File-file gak penting, gue kick semua. Foto-foto sexy gue, gue pindahin semua. Kalau gak dipindahin takut di-copy-paste ama mbak yang jaga disana, hihihi.
Foto gua yang lagi berenang sambil memamerkan perut gua yang berkilau terkena terpaan sinar matahari termasuk foto yang gua simpen baik-baik...
Next,
Setelah basa basi bentar, akhirnya laptop gue harus ditinggal. Dia minta waktu 10 hari buat cek ricek ini laptop dan langsung gue iya-in. Yang penting laptop ini bisa segera normal dan gue bisa kembali menjadi pria yang produktif.
Besoknya, pas gue lagi santai baca komik Dragon Ball, ada telpon masuk. Gue sih ngarep cewek cantik yang salah nelpon, siapa tau kan bisa jadi jodoh gitu, hihihihi
"Hallo, selamat siang" kata suara di ujung telpon yang sialnya cowok
"Ya met siang, dengan siapa ini?" bales gua kurang bergairah karena yang nelpon cowok
"Apa betul ini dengan Ibu Sani?"
Sh*it! Jelas-jelas gua cowok masih dibilang Ibu juga. Dasar kadal. Dilema juga gua harus ngomong apa, kalo diem aja ntar disangka beneran Ibu
"Ya betul, ada apa ya?" bales gue seolah-oleh gak mendengarkan kalau 10 detik yang lalu dia baru manggil gue Ibu
"Jadi gini, kami dari ***** setelah mengecek laptop anda, kami menemukan spare parts yang harus diganti. Dimulai dari hardisk-nya yang kurang optimal, batere yang agak ngedrop. Setelah kami total-total biaya semuanya termasuk biaya pengecekan adalah Rp 2.456.950 belum termasuk PPN. Jadi bagaimana Pak Sani, apakah kami bisa segera melakukan penggantian?
Gue terdesak! Lidah gue terkunci, terkunci gara2 shock perihal dia ngomong total 2jt itu yg belum PPN. Dikira gue lagi beli martabak pake pajak segala. Shock ampe rupiahnya juga disebutin. Gue tetep mencoba cool dan tenang, image harus tetep terjaga.
"Pak, maaf ya. Saya cuma minta diformat ulang, gak minta penggantian ini itu, itu ini. Jadi untuk sementara saya hanya minta format ulang saja. Soal penggantian nanti saja setelah, gampang itu" kata gue cool
Setelah berdebat panjang akhirnya dia menyerah, laptop gue hanya diformat ulang dan tanpa ada penggantian apa-apa. Biayanya pun cukup 88rb saja, hihihihi.
Besoknya gue ambil itu laptop dan sesampainya di rumah langsung gue pindahin semua file-file penting gue yang sebelumnya udah di-back up di hardisk external
Dan ujian sesuangguhnya baru dimulai sekarang. Gue baru sadar kalau gua punya 2 folder.
Folder pertama namanya "Sunny Poenya" dan folder kedua namanya "Sani Punya". Folder "Sunny Poenya" isinya gak penting-penting banget, isinya cuma lagu-lagu band alay kayak Kangen Band, Setia Band, Merpati Band yang gue pun lupa dapet darimana sedangkan folder "Sani Punya" itu adalah isinya kerjaan gua semua selain cerita-cerita buat blog gue ini yang belum selesai.
Detak jantung gue udah berdegup lebih kencang, keringat dingin mulai menetes. Gua lupa, gua itu mindahin folder yang mana. Sambil mulut komat-kamit tetap berdoa tangan gue masuk ke folder yang baru selesai di-copy ulang.
Jeng...Jenggg...Jengggggg
Mampus! Ternyata gue malah MASUKKIN FOLDER "SUNNY POENYA" yang isinya gak mutu itu! Keringet dingin mulai netes, mikirin semua tulisan-tulisan gue yang harus segera masuk, gue masih mencoba berspekulasi buat masuk ke folder-folder yang ada di folder "SUNNY POENYA" itu, hati gue agak tenang ketika liat folder lain dengan tag PENTING. Dan pas gue buka isinya adalah:
Alaynya si Sani itu
Oh, no. Gue pengen nangis. Foto gue yang lagi bergaya alay malah masih tersimpan rapih sedangkan foto-foto gue yang lainnya kehapus.
Rasanya sumpah serapah ini gak akan ada habisnya kalau gue inget kejadian itu...
Cukup lama gue frustasi terutama ada beberapa tulisan gua yang menyimpan data-data riset yang penuh perjuangan buat dapetinnya dan semuanya telah berganti dengan foto gue lagi labil megang sabuk WWE SmackDown!
But, life must go on
Yup, hidup harus tetap berjalan apapun yang terjadi. Gue mulai merintis dari awal lagi, mulai baca-baca lagi buat nambah-nambah referensi.
Mulai nulis-nulis lagi dari awal... Yang biasanya gue ditemenin ama lagu-lagu kesukaan gue yang kebanyakkan lagu-lagu theme song WWE SmackDown kini berubah...
"Bertahan satu CIN------TA... Bertahan satu C.I.N.T.A"
Dan lagu-lagu itu sekarang menemani tiap malam gue... Oh, no...
Kamis, 26 Januari 2012
Tahun baru, semangat baru, hati baru, jiwa baru. Itu adalah prinsip banyak orang ketika menyambut tahun yang baru.
Dulu, gue juga berpikiran hal yang sama. Pergantian tahun itu adalah moment dimana gue harus mereflesikan diri dan pikiran.
Berpikir soal apa-apa yang sudah gue lakuin dan berpikir juga soal apa-apa aja yang belum gue lakuin.
*sadap*
Ketika tahun berganti, dengan wajah optimis dan hati yang membara gua siap buat menghadapi tahun yang baru ini. Sederet resolusi sudah gue buat dimulai dari:
1. Rajin Belajar
2. Mengurangi nonton sinetron
3. Membantu orang tua
4. Menolong tetangga menjemur pakaian
5. Menolong nenek menyebrang, etc
Kalau gue baca, resolusi gue sih ok banget. Tanggal 1 sampai tanggal 3 Januari, gua masih bersemangat. Tiap langkah kaki dan tiap tindakkan gue semuanya masih terpola dengan baik, rasanya gua siap menaklukan dunia dengan resolusi-resolusi yang telah gue buat.
Tapi belum seminggu, semua resolusi yang sudah disusun hancur berantakkan dan semua berjalan seperti biasa lagi dan seperti 2 tahun belakangan ini, gue lebih memilih bobo manis di kasur buat menyambut tahun baru.
Semua ajakkan hang out, ajakkan barbeque bersama, sampai ajakkan main petasan gue tolak secara halus. Gua lebih memilih tidur manis di ranjang sambil berharap euphoria tahun baru ini cepat berakhir,
Lebih tepatnya, gua itu belajar dari pengalaman. Orang bilang pengalaman itu adalah guru yang sangat berharga. Gua sangat-sangat setuju dengan pernyataan itu.
Dulu waktu gua masih SMA, ada temen yang ngajakkin melewati tahun baru sambil barbeque-an. Dalam bayangan gue, barbeque itu asyik banget. Apalagi kalau gue liat di tivi-tivi pas orang bule lagi barbeque-an keliatannya enak banget. Daging ditusuk pake tusuk yang panjang terus makan sambil dikeliling cewek-cewek berbikini sambil disuapin.
Belum lagi barbeque-nya bisa nambah berulang-ulang. Oh, d*mn! Rasanya hanya orang bego yang bakal nolak ajakkan ini.
Dan meluncurlah gue ke tempat barbeque itu. Satu hari penuh, gue udah sengaja mengosongkan perut, pikiran gue sudah di awing-awang. Gue bakal makan itu barbeque satu tusuk demi satu tusuk. Kalau udah kenyang, gue udah siapin banyak tissue buat dibawa pulang! Oh yeah, baby!
Temen-temen gue udah pada kumpul di kebun belakang temen gue. Temen gue yang punya rumah mulai ngumpulin kayu. Ceritanya biar keliatan makin bertema acaranya, kita bakalan langsung bakar itu barbeque ke kayu yang udah dibakar. Kata temen gue sih, barbeque yang dibakar langsung lebih renyah dibanding digoreng pake panci.
Entah itu betulan atau cuma omongan sok tau.
Ngebayanginnya sih udah keren bener, bakar barbeque langsung dari kayu bakar. Mantap!
Kayu yang dibakar lumayan banyak, api pun jadi membumbung tinggi. Gue berdiri deket selang aer takut ada kebakaran jadi gue bisa berlagak sok hero bantu nyemburin air.
5 menit kemudian datang daging yang mau dibakar. Sialnya si tuan rumah kehabisan daging asap jadi yang kebeli cuma sosis. Prinsipnya, tak ada rotan, akar pun jadi. Dibanding harus makan mie gelas, mending bakar sosis, kata dia.
Ya sudah, dinikmati saja ini sosis. Temen yang lain nyiapin tusuk sate buat nusuk sosis dan waktunya buat ngebakar ini sosis.
Di tangan kiri udah ada satu sosis dan di tangan kanan gue ada satu sosis juga. Maksudnya sih biar praktis gitu, gak usah bolak-balik bakar *alibi*
Tapi?
Ternyata ide buat ngebakar sosis pake kayu bakar bukan ide yang bagus. Pertama, selain apinya yang terlalu besar, panasnya sumpah bener-bener gak ketulungan.
Bayangin lu di posisi gue. Dengan tangan megang tusuk sate yang panjangnya gak seberapa, gue harus berjarak 5 jari dengan kobaran api cuma buat ngebakar ini sosis. Jarak 20 jari aja panasnya udah gak ketulungan, lah ini 5 jari. Yang ada gue jadi siap babi rebus.
Persis seperti orang idiot dengan tangan kanan-kiri memegang sosis, gue malah nampak seperti orang-orangan sawah yang siap dipatuk burung.
Temen gue yang lain gak kehabisan akal, ada yang tusuk satenya diiket di ranting pohon terus diarahin ke kobaran api.
Sumpah, perasaan mau makan aja susah bener.
Idenya sih oke, ngiket itu tusuk sosis ke ranting pohon tapi hasilnya? Failed. Soalnya tusuk satenya kebakar ampe dagingnya jadi arang.
Ampun…
Sambil mikirin ngebakar ini sosis, temen gua ngasih ide buat nyalain petasan dulu. Dia bilang “Mungkin kalau udah nyalain petasan, hati dan pikiran kita bisa tenang buat nyari ide buat ngebakar ini sosis”
Entah karena saking frustasinya temen-temen gue yang lain pada setuju. Mau gak mau gue juga setuju padahal suer, gue udah ngebet banget makan ini sosis.
Buat beli petasan kita patungan, harganya 150rb/buah. Gue baru tau kalau harga petasan semahal itu, gue yang biasanya cuma maen kembang api depan rumah lumayan keder juga liat ini harga petasan.
Dalam bayangan gue, petasan seharga 150rb ini bakal keren banget. Pas dinyalain bakal meledak di udara terus memancarkan api-apinya ke sekelilingnya. Lebih keren lagi, pas dibakar bakalan ada siluet muka gue di udara.
Dahsyat!
Gue jadi orang yang dapet kehormatan buat ngebakar ini mercon. Di tangan gue sekarang ada mercon seharga 150rb. Tangan gue bergetar dan sungguh gak sabar buat nyalain ini mercon.
Gue nyalain api dan it’s show time….
Mercon gue yang bentuknya roket langsung terbang tinggi ke udara. Manuvernya oke juga nih dan gak berapa lama, itu mercon meledak di udara.
“Dhuuuuaaaaaarrrrrrrr”
Gue bengong, temen-temen gue yang lain bengong. Gue sebenarnya jauh lebih bengong, ngeliat itu mercon meledak. Setelah meledak, bakal gimana lagi nih?
Kok cuma gitu doang? Mana effectnya? Mana percikan api yang ngebentuk muka gue? Mana? Mana?
“Udah, cuma gitu doang?” tanya gue shock
“I..i….iyaaaa” jawab temen gue yang gak kalah shock.
Sh*t! Sosis tak matang, mercon pun cuma begitu doang meledaknya.
Dan untuk tahun-tahun berikutnya sampai sekarang, gue labih suka menghabiskan waktu di kamar. Entah itu nonton film, atau hanya sekedar baca komik Doraemon.
So, gimana kalian di tahun baru 2012 ini? Kalau itu ditanyain ke gue, gue melewati pergantian tahun ini dengan ke-kurang-pedean.
Ke-kurang-pedean gua ini disebabkan gara2 mata gue bintitan. Yes, bintitan. Dan image bintitan tuh sungguh gak enak banget.
Image orang-orang yang sudah terpatri dalam ingatan:
*bintitan = tukang ngintip orang*
Padahal sumpah, gue gak pernah ngintip orang. Temen-temen yang ketemu gue dengan kondisi lagi bintitan langsung nge-judge "Nah, ketauan sering ngintip orang mandi, dll"
Gue jadi mikir, kapan gue ngintip? Apa gara-gara gue ngintip kucing kawin di depan rumah gua terus jadi bintitan? Gak elite banget rasanya. Bintitan gara-gara ngintip kucing kawin.
Parahnya, bukan cuma satu, tapi 2 mata gue bintitan. Gue jadi gak pede, gua jadi depresi, memikirkan ini bintit…
Dibanding bikin resolusi buat tahun 2012, gue lebih mikirin gimana caranya buat ngempesin ini bentol. Arghhhhh….
Terlepas dari permasalahan bintit ini, gue harap di tahun 2012 ini, kita semua bisa mendapatkan hal yang lebih baik lagi dari sebelumnya.
Intinya adalah selalu bersyukur, bersyukur, dan bersyukur...
Bagi yang selalu bersyukur dan bersabar, waktu adalah kesempatan dan kebahagiaan…
Bersyukur membuka kekayaan hidup.
Bersyukur mengubah apa yang kita miliki menjadi cukup…
Tetaplah bersyukur…karena hari ini,
kita masih memiliki waktu untuk menikmatinya…
Dulu, gue juga berpikiran hal yang sama. Pergantian tahun itu adalah moment dimana gue harus mereflesikan diri dan pikiran.
Berpikir soal apa-apa yang sudah gue lakuin dan berpikir juga soal apa-apa aja yang belum gue lakuin.
*sadap*
Ketika tahun berganti, dengan wajah optimis dan hati yang membara gua siap buat menghadapi tahun yang baru ini. Sederet resolusi sudah gue buat dimulai dari:
1. Rajin Belajar
2. Mengurangi nonton sinetron
3. Membantu orang tua
4. Menolong tetangga menjemur pakaian
5. Menolong nenek menyebrang, etc
Kalau gue baca, resolusi gue sih ok banget. Tanggal 1 sampai tanggal 3 Januari, gua masih bersemangat. Tiap langkah kaki dan tiap tindakkan gue semuanya masih terpola dengan baik, rasanya gua siap menaklukan dunia dengan resolusi-resolusi yang telah gue buat.
Tapi belum seminggu, semua resolusi yang sudah disusun hancur berantakkan dan semua berjalan seperti biasa lagi dan seperti 2 tahun belakangan ini, gue lebih memilih bobo manis di kasur buat menyambut tahun baru.
Semua ajakkan hang out, ajakkan barbeque bersama, sampai ajakkan main petasan gue tolak secara halus. Gua lebih memilih tidur manis di ranjang sambil berharap euphoria tahun baru ini cepat berakhir,
Lebih tepatnya, gua itu belajar dari pengalaman. Orang bilang pengalaman itu adalah guru yang sangat berharga. Gua sangat-sangat setuju dengan pernyataan itu.
Dulu waktu gua masih SMA, ada temen yang ngajakkin melewati tahun baru sambil barbeque-an. Dalam bayangan gue, barbeque itu asyik banget. Apalagi kalau gue liat di tivi-tivi pas orang bule lagi barbeque-an keliatannya enak banget. Daging ditusuk pake tusuk yang panjang terus makan sambil dikeliling cewek-cewek berbikini sambil disuapin.
Belum lagi barbeque-nya bisa nambah berulang-ulang. Oh, d*mn! Rasanya hanya orang bego yang bakal nolak ajakkan ini.
Dan meluncurlah gue ke tempat barbeque itu. Satu hari penuh, gue udah sengaja mengosongkan perut, pikiran gue sudah di awing-awang. Gue bakal makan itu barbeque satu tusuk demi satu tusuk. Kalau udah kenyang, gue udah siapin banyak tissue buat dibawa pulang! Oh yeah, baby!
Temen-temen gue udah pada kumpul di kebun belakang temen gue. Temen gue yang punya rumah mulai ngumpulin kayu. Ceritanya biar keliatan makin bertema acaranya, kita bakalan langsung bakar itu barbeque ke kayu yang udah dibakar. Kata temen gue sih, barbeque yang dibakar langsung lebih renyah dibanding digoreng pake panci.
Entah itu betulan atau cuma omongan sok tau.
Ngebayanginnya sih udah keren bener, bakar barbeque langsung dari kayu bakar. Mantap!
Kayu yang dibakar lumayan banyak, api pun jadi membumbung tinggi. Gue berdiri deket selang aer takut ada kebakaran jadi gue bisa berlagak sok hero bantu nyemburin air.
5 menit kemudian datang daging yang mau dibakar. Sialnya si tuan rumah kehabisan daging asap jadi yang kebeli cuma sosis. Prinsipnya, tak ada rotan, akar pun jadi. Dibanding harus makan mie gelas, mending bakar sosis, kata dia.
Ya sudah, dinikmati saja ini sosis. Temen yang lain nyiapin tusuk sate buat nusuk sosis dan waktunya buat ngebakar ini sosis.
Di tangan kiri udah ada satu sosis dan di tangan kanan gue ada satu sosis juga. Maksudnya sih biar praktis gitu, gak usah bolak-balik bakar *alibi*
Tapi?
Ternyata ide buat ngebakar sosis pake kayu bakar bukan ide yang bagus. Pertama, selain apinya yang terlalu besar, panasnya sumpah bener-bener gak ketulungan.
Bayangin lu di posisi gue. Dengan tangan megang tusuk sate yang panjangnya gak seberapa, gue harus berjarak 5 jari dengan kobaran api cuma buat ngebakar ini sosis. Jarak 20 jari aja panasnya udah gak ketulungan, lah ini 5 jari. Yang ada gue jadi siap babi rebus.
Persis seperti orang idiot dengan tangan kanan-kiri memegang sosis, gue malah nampak seperti orang-orangan sawah yang siap dipatuk burung.
Temen gue yang lain gak kehabisan akal, ada yang tusuk satenya diiket di ranting pohon terus diarahin ke kobaran api.
Sumpah, perasaan mau makan aja susah bener.
Idenya sih oke, ngiket itu tusuk sosis ke ranting pohon tapi hasilnya? Failed. Soalnya tusuk satenya kebakar ampe dagingnya jadi arang.
Ampun…
Sambil mikirin ngebakar ini sosis, temen gua ngasih ide buat nyalain petasan dulu. Dia bilang “Mungkin kalau udah nyalain petasan, hati dan pikiran kita bisa tenang buat nyari ide buat ngebakar ini sosis”
Entah karena saking frustasinya temen-temen gue yang lain pada setuju. Mau gak mau gue juga setuju padahal suer, gue udah ngebet banget makan ini sosis.
Buat beli petasan kita patungan, harganya 150rb/buah. Gue baru tau kalau harga petasan semahal itu, gue yang biasanya cuma maen kembang api depan rumah lumayan keder juga liat ini harga petasan.
Dalam bayangan gue, petasan seharga 150rb ini bakal keren banget. Pas dinyalain bakal meledak di udara terus memancarkan api-apinya ke sekelilingnya. Lebih keren lagi, pas dibakar bakalan ada siluet muka gue di udara.
Dahsyat!
Gue jadi orang yang dapet kehormatan buat ngebakar ini mercon. Di tangan gue sekarang ada mercon seharga 150rb. Tangan gue bergetar dan sungguh gak sabar buat nyalain ini mercon.
Gue nyalain api dan it’s show time….
Mercon gue yang bentuknya roket langsung terbang tinggi ke udara. Manuvernya oke juga nih dan gak berapa lama, itu mercon meledak di udara.
“Dhuuuuaaaaaarrrrrrrr”
Gue bengong, temen-temen gue yang lain bengong. Gue sebenarnya jauh lebih bengong, ngeliat itu mercon meledak. Setelah meledak, bakal gimana lagi nih?
Kok cuma gitu doang? Mana effectnya? Mana percikan api yang ngebentuk muka gue? Mana? Mana?
“Udah, cuma gitu doang?” tanya gue shock
“I..i….iyaaaa” jawab temen gue yang gak kalah shock.
Sh*t! Sosis tak matang, mercon pun cuma begitu doang meledaknya.
Dan untuk tahun-tahun berikutnya sampai sekarang, gue labih suka menghabiskan waktu di kamar. Entah itu nonton film, atau hanya sekedar baca komik Doraemon.
So, gimana kalian di tahun baru 2012 ini? Kalau itu ditanyain ke gue, gue melewati pergantian tahun ini dengan ke-kurang-pedean.
Ke-kurang-pedean gua ini disebabkan gara2 mata gue bintitan. Yes, bintitan. Dan image bintitan tuh sungguh gak enak banget.
Image orang-orang yang sudah terpatri dalam ingatan:
*bintitan = tukang ngintip orang*
Padahal sumpah, gue gak pernah ngintip orang. Temen-temen yang ketemu gue dengan kondisi lagi bintitan langsung nge-judge "Nah, ketauan sering ngintip orang mandi, dll"
Gue jadi mikir, kapan gue ngintip? Apa gara-gara gue ngintip kucing kawin di depan rumah gua terus jadi bintitan? Gak elite banget rasanya. Bintitan gara-gara ngintip kucing kawin.
Parahnya, bukan cuma satu, tapi 2 mata gue bintitan. Gue jadi gak pede, gua jadi depresi, memikirkan ini bintit…
Dibanding bikin resolusi buat tahun 2012, gue lebih mikirin gimana caranya buat ngempesin ini bentol. Arghhhhh….
Terlepas dari permasalahan bintit ini, gue harap di tahun 2012 ini, kita semua bisa mendapatkan hal yang lebih baik lagi dari sebelumnya.
Intinya adalah selalu bersyukur, bersyukur, dan bersyukur...
Bagi yang selalu bersyukur dan bersabar, waktu adalah kesempatan dan kebahagiaan…
Bersyukur membuka kekayaan hidup.
Bersyukur mengubah apa yang kita miliki menjadi cukup…
Tetaplah bersyukur…karena hari ini,
kita masih memiliki waktu untuk menikmatinya…
Selasa, 15 November 2011
Orang bilang September itu September Ceria. Entah apa yang bikin ceria sampe bulan September dibilang September Ceria.
Kalau September itu ceria, gimana dengan Oktober? Rasanya gue belum pernah denger padanan kata untuk mendampingi bulan Oktober. Oktober Menggemaskan? Oktober Getir? Ah, whatever.
Apapun itu biarlah Oktober berdiri dengan sendiri dengan semestinya tanpa perlu ada padanan kata buat mendampingi.
Bagaimana dengan anda sendiri? Bagaimana dengan bulan Oktober ini? Kalau hal ini ditanyain ke gue, gue bilang bulan ini seperti bulan-bulan biasanya. Bulan dimana gue harus kerja keras, bulan dimana gue harus memenuhi target, dan bulan dimana gue harus (membantu) ngerjain skripsi punya temen-temen gua.
*Hela nafas panjang*
Tapi di bulan Oktober ini, banyak juga hal baru yang gue dapet. Dimulai dengan makan di Burger King.
Yup, Burger King. Itu tuh restoran waralaba dari Amerika yang terkenal karena burgernya yang gendut dan kebetulan belum lama ini gue harus ke Jakarta buat mampir ke Kantor Kompas di Jakarta.
Tapi kok, gak asyik banget ya kalau dateng terus pulang lagi? Kenapa kita coba gak explore Jakarta? Dan gue inget kalau gue punya banyak voucher di Kota ini. Salah satu yang pengen banget gue pake tuh voucher Ocean Park di BSD.
Widih, kayaknya seru banget. Gua membayangkan diri gua hanya pake celana renang berbalut handuk dan berjalan di antara kerumunan wanita yang terpana melihat kemolekan tubuh gua sambil jerat-jerit “Hey cowok, buka dong handuknya”
Tapi karena gua gak mau nunjukkin aurat, jadinya gua urungkan niat suci itu.
Dan setelah urusan di kantor selesai, adalah waktunya buat makan. Dimana? Di Burger King dong. Bayarnya? Pake voucher dong. Apa gak malu? Sudah biasa
Pilihannya menunya banyak banget, jujur gue ampe bingung. Dari pilihan gambarnya juga enak-enak banget kayaknya. Ada yang pake beef, ada yang pake chicken, ada yang pake ini itu.
Well, dibanding kelamaan milih, gua pilih burger yg keliatannya paling gemuk, yang dagingnya hampir meluber. *rakus*
2-3 menit kemudian, pesanan gua selesai dibuat. Sumpah, bentuknya gede banget. Beda banget ama burger gocengan yang biasa gua beli di tukang burger yang biasa nangkring di depan sekolah.
Tangan gua bergetar, tanggal 8 Oktober jam 11 siang lebih 23 menit, detik ke 11 adalah waktu dimana gue makan ini burger buat pertama kali
*Lebay dikit*
Gigitan pertama, ah ini daging asap. Serasa merasuk di dalam mulut, bercampur dengan liur di lidah, dan rasanya susah dideskripsikan bro!
Sesuai namanya, ini burger emang KING. Rasanya emang KING! Besarnya emang KING! Harganya emang KING! Bikin yang makan jadi berasa KING-KONG
Bener-bener rasanya beda banget ama burger gocengan yang biasa lewat di depan rumah gua. Kalau burger gocengan sekali gigit, telen, dan malamnya langsung kena diare.
Next,
Besoknya setelah urusan di Jakarta selesai adalah waktunya leyeh-leyeh di rumah. Ya minimal nonton FTV melihat drama percintaan favorit mbak-mbak pembantu. Iseng-iseng liat jadwal bioskop di Koran dan hey, kenapa gak nonton aja hari ini?
Buat gua menonton itu bukan hanya sekedar masuk bioskop, duduk, ketawa-ketiwi kalau ada adegan lucu atau nutup mata kalau ada adegan porno. Menonton itu lebih dari itu. Taste masing-masing orang pasti berbeda tetapi buat gua pribadi, menonton adalah sesuatu yang ‘sesuatu banget’ deh.
Tapi sayangnya film yang gua incer sudah gak tayang di bioskop-bioskop gede dan yang nayangin tuh cuma bioskop kecil di daerah alun-alun. Itu tuh yang dulu pernah ada gosip kalau di bangkunya sering diselipin jarum suntik HIV. Jadi ilustrasinya, pas kita duduk di kursi bioksop tiba-tiba bokong terasa ada yang menusuk. Pas dicek (katanya) bakalan ada jarum suntikkan tertancap di bokong. Dan di sebelah kursi ada tulisan di kertas “Selamat anda sudah tertusuk. Jarum tadi sudah dilumuri darah penderita HIV, selamat datang di dunia HIV, hahahahaha”
Jujur, pas pertama kali gue denger ini cerita, gua jadi lumayan takut juga. Gua membayangkan diri gua dengan kondisi lagi jalan ama cewek. Berlagak cool, tenang, dan jaim. Terus mempersilahkan si doi duduk, dan ketika giliran gua duduk, tiba-tiba gua langsung jerit kenceng banget “Wadoooooowwwww” yang ngebuat image cool yang sudah gua bangun dari dulu langsung hancur berganti dengan muka gua nahan ompol plus perih di bagian bokong.
Ah…
Kalau boleh sedikit bernostalgia, ini adalah bioskop dimana pertama kali gua datang buat nonton. Gua inget banget, film pertama yang gua tonton bareng nyokap dan kakak adalah Power Rangers. Saat itu gua bener-bener keranjingan nonton aksi para Rangers membantu Gordon melawan kekejaman Rita Repulsa yang hendak menguasai bumi. Go-Go Power Rangers!
Terakhir kali gua nonton di bioskop itu tuh sekitar tahun 2006. Gua nonton karena dapet voucher dan gue inget banget film yang gua tonton tuh Eragon. Yang nonton kurang lebih sekitar 7 orang dan saat itu gak ada sesuatu yang special menurut gua selain kursinya yang reot dan gue namuin bungkus nasi uduk di kursi penonton.
Dan setelah 5 tahun lamanya tidak berkunjung kesini, akhirnya di bulan Oktober ini gua datang buat nonton. Alasannya sih simple karena cuma di bioskop ini doang, film yang gua incer ditayangin. Gua datang sekitar jam 7 malam dan saat itu keadaanya sepi banget.
Gua langsung menuju tempat pembelian tiket dan disapa oleh mbak-mbak muda jelita,
“Mau nonton apa mas?” tanya dia sambil menatap muka gua.
“Nonton Larry Crowne” jawab gua dangan gaya yang menyakinkan. Setelah gue ngomong gitu, dia langsung nunjukkin layar bioskop. Dan parahnya, kursinya masih lowong semua.
“Mbak ini masih lowong semua?” tanya gua cool
“Iya, nanti juga keisi kok”
Sebenarnya gua itu takut, takut kalau yang nonton tuh cuma kita bertiga doang apalagi isu-isunya yang beredar kalau nontonnya cuma bertiga tuh biasanya di dalam studio ada yang “nemenin”. Katanya juga, suasana dalam bioskop bakalan rame banget seolah-oleh semua kursi terisi penuh. Ntar pas tengah pertunjukkan bakalan ada yang nepok pundak lu terus ngomong “Mas, boleh saya minta pop cornnya?”
Kalau lu jawab “boleh”, dia bakalan gak mau jauh dari lu dan ngerasa kalau lu adalah belahan hatinya
Kalau lu jawab “Gak punya”, dia juga gak bakalan mau jauh dari lu dan bakalan ngitil lu ampe lu kasihin pop corn.
Gue jadi bingung deh, jawab boleh salah, jawab gak punya salah. Jadi apa yang harus gue omongin dong?
Gue enyahkan dulu pikiran-pikiran horror kayak gitu. Nonton jam setengah 8 dan masih ada waktu setengah jam buat beli kudapan ringan di luar bioskop.
Woke, kebetulan di depan banyak tukang jualan. Waktunya untuk memilih, pilihan pertama tukang combro, pilihan kedua tukang bandros, pilihan ketiga tukang kue cubit. Buat minumnya cukup es mambo ama air putih.
Ok, setelah kudapan selesai dipersiapkan. Sekarang waktunya buat nonton. Ah, rasanya sudah gak sabar. Nonton film favorit, sambil naikkin kaki di kursi depan yang kosong. Belum lagi sambil makan combro. Gue sudah membayangkan kalau bioskop itu seolah disewa secara private oleh gua sendiri.
Lebih hebat lagi kalau misalkan gua kebelet kencing terus teriak ke operatornya “Woy, gue mau kencing. Tolong di-pause dulu ya ampe gua balik”
Seandainya aja bisa kayak gitu.
Gua duduk di kursi sambil menunggu detik-detik dibukanya pintu theater. Jam sudah menunjukkan pukul 19:25 tapi kok gak ada tanda-tanda pintu bioskop bakal dibuka ya?
Jangan suudzon dulu, siapa tau petugasnya lagi nyiapin karpet merah buat menyambut kedatangan gua, siapa tau kan?
“Mas, yang tadi mesen tiket buat nonton Larry Crowne?” kata mbak penjaga pintu
“Ia mbak, ada apa ya?” kata gue cool
“Maaf mas, filmnya dibatalin soalnya yang nonton cuma bertiga aja. Kalau mau tiketnya dituker buat nonton film Indonesia terbaru. Itu ada yang filmnya Dewi Perssik terbaru, judulnya Pacar Hantu Perawan. Mas, pasti suka deh” kata si mbak genit.
Pacar Hantu Perawan? Gue bengong dengernya. Hantu Perawan bisa punya pacar? Imajinasi luar biasa gua langsung lenyap dalam seketika. Imajinasi gue tentang film Larry Crowne, tentang Tom Hanks dan Julia Roberts langsung berganti dengan imajinasi Dewi Perssik lagi goyang gergaji sambil macarin hantu perawan.
Oh, damn!
“Ya udah deh mbak, mending besok aja saya nontonnya. Saya ambil aja lagi uangnya ya” kata gua sambil berjalan menuju ke loket buat ngambil duit.
Dibanding gua menghabiskan waktu 2 jam buat nonton film gituan, mending pulang. Arrghhhh sialan, gagal deh acara menonton ini. Gua mencak-mencak sambil duduk di tangga depan toko baju, makan combro sambil menggerutu, napa gue dateng ke bioskop ini…
Acara menontonku gagal total berganti jadi makan combro di pinggir jalan….
Well, forget it. Bagaimana dengan anda sendiri? Apakah di bulan Oktober ini, anda mendapat banyak hal baru? Atau anda menggapai keberhasilan? Atau malah menjumpai kegagalan?
Orang bilang, hidup itu bukan permainan Nintendo yang bisa diulang-ulang. Yup, jangan pernah salah langkah dalam menentukan keputusan. Karena langkah pertama akan menentukan akan berada dimana anda di langkah terakhir anda…
Semangat!
Kalau September itu ceria, gimana dengan Oktober? Rasanya gue belum pernah denger padanan kata untuk mendampingi bulan Oktober. Oktober Menggemaskan? Oktober Getir? Ah, whatever.
Apapun itu biarlah Oktober berdiri dengan sendiri dengan semestinya tanpa perlu ada padanan kata buat mendampingi.
Bagaimana dengan anda sendiri? Bagaimana dengan bulan Oktober ini? Kalau hal ini ditanyain ke gue, gue bilang bulan ini seperti bulan-bulan biasanya. Bulan dimana gue harus kerja keras, bulan dimana gue harus memenuhi target, dan bulan dimana gue harus (membantu) ngerjain skripsi punya temen-temen gua.
*Hela nafas panjang*
Tapi di bulan Oktober ini, banyak juga hal baru yang gue dapet. Dimulai dengan makan di Burger King.
Yup, Burger King. Itu tuh restoran waralaba dari Amerika yang terkenal karena burgernya yang gendut dan kebetulan belum lama ini gue harus ke Jakarta buat mampir ke Kantor Kompas di Jakarta.
Tapi kok, gak asyik banget ya kalau dateng terus pulang lagi? Kenapa kita coba gak explore Jakarta? Dan gue inget kalau gue punya banyak voucher di Kota ini. Salah satu yang pengen banget gue pake tuh voucher Ocean Park di BSD.
Widih, kayaknya seru banget. Gua membayangkan diri gua hanya pake celana renang berbalut handuk dan berjalan di antara kerumunan wanita yang terpana melihat kemolekan tubuh gua sambil jerat-jerit “Hey cowok, buka dong handuknya”
Tapi karena gua gak mau nunjukkin aurat, jadinya gua urungkan niat suci itu.
Dan setelah urusan di kantor selesai, adalah waktunya buat makan. Dimana? Di Burger King dong. Bayarnya? Pake voucher dong. Apa gak malu? Sudah biasa
Pilihannya menunya banyak banget, jujur gue ampe bingung. Dari pilihan gambarnya juga enak-enak banget kayaknya. Ada yang pake beef, ada yang pake chicken, ada yang pake ini itu.
Well, dibanding kelamaan milih, gua pilih burger yg keliatannya paling gemuk, yang dagingnya hampir meluber. *rakus*
2-3 menit kemudian, pesanan gua selesai dibuat. Sumpah, bentuknya gede banget. Beda banget ama burger gocengan yang biasa gua beli di tukang burger yang biasa nangkring di depan sekolah.
![]() |
| Mamamia Lezatos |
*Lebay dikit*
Gigitan pertama, ah ini daging asap. Serasa merasuk di dalam mulut, bercampur dengan liur di lidah, dan rasanya susah dideskripsikan bro!
![]() |
| Bergaya cool padahal udah gak tahan icip-icip |
Bener-bener rasanya beda banget ama burger gocengan yang biasa lewat di depan rumah gua. Kalau burger gocengan sekali gigit, telen, dan malamnya langsung kena diare.
Next,
Besoknya setelah urusan di Jakarta selesai adalah waktunya leyeh-leyeh di rumah. Ya minimal nonton FTV melihat drama percintaan favorit mbak-mbak pembantu. Iseng-iseng liat jadwal bioskop di Koran dan hey, kenapa gak nonton aja hari ini?
Buat gua menonton itu bukan hanya sekedar masuk bioskop, duduk, ketawa-ketiwi kalau ada adegan lucu atau nutup mata kalau ada adegan porno. Menonton itu lebih dari itu. Taste masing-masing orang pasti berbeda tetapi buat gua pribadi, menonton adalah sesuatu yang ‘sesuatu banget’ deh.
Tapi sayangnya film yang gua incer sudah gak tayang di bioskop-bioskop gede dan yang nayangin tuh cuma bioskop kecil di daerah alun-alun. Itu tuh yang dulu pernah ada gosip kalau di bangkunya sering diselipin jarum suntik HIV. Jadi ilustrasinya, pas kita duduk di kursi bioksop tiba-tiba bokong terasa ada yang menusuk. Pas dicek (katanya) bakalan ada jarum suntikkan tertancap di bokong. Dan di sebelah kursi ada tulisan di kertas “Selamat anda sudah tertusuk. Jarum tadi sudah dilumuri darah penderita HIV, selamat datang di dunia HIV, hahahahaha”
Jujur, pas pertama kali gue denger ini cerita, gua jadi lumayan takut juga. Gua membayangkan diri gua dengan kondisi lagi jalan ama cewek. Berlagak cool, tenang, dan jaim. Terus mempersilahkan si doi duduk, dan ketika giliran gua duduk, tiba-tiba gua langsung jerit kenceng banget “Wadoooooowwwww” yang ngebuat image cool yang sudah gua bangun dari dulu langsung hancur berganti dengan muka gua nahan ompol plus perih di bagian bokong.
Ah…
Kalau boleh sedikit bernostalgia, ini adalah bioskop dimana pertama kali gua datang buat nonton. Gua inget banget, film pertama yang gua tonton bareng nyokap dan kakak adalah Power Rangers. Saat itu gua bener-bener keranjingan nonton aksi para Rangers membantu Gordon melawan kekejaman Rita Repulsa yang hendak menguasai bumi. Go-Go Power Rangers!
Terakhir kali gua nonton di bioskop itu tuh sekitar tahun 2006. Gua nonton karena dapet voucher dan gue inget banget film yang gua tonton tuh Eragon. Yang nonton kurang lebih sekitar 7 orang dan saat itu gak ada sesuatu yang special menurut gua selain kursinya yang reot dan gue namuin bungkus nasi uduk di kursi penonton.
Dan setelah 5 tahun lamanya tidak berkunjung kesini, akhirnya di bulan Oktober ini gua datang buat nonton. Alasannya sih simple karena cuma di bioskop ini doang, film yang gua incer ditayangin. Gua datang sekitar jam 7 malam dan saat itu keadaanya sepi banget.
Gua langsung menuju tempat pembelian tiket dan disapa oleh mbak-mbak muda jelita,
“Mau nonton apa mas?” tanya dia sambil menatap muka gua.
“Nonton Larry Crowne” jawab gua dangan gaya yang menyakinkan. Setelah gue ngomong gitu, dia langsung nunjukkin layar bioskop. Dan parahnya, kursinya masih lowong semua.
“Mbak ini masih lowong semua?” tanya gua cool
“Iya, nanti juga keisi kok”
Sebenarnya gua itu takut, takut kalau yang nonton tuh cuma kita bertiga doang apalagi isu-isunya yang beredar kalau nontonnya cuma bertiga tuh biasanya di dalam studio ada yang “nemenin”. Katanya juga, suasana dalam bioskop bakalan rame banget seolah-oleh semua kursi terisi penuh. Ntar pas tengah pertunjukkan bakalan ada yang nepok pundak lu terus ngomong “Mas, boleh saya minta pop cornnya?”
Kalau lu jawab “boleh”, dia bakalan gak mau jauh dari lu dan ngerasa kalau lu adalah belahan hatinya
Kalau lu jawab “Gak punya”, dia juga gak bakalan mau jauh dari lu dan bakalan ngitil lu ampe lu kasihin pop corn.
Gue jadi bingung deh, jawab boleh salah, jawab gak punya salah. Jadi apa yang harus gue omongin dong?
Gue enyahkan dulu pikiran-pikiran horror kayak gitu. Nonton jam setengah 8 dan masih ada waktu setengah jam buat beli kudapan ringan di luar bioskop.
Woke, kebetulan di depan banyak tukang jualan. Waktunya untuk memilih, pilihan pertama tukang combro, pilihan kedua tukang bandros, pilihan ketiga tukang kue cubit. Buat minumnya cukup es mambo ama air putih.
Ok, setelah kudapan selesai dipersiapkan. Sekarang waktunya buat nonton. Ah, rasanya sudah gak sabar. Nonton film favorit, sambil naikkin kaki di kursi depan yang kosong. Belum lagi sambil makan combro. Gue sudah membayangkan kalau bioskop itu seolah disewa secara private oleh gua sendiri.
![]() |
| Bioskop kuburan |
Seandainya aja bisa kayak gitu.
Gua duduk di kursi sambil menunggu detik-detik dibukanya pintu theater. Jam sudah menunjukkan pukul 19:25 tapi kok gak ada tanda-tanda pintu bioskop bakal dibuka ya?
Jangan suudzon dulu, siapa tau petugasnya lagi nyiapin karpet merah buat menyambut kedatangan gua, siapa tau kan?
“Mas, yang tadi mesen tiket buat nonton Larry Crowne?” kata mbak penjaga pintu
“Ia mbak, ada apa ya?” kata gue cool
“Maaf mas, filmnya dibatalin soalnya yang nonton cuma bertiga aja. Kalau mau tiketnya dituker buat nonton film Indonesia terbaru. Itu ada yang filmnya Dewi Perssik terbaru, judulnya Pacar Hantu Perawan. Mas, pasti suka deh” kata si mbak genit.
Pacar Hantu Perawan? Gue bengong dengernya. Hantu Perawan bisa punya pacar? Imajinasi luar biasa gua langsung lenyap dalam seketika. Imajinasi gue tentang film Larry Crowne, tentang Tom Hanks dan Julia Roberts langsung berganti dengan imajinasi Dewi Perssik lagi goyang gergaji sambil macarin hantu perawan.
Oh, damn!
“Ya udah deh mbak, mending besok aja saya nontonnya. Saya ambil aja lagi uangnya ya” kata gua sambil berjalan menuju ke loket buat ngambil duit.
Dibanding gua menghabiskan waktu 2 jam buat nonton film gituan, mending pulang. Arrghhhh sialan, gagal deh acara menonton ini. Gua mencak-mencak sambil duduk di tangga depan toko baju, makan combro sambil menggerutu, napa gue dateng ke bioskop ini…
Acara menontonku gagal total berganti jadi makan combro di pinggir jalan….
Well, forget it. Bagaimana dengan anda sendiri? Apakah di bulan Oktober ini, anda mendapat banyak hal baru? Atau anda menggapai keberhasilan? Atau malah menjumpai kegagalan?
Orang bilang, hidup itu bukan permainan Nintendo yang bisa diulang-ulang. Yup, jangan pernah salah langkah dalam menentukan keputusan. Karena langkah pertama akan menentukan akan berada dimana anda di langkah terakhir anda…
Semangat!
Rabu, 28 September 2011
Buat gua pribadi, cukur rambut tuh sebenarnya sebuah dilema buat hidup gua…
Yup, dilema. Buat sebagian orang, bisa dibilang cukur rambut tuh menyenangkan banget. Karena dengan cukur rambut, penampilan kita bisa semakin ok, bisa semakin awesome, bisa semakin kece dan yang paling penting bisa semakin memikat wanita-wanita manja *ngarep*

Sumpah, bukan gue
Tapi di satu sisi lain, buat gua cukur rambut tuh ibaratnya kayak lagi judi sabung ayam. Ada kemungkinan menang dan ada kemungkinan kalah. Atau lebih halusnya, ada kemungkinan hasilnya bagus sesuai harapan tapi ada juga kemungkinan hasilnya jelek.
Dan parahnya, dari 10 kali gua cukur rambut, 9 kali cukur pasti hasilnya JELEK dan gak sesuai harapan. Gua minta model rambut kayak bintang FTV, jadinya malah kayak Dora The Explorer. Gua minta model rambut kayak bintang film Mandarin, hasilnya kayak iket kepala si Naruto. Gua minta dirapihin doang, hasilnya malah kayak gay genit yang haus akan belaian.
Please deh. Entah muka gua yang salah atau emang yang nyukur kurang ahli.
Rasanya hampir semua tukang cukur udah pernah gua cobain. Dari yang murah ampe yang mahal. Dari yang motongnya tante-tante ampe “tante-tante” kemayu juga udah pernah gua cobain.
Dan hasilnya sama, mengecewakan.
Dicukur ama tante-tante tuh sebenarnya paling asyik. Pertama, dia udah pengalaman. Kedua, gua merasakan kelembutan dan sentuhan penuh ‘kasih’ seorang Ibu secara dia sudah uzur.
Tapi, gak enaknya tuh, tante-tante model gini tuh hobbynya ngomong terus dari awal ampe akhir. Semua hal diomongin, dari soal harga beras sampe nanya-nanya soal gossip artis.
“Iya nih, tante juga gak tau mau makan pake apa, kalau harga beras naik terus. Belum lagi harga bawang, harga jahe buat masak. Pusing tante”
“Kalau menurut tante tuh ya, Mayangsari tuh pasti udah guna-guna si Bambang, ampe si Bambang ninggalin si Halimah”
Itu adalah beberapa contoh percakapan antara si tante tukang cukur dan gua. Iya tante, saya tau. Mau si Bambang nikah ama si Mayangsari, mau si Bambang ninggalin si Halimah, mau si Bambang ngebuka warteg pecel lele, yang penting rambut gue selesein dulu potongnya, tante.
Dan bagaimana dengan hasilnya? Mungkin karena kebanyakkan ngomong, hasilnya pun gak jauh beda dari yang lainnya. Failed…
Kalau yang nyukurnya ‘tante’ alias yang setengah mateng tuh hasilnya (lumayan) bagus. Temen gua lebih milih dicukur ama yang model gini. Entah emang doyan atau apa, dia bilang kalau yang nyukurnya ‘tante-tante’ tuh biasanya lebih rapih dan sesuai dengan trend jaman sekarang. Kalau minta dicukur model Korea pasti hasilnya jadi kayak aktor Korea. Beda jauh ama tukang cukur di bawah pohon yang diminta model rambut Korea tapi jadinya malah kayak bebegig sawah.
Gua pernah sekali cukur ama yang model ‘tante-tane’ gini. Gua akuin emang hasilnya bagus, keren, dan rapih. Nyokap gua juga suka. Dan satu lagi, ‘tante-tante’ kayak gini gak banyak omong dan gak banyak nanya. Masalahnya adalah entah kenapa gua berasa merinding banget dari awal dicukur ampe udahan. Belum lagi gerak tangannya yang seolah menggerayangi leher + kepala gua. Sentuhan kulit tangannya membuat gua ngerasa keperjakaan gua telah hilang 18% gara-gara gerayangan sexy itu.
Maka dari semua pilihan tukang cukur yang ada, gua lebih milih cukur yang ada di tempat cukur deket rumah. Harga ekonomis dan dari semua yang gua coba, disini hasilnya lebih baik (sedikit-sedikit-sedikit) dari tempat lain.
Dan berangkatlah gua buat cukur di tempat itu. Di Minggu ini, gua harus keliatan rapih dan klimis karena gua harus berangkat ke Ibu Kota. Rencana awal, datang ke kantor di daerah Palmerah buat nyerahin foto dan dilanjutkan datang ke undangan nikahan temen sekolah gua waktu SMA.
Tapi, masak cuma gitu doang?
Gua inget. Kalau gua punya beberapa voucher di Jakarta yang belum pernah gua pake. Gua buka meja tempat gua biasa nyimpen voucher-voucher. Gua pilah-pilah beberapa voucher yang ada.
Voucher maen golf selama 5 jam jelas gak akan gua pake. Pertama, gua gak bisa maen golf. Kedua, gua gak punya stick golf, punyanya sumpit doang. Ketiga, ehem. Gua takut diburu ama caddy-caddy disana. Hihihihihi
Voucher gratis berkuda juga gak akan gua pake. Pertama, gua iba ngeliatin kudanya didudukkin ama gua. Kedua, gua takut disepak ama kudanya. Ketiga, kuda itu suka buang air sembarangan, takut muncrat ke muka gua. Hihihihi
Dan terakhir, voucer gratis spa juga gak gua ambil. Gua ngeri membayangkan diri gua tidak berbusana, duduk di atas kloset sambil dialiri uap panas dan ngeri membayangkan kalau ada mbak yang ngintip gua yang sedang tidak berbusana ini. Hihihihi
Setelah milih-memilih, voucher yang gua pilih adalah voucher makan plus voucher skin BlackBerry. Voucher yang lain kebanyakkan udah expired dan letaknya jauh dari tempat tujuan gua,
Next,
Sekarang gua sudah berada di tempat cukur. Gua sengaja datang pagi-pagi biar gak usah ngantri.
“Mau model apa?” tanya si tukang cukur
Saat itu gua sama sekali gak ada ide. Plus gua sudah kapok ditanya-tanya kayak gini. Kapok karena hasilnya yang gak sesuai ama apa yang gua omongin. Kalau gua ngomong, minta model rambut kayak si Irfan Bachdim, gua takutnya jadi kayak Captain Tsubasa.
“Hm, yang bagus aja deh mas” kata gua pasrah
“Mau yang kayak gini?” kata dia sambil nunjukkin gambar. Kalau gua liat sih, gambarnya ok banget Model rambutnya juga keren banget.
“Ok, mas” kata gua semangat.
Dan waktunya potong-memotong pun dimulai. Gua komat-kamit doa, sambil berharap hasil cukuran gua hasilnya maksimal. Kalau pun hasilnya gak sesuai harapan, janganlah sejelek ondel-ondel, harapan gua dalam hati.
20 menit kemudian
“Ok, selesai” kata si tukang cukur yang membuyarkan tidur mikro gua. Gak terasa ternyata gua baru bangun dari tidur mikro gua. Sekitar 10 menit gue terlelap.
Gua buka mata dan mulai ngaca, dan hasilnya……
ALLAHU AKBAR, gua pengen ngejerit,
rambut gue kok jadi kayak si TAKESHI GODA a.k.a GIANT di kartun Doraemon? Gua usap-usap rambut gua. Gua deketin muka gua ke cermin dan ternyata gua lebih parah dibanding si TAKESHI GODA, gua malah lebih mirip adiknya si Takeshi Goda alias si JAIKO.
Gua hela nafas panjang, gua pengen jengut rambut si tukang cukur dan teriak “Mengapa, mengapa? Kembalikkan rambutku. Kembalikkan rambutku!” dengan sedikit efek dramatisir.
Ya sudahlah, toh rambut gua gak bisa balik lagi. Sempet terpikir buat beli lem UHU terus nyambungin rambut gua yang udah dipotong. Tapi gua urungkan ide idiot itu.
“Nih mas” kata gua sambil ngasih duit buat bayar
“Makasih ya. Keren tuh rambutnya” kata dia sambil ngasih kembalian.
Entah maksud dia mau ngegoda atau apaan tapi keren darimananya nyet! Gua senyum-senyum seolah gak ada apa-apa tapi sebenarnya ada apa-apa.
Begitu keluar dari tempat cukur rambut, gua langsung lari sambil nutupin rambut JAIKO gua. Jarak tukang cukur ama rumah gua gak jauh-jauh amat.
Sampainya di rumah, gua langsung masuk WC, langsung keramas sambil komat-kamit “cepet panjang, cepet panjang, cepet panjang”
Dan tampaknya beberapa hari ke depan, gua harus make topi buat nyembunyiinn rambut Jaiko gua yang sexy ini….
Oh, D*MN!
Yup, dilema. Buat sebagian orang, bisa dibilang cukur rambut tuh menyenangkan banget. Karena dengan cukur rambut, penampilan kita bisa semakin ok, bisa semakin awesome, bisa semakin kece dan yang paling penting bisa semakin memikat wanita-wanita manja *ngarep*

Sumpah, bukan gue
Tapi di satu sisi lain, buat gua cukur rambut tuh ibaratnya kayak lagi judi sabung ayam. Ada kemungkinan menang dan ada kemungkinan kalah. Atau lebih halusnya, ada kemungkinan hasilnya bagus sesuai harapan tapi ada juga kemungkinan hasilnya jelek.
Dan parahnya, dari 10 kali gua cukur rambut, 9 kali cukur pasti hasilnya JELEK dan gak sesuai harapan. Gua minta model rambut kayak bintang FTV, jadinya malah kayak Dora The Explorer. Gua minta model rambut kayak bintang film Mandarin, hasilnya kayak iket kepala si Naruto. Gua minta dirapihin doang, hasilnya malah kayak gay genit yang haus akan belaian.
Please deh. Entah muka gua yang salah atau emang yang nyukur kurang ahli.
Rasanya hampir semua tukang cukur udah pernah gua cobain. Dari yang murah ampe yang mahal. Dari yang motongnya tante-tante ampe “tante-tante” kemayu juga udah pernah gua cobain.
Dan hasilnya sama, mengecewakan.
Dicukur ama tante-tante tuh sebenarnya paling asyik. Pertama, dia udah pengalaman. Kedua, gua merasakan kelembutan dan sentuhan penuh ‘kasih’ seorang Ibu secara dia sudah uzur.
Tapi, gak enaknya tuh, tante-tante model gini tuh hobbynya ngomong terus dari awal ampe akhir. Semua hal diomongin, dari soal harga beras sampe nanya-nanya soal gossip artis.
“Iya nih, tante juga gak tau mau makan pake apa, kalau harga beras naik terus. Belum lagi harga bawang, harga jahe buat masak. Pusing tante”
“Kalau menurut tante tuh ya, Mayangsari tuh pasti udah guna-guna si Bambang, ampe si Bambang ninggalin si Halimah”
Itu adalah beberapa contoh percakapan antara si tante tukang cukur dan gua. Iya tante, saya tau. Mau si Bambang nikah ama si Mayangsari, mau si Bambang ninggalin si Halimah, mau si Bambang ngebuka warteg pecel lele, yang penting rambut gue selesein dulu potongnya, tante.
Dan bagaimana dengan hasilnya? Mungkin karena kebanyakkan ngomong, hasilnya pun gak jauh beda dari yang lainnya. Failed…
Kalau yang nyukurnya ‘tante’ alias yang setengah mateng tuh hasilnya (lumayan) bagus. Temen gua lebih milih dicukur ama yang model gini. Entah emang doyan atau apa, dia bilang kalau yang nyukurnya ‘tante-tante’ tuh biasanya lebih rapih dan sesuai dengan trend jaman sekarang. Kalau minta dicukur model Korea pasti hasilnya jadi kayak aktor Korea. Beda jauh ama tukang cukur di bawah pohon yang diminta model rambut Korea tapi jadinya malah kayak bebegig sawah.
Gua pernah sekali cukur ama yang model ‘tante-tane’ gini. Gua akuin emang hasilnya bagus, keren, dan rapih. Nyokap gua juga suka. Dan satu lagi, ‘tante-tante’ kayak gini gak banyak omong dan gak banyak nanya. Masalahnya adalah entah kenapa gua berasa merinding banget dari awal dicukur ampe udahan. Belum lagi gerak tangannya yang seolah menggerayangi leher + kepala gua. Sentuhan kulit tangannya membuat gua ngerasa keperjakaan gua telah hilang 18% gara-gara gerayangan sexy itu.
Maka dari semua pilihan tukang cukur yang ada, gua lebih milih cukur yang ada di tempat cukur deket rumah. Harga ekonomis dan dari semua yang gua coba, disini hasilnya lebih baik (sedikit-sedikit-sedikit) dari tempat lain.
Dan berangkatlah gua buat cukur di tempat itu. Di Minggu ini, gua harus keliatan rapih dan klimis karena gua harus berangkat ke Ibu Kota. Rencana awal, datang ke kantor di daerah Palmerah buat nyerahin foto dan dilanjutkan datang ke undangan nikahan temen sekolah gua waktu SMA.
Tapi, masak cuma gitu doang?
Gua inget. Kalau gua punya beberapa voucher di Jakarta yang belum pernah gua pake. Gua buka meja tempat gua biasa nyimpen voucher-voucher. Gua pilah-pilah beberapa voucher yang ada.
Voucher maen golf selama 5 jam jelas gak akan gua pake. Pertama, gua gak bisa maen golf. Kedua, gua gak punya stick golf, punyanya sumpit doang. Ketiga, ehem. Gua takut diburu ama caddy-caddy disana. Hihihihihi
Voucher gratis berkuda juga gak akan gua pake. Pertama, gua iba ngeliatin kudanya didudukkin ama gua. Kedua, gua takut disepak ama kudanya. Ketiga, kuda itu suka buang air sembarangan, takut muncrat ke muka gua. Hihihihi
Dan terakhir, voucer gratis spa juga gak gua ambil. Gua ngeri membayangkan diri gua tidak berbusana, duduk di atas kloset sambil dialiri uap panas dan ngeri membayangkan kalau ada mbak yang ngintip gua yang sedang tidak berbusana ini. Hihihihi
Setelah milih-memilih, voucher yang gua pilih adalah voucher makan plus voucher skin BlackBerry. Voucher yang lain kebanyakkan udah expired dan letaknya jauh dari tempat tujuan gua,
Next,
Sekarang gua sudah berada di tempat cukur. Gua sengaja datang pagi-pagi biar gak usah ngantri.
“Mau model apa?” tanya si tukang cukur
Saat itu gua sama sekali gak ada ide. Plus gua sudah kapok ditanya-tanya kayak gini. Kapok karena hasilnya yang gak sesuai ama apa yang gua omongin. Kalau gua ngomong, minta model rambut kayak si Irfan Bachdim, gua takutnya jadi kayak Captain Tsubasa.
“Hm, yang bagus aja deh mas” kata gua pasrah
“Mau yang kayak gini?” kata dia sambil nunjukkin gambar. Kalau gua liat sih, gambarnya ok banget Model rambutnya juga keren banget.
“Ok, mas” kata gua semangat.
Dan waktunya potong-memotong pun dimulai. Gua komat-kamit doa, sambil berharap hasil cukuran gua hasilnya maksimal. Kalau pun hasilnya gak sesuai harapan, janganlah sejelek ondel-ondel, harapan gua dalam hati.
20 menit kemudian
“Ok, selesai” kata si tukang cukur yang membuyarkan tidur mikro gua. Gak terasa ternyata gua baru bangun dari tidur mikro gua. Sekitar 10 menit gue terlelap.
Gua buka mata dan mulai ngaca, dan hasilnya……
ALLAHU AKBAR, gua pengen ngejerit,
rambut gue kok jadi kayak si TAKESHI GODA a.k.a GIANT di kartun Doraemon? Gua usap-usap rambut gua. Gua deketin muka gua ke cermin dan ternyata gua lebih parah dibanding si TAKESHI GODA, gua malah lebih mirip adiknya si Takeshi Goda alias si JAIKO.
Gua hela nafas panjang, gua pengen jengut rambut si tukang cukur dan teriak “Mengapa, mengapa? Kembalikkan rambutku. Kembalikkan rambutku!” dengan sedikit efek dramatisir.
Ya sudahlah, toh rambut gua gak bisa balik lagi. Sempet terpikir buat beli lem UHU terus nyambungin rambut gua yang udah dipotong. Tapi gua urungkan ide idiot itu.
“Nih mas” kata gua sambil ngasih duit buat bayar
“Makasih ya. Keren tuh rambutnya” kata dia sambil ngasih kembalian.
Entah maksud dia mau ngegoda atau apaan tapi keren darimananya nyet! Gua senyum-senyum seolah gak ada apa-apa tapi sebenarnya ada apa-apa.
Begitu keluar dari tempat cukur rambut, gua langsung lari sambil nutupin rambut JAIKO gua. Jarak tukang cukur ama rumah gua gak jauh-jauh amat.
Sampainya di rumah, gua langsung masuk WC, langsung keramas sambil komat-kamit “cepet panjang, cepet panjang, cepet panjang”
Dan tampaknya beberapa hari ke depan, gua harus make topi buat nyembunyiinn rambut Jaiko gua yang sexy ini….
Oh, D*MN!
Kamis, 15 September 2011
Akhir-akhir ini gua jadi sering ngeband bareng temen gue.
Yup, ngeband. Biar gak jago-jago banget dan gak asik-asik banget tapi buat satu-dua lagu keroncong, gua masih bisa-lah menguasai.
Dulu waktu gua masih SMP, band pertama gua namanya “Phoenix Pegasus”. Kedengerannya sangar kan? Dari namanya aja, orang udah bisa nebak kalau genre band ini bakalan out of box ya minimal bawain lagu-lagu kayak The Beatles, U2, atau The Calling misalnya.
Tapi sayangnya itu pendapat yang salah. Karena lagu-lagu yang band gua bawain, gak jauh dari Peterpen, Sheila On Sepen, dll. Bener kata temen gua yang bilang kalau band gua itu keberatan nama.
Ampun…
Buat gua ngeband itu sebenarnya asyik banget. Asyik dalam artian selain bisa buat menularkan hobby, ngeband tuh salah satu sarana yang paling cocok buat tebar pesona cewek-cewek.
Yo ih, tebar pesona. Gimana sih rasanya kalau band kita misalnya manggung di acara seni sekolah? Selain nama kita terangkat, adik-adik kelas yang manis-manis pun biasanya bakalan kasak-kusuk ngomongin kita. Dan sebagai kakak kelas yang haus akan kasih sayang (?), itulah tujuan yang paling hakiki dari hobby ngeband.
Dari semua posisi di band, posisi vokalis tuh posisi yang menurut gua tuh posisi yang paling megang peranan penting. Contoh, misalnya vokalis utama gua tiba-tiba suaranya hilang atau ada duri ikan nila nyangkut di tenggorokannya. Hancur deh band gua.
Dan, kalau boleh jujur sebenarnya gua tuh ngincer banget posisi vokalis dari dulu. Karena gua ngerasa bakalan keren banget kalau misalnya gua jadi vokalis. Dengan tangan dimasukkan ke kantung celana dan mulut menempel di mic, gua membayangkan diri gua bakal dielu-elukkan oleh orang banyak:
“Sani, Sani, Sani. We Want More, We Want More” teriak banyak orang menyambut band gua.
“Kalian siap? Angkat tangan kalian, angkat kaki kalian, lompattt” teriak gue dari atas panggung
Tapi?
Karena sejak SMP nilai nyanyi gua selalu berkutat di angka 3, 4 dan 5, impian mulia gua itu akhirnya gua kubur dalam-dalam. Dibanding band gua ditinggal penonton dan dilempar air kencing, akhirnya gua ngalah untuk berhenti jadi vokalis.
Tak ada rotan, akar pun jadi. Gitu pribahasa yang gua baca di buku SD.
Kalau jadi vokalis gak bisa, kenapa gak jadi backing vocal aja? Keren gak tuh? Bisa memback-up suara vokalis. Dengan posisi gua yang megang gitar, ditambah gua bernyanyi keliatannya kok keren banget ya?
Buat pemanasan, kita coba dulu beberapa lagu dengan gua menjadi backing vocal, ok mulai:
Vokalis sing: “Kau bilang hatimu aku, tapi nyatanya bukan untuk aku…..”
Backing Vokal (gue maksudnya) sing: “Akuuuu… ku…..ku….ku.”
Vokalis sing: “Dan tak bisa perasaanku berbagi kasih, dengan dirinya, dari cintamu”
Backing Vokal sing: “Mu…mu…mu….”
Kok aneh ya?
Setelah didenger kok lagunya malah jadi gak enak ya? Lagu bagus kok kedengerannya malah jadi jijik gini gara-gara gua ikut nyanyi? Hm, mungkin itu perasaan aja.
Cobain lagu lain, yang berima jazz:
Vokalis sing: “….kau adalah alasan dan jawaban atas semua pertanyaan, yang benar-benar kuinginkan hanyalah kau untuk selalu disini, ada untukku….”
Backing Vocal (uhuk, iya gue): “Nanana, dubidu…dubiduuu (rada dibuat nge-jazz dikit)
Dan hasilnya sama aja. Lagu bagus, gara-gara gua ikut nyanyi jadinya malah kayak lagu dangdut koplo yang biasa dibawain pas hajatan di kampung-kampung.
Fine, mimpi gua buat jadi vokalis (dan backing vocal), sejak detik itu gua kubur dalam-dalam.
Belum lama ini, gua dan temen yang lain ngisi spot di acara undangan temen. Jadi, ada temen deket gua yang nikah dan sebagai hadiah dari kita, kita bakalan nyanyi di undangan dia. Cukup 2 lagu aja, gak usah banyak-banyak.
And it’s show time, waktunya berdendang, gua megang gitar dan temen cewek gua nyanyi. Untung ada temen gua yang main gitarnya jago, jadi setidaknya bisa meng-cover gua kalau gua lupa kuncinya.
Dan yang terpenting, di undangan ini banyak banget cewek manis, lumayan bisa ngeceng dikit, hihihi….
Ok, mulai bernyanyi:
“Maukah kau ‘tuk menjadi pilihanku, menjadi yang terakhir dalam hidupku. Maukah kau ‘tuk menjadi yang pertama, yang s’lalu ada di saat pagiku….”
Gua akuin suara temen gua yang cewek ini, yahud banget. Kalau dia ikut kontes-kontes idol-idolan di tivi, bisa lolos deh. Gua merem melek sambil memetik gitar, tujuannya simple biar keliatannya gua lagi meresapi lagu itu padahal sebenernya gua lagi ngapalin kunci lagu. Takut salah, hihihi…
Tapi, manggung di acara undangan khususnya nikahan ternyata bukan sarana yang tepat buat tebar pesona.
Kenapa?
Karena orang-orang di undangan lebih khusyuk ngantri makananan dibanding dengerin kita nyanyi. Belum lagi muka gue ketutupan ama pot bunga yang berdiri persis di depan gua. Semakin sempurna buat gagalin rencana gua tebar pesona.
Sial…
Selain ngeband, akhir-akhir ini gua lagi suka main layang-layang. Sejak kecil, gua demen banget nerbangin layang-layang. Seperti hal nya memancing, main layang-layang juga membutuhkan kesabaran. Sabar buat nerbangin, sabar agar si layang-layang tetap kokoh di terbang di langit, sabar ngeliatin kalau layang-layang yang gua terbangin diincer ama layang-layang lain.
Waktu belum bisa nerbangin layang-layang, hampir tiap hari gua belajar nerbangin layang-layang. Gak terhitung berapa banyak layang-layang gua yang nyangkut di pohon mangga, pohon kesemek, ampe nyangkut di antene milik orang.
Gua masih inget banget waktu pertama kali gua bisa nerbangin, gua teriak-teriak manggil nyokap yang lagi masak. Nyokap gua buru-buru langsung naik ke genteng dan dengan bangganya gua ngeliatin layang-layang gua yang lagi berlenggak-lenggok anggun di udara.
Di hari gua bisa nerbangin layang-layang, seungguh gak ada keinginan buat nurunin itu layang-layang. Mata gua terus fokus ke udara, ngeliatin layang-layang gua itu. Bahkan ketika hujan terus, gua belum berniat buat nurunin. Yang ada, gua lilitin benangnya di tiang jemuran dan ngebiarin layang-layang itu terbang.
Hasilnya bisa ditebak, layang-layang gua hancur kena air hujan.
Waktu gua masih SD, sebelum nerbangin layang-layang, gua selalu nulis pesan di layang-layang gua itu. Isinya simple “Mohon yang menemukan layang-layang ini, tolong dikembalikkan ke alamat Jln S********A no 25, rt 02/rw 08, ada imbalan menarik”
Sebenarnya kalimat ‘ada imbalan menarik’ hanya retorika belaka atau lebih tepatnya agar yang nemuin layang-layang gua hatinya terenyuh dan berbaik hati buat balikkin ke rumah gua. Tetapi selama gua hidup di dunia ini, belum pernah sekalipun ada orang yang balikkin ke rumah gua buat ngebalikkin layang-layang gua.
Apa perlu gua ganti kalimatnya? Gimana kalau gua tulis “Bagi yang nemu ini layang-layang tapi gak mau ngebalikkin, hati-hati mandul. Kalau gak mau mandul, tolong dibalikkin segera dalam 1 x 24 jam ke alamat yang tertera”
Ok, boleh dicoba juga nih. Hehehehe
Waktu gua masih kecil, gua adalah anak polos seperti anak kebanyakkan. Gua selalu bertanya ke nyokap gua: “Ma, kalau mau ketemu Tuhan bagaimana caranya” Saat itu gua kepengen ketemu Tuhan karena kebelet pengen punya maenan Power Rangers terbaru.
“Tuhan adanya di balik awan. DIA lagi ngejagain kamu, dek” kata nyokap lembut.
Dan gua percaya banget kalau Tuhan itu adanya di balik awan. Dalam pemikiran masa kecil gua, gak mungkin rasanya gua bisa menjangkau awan buat ketemu Tuhan. Pernah kepikiran buat minjem baling-baling bambu milik Doraemon tapi gua juga bingung, gimana caranya buat ketemu si Doraemon.
Gua gak kehabisan akal, gua tulis sebuah doa di layang-layang yang bakal gua terbangin buat menjangkau awan. Gua masih inget dengan jelas isi doa gua yang gua tulis di layang-layang itu, isinya simple: “Tuhan, saya tidak tau bagaimana caranya bertemu dengan-Mu tetapi saya yakin Tuhan selalu mendengar doa saya. Tuhan, saya berdoa agar keluarga saya selalu diberi kesehatan, bisa makan setiap hari, bisa selalu bersama kapanpun juga. Terima kasih Tuhan”
Tuhan selalu menjawab doa dengan cara-Nya sendiri. Sampai gua nulis postingan ini, rasanya doa gua itu masih didengar. Tiap hari gua masih bisa makan, masih sehat, dan yang paling penting sampai sekarang keluarga masih utuh dan selalu bersama.
Dan, entah kenapa, gua pun ingin Tuhan mendengar doa-doa gua yang selama ini selalu gua doakan. Di suatu sore, semua doa-doa yang selalu gua doakan, gua tulis di sebuah layang-layang yang sudah gua kasih buntut biar keliatan keren. Bagian depan layang-layang sudah penuh dengan coretan doa-doa gua. Di bagian belakang, semua perasaan dikecewakan, disakitin, (maaf) dibuang dan perasaan sebaliknya mengecewakan, menyakiti, dan (maaf) membuang, gua tulis semua.
Semua pertanyaan-pertanyaan yang hingga kini belum dijawab dan terjawab, gua juga tulis dengan spidol merah.
Kalau gua perhatiin, layang-layang seharga 300 perak ini malah lebih mirip kanvas lukisan yang penuh dengan coretan. Biar lebih keren, gua hias-hias bentar dan gak lupa gua tambahin buntut.
Awalnya gua juga mau nempel foto gua yang lagi berpose menantang tapi gua urungkan niat suci itu, hahaha.
Ok, waktunya buat nerbangin ini layang-layang.
15 menit kemudian, layang-layang ini sudah kokoh di udara. Berlenggak-lenggok ke kanan kiri dan bermain cantik menghindari sergapan musuh.
Sama sekali gak ada keinginan buat ngadu ini layang-layang karena itu bukan tujuan utama gua saat itu. Tujuan utama gua adalah nerbangin layang-layang ini setinggi mungkin, melewati awan di udara, dan hingga mata ini gak bisa lihat lagi layang-layang itu.
Sedikit demi sedikit layang-layang yang gua terbangkan mulai menjauh dari tatapan gua. Sudah dua gelasan gua sambungin ke layang-layang ini. Jaraknya sudah cukup jauh tetapi gua ngerasa belum puas dan ngerasa belum cukup jauh. Gua sambung dengan gelasan ketiga, gua ulur-ulur lagi dan selama gua nerbangin layang-layang, mungkin ini adalah jarak terjauh yang pernah gua terbangin.
Sambil mengulur benang, di kuping gua sedang mengalun lagu. Gua gak tau ini lagu darimana tapi gua heran ada lagu idol-idolan gini di The Cube punya gua, lagunya kayak gini “Everybody knew you’re a liar, Everybody knew you’re never serious with you love at me…..”
Lagunya lucu, lumayan enak juga, dan bisa bikin pinggul bergoyang ke kanan kiri.
Sekarang layang-layang gua sudah nampak kecil sekali. Walau rasanya masih jauh buat mencapai awan, gua ngerasa sudah cukup puas…
Gua ambil gunting yang gua selipin di kantong, dan sambil berbisik pelan, gua gunting benang yang masih gua melingkar di gelasan yang gua pegang.
Dengan cepat, benang itu langsung terlepas dari tangan gua. 5-10 menit kemudian, layang-layang buntut gua terbang tak terkendali. Melewati banyak awan dan melaju kencang tak terkendali.
Semakin lama, layang-layang itu semakin jauh dari pandangan mata gua. Mata gua sudah gak bisa menjangkau lagi dan sepertinya layang-layang itu telah menembus awan yang tebal.
Dan seperti harapan saya sewaktu masih kecil, saya harap
semua doa-doa dan mimpi-mimpi yang saya tulis itu tetap berarti dan dijawab semua oleh Tuhan. Dan semua perasaan dikecewakan, disakiti, (maaf) dibuang dan perasaan sebaliknya, bisa hilang seperti layang-layang itu yang kini telah hilang dari pandangan mata saya.
Yup, ngeband. Biar gak jago-jago banget dan gak asik-asik banget tapi buat satu-dua lagu keroncong, gua masih bisa-lah menguasai.
Dulu waktu gua masih SMP, band pertama gua namanya “Phoenix Pegasus”. Kedengerannya sangar kan? Dari namanya aja, orang udah bisa nebak kalau genre band ini bakalan out of box ya minimal bawain lagu-lagu kayak The Beatles, U2, atau The Calling misalnya.
Tapi sayangnya itu pendapat yang salah. Karena lagu-lagu yang band gua bawain, gak jauh dari Peterpen, Sheila On Sepen, dll. Bener kata temen gua yang bilang kalau band gua itu keberatan nama.
Ampun…
Buat gua ngeband itu sebenarnya asyik banget. Asyik dalam artian selain bisa buat menularkan hobby, ngeband tuh salah satu sarana yang paling cocok buat tebar pesona cewek-cewek.
Yo ih, tebar pesona. Gimana sih rasanya kalau band kita misalnya manggung di acara seni sekolah? Selain nama kita terangkat, adik-adik kelas yang manis-manis pun biasanya bakalan kasak-kusuk ngomongin kita. Dan sebagai kakak kelas yang haus akan kasih sayang (?), itulah tujuan yang paling hakiki dari hobby ngeband.
Dari semua posisi di band, posisi vokalis tuh posisi yang menurut gua tuh posisi yang paling megang peranan penting. Contoh, misalnya vokalis utama gua tiba-tiba suaranya hilang atau ada duri ikan nila nyangkut di tenggorokannya. Hancur deh band gua.
Dan, kalau boleh jujur sebenarnya gua tuh ngincer banget posisi vokalis dari dulu. Karena gua ngerasa bakalan keren banget kalau misalnya gua jadi vokalis. Dengan tangan dimasukkan ke kantung celana dan mulut menempel di mic, gua membayangkan diri gua bakal dielu-elukkan oleh orang banyak:
“Sani, Sani, Sani. We Want More, We Want More” teriak banyak orang menyambut band gua.
“Kalian siap? Angkat tangan kalian, angkat kaki kalian, lompattt” teriak gue dari atas panggung
Tapi?
Karena sejak SMP nilai nyanyi gua selalu berkutat di angka 3, 4 dan 5, impian mulia gua itu akhirnya gua kubur dalam-dalam. Dibanding band gua ditinggal penonton dan dilempar air kencing, akhirnya gua ngalah untuk berhenti jadi vokalis.
Tak ada rotan, akar pun jadi. Gitu pribahasa yang gua baca di buku SD.
Kalau jadi vokalis gak bisa, kenapa gak jadi backing vocal aja? Keren gak tuh? Bisa memback-up suara vokalis. Dengan posisi gua yang megang gitar, ditambah gua bernyanyi keliatannya kok keren banget ya?
Buat pemanasan, kita coba dulu beberapa lagu dengan gua menjadi backing vocal, ok mulai:
Vokalis sing: “Kau bilang hatimu aku, tapi nyatanya bukan untuk aku…..”
Backing Vokal (gue maksudnya) sing: “Akuuuu… ku…..ku….ku.”
Vokalis sing: “Dan tak bisa perasaanku berbagi kasih, dengan dirinya, dari cintamu”
Backing Vokal sing: “Mu…mu…mu….”
Kok aneh ya?
Setelah didenger kok lagunya malah jadi gak enak ya? Lagu bagus kok kedengerannya malah jadi jijik gini gara-gara gua ikut nyanyi? Hm, mungkin itu perasaan aja.
Cobain lagu lain, yang berima jazz:
Vokalis sing: “….kau adalah alasan dan jawaban atas semua pertanyaan, yang benar-benar kuinginkan hanyalah kau untuk selalu disini, ada untukku….”
Backing Vocal (uhuk, iya gue): “Nanana, dubidu…dubiduuu (rada dibuat nge-jazz dikit)
Dan hasilnya sama aja. Lagu bagus, gara-gara gua ikut nyanyi jadinya malah kayak lagu dangdut koplo yang biasa dibawain pas hajatan di kampung-kampung.
Fine, mimpi gua buat jadi vokalis (dan backing vocal), sejak detik itu gua kubur dalam-dalam.
Belum lama ini, gua dan temen yang lain ngisi spot di acara undangan temen. Jadi, ada temen deket gua yang nikah dan sebagai hadiah dari kita, kita bakalan nyanyi di undangan dia. Cukup 2 lagu aja, gak usah banyak-banyak.
And it’s show time, waktunya berdendang, gua megang gitar dan temen cewek gua nyanyi. Untung ada temen gua yang main gitarnya jago, jadi setidaknya bisa meng-cover gua kalau gua lupa kuncinya.
Dan yang terpenting, di undangan ini banyak banget cewek manis, lumayan bisa ngeceng dikit, hihihi….
Ok, mulai bernyanyi:
“Maukah kau ‘tuk menjadi pilihanku, menjadi yang terakhir dalam hidupku. Maukah kau ‘tuk menjadi yang pertama, yang s’lalu ada di saat pagiku….”
Gua akuin suara temen gua yang cewek ini, yahud banget. Kalau dia ikut kontes-kontes idol-idolan di tivi, bisa lolos deh. Gua merem melek sambil memetik gitar, tujuannya simple biar keliatannya gua lagi meresapi lagu itu padahal sebenernya gua lagi ngapalin kunci lagu. Takut salah, hihihi…
Tapi, manggung di acara undangan khususnya nikahan ternyata bukan sarana yang tepat buat tebar pesona.
Kenapa?
Karena orang-orang di undangan lebih khusyuk ngantri makananan dibanding dengerin kita nyanyi. Belum lagi muka gue ketutupan ama pot bunga yang berdiri persis di depan gua. Semakin sempurna buat gagalin rencana gua tebar pesona.
Sial…
Selain ngeband, akhir-akhir ini gua lagi suka main layang-layang. Sejak kecil, gua demen banget nerbangin layang-layang. Seperti hal nya memancing, main layang-layang juga membutuhkan kesabaran. Sabar buat nerbangin, sabar agar si layang-layang tetap kokoh di terbang di langit, sabar ngeliatin kalau layang-layang yang gua terbangin diincer ama layang-layang lain.
Waktu belum bisa nerbangin layang-layang, hampir tiap hari gua belajar nerbangin layang-layang. Gak terhitung berapa banyak layang-layang gua yang nyangkut di pohon mangga, pohon kesemek, ampe nyangkut di antene milik orang.
Gua masih inget banget waktu pertama kali gua bisa nerbangin, gua teriak-teriak manggil nyokap yang lagi masak. Nyokap gua buru-buru langsung naik ke genteng dan dengan bangganya gua ngeliatin layang-layang gua yang lagi berlenggak-lenggok anggun di udara.
Di hari gua bisa nerbangin layang-layang, seungguh gak ada keinginan buat nurunin itu layang-layang. Mata gua terus fokus ke udara, ngeliatin layang-layang gua itu. Bahkan ketika hujan terus, gua belum berniat buat nurunin. Yang ada, gua lilitin benangnya di tiang jemuran dan ngebiarin layang-layang itu terbang.
Hasilnya bisa ditebak, layang-layang gua hancur kena air hujan.
Waktu gua masih SD, sebelum nerbangin layang-layang, gua selalu nulis pesan di layang-layang gua itu. Isinya simple “Mohon yang menemukan layang-layang ini, tolong dikembalikkan ke alamat Jln S********A no 25, rt 02/rw 08, ada imbalan menarik”
Sebenarnya kalimat ‘ada imbalan menarik’ hanya retorika belaka atau lebih tepatnya agar yang nemuin layang-layang gua hatinya terenyuh dan berbaik hati buat balikkin ke rumah gua. Tetapi selama gua hidup di dunia ini, belum pernah sekalipun ada orang yang balikkin ke rumah gua buat ngebalikkin layang-layang gua.
Apa perlu gua ganti kalimatnya? Gimana kalau gua tulis “Bagi yang nemu ini layang-layang tapi gak mau ngebalikkin, hati-hati mandul. Kalau gak mau mandul, tolong dibalikkin segera dalam 1 x 24 jam ke alamat yang tertera”
Ok, boleh dicoba juga nih. Hehehehe
Waktu gua masih kecil, gua adalah anak polos seperti anak kebanyakkan. Gua selalu bertanya ke nyokap gua: “Ma, kalau mau ketemu Tuhan bagaimana caranya” Saat itu gua kepengen ketemu Tuhan karena kebelet pengen punya maenan Power Rangers terbaru.
“Tuhan adanya di balik awan. DIA lagi ngejagain kamu, dek” kata nyokap lembut.
Dan gua percaya banget kalau Tuhan itu adanya di balik awan. Dalam pemikiran masa kecil gua, gak mungkin rasanya gua bisa menjangkau awan buat ketemu Tuhan. Pernah kepikiran buat minjem baling-baling bambu milik Doraemon tapi gua juga bingung, gimana caranya buat ketemu si Doraemon.
Gua gak kehabisan akal, gua tulis sebuah doa di layang-layang yang bakal gua terbangin buat menjangkau awan. Gua masih inget dengan jelas isi doa gua yang gua tulis di layang-layang itu, isinya simple: “Tuhan, saya tidak tau bagaimana caranya bertemu dengan-Mu tetapi saya yakin Tuhan selalu mendengar doa saya. Tuhan, saya berdoa agar keluarga saya selalu diberi kesehatan, bisa makan setiap hari, bisa selalu bersama kapanpun juga. Terima kasih Tuhan”
Tuhan selalu menjawab doa dengan cara-Nya sendiri. Sampai gua nulis postingan ini, rasanya doa gua itu masih didengar. Tiap hari gua masih bisa makan, masih sehat, dan yang paling penting sampai sekarang keluarga masih utuh dan selalu bersama.
Dan, entah kenapa, gua pun ingin Tuhan mendengar doa-doa gua yang selama ini selalu gua doakan. Di suatu sore, semua doa-doa yang selalu gua doakan, gua tulis di sebuah layang-layang yang sudah gua kasih buntut biar keliatan keren. Bagian depan layang-layang sudah penuh dengan coretan doa-doa gua. Di bagian belakang, semua perasaan dikecewakan, disakitin, (maaf) dibuang dan perasaan sebaliknya mengecewakan, menyakiti, dan (maaf) membuang, gua tulis semua.
Semua pertanyaan-pertanyaan yang hingga kini belum dijawab dan terjawab, gua juga tulis dengan spidol merah.
Kalau gua perhatiin, layang-layang seharga 300 perak ini malah lebih mirip kanvas lukisan yang penuh dengan coretan. Biar lebih keren, gua hias-hias bentar dan gak lupa gua tambahin buntut.
Awalnya gua juga mau nempel foto gua yang lagi berpose menantang tapi gua urungkan niat suci itu, hahaha.
Ok, waktunya buat nerbangin ini layang-layang.
15 menit kemudian, layang-layang ini sudah kokoh di udara. Berlenggak-lenggok ke kanan kiri dan bermain cantik menghindari sergapan musuh.
Sama sekali gak ada keinginan buat ngadu ini layang-layang karena itu bukan tujuan utama gua saat itu. Tujuan utama gua adalah nerbangin layang-layang ini setinggi mungkin, melewati awan di udara, dan hingga mata ini gak bisa lihat lagi layang-layang itu.
Sedikit demi sedikit layang-layang yang gua terbangkan mulai menjauh dari tatapan gua. Sudah dua gelasan gua sambungin ke layang-layang ini. Jaraknya sudah cukup jauh tetapi gua ngerasa belum puas dan ngerasa belum cukup jauh. Gua sambung dengan gelasan ketiga, gua ulur-ulur lagi dan selama gua nerbangin layang-layang, mungkin ini adalah jarak terjauh yang pernah gua terbangin.
Sambil mengulur benang, di kuping gua sedang mengalun lagu. Gua gak tau ini lagu darimana tapi gua heran ada lagu idol-idolan gini di The Cube punya gua, lagunya kayak gini “Everybody knew you’re a liar, Everybody knew you’re never serious with you love at me…..”
Lagunya lucu, lumayan enak juga, dan bisa bikin pinggul bergoyang ke kanan kiri.
Sekarang layang-layang gua sudah nampak kecil sekali. Walau rasanya masih jauh buat mencapai awan, gua ngerasa sudah cukup puas…
Gua ambil gunting yang gua selipin di kantong, dan sambil berbisik pelan, gua gunting benang yang masih gua melingkar di gelasan yang gua pegang.
Dengan cepat, benang itu langsung terlepas dari tangan gua. 5-10 menit kemudian, layang-layang buntut gua terbang tak terkendali. Melewati banyak awan dan melaju kencang tak terkendali.
Semakin lama, layang-layang itu semakin jauh dari pandangan mata gua. Mata gua sudah gak bisa menjangkau lagi dan sepertinya layang-layang itu telah menembus awan yang tebal.
Dan seperti harapan saya sewaktu masih kecil, saya harap
semua doa-doa dan mimpi-mimpi yang saya tulis itu tetap berarti dan dijawab semua oleh Tuhan. Dan semua perasaan dikecewakan, disakiti, (maaf) dibuang dan perasaan sebaliknya, bisa hilang seperti layang-layang itu yang kini telah hilang dari pandangan mata saya.
Kamis, 08 September 2011
Apakah kamu pernah merasa bahagia?
Hm, apa sih definisi bahagia itu? Kalau gua liat di sinetron-sinetron yang tayang di tipi,orang yang berbahagia itu adalah ketika si cowok bisa nikah ama si pujaan hatinya.
Senyum simpul sambil mengucapkan ijab Kabul dan diakhiri dengan bisikkan si cowok ke si cewek “Aku bahagia karena mimpi kita bisa jadi kenyataan”
Dan, tamatlah sinetron itu. Apakah itu maksud dari kebahagiaan itu? Bisa menikah dengan orang yang disayang?
Gua sangat percaya semua orang pasti pernah merasa bahagia. Bullshit, rasanya kalau ada yang ngomong kalau hidupnya gak pernah bahagia dan gak memiliki apa-apa.
Sadar gak sadar, kita termasuk gua tentunya pasti pernah bahagia. Waktu gua lulus SMA, gua bahagia. Bahagia karena gua lulus dengan nilai yang (cukup) bagus dan bahagia (banget) karena dengan lulusnya gua dari SMA berarti masa-masa dimana gua harus dikatain SUMBANG ama guru seni musik di depan kelas dan masa-masa-masa dimana gua harus nahan kencing gara-gara gak bisa ngerjain soal matematika di papan tulis berakhir sudah….
Tapi setelah kebahagiaan itu berakhir, pertanyaan yang sama kembali muncul di kepala “setelah ini semua, mau dibawa kemana hidup gua?”
Apa setelah lulus, gua bakal menggelandang? Atau berjualan cendol keliling dengan merk dagang “Sani Cendol’s” atau yang lebih parah gua bakal jadi penjual baso sapi dengan kandungan boraks yang tinggi dan gua bakal nampang di reportase investigasi menggunakan penutup muka dengan suara disamarkan?
“Pak SS kenapa anda menjual baso dengan kandungan boraks? Apa anda tidak tau kalau itu sangat berbahaya jika dikonsumsi dalam waktu yang panjang?”
“Ya mau bagaimana lagi. Ini urusan perut soalnya” kata gue dengan suara disamarkan
Apakah gua bakal seperti itu?
Kalau ditanya kapan terakhir kali gua merasa bahagia, mungkin sekitar 2 minggu lalu. Entah kenapa saat itu gua merasa bahagia. Berawal dari cerita-cerita iseng ke nyokap, nyokap nyuruh gue beliin colenak buat si dia.
Ok, anak berbakti adalah anak yang selalu menurut apa perkataan Ibunya. Dan karena surga ada di telapak kaki Ibu, gua nurut apa suruhan nyokap gua.
Lagian colenak yang paling terkenal di Bandung kan tempatnya deket ama rumah gua. Tinggal nyebrang dikit, ketemu deh ntu colenak cocol. Walau gua pribadi sih gak doyan makan colenak jadi gua belum pernah beli colenak disini sebelumnya.
Ok, berangkat. Dengan menunggangi sepeda, gua berangkat ke tukang colenak. Sambil bernyanyi-nyanyi kecil, gua mulai menggowes sepeda. Padahal sih jaraknya deket tapi gua lebih milih naik sepeda biar keliatannya keren dikit (?)
Kok tumben tokonya sepi? Kok tumben gak ada yang ngantri? Kok gak ada yang nyambut gua sama sekali?
Sebuah pengumuman dengan tulisan berspidol hitam, akhirnya menjawab pertanyaan-pertanyaan gua itu, isinya “Toko tutup libur lebaran, buka lagi tanggal 5 September”
Begitu baca, sumpah serapah langsung keluar dari mulut gua. Napa pas gua butuh, malah tutup. Pas gua gak minat, malah buka. Sial…
Tapi bagaimanapun caranya, gua harus dapetin tuh colenak. Gua muter-muter nyari tukang colenak dimana-mana. Gua sama sekali buta soal colenak karena yang gua tau tukang colenak ya itu tempatnya di deket rumah gua.
Gua masuk ke minimarket dan hasilnya nihil. Lagian gua bego banget, nyari colenak kok di minimarket. Mana ada yang jual kali? Beda kalau lu nyari minyak telon, pasti ada.
Ok, calm down. Gua duduk di trotoar jalan sambil puter otak nyari dimana itu tukang colenak. Di minimarket jelas gak ada, di hypermarket kemungkinan ada. Tapi tak elok rasanya, jauh2 ke hypermarket cuma buat beli colenak…
Hm, gua memutuskan buat nyari di supermarket dan gua mulai muter nyari supermarket. 3 Supermarket yang gua cari hasilnya nihil. Yang ada gua malah ditawarin cakue, pliss deh om. Saya gak nyari cakue.
Hampir putus asa, gua coba ke salah satu supermarket. Harapan gua sih nemu, sambil komat-kamit doa akhirnya gua masuk. Nanya bentar ke mbak yang lagi ngejaga dan aha, yang namanya jodoh emang gak kemana. Ditunjukkin bentar dan colenak mungil rasa durian dan nangka kini ada di hadapan gua.
Gua bisa membayangkan gimana perasaan si Christopher Colombus waktu menemukan benua Amerika atau perasaan si Neil Amstrong dan Buzz Aldrin ketika menginjakkan kaki di Bulan. Bahagia banget rasanya bisa nemuin ini colenak. Walau kesannya gak elite banget, bahagia gara-gara colenak tapi gua ngerasa bahagia. B.A.H.A.G.I.A.
Sambil berseri-seri, gua melangkah menuju kasir buat bayar ini colenak.
Tapi?
Sialnya pas mau bayar, gua lupa banget kalau gua gak ngantongin duit. Buat temen-temen yang tau gua pasti tau kebiasaan gua yang gak pernah bawa duit kalau lagi pergi. Paling banyak gua bawa duit 10rb, paling dikit gua gak bawa duit sama sekali.
“Totalnya 12rb mas” kata si mbak cashir yang (lumayan) kece
Anjrit, apa yang harus gua lakuin ini? Apa gua harus acting senyum-senyum sambil bilang “Mbak, maaf gak jadi. Soalnya tadi Ibu saya baru aja keracunan makan colenak jadi saya was-was”
Atau gua harus ngengombal?
“Mbak, tau gak kenapa pemerintah mundurin hari lebaran jadi hari Rabu?”
“Karena pas hari Selasa, bulannya gak nampak kan mas?”
“Bukan, karena bulannya ada di hati mbak”
Masak iya gua harus ngegombal kayak gitu? Mending kalau setelah digombalin dia bakal ngomong “Ih bisa aja deh. Ya udah ini colenaknya bawa pulang aja. Kalau mas pengen nambah buah-buahan segar, ambil aja. Nanti saya yang bayarin”
Tapi gimana kalau gua digampar? Ok, enyahkan dulu pikiran-pikiran tak layak itu. Sambil nunduk, gua berbisik ke mbak kasir “Mbak, kalau pake Debit bisa gak?”
“Oh bisa-bisa” kata si Mbak sambil pasang muka cengo. Total 12rb bayarnya pake debit? Antrian di belakang gua juga tampaknya sudah mulai kasak-kasuk. Belanja dikit, servicenya kelamaan.
Gua kasihin kartu debit, sambil nunduk. Untung gua pake topi jadi setidaknya muka gua yang lagi menahan malu dan pipis gak terlalu nampak. Si Mbak mulai menggesek dan SIALNYA-nya pas udah gesek, dia ngomong kenceng banget “TOTALNYA 12rb YA MAS”
Please deh mbak. Iya total belanjaan gua emang cuma 12rb doang tapi gak usah teriak-teriak juga. Gua mulai ngedenger suara-suara cengengesan di belakang gua. Entah kenapa saat itu gua lebih berharap disedot black hole dibanding harus ada disitu.
Whatever, yang penting ini colenak sudah di tangan dan sorenya bisa dikasihin ke yang bersangkutan. Walau belum tentu dia senang atau juga belum tentu dia bahagia tapi setidaknya gua bahagia bisa dapetin ini colenak…
Kembali ke pertanyaan awal, apakah kamu sedang berbahagia sekarang?
Kalau pertanyaan itu ditujukkan ke gua ketika gua sedang menulis postingan ini, gua gak bisa bilang kalau gua bahagia atau gak. Ukurannya terlalu relatif. Batasan antara ‘saya bahagia’ dan ‘saya senang’ sangat tipis.
Kata orang, kebahagiaan itu bukan untuk ditunggu tapi harus dicari. Dimana saya harus mencari kebahagiaan itu? Mungkin itu adalah pertanyaan banyak orang, termasuk gua juga tentunya.
Entah kenapa di suatu malam tiba-tiba gua jadi teringat dia. Pertanyaan ini pun mulai menyeruak di pikiran gua, apakah dia sekarang bahagia? Udah lama kita gak pernah ketemu lagi sejak gua ngasihin itu colenak ke dia. Dan juga, gua gak bisa mengira-ngira dia sekarang sedang bahagia atau tidak.
Akhirnya gua bisa ketemu dia (kembali). Hm, memang sekarang sudah banyak berubah, sulit rasanya menerka-nerka apa yang berubah tetapi setidaknya perubahan itu memang ada. Pertanyaan yang ingin sekali gua tanyakkan akhirnya gua tanyakan juga.
Apakah kamu bahagia sekarang?"
Walau jawaban yang gua terima kurang bisa menggambarkan kondisi dia sekarang tapi keliatannya dia sekarang bahagia dan bisa tersenyum lagi seperti dulu. Walau mungkin kini dia tersenyum dan bahagia tanpa kehadiran gua tetapi sungguh di detik itu gua merasa sangat bahagia mendengar kalau dia udah gak sedih lagi.
Buat yang bersedih atau merasa hidupnya tidak pernah bahagia, coba maknai kalimat ini “ketika satu pintu kebahagiaan tertutup, pintu yang lain dibukakan. Tetapi seringkali kita terpaku lama pada pintu yang tertutup sehingga tidak melihat pintu kebahagiaan lain yang dibukakan bagi kita”
Ya, tidak semua apa yang kita mau bisa kita dapatkan dan tidak semua apa yang kita benci bisa kita tolak, hidup adalah belajar menerima hal-hal seperti itu.
Terus semangat, jalani hari dengan senyum, lakukan yang terbaik untuk apapun yang kalian lakukan dan jangan pernah lupa berdoa untuk semua hal yang kalian kerjakan.
karena
“Meskipun Tuhan tidak pernah menjanjikan langit selalu berwarna biru dan jawaban akan semua doa-doa kita tetapi selalu ada pelangi setelah hujan turun dan ya, janji Tuhan selalu digenapi"
Smile....
Hm, apa sih definisi bahagia itu? Kalau gua liat di sinetron-sinetron yang tayang di tipi,orang yang berbahagia itu adalah ketika si cowok bisa nikah ama si pujaan hatinya.
Senyum simpul sambil mengucapkan ijab Kabul dan diakhiri dengan bisikkan si cowok ke si cewek “Aku bahagia karena mimpi kita bisa jadi kenyataan”
Dan, tamatlah sinetron itu. Apakah itu maksud dari kebahagiaan itu? Bisa menikah dengan orang yang disayang?
Gua sangat percaya semua orang pasti pernah merasa bahagia. Bullshit, rasanya kalau ada yang ngomong kalau hidupnya gak pernah bahagia dan gak memiliki apa-apa.
Sadar gak sadar, kita termasuk gua tentunya pasti pernah bahagia. Waktu gua lulus SMA, gua bahagia. Bahagia karena gua lulus dengan nilai yang (cukup) bagus dan bahagia (banget) karena dengan lulusnya gua dari SMA berarti masa-masa dimana gua harus dikatain SUMBANG ama guru seni musik di depan kelas dan masa-masa-masa dimana gua harus nahan kencing gara-gara gak bisa ngerjain soal matematika di papan tulis berakhir sudah….
Tapi setelah kebahagiaan itu berakhir, pertanyaan yang sama kembali muncul di kepala “setelah ini semua, mau dibawa kemana hidup gua?”
Apa setelah lulus, gua bakal menggelandang? Atau berjualan cendol keliling dengan merk dagang “Sani Cendol’s” atau yang lebih parah gua bakal jadi penjual baso sapi dengan kandungan boraks yang tinggi dan gua bakal nampang di reportase investigasi menggunakan penutup muka dengan suara disamarkan?
“Pak SS kenapa anda menjual baso dengan kandungan boraks? Apa anda tidak tau kalau itu sangat berbahaya jika dikonsumsi dalam waktu yang panjang?”
“Ya mau bagaimana lagi. Ini urusan perut soalnya” kata gue dengan suara disamarkan
Apakah gua bakal seperti itu?
Kalau ditanya kapan terakhir kali gua merasa bahagia, mungkin sekitar 2 minggu lalu. Entah kenapa saat itu gua merasa bahagia. Berawal dari cerita-cerita iseng ke nyokap, nyokap nyuruh gue beliin colenak buat si dia.
Ok, anak berbakti adalah anak yang selalu menurut apa perkataan Ibunya. Dan karena surga ada di telapak kaki Ibu, gua nurut apa suruhan nyokap gua.
Lagian colenak yang paling terkenal di Bandung kan tempatnya deket ama rumah gua. Tinggal nyebrang dikit, ketemu deh ntu colenak cocol. Walau gua pribadi sih gak doyan makan colenak jadi gua belum pernah beli colenak disini sebelumnya.
Ok, berangkat. Dengan menunggangi sepeda, gua berangkat ke tukang colenak. Sambil bernyanyi-nyanyi kecil, gua mulai menggowes sepeda. Padahal sih jaraknya deket tapi gua lebih milih naik sepeda biar keliatannya keren dikit (?)
Kok tumben tokonya sepi? Kok tumben gak ada yang ngantri? Kok gak ada yang nyambut gua sama sekali?
Sebuah pengumuman dengan tulisan berspidol hitam, akhirnya menjawab pertanyaan-pertanyaan gua itu, isinya “Toko tutup libur lebaran, buka lagi tanggal 5 September”
Begitu baca, sumpah serapah langsung keluar dari mulut gua. Napa pas gua butuh, malah tutup. Pas gua gak minat, malah buka. Sial…
Tapi bagaimanapun caranya, gua harus dapetin tuh colenak. Gua muter-muter nyari tukang colenak dimana-mana. Gua sama sekali buta soal colenak karena yang gua tau tukang colenak ya itu tempatnya di deket rumah gua.
Gua masuk ke minimarket dan hasilnya nihil. Lagian gua bego banget, nyari colenak kok di minimarket. Mana ada yang jual kali? Beda kalau lu nyari minyak telon, pasti ada.
Ok, calm down. Gua duduk di trotoar jalan sambil puter otak nyari dimana itu tukang colenak. Di minimarket jelas gak ada, di hypermarket kemungkinan ada. Tapi tak elok rasanya, jauh2 ke hypermarket cuma buat beli colenak…
Hm, gua memutuskan buat nyari di supermarket dan gua mulai muter nyari supermarket. 3 Supermarket yang gua cari hasilnya nihil. Yang ada gua malah ditawarin cakue, pliss deh om. Saya gak nyari cakue.
Hampir putus asa, gua coba ke salah satu supermarket. Harapan gua sih nemu, sambil komat-kamit doa akhirnya gua masuk. Nanya bentar ke mbak yang lagi ngejaga dan aha, yang namanya jodoh emang gak kemana. Ditunjukkin bentar dan colenak mungil rasa durian dan nangka kini ada di hadapan gua.
Gua bisa membayangkan gimana perasaan si Christopher Colombus waktu menemukan benua Amerika atau perasaan si Neil Amstrong dan Buzz Aldrin ketika menginjakkan kaki di Bulan. Bahagia banget rasanya bisa nemuin ini colenak. Walau kesannya gak elite banget, bahagia gara-gara colenak tapi gua ngerasa bahagia. B.A.H.A.G.I.A.
Sambil berseri-seri, gua melangkah menuju kasir buat bayar ini colenak.
Tapi?
Sialnya pas mau bayar, gua lupa banget kalau gua gak ngantongin duit. Buat temen-temen yang tau gua pasti tau kebiasaan gua yang gak pernah bawa duit kalau lagi pergi. Paling banyak gua bawa duit 10rb, paling dikit gua gak bawa duit sama sekali.
“Totalnya 12rb mas” kata si mbak cashir yang (lumayan) kece
Anjrit, apa yang harus gua lakuin ini? Apa gua harus acting senyum-senyum sambil bilang “Mbak, maaf gak jadi. Soalnya tadi Ibu saya baru aja keracunan makan colenak jadi saya was-was”
Atau gua harus ngengombal?
“Mbak, tau gak kenapa pemerintah mundurin hari lebaran jadi hari Rabu?”
“Karena pas hari Selasa, bulannya gak nampak kan mas?”
“Bukan, karena bulannya ada di hati mbak”
Masak iya gua harus ngegombal kayak gitu? Mending kalau setelah digombalin dia bakal ngomong “Ih bisa aja deh. Ya udah ini colenaknya bawa pulang aja. Kalau mas pengen nambah buah-buahan segar, ambil aja. Nanti saya yang bayarin”
Tapi gimana kalau gua digampar? Ok, enyahkan dulu pikiran-pikiran tak layak itu. Sambil nunduk, gua berbisik ke mbak kasir “Mbak, kalau pake Debit bisa gak?”
“Oh bisa-bisa” kata si Mbak sambil pasang muka cengo. Total 12rb bayarnya pake debit? Antrian di belakang gua juga tampaknya sudah mulai kasak-kasuk. Belanja dikit, servicenya kelamaan.
Gua kasihin kartu debit, sambil nunduk. Untung gua pake topi jadi setidaknya muka gua yang lagi menahan malu dan pipis gak terlalu nampak. Si Mbak mulai menggesek dan SIALNYA-nya pas udah gesek, dia ngomong kenceng banget “TOTALNYA 12rb YA MAS”
Please deh mbak. Iya total belanjaan gua emang cuma 12rb doang tapi gak usah teriak-teriak juga. Gua mulai ngedenger suara-suara cengengesan di belakang gua. Entah kenapa saat itu gua lebih berharap disedot black hole dibanding harus ada disitu.
Whatever, yang penting ini colenak sudah di tangan dan sorenya bisa dikasihin ke yang bersangkutan. Walau belum tentu dia senang atau juga belum tentu dia bahagia tapi setidaknya gua bahagia bisa dapetin ini colenak…
Kembali ke pertanyaan awal, apakah kamu sedang berbahagia sekarang?
Kalau pertanyaan itu ditujukkan ke gua ketika gua sedang menulis postingan ini, gua gak bisa bilang kalau gua bahagia atau gak. Ukurannya terlalu relatif. Batasan antara ‘saya bahagia’ dan ‘saya senang’ sangat tipis.
Kata orang, kebahagiaan itu bukan untuk ditunggu tapi harus dicari. Dimana saya harus mencari kebahagiaan itu? Mungkin itu adalah pertanyaan banyak orang, termasuk gua juga tentunya.
Entah kenapa di suatu malam tiba-tiba gua jadi teringat dia. Pertanyaan ini pun mulai menyeruak di pikiran gua, apakah dia sekarang bahagia? Udah lama kita gak pernah ketemu lagi sejak gua ngasihin itu colenak ke dia. Dan juga, gua gak bisa mengira-ngira dia sekarang sedang bahagia atau tidak.
Akhirnya gua bisa ketemu dia (kembali). Hm, memang sekarang sudah banyak berubah, sulit rasanya menerka-nerka apa yang berubah tetapi setidaknya perubahan itu memang ada. Pertanyaan yang ingin sekali gua tanyakkan akhirnya gua tanyakan juga.
Apakah kamu bahagia sekarang?"
Walau jawaban yang gua terima kurang bisa menggambarkan kondisi dia sekarang tapi keliatannya dia sekarang bahagia dan bisa tersenyum lagi seperti dulu. Walau mungkin kini dia tersenyum dan bahagia tanpa kehadiran gua tetapi sungguh di detik itu gua merasa sangat bahagia mendengar kalau dia udah gak sedih lagi.
Buat yang bersedih atau merasa hidupnya tidak pernah bahagia, coba maknai kalimat ini “ketika satu pintu kebahagiaan tertutup, pintu yang lain dibukakan. Tetapi seringkali kita terpaku lama pada pintu yang tertutup sehingga tidak melihat pintu kebahagiaan lain yang dibukakan bagi kita”
Ya, tidak semua apa yang kita mau bisa kita dapatkan dan tidak semua apa yang kita benci bisa kita tolak, hidup adalah belajar menerima hal-hal seperti itu.
Terus semangat, jalani hari dengan senyum, lakukan yang terbaik untuk apapun yang kalian lakukan dan jangan pernah lupa berdoa untuk semua hal yang kalian kerjakan.
karena
“Meskipun Tuhan tidak pernah menjanjikan langit selalu berwarna biru dan jawaban akan semua doa-doa kita tetapi selalu ada pelangi setelah hujan turun dan ya, janji Tuhan selalu digenapi"
Smile....
Selasa, 23 Agustus 2011
Jumat, 19 Agustus 2011, pukul 04:45
Setelah urusan teduh selesai, hari ini gua akan menepati janji yang telah lama gua ucapin kalau doa puasa gua selama ini dijawab. Janji gua adalah gua ingin bersepeda menempuh ratusan kilometer menuju sebuah kost di sebuah Kabupaten yang berada di Jawa Barat. Karena doa gua dijawab di tanggal 17 Agustus, cepat atau lambat gua harus menepati janji gua itu.
Awalnya gua kurang yakin, apakah gua masih kuat? Apakah encok di pinggang gua gak kambuh? Apakah pantat gua gak akan semutan? Apakah selangkangan gua gak akan kram? Jika 2-3 tahun lalu, gua rasa gua masih sanggup untuk melahap ratusan kilometer karena saat itu gua sedang senang-senangnya bersepeda. Karena buat gua bersepeda itu sungguh menyenangkan. Selain menyehatkan, gua berasa nampak keren ketika bersepeda. Di saat orang lain menggunakan motor atau mobil, gua berbeda sendiri dengan menggunakan sepeda. Dan menurut gua itu keren banget. Rute terjauh yang pernah gua kunjungin adalah sebuah stadion sepak bola di Jawa Barat. Kalau gak salah, gua menghabiskan waktu hampir 12 jam untuk sampai kesana dan ternyata gua berhasil menuju kesana walau dengkul kaki gua rasanya hampir mau remuk.
Ditambah dengan kondisi gua yang sedang berpuasa, gua menjadi pesimis untuk menepati janji gua. Tetapi gua selalu ingat, janji adalah ‘sesuatu’ hal yang harus dibayar, bagaimanapun caranya. Gua mempersiapkan diri sebaik mungkin, gua bawa baju ganti, handuk merah pinjeman ‘seseorang’, dan MP3 Player buat menemani hari itu.
Sengaja gua gak bawa minum karena gua gak mau puasa gua batal karena hal ini. Tapi gua sangat enjoy dan sudah tidak sabar untuk melewati hari ini.
Pukul 05:15 lebih sedikit,
Gua pergi dalam kondisi rumah yang masih sunyi. Bokap dan kakak masih terlelap, hanya Nyokap yang sudah bangun dan sedang memasak. Gua pamit ke nyokap dan nyokap pun heran ngapain gua pergi pagi-pagi. Gua jawab dengan senyum sambil berkata “Pergi untuk menepati janji”
Gua mulai menggowes sepeda. Selama di perjalanan, tak henti-hentinya gua tersenyum. Sesekali pikiran gua teringat akan ‘dia’ sambil bertanya dalam hati “Apa dia sudah bangun?”, “Mimpi apa dia hari ini?”, “Semoga dia gak telat makan biar gak sakit”, “Apa di pagi ini dia sudah buka alkitab dan baca ayat yang gua smsin?”
Perjalanan ini akan sangat panjang dan selama itu pula, gua yakin bisa menepati janji gua. Seperti janji gua untuk selalu berpuasa buat dia tiap hari yang berhasil gua jalani dengan sukses walau sebelumnya gua diragukan dan dicibir karena banyak yang nganggep gua gak akan tahan. Tapi jika semuanya dijalani dengan hati yang ikhlas, pasti bisa kan?
Daerah Ujung Berung,
Gua sekarang sudah sampai di daerah Ujung Berung, suasana sudah mulai ramai. Matahari sudah mulai muncul dan menyinari bumi. Matahari pun seperti menyinari hati gua. Setiap berpapasan dengan banyak orang di jalan, gua selalu mencoba untuk tersenyum. Gua gak peduli dikira orang gila atau Joker yang doyan cengengesan, tetapi yang ada di pikiran gua saat itu, gua sangat bahagia. Gua ingin membagi kebahagiaan yang sedang gua rasakan dengan orang banyak.
Di kuping gua sekarang, lagu SO7 sedang mengalun. Judulnya “Seberapa Pantas”, sambil mendengar lagu itu, gua pun mulai berpikir apakah sebenarnya gua itu pantes buat jadi cowok dia? Dengan segala kekurangan, dengan segala kesalahan gua, apakah gua itu pantas? Apa gua itu pantas buat ngisi hari-hari dia? Saat itu dengan angkuh, gua jawab “Gua Pantas”. Dengan segala kekurangan yang gua punya, gua punya cara sendiri buat dia bahagia. Gua punya cara sendiri agar dia bisa melewati hari-hari ini dengan senyum di wajahnya.
Daerah Cibiru,
Ini daerah favorit gua. Bukan karena banyak tukang jajanan kayak cakue, batagor, dll. Tetapi karena dengan melewati daerah ini, semakin dekatlah gua bertemu dengan dia. Biasanya kalau berkunjung ke kost dia, gua menggunakan motor dan begitu gua melewati jalan ini, biasanya gua tersenyum karena sebentar lagi gua bakal ketemu dia. Sebentar lagi, gua akan memainkan rambutnya yang ikal, sebentar lagi gua akan bercerita banyak hal dan sebentar lagi, gua akan mendengar banyak cerita pula dari mulut dia.
Pukul 06:20,
Gua keluar dari Kota Bandung. Sambil terus menggowes gua melewati gapura yang bertuliskan “Selamat Jalan”. Jujur, saat itu gua merasa sangat letih, lunglai, dan lemas. Keringat gak pernah berhenti menetes dari kepala gua. Setiap menetes selalu gua usap dengan sapu tangan warna merah itu. Dia mungkin sama sekali gak sadar tetapi setiap kali gua mengusap dengan sapu tangan merah itu, gua selalu merasa dikuatkan, gua selalu merasa ditemani. Dan jujur, saat itu gua ngerasa haus banget. Di depan gua ada tukang susu coklat yang begitu menggoda. Dengan logo sapi yang terpampang di gerobak itu, rasanya begitu menggoda gua untuk icip-icip susu rasa coklat.
Tapi?
Gua gak mau puasa gua batal, gua gak mau hanya karena gua haus dan karena gua tergoda untuk icip-icip susu itu, puasa gua gagal. Masih banyak doa gua buat dia yang belum dijawab. Gua acuhkan mata gua dari godaan sapi itu dan mulai terus menggowes.
“San, lu bisa kan nunggu gua ampe bulan November” sebuah pertanyaan dari dia di suatu hari ketika gua lagi berboncengan dengan dia.
“Bisa, walau berat tapi gua yakin bisa” jawab gua sambil menghindari lobang di jalanan…..
Depan Kampus IPDN,
Sekarang gua sudah berada di depan Kampus IPDN. Inget kampus ini berarti inget video-video menyeramkan yang sempat menghebohkan. Ah, gua gak peduli karena yang gua tau, gua sudah semakin dekat dengan janji gua. For You Info, jalanan di depan kampus IPDN bisa gua ibaratkan sebagai ‘tanjakkan setan’ karena jalanannnya nanjak banget. Saat itu, pantat gua sudah mulai kram, betis gua sudah senat senut dan yang pasti jari-jari tangan gua seperti sudah mati rasa. Buat ngupil pun rasanya udah gak bisa dipakai. Gua mulai menggowes, melewati jalanan yang nanjak itu dan pikiran gua kembali, memikirkan dia…
“Sani apa lu yakin dengan gua” kata dia suatu saat. Pertanyaan yang selalu dia ulang-ulang hingga gua tau apa makna dibalik pertanyaan itu.
“Yakin, gua selalu yakin” jawab gua optimis. Selama gua sedang menjalin hubungan, rasanya baru kali ini gua ngerasa kalau gua yakin. Ngerasa yakin kalau gua bakal hidup dia jadi lebih berwarna. Ngerasa yakin buat ‘menjangkau’ seluruh hatinya yang mungkin masih tertutup oleh kenangan masa lalu.
Di kuping gua sekarang lagi mengalun lagu Jikustik ‘1000 tahun lamanya’: “Bila kau sanggup untuk melupakan dia, biarkan aku hadir dan menata, ruang hatimu yang telah tertutup lama” Gua bernyanyi sambil terus menggowes. Gak peduli suara jelek, gak peduli suara gua sumbang karena yang ada di pikiran gua, gua ingin menunggu dia walau harus menunggu 1000 tahun lamanya… Lebay dikit (hihihihi)
“Selamat Datang di Universitas Padjajaran”
Akhirnya gua sampai juga di kampus dia. Jam sudah menunjukkan pukul 09:15. Mobil dan motor mulai hilir mudik. Gua duduk bentar di depan kampus itu. Ambil nafas panjang, menggoyang-goyangkan jari-jari tangan yang mati rasa, dan merenggangkan kaki yang rasanya sudah siap diamputasi. Duduk bentar di trotoar, dan gua baru sadar kalau trotoar ini tiap malam ‘disulap’ jadi angkringan. Dan di trotar ini adalah pertama kalinya gua makan bersama dia. Di bawah lampu yang remang-remang dan dinginnya malam, gua bercerita banyak hal dengan dia. Hal-hal lucu, menyenangkan, memalukan, dan segalanya yang ada di pikiran gua, gua ceritain ke dia.
“Ah yang bener?”, “Lupa gua” adalah kata-kata yang dia biasanya dia gunakan buat menjawab cerita-cerita gua. Mungkin dia sudah melupakan segala kenangan gua dan dia dulu, mungkin dia sudah tutup buku akan cerita kita yang dulu. Ya, jika gua adalah dia, gua pun bakal menutup buku semua kenangan buruk itu dan mulai melangkah ke depan.
“Sani, nih cobain” kata dia sambil menyodorkan piring berisi daging yang ditusuk. Saat itu di angkringan, suasanya tidak terlalu ramai. Karena penasaran, gua ambil daging yang ditusuk itu. Gua kunyah bentar dan rasanya ternyata enak. Kenyal-kenyal gimana gitu bikin lidah tidak berhenti mengecap.
“Ini apaan ya?” tanya gua polos
“Ini brutu, enak ya?
“Brutu? Brutu tuh apaan ya?” dan entah kenapa mendengar nama itu perasaan gua jadi gak enak.
“Brutu tuh dubur ayam” jawab dia sambil cengengesan.
“Hah, dubur ayam?” gua shock. Dubur kan anus? Subhanallah, gua makan anus ayam. Yang ada di pikiran gua saat itu adalah buang ini dubur dari mulut gua dan segera minum air suci buat membersihkan mulut gua dari dubur ayam itu.
Malam itu dia juga bercerita banyak hal terus menutup pembicaraan dengan kalimat “Percaya ya San, yang namanya jodoh itu gak akan kemana-mana”. Gua balas dengan sebuah anggukkan.
Setelah beristirahat bentar, gua mulai melanjutkan perjalanan. Gua mulai menggowes menuju tempat kostnya. 10 menit kemudian, akhirnya gua sampai di depan kostnya. Jelas, dia gak akan ada disitu karena dia sekarang ada di rumahnya. Gua perhatiin bentar kamarnya yang berada di lantai atas. Jendelanya dibuka dan sebenarnya gua sih harap banget dia ada disitu lagi noongin gua di bawah, walau gak mungkin.
Hampir 15 menit gua berada di depan kost nya. Mungkin orang-orang bakalan ngira gua adalah maling yang sedang memperhatikan target. Tapi gua gak peduli karena yang ada di pikiran gua saat itu, gua sekarang adalah cowok dia dan gua BERHASIL menepati janji gua.
Hati gua lega, gua tenang, gua ngerasa gak punya janji lagi. Gua mulai menggowes untuk pulang. Selama perjalanan pulang, gua melewati banyak tempat. Gua melewati sebuah mall yang ada disitu. Mall biasanya gua pake buat sedikit ‘mencerca’ dia dan biasanya kalau gua ‘cerca’ muka dia bakal merengut manja. Hihihihi. Ada juga restoran yang namanya SOLASIDO, plesetan dari Restoran SOLARIA. Kalau mata gak jeli, mungkin kita bakal kecele, ngira kalau ada restoran SOLARIA di kabupaten Sumedang. Tapi masak iya sih ada? Ups….
Hari ini gua berhasil menepati janji gua, dia gak tau, temen-temen dia juga gak tau, temen-temen gua gak ada yang tau, tapi gua gak peduli karena gua ngerasa bangga dengan diri gua sendiri yang berhasil menepati janji
Selasa 22 Agustus, pukul 04:25
Yang namanya kebahagiaan itu terlalu cepat pergi dari gua. Kalau boleh protes, gua pengen banget protes, kenapa kebahagiaan itu terlalu cepat pergi dari gua. Ya, gua putus dengan dia.
Gua awali hari dengan teduh sebentar, tapi yang berbeda dari hari ini adalah biasanya gua selalu kirim sms ayat-ayat Alkitab ke dia agar kita bisa teduh bareng walau berada di ruang yang berbeda. Gua tau, dia mungkin udah gak mau baca atau nerima sms gua tentang ayat-ayat itu jadi cukup gua saja yang baca untuk dia.
Dan entah kenapa gua jadi ingin mengulang perjalanan jauh gua ke kabupaten Sumedang dengan menggunakan sepeda. Dengan hati yang hancur, mata yang sembab, pikiran yang kalut, gua jadi ingin mengulang rute yang sama. Gua sama sekali gak berbenah, gua berangkat dengan baju tidur gua. Dengan mata yang sembab, dengan rambut yang acak-acakkan dan dengan hati yang hancur…
Perjalanan ini jadi begitu terasa berat tetapi setidaknya bisa memaksa gua berpikir. Berpikir jernih tentang hubungan kita yang susah payah gua bangun dan sukses hancur dalam sekejap.
“Gua labil, gua gak bisa tegas ke diri gua dan diri dia” kalimat yang awalnya selalu bisa gua jawab dan yakinkan dia kalau dia PASTI bisa malah jadi alasan utama gua putus ama dia. Saat bersama dia, gua selalu berusaha buat dia nyaman, buat dia senang, dan buat dia bisa move on dari masa lalunya.
Gua sama sekali gak pernah mengharapkan pamrih dari apa yang gua lakuin ke dia. Tetapi setidaknya kalau boleh, gua meminta sedikit ‘lebih’ ke dia ketika dia memutuskan hubungan kita. Bukan cuma lewat telpon dengan kata-kata sederhana “Maaf, gua gak bisa san, lanjutin hubungan kita”, “Bilangin maaf ke nyokap dan kakak lu” yang diucapkan tanpa beban bahkan nyaris diucapkan oleh cowok dia yang sekarang. Rasanya terlalu sederhana buat gua mengerti dan terlalu ringan buat dia. Apa gak bisa kita ngobrol baik-baik dengan hati terbuka, tanpa harus ada tekanan? Kenapa harus si cowok yang ngehubungin gua? Apa dia yang menjalani hubungan sesama jenis dengan gua?
Gua masih ingat sms dia di suatu hari "Gua tuh gak bisa pergi ninggalin dia begitu aja, gak elite kalau harus ngomongin soal ini lewat perantara, gua harus ketemu dia langsung" Pertanyaanya kemudian kenapa harus kayak gitu ke gua? Itu hal yang sama sekali gak bisa gua terima…
Gua baca message dia yang dikirim tempo hari, isinya “it is too early to say i love you..but yes, i do love you…, yang gua bales “Nothing too early or too late to say I love you, cause love not about the time to say that but about the time you feel that. I love you too...”
Rasanya begitu cepat kebahagiaan itu pergi. Begitu mudahnya kita mengatakan I Love You tetapi begitu mudah juga buat kita untuk menghapus kalimat itu dalam ingatan.
Gua selalu berkata ke dia Step By Step dan gua yakin dia bakal bisa lupa akan masa lalunya. Step By Step, Step By Step… Gua ulang kata itu hingga tidak ada artinya lagi buat gua….
Kalau selama ini hubungan kita hanya balas dendam, sungguh ini adalah sebuah balas dendam yang sempurna….
Kalau selama ini hubungan kita hanya main-main, sungguh ini adalah sebuah permainan yang cantik…
Dan kalau selama ini hubungan kita hanya basa-basi, sungguh ini adalah sebuah basa-basi yang mendekati kenyataan…
Lanjut,
Gua memang akhirnya berhasil sampai di kabupaten itu (lagi), dengan kondisi gua yang mirip gembel ditambah perasaan gua yang sedang kalut dan hati yang hancur. Tapi, saat itu gua sama sekali gak punya tujuan apa-apa. Entah kenapa harus gua bersepeda kesini? Gua gak bisa jawab….
Malamnya gua duduk di teras, sambil menunggu buka puasa jam 7, gua duduk sambil ngeliatin langit. Dulu, ketika ada bintang-bintang di langit gua pernah ngegombal “Tau gak kenapa bintang di langit hilang satu?”
Dia jawab “Emang kenapa”,
“Karena bintangnya ada di mata kamu” jawab gua gombal.
Yup, mungkin sekarang bintang itu sudah hilang dari mata kamu… Dan saya percaya
“sama halnya dengan hidup, seburuk apapun hari kemarin. Tuhan selalu menyediakan hari yang baru untuk saya. Untuk memperbaiki kesalahan dan melanjutkan alur cerita yang hendak saya isi dalam buku kehidupan milik saya”
Setelah urusan teduh selesai, hari ini gua akan menepati janji yang telah lama gua ucapin kalau doa puasa gua selama ini dijawab. Janji gua adalah gua ingin bersepeda menempuh ratusan kilometer menuju sebuah kost di sebuah Kabupaten yang berada di Jawa Barat. Karena doa gua dijawab di tanggal 17 Agustus, cepat atau lambat gua harus menepati janji gua itu.
Awalnya gua kurang yakin, apakah gua masih kuat? Apakah encok di pinggang gua gak kambuh? Apakah pantat gua gak akan semutan? Apakah selangkangan gua gak akan kram? Jika 2-3 tahun lalu, gua rasa gua masih sanggup untuk melahap ratusan kilometer karena saat itu gua sedang senang-senangnya bersepeda. Karena buat gua bersepeda itu sungguh menyenangkan. Selain menyehatkan, gua berasa nampak keren ketika bersepeda. Di saat orang lain menggunakan motor atau mobil, gua berbeda sendiri dengan menggunakan sepeda. Dan menurut gua itu keren banget. Rute terjauh yang pernah gua kunjungin adalah sebuah stadion sepak bola di Jawa Barat. Kalau gak salah, gua menghabiskan waktu hampir 12 jam untuk sampai kesana dan ternyata gua berhasil menuju kesana walau dengkul kaki gua rasanya hampir mau remuk.
Ditambah dengan kondisi gua yang sedang berpuasa, gua menjadi pesimis untuk menepati janji gua. Tetapi gua selalu ingat, janji adalah ‘sesuatu’ hal yang harus dibayar, bagaimanapun caranya. Gua mempersiapkan diri sebaik mungkin, gua bawa baju ganti, handuk merah pinjeman ‘seseorang’, dan MP3 Player buat menemani hari itu.
Sengaja gua gak bawa minum karena gua gak mau puasa gua batal karena hal ini. Tapi gua sangat enjoy dan sudah tidak sabar untuk melewati hari ini.
Pukul 05:15 lebih sedikit,
Gua pergi dalam kondisi rumah yang masih sunyi. Bokap dan kakak masih terlelap, hanya Nyokap yang sudah bangun dan sedang memasak. Gua pamit ke nyokap dan nyokap pun heran ngapain gua pergi pagi-pagi. Gua jawab dengan senyum sambil berkata “Pergi untuk menepati janji”
Gua mulai menggowes sepeda. Selama di perjalanan, tak henti-hentinya gua tersenyum. Sesekali pikiran gua teringat akan ‘dia’ sambil bertanya dalam hati “Apa dia sudah bangun?”, “Mimpi apa dia hari ini?”, “Semoga dia gak telat makan biar gak sakit”, “Apa di pagi ini dia sudah buka alkitab dan baca ayat yang gua smsin?”
Perjalanan ini akan sangat panjang dan selama itu pula, gua yakin bisa menepati janji gua. Seperti janji gua untuk selalu berpuasa buat dia tiap hari yang berhasil gua jalani dengan sukses walau sebelumnya gua diragukan dan dicibir karena banyak yang nganggep gua gak akan tahan. Tapi jika semuanya dijalani dengan hati yang ikhlas, pasti bisa kan?
Daerah Ujung Berung,
Gua sekarang sudah sampai di daerah Ujung Berung, suasana sudah mulai ramai. Matahari sudah mulai muncul dan menyinari bumi. Matahari pun seperti menyinari hati gua. Setiap berpapasan dengan banyak orang di jalan, gua selalu mencoba untuk tersenyum. Gua gak peduli dikira orang gila atau Joker yang doyan cengengesan, tetapi yang ada di pikiran gua saat itu, gua sangat bahagia. Gua ingin membagi kebahagiaan yang sedang gua rasakan dengan orang banyak.
Di kuping gua sekarang, lagu SO7 sedang mengalun. Judulnya “Seberapa Pantas”, sambil mendengar lagu itu, gua pun mulai berpikir apakah sebenarnya gua itu pantes buat jadi cowok dia? Dengan segala kekurangan, dengan segala kesalahan gua, apakah gua itu pantas? Apa gua itu pantas buat ngisi hari-hari dia? Saat itu dengan angkuh, gua jawab “Gua Pantas”. Dengan segala kekurangan yang gua punya, gua punya cara sendiri buat dia bahagia. Gua punya cara sendiri agar dia bisa melewati hari-hari ini dengan senyum di wajahnya.
Daerah Cibiru,
Ini daerah favorit gua. Bukan karena banyak tukang jajanan kayak cakue, batagor, dll. Tetapi karena dengan melewati daerah ini, semakin dekatlah gua bertemu dengan dia. Biasanya kalau berkunjung ke kost dia, gua menggunakan motor dan begitu gua melewati jalan ini, biasanya gua tersenyum karena sebentar lagi gua bakal ketemu dia. Sebentar lagi, gua akan memainkan rambutnya yang ikal, sebentar lagi gua akan bercerita banyak hal dan sebentar lagi, gua akan mendengar banyak cerita pula dari mulut dia.
Pukul 06:20,
Gua keluar dari Kota Bandung. Sambil terus menggowes gua melewati gapura yang bertuliskan “Selamat Jalan”. Jujur, saat itu gua merasa sangat letih, lunglai, dan lemas. Keringat gak pernah berhenti menetes dari kepala gua. Setiap menetes selalu gua usap dengan sapu tangan warna merah itu. Dia mungkin sama sekali gak sadar tetapi setiap kali gua mengusap dengan sapu tangan merah itu, gua selalu merasa dikuatkan, gua selalu merasa ditemani. Dan jujur, saat itu gua ngerasa haus banget. Di depan gua ada tukang susu coklat yang begitu menggoda. Dengan logo sapi yang terpampang di gerobak itu, rasanya begitu menggoda gua untuk icip-icip susu rasa coklat.
Tapi?
Gua gak mau puasa gua batal, gua gak mau hanya karena gua haus dan karena gua tergoda untuk icip-icip susu itu, puasa gua gagal. Masih banyak doa gua buat dia yang belum dijawab. Gua acuhkan mata gua dari godaan sapi itu dan mulai terus menggowes.
“San, lu bisa kan nunggu gua ampe bulan November” sebuah pertanyaan dari dia di suatu hari ketika gua lagi berboncengan dengan dia.
“Bisa, walau berat tapi gua yakin bisa” jawab gua sambil menghindari lobang di jalanan…..
Depan Kampus IPDN,
Sekarang gua sudah berada di depan Kampus IPDN. Inget kampus ini berarti inget video-video menyeramkan yang sempat menghebohkan. Ah, gua gak peduli karena yang gua tau, gua sudah semakin dekat dengan janji gua. For You Info, jalanan di depan kampus IPDN bisa gua ibaratkan sebagai ‘tanjakkan setan’ karena jalanannnya nanjak banget. Saat itu, pantat gua sudah mulai kram, betis gua sudah senat senut dan yang pasti jari-jari tangan gua seperti sudah mati rasa. Buat ngupil pun rasanya udah gak bisa dipakai. Gua mulai menggowes, melewati jalanan yang nanjak itu dan pikiran gua kembali, memikirkan dia…
“Sani apa lu yakin dengan gua” kata dia suatu saat. Pertanyaan yang selalu dia ulang-ulang hingga gua tau apa makna dibalik pertanyaan itu.
“Yakin, gua selalu yakin” jawab gua optimis. Selama gua sedang menjalin hubungan, rasanya baru kali ini gua ngerasa kalau gua yakin. Ngerasa yakin kalau gua bakal hidup dia jadi lebih berwarna. Ngerasa yakin buat ‘menjangkau’ seluruh hatinya yang mungkin masih tertutup oleh kenangan masa lalu.
Di kuping gua sekarang lagi mengalun lagu Jikustik ‘1000 tahun lamanya’: “Bila kau sanggup untuk melupakan dia, biarkan aku hadir dan menata, ruang hatimu yang telah tertutup lama” Gua bernyanyi sambil terus menggowes. Gak peduli suara jelek, gak peduli suara gua sumbang karena yang ada di pikiran gua, gua ingin menunggu dia walau harus menunggu 1000 tahun lamanya… Lebay dikit (hihihihi)
“Selamat Datang di Universitas Padjajaran”
Akhirnya gua sampai juga di kampus dia. Jam sudah menunjukkan pukul 09:15. Mobil dan motor mulai hilir mudik. Gua duduk bentar di depan kampus itu. Ambil nafas panjang, menggoyang-goyangkan jari-jari tangan yang mati rasa, dan merenggangkan kaki yang rasanya sudah siap diamputasi. Duduk bentar di trotoar, dan gua baru sadar kalau trotoar ini tiap malam ‘disulap’ jadi angkringan. Dan di trotar ini adalah pertama kalinya gua makan bersama dia. Di bawah lampu yang remang-remang dan dinginnya malam, gua bercerita banyak hal dengan dia. Hal-hal lucu, menyenangkan, memalukan, dan segalanya yang ada di pikiran gua, gua ceritain ke dia.
“Ah yang bener?”, “Lupa gua” adalah kata-kata yang dia biasanya dia gunakan buat menjawab cerita-cerita gua. Mungkin dia sudah melupakan segala kenangan gua dan dia dulu, mungkin dia sudah tutup buku akan cerita kita yang dulu. Ya, jika gua adalah dia, gua pun bakal menutup buku semua kenangan buruk itu dan mulai melangkah ke depan.
“Sani, nih cobain” kata dia sambil menyodorkan piring berisi daging yang ditusuk. Saat itu di angkringan, suasanya tidak terlalu ramai. Karena penasaran, gua ambil daging yang ditusuk itu. Gua kunyah bentar dan rasanya ternyata enak. Kenyal-kenyal gimana gitu bikin lidah tidak berhenti mengecap.
“Ini apaan ya?” tanya gua polos
“Ini brutu, enak ya?
“Brutu? Brutu tuh apaan ya?” dan entah kenapa mendengar nama itu perasaan gua jadi gak enak.
“Brutu tuh dubur ayam” jawab dia sambil cengengesan.
“Hah, dubur ayam?” gua shock. Dubur kan anus? Subhanallah, gua makan anus ayam. Yang ada di pikiran gua saat itu adalah buang ini dubur dari mulut gua dan segera minum air suci buat membersihkan mulut gua dari dubur ayam itu.
Malam itu dia juga bercerita banyak hal terus menutup pembicaraan dengan kalimat “Percaya ya San, yang namanya jodoh itu gak akan kemana-mana”. Gua balas dengan sebuah anggukkan.
Setelah beristirahat bentar, gua mulai melanjutkan perjalanan. Gua mulai menggowes menuju tempat kostnya. 10 menit kemudian, akhirnya gua sampai di depan kostnya. Jelas, dia gak akan ada disitu karena dia sekarang ada di rumahnya. Gua perhatiin bentar kamarnya yang berada di lantai atas. Jendelanya dibuka dan sebenarnya gua sih harap banget dia ada disitu lagi noongin gua di bawah, walau gak mungkin.
Hampir 15 menit gua berada di depan kost nya. Mungkin orang-orang bakalan ngira gua adalah maling yang sedang memperhatikan target. Tapi gua gak peduli karena yang ada di pikiran gua saat itu, gua sekarang adalah cowok dia dan gua BERHASIL menepati janji gua.
Hati gua lega, gua tenang, gua ngerasa gak punya janji lagi. Gua mulai menggowes untuk pulang. Selama perjalanan pulang, gua melewati banyak tempat. Gua melewati sebuah mall yang ada disitu. Mall biasanya gua pake buat sedikit ‘mencerca’ dia dan biasanya kalau gua ‘cerca’ muka dia bakal merengut manja. Hihihihi. Ada juga restoran yang namanya SOLASIDO, plesetan dari Restoran SOLARIA. Kalau mata gak jeli, mungkin kita bakal kecele, ngira kalau ada restoran SOLARIA di kabupaten Sumedang. Tapi masak iya sih ada? Ups….
Hari ini gua berhasil menepati janji gua, dia gak tau, temen-temen dia juga gak tau, temen-temen gua gak ada yang tau, tapi gua gak peduli karena gua ngerasa bangga dengan diri gua sendiri yang berhasil menepati janji
Selasa 22 Agustus, pukul 04:25
Yang namanya kebahagiaan itu terlalu cepat pergi dari gua. Kalau boleh protes, gua pengen banget protes, kenapa kebahagiaan itu terlalu cepat pergi dari gua. Ya, gua putus dengan dia.
Gua awali hari dengan teduh sebentar, tapi yang berbeda dari hari ini adalah biasanya gua selalu kirim sms ayat-ayat Alkitab ke dia agar kita bisa teduh bareng walau berada di ruang yang berbeda. Gua tau, dia mungkin udah gak mau baca atau nerima sms gua tentang ayat-ayat itu jadi cukup gua saja yang baca untuk dia.
Dan entah kenapa gua jadi ingin mengulang perjalanan jauh gua ke kabupaten Sumedang dengan menggunakan sepeda. Dengan hati yang hancur, mata yang sembab, pikiran yang kalut, gua jadi ingin mengulang rute yang sama. Gua sama sekali gak berbenah, gua berangkat dengan baju tidur gua. Dengan mata yang sembab, dengan rambut yang acak-acakkan dan dengan hati yang hancur…
Perjalanan ini jadi begitu terasa berat tetapi setidaknya bisa memaksa gua berpikir. Berpikir jernih tentang hubungan kita yang susah payah gua bangun dan sukses hancur dalam sekejap.
“Gua labil, gua gak bisa tegas ke diri gua dan diri dia” kalimat yang awalnya selalu bisa gua jawab dan yakinkan dia kalau dia PASTI bisa malah jadi alasan utama gua putus ama dia. Saat bersama dia, gua selalu berusaha buat dia nyaman, buat dia senang, dan buat dia bisa move on dari masa lalunya.
Gua sama sekali gak pernah mengharapkan pamrih dari apa yang gua lakuin ke dia. Tetapi setidaknya kalau boleh, gua meminta sedikit ‘lebih’ ke dia ketika dia memutuskan hubungan kita. Bukan cuma lewat telpon dengan kata-kata sederhana “Maaf, gua gak bisa san, lanjutin hubungan kita”, “Bilangin maaf ke nyokap dan kakak lu” yang diucapkan tanpa beban bahkan nyaris diucapkan oleh cowok dia yang sekarang. Rasanya terlalu sederhana buat gua mengerti dan terlalu ringan buat dia. Apa gak bisa kita ngobrol baik-baik dengan hati terbuka, tanpa harus ada tekanan? Kenapa harus si cowok yang ngehubungin gua? Apa dia yang menjalani hubungan sesama jenis dengan gua?
Gua masih ingat sms dia di suatu hari "Gua tuh gak bisa pergi ninggalin dia begitu aja, gak elite kalau harus ngomongin soal ini lewat perantara, gua harus ketemu dia langsung" Pertanyaanya kemudian kenapa harus kayak gitu ke gua? Itu hal yang sama sekali gak bisa gua terima…
Gua baca message dia yang dikirim tempo hari, isinya “it is too early to say i love you..but yes, i do love you…, yang gua bales “Nothing too early or too late to say I love you, cause love not about the time to say that but about the time you feel that. I love you too...”
Rasanya begitu cepat kebahagiaan itu pergi. Begitu mudahnya kita mengatakan I Love You tetapi begitu mudah juga buat kita untuk menghapus kalimat itu dalam ingatan.
Gua selalu berkata ke dia Step By Step dan gua yakin dia bakal bisa lupa akan masa lalunya. Step By Step, Step By Step… Gua ulang kata itu hingga tidak ada artinya lagi buat gua….
Kalau selama ini hubungan kita hanya balas dendam, sungguh ini adalah sebuah balas dendam yang sempurna….
Kalau selama ini hubungan kita hanya main-main, sungguh ini adalah sebuah permainan yang cantik…
Dan kalau selama ini hubungan kita hanya basa-basi, sungguh ini adalah sebuah basa-basi yang mendekati kenyataan…
Lanjut,
Gua memang akhirnya berhasil sampai di kabupaten itu (lagi), dengan kondisi gua yang mirip gembel ditambah perasaan gua yang sedang kalut dan hati yang hancur. Tapi, saat itu gua sama sekali gak punya tujuan apa-apa. Entah kenapa harus gua bersepeda kesini? Gua gak bisa jawab….
Malamnya gua duduk di teras, sambil menunggu buka puasa jam 7, gua duduk sambil ngeliatin langit. Dulu, ketika ada bintang-bintang di langit gua pernah ngegombal “Tau gak kenapa bintang di langit hilang satu?”
Dia jawab “Emang kenapa”,
“Karena bintangnya ada di mata kamu” jawab gua gombal.
Yup, mungkin sekarang bintang itu sudah hilang dari mata kamu… Dan saya percaya
“sama halnya dengan hidup, seburuk apapun hari kemarin. Tuhan selalu menyediakan hari yang baru untuk saya. Untuk memperbaiki kesalahan dan melanjutkan alur cerita yang hendak saya isi dalam buku kehidupan milik saya”
Langganan:
Postingan (Atom)




